
Dua jam sudah Kharisa mengerjakan soal, berarti emat jam sudah ia meninggalkan Rakha bersama Bi Nani di rumah Kang Farhan. Sebelum pukul tujuh ia sudah siap duduk di kursinya, ruangannya terpisah dengan Faisal, masih satu kampus tapi beda kelas. Pukul tujuh ia mulai mengisi biodata sesuai arahan pengawas, lanjut mengerjakan soal Tes Kemampuan Dasar, dengan teliti ia mengerjakan soalnya, dan dengan mudah ia melahap soal-soal tersebut, hanya satu dua soal saja yang dianggapnya memiliki kesulitan tingkat tinggi. Walaupun ia tidak melanjutkan sekolah SMAnya, bukan berarti ia tidak belajar, tiap hari ia belajar berasama Faisal, Faisal yang menjelaskan kembali pelajaran yang didapatkannya di sekolah.
Setelah memutuskan tidak akan melanjutkan sekolahnya, Wa Rahmat bapaknya Faisal langsung membantu untuk mendaftarkan ujian paket C, pendaftarannya memang harus dilakukan jauh-jauh hari, persyaratan administrasi juga bisa ia penuhi, saat meninggalkan rumah, mama membawa berkas penting Kharisa termasuk ijazah SMPnya, hingga bisa digunakan untuk persyaratan pendaftaran ujian paket C. Padahal kalau mau Kharisa bisa melanjutkan sekolah di sekolah pesantren, sekolah Aliyah Putri, tapi ia terlalu malu dengan keadaannya saat itu, hingga memutuskan belajar di rumah, ya hitung-hitung program home scholling , walaupun guru pembimbingnya masih sama-sama sekolah SMA. Dan dua bulan yang lalu ia mengikuti ujian paket C kelas IPA, lulus dengan hasil sangat memuaskan, tanpa mengikuti bimbingan khusus.
Di akhir jam mengerjakan soal Kharisa mulai merasakan senud-senud pada Payu****nya, sudah mulai terasa penuh ASInya, memang sudah lewat dari jadwalnya Rakha untuk mendapatkan ASInya langsung, ia juga merasakan pads yang dipakainya mulai basah harus diganti juga, kalau tidak memakai pads mungkin bajunya sudah basar karena ASInya merembes keluar. Pas jam istirahat pertama langsung saja ia manfaatkan untuk memompa ASInya, ia sudah menyiapkan perbekalannya, malah ia membawa cooler ukuran kecil untuk menyimpan ASInya di dalam botol, agar tidak basi dan bisa diberikan kepada Rakha saat pulang nanti. Ia bingung mencari tempat untuk memompa ASInya, tentu saja harus tempat tertutup dan tidak banyak orang, pasti orang-orang akan aneh kalau melihatnya, gadis baru lulus SMA memompa ASInya, berarti ia memiliki bayi, berarti sudah menikah dan punya anak? Emang boleh anak SMA menikah? Atau punya anak tapi belum menikah? Ia tidak siap kalau banyak orang yang bertanya atau menatapnya sinis bahkan mencibir.
Akhirnya dengan ragu ia putuskan masuk ke dalam toilet, ia meragukan hyginitasnya, namum mau bagaimana lagi tidak ada tempat yang tertutup selain toilet. Ia menggantungkan tasnya di gantungan di pintu, mengambil botol dan alat pompanya, Mama sengaja membelikan alat pompa ASI elktrik agar prosesnya lebih cepat dan tangan tidak pegal. Tidak sampai sepuluh menit, ia selesai memompa ASInya, lumayan dapat 360 cc, yang penting payu****nya tidak keras dan sakit. Ia memasukan botol ASInya ke dalam cooler. Keluar dari toilet ia membuka HPnya, HP sederhana yang dibelikan mamanya, jauh berbeda dengan HP miliknya yang tertinggal di rumahnya yang ada logo apel yang tidak utuh karena ada bekas gigitan. Ternyata ada pesan masuk dari Faisal sejak delapan menit yang lalu.
"Neng **d**imana?" A Isal di dekat kelas Neng, dekat tangga."
Kharisa pun langsung membalasnya
"Habis dari toilet, aku ke sana."
Tak berapa lama mereka pun bertemu di dekat tangga. Faisal memberikan susu kotak rasa strawberi kesukaan Kharisa dan biskuit yang tadi dibelinya sebelum mereka masuk tempat ujian. Masih ada waktu lima belas menit lagi sebelum kembali mengerjakan soal Tes Kemampuan dan Potensi Akademik.
"Gimana tadi, bisa?" tanya Faisal, mereka duduk di lantai berdampingan, beberapa peserta ujian lain juga tampak duduk di lantai, terdengar riuh obrolan dan tawa mereka, ada juga yang membahas soal yang tadi mereka kerjakan.
"Lumayan, hanya beberapa soal saja yang ragu jawabannya, semoga sisanya betul jawabnya." Kharisa membuang kotak susu strawberinya ke dalam kresek plastik, dalam sekejap habis diminumnya, lanjut membuka biskuit dan memasukan ke dalam mulutnya. Perutnya memang sudah minta diisi, sepertinya karena sedang menyusui bawaannnya lapar terus. Faisal pun ikut mencicipi biskuit yang disodorkan Kharisa.
"Makasih ya A, dah dampingin aku belajar, kamu memang guru terbaikku."
"A Isal kan sambil belajar juga, ternyata benar saat kita mengajarkan ilmu kepada yang lain kita jadi lebih paham, makasih juga Neng udah mau jadi murid A Isal." ujarnya sambil terkekeh.
"Kenapa ketawa?" Tanya Kharisa heran
"Aneh aja guru dan murid sama-sama ikut ujian bareng, semoga lulus semuanya, coba kalau gurunya gak lulus, malu-maluin kan...?" kekehnya lagi.
__ADS_1
"Aku yakin A Isal pasti lulus."
"Aamiin....Neng juga pasti lulus, aamiin......" Mereka bertatapan dengan senyum mengembang di bibir mereka. Mereka kembali masuk kelas masing-masing saat waktunya melanjutkan tes berikutnya.
Pukul setengah tiga sore, selesai sudah tugas Kharisa dan Faisal melaksanakan ujian masuk perguruan tinggi negri, usaha sudah dilakukan maksimal tinggal menunggu hasilnya, mereka menyerahkan hasilnya kepada Sang Pengatur Alam Semesta, apapun hasilnya itulah yang terbaik takdir untuk mereka.
Mereka kembali ke rumah Kang Farhan dengan menggunakan angkot, hanya satu kali naik angkot dilanjutkan jalan kaki sekitar 200 meter sampailah di rumah kontrakan Kang Farhan, tampak Bi Nani sedang menggendong Rakha di teras rumah, sementara teh Moza sedang mengepak barang untuk dikirim kepada konsumen sambil menemani putri kecilnya yang berusia sepuluh bulan yang berada di stroler memainkan mainannya. Teh Moza ternyata sedang merintis bisnis busana muslim yang mulai berkembang, dimulai dari membuat beberapa stel baju muslim yang ia tawarkan pada saudara dan teman, sekarang mulai ia tawarkan melalui online dan pesanan pun mulai berdatangan, padahal ia juga sibuk dengan kuliahnya yang masih semester lima, dan mengurus putrinya, tapi masih bisa menjalankan bisnisnya dengan lancar, membuat Kharisa kagum pada sosok Teh Moza.
"Tuh Momy pulang....." Rakha yang berada di gendongan Bi Nani langsung menggerakan tangan dan kakinya saat melihat Kharisa dan Faisal datang.
"Assalamualaikum...." ucap mereka bersamaan.
"Waalaikumsalam....." Bi Nani membuka ikatan kain gendongan, paham kalau Rakha minta digendong momynya.
"Ah Rakha....momy kangen....." Kharisa mengambil Raka dari gendongan Bi Nani, mencium kedua pipi gembulnya.
"Raka gak rewel kan? Gak nyusahin Nenek?" Nenek adalah panggilan Rakha buat Bi Nani, Kharisa yang memulai panggilan nenek kepada Bi Nani, baginya Bi Nani sudah seperti ibunya dan nenek untuk Rakha.
"***** dulu yuk, ASInya dah banyak nih, sampai momy sakit." Kharisa membawa Rakha ke dalam rumah diikuti Faisal sambil menggoda Rakha, membuat Rakha tergelak.
"Gimana ujiannya, lancar?" Tanya Teh Moza, masih sibuk membungkus gamis yang akan dikirim.
"Alhamdulillah Teh, perasaan sih bisa jawab." Faisal duduk di depan Teh Moza, kemudian menyapa keponakannya dan mengajaknya bermain dengan memainkan mainannya. Sementara Kharisa masih berdiri sambil menggendong Rakha.
"Harus optimis, selalu berprasangka baik, berpikir lulus, Insya Allah lulus. Allah kan sesuai prasangka hambaNya." Teh Moza sedikit berbagi prinsip hidupnya. Harus optimis itu salah satu kunci suksesnya.
"Teh aku ke kamar dulu yah, udah penuh nih." Ujar Kharisa sambil nyengir.
__ADS_1
"Pasti bocor...." ujar Teh Moza, ia pun sering mengalami yang dialami Kharisa, saat meninggalkan putrinya kuliah.
"Iya Teh, sampai bocor nih." Kharisa pun masuk ke dalam kamar yang disediakan untuknya.
"Teteh kagum sama Kharisa, dia bisa tegar membesarkan putranya tanpa suami." Teh Moza berkata dengan pelan. " Belum nyambung sama ayahnya Rakha?" Tanyanya pada Faisal.
"Belum teh."
"Untung ada kamu Sal, eh bukan... bukan untung, maksudnya Allah menghadirkan kamu untuk mendampinginya, jangan-jangan kalian jodoh Sal." Sekarang Teh Moza berbisik pelan.
"Masih jauh Teh bahas jodoh, Isal gak mau kaya Kang Farhan sama teteh nikah muda. Isal mau sukses dulu baru mikirin jodoh."
"He...he...emang kamu yang nentuin takdir Sal, iya deh kamu fokus saja sekolah dulu, tapi kalau berjodoh teteh pasti dukung." Kekeh Teh Moza membuat wajah Faisal memerah.
Esok harinya Faisal dan Kharisa kembali pulang ke pesantren dijemput bapaknya Faisal. Hampir satu bulan mereka menunggu pengumuman kelulusan. Saat waktunya tiba dengan perasaan berdebar mereka mengecek pengumuman kelulusan lewat website resmi. Mereka mengecek bersama, berkumpul di rumah Abah, ada bapak ibu Faisal, Mama, Bi Nani sambil menggendong Rakha dan Abah tentunya. Terrnyata Abah juga sangat mendukung mereka lewat nasehat dan doa sejak mereka akan melakukan pendaftaran.
Faisal mulai membuka website di laptopya, ia memasukan nomor peserta ujiannya terlebih dulu, dengan jantung berdebar ia menutup matanya, menekan enter dan muncul pengumuman hasil seleksi. Ia belum membuka matanya, namun tersentak mendengar teriakan seseorang yang duduk disebelahnya.
"Alhamdulillah.....A Isal lulus" Teriak Kharisa sambil berdiri. " Lulus A...." Sontak saja membuat yang hadir mendekat melihat layar monitor. Faisal membuka matanya, langsung membaca tulisan di layar yang mengumumkan bahwa ia lulus di FISIP jurusan Hubungan Internasional. Ia langsung memeluk bapak ibunya, kemudian mencium tangan Abahnya.
Kini giliran nomor Kharisa yang dimasukan oleh Faisal. Kharisa yang duduk disebelahnya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mulutnya melafalkan dzikir yang menguatkan dia apapun nanti hasilnya. Setelah Faisal menekan enter munculah di layar pengumuman yang isinya hampir sama dengan Faisal.
"Allahu Akbar......Neng lulus....Alhamdulillah Ya Allah." Ujar Faisal membuat Kharisa terkejut tidak percaya, ia membuka tangannya yang menutupi wajahnya. Dilihatnya namanya tertulis disana, lulus di FIKOM jurusan Ilmu Komunikasi.
"Alhamdulillah Ya Allah...." Ia langsung berbalik memeluk mamanya dengan berlinang air mata.
"Mah aku lulus......" Mama membalas pelukan putrinya dengan berlinang air mata juga, ia yang menjadi saksi bagaimana perjuangan putrinya belajar sungguh-sungguh walaupun tidak sekolah, dengan perut besar sebelum Rakha lahir, begitu pun setelah Rakha lahir, tak pernah surut semangatnya belajar demi bisa lulus di perguruan tinggi negri, karena ia tidak ingin membebani mamanya kalau harus kuliah di perguruan tinggi swasta, karena biayanya pasti lebih mahal.
__ADS_1
Inilah hasil perjuangan mereka, didukung doa dari orang-orang tercinta. Hasil memang tidak akan mengkhianati usaha. Itulah prinsip yang dinasehatkan Abah, yang akan mereka pegang untuk menjalani hari ke depan, menuju kesuksesan, di dunia dan di akhirat.
bersambung.....