
POV Kharisa
Memasuki kota Jakarta membuat hatiku berdesir, setelah setahun setengah aku meninggalkan kota, kini aku menginjakan kaki lagi di kota tempatku dilahirkan dan di besarkan. Tidak banyak perubahan yang kulihat, masih sama seperti dulu jalanan yang sekarang kulewati. Perjalanan pun cukup lancar, hanya di tol Cikarang Bekasi saja yang agak padat karena proyek pembangunan tol layang, pukul sepuluh kami sudah memasuki kota Jakarta.
Saat berada di jalan Fatmawati aku mulai mengarahkan pak supir menuju Rumah Rafael, untungnya waktu ke rumah Rafael dengan mama dan papa aku memperhatikan jalanan, dan sekarang masih kuingat dengan jelas arah menuju rumah Rafael. Saat berada di depan sebuah masjid aku ingat rumah Rafael dekat dengan masjid yang cukup besar.
Dengan jantung berdebar aku keluar dari mobil saat yakin ini rumahnya Rafael, dsn aku berharap bisa bertemu dengannya. Terus terang selain karena Rakha aku juga masih sangat mencintainya dan masih berharap hubunganku masih lanjut dengannya, bukankah sebelum dia pergi hubungan kami baik-baik saja, aku bahkan berjanji dalam hatiku akan setia menunggunya dan selalu mendukungnya mengejar impiannya. Sempat terpikir apa yang akan aku ucapkan saat ketemu dengannya, yang pasti aku akan memeluknya melepas kerinduannku yang satu setengah tahun ini sama sekali tidak ada komunikasi dengannya, bahkan tidak tau kabarnya. Pasti dia juga merindukanku karena aku tau sebesar apa cintanya padaku.
Aku mendatangi petugas security yang sedang duduk di pos security.
"Assalamualaikum Pak, maaf saya temannya Rafael, kalau Rafael sedang ada di sini gak Pak?" Dengan jantung berdebar aku bertanya pada petugas itu.
"Waalaikumsalam...Oh temannya Bang Rafael, mau ketemu Bang Rafael? Dia gak pulang, kayanya liburan sekarang dia gak pulang, kalau liburan kemarin dia ada tapi cuma semingguan di sini."
"Oh gak pulang ya Pak." aku langsung merasa kecewa, sekarang aku masih belum bisa ketemu Rafael.
"Kalau ibu atau ayahnya ada?" Aku gak boleh hilang akal, tidak bisa ketemu Rafael bukan berarti aku pulang dengan tangan kosong, aku harus bisa mendapatkan nomor ponselnya, agar bisa menghubunginya langsung.
"Nyonya? Ada, tapi kalau Tuan dari pagi pergi." jawab petugas itu.
"Kalau gitu saya ingin ketemu ibunya, nama saya Kharisa sampaikan saja ada teman SMA Rafael ingin bertemu, penting gitu Pak." Aku harus ketemu ibunya atau siapa saja keluarganya untuk menanyakan nomor telfonnya, dan aku akan langsung menghubungi Rafael, tinggal satu langkah lagi, mungkin selama ini Rafael kesulitan mencariku, ia juga belum tau rumah papaku, ia tahunya rumah tempat tinggalku dengan mama dulu dan pasti ia mendatangi rumahku tapi rumah itu kosong.
__ADS_1
"Saya coba sampein dulu ya Non, Non tunggu dulu di sini yah." Petugas security yang bernama Roni itu meninggalkan posnya, masuk ke dalam rumah dari pintu garasi.
"Gimana? Ada?" Tanya Faisal saat aku mendekati mobil, kulihat Rakha masih tidur di pangkuan Bi Nani.
"Rafael gak ada pulang, libur kemarin dia pulang, hanya seminggu disini. Aku minta ketemu ibunya untuk menanyakan nomor telfonnya." Faisal menganggukan kepalanya dengan senyum di bibirnya. Aku sangat beruntung kenal Faisal, dia sudah seperti kakakku yang selalu ada untukku.
Kulihat petugas security berjalan ke aranhku, semoga saja membawa berita bahagia, aku bisa menemui keluarga Rafael.
"Non, Nyonya mengijinkan masuk, tapi bisa ketemu sebentar karena nyonya mau pergi." ujarnya.
"Iya gak apa-apa." ucapku bersemangat.
Seorang wanita muda, sepertinya ART membukakan pintu dan mempersilahkanku masuk. Baru saja masuk ruang tamu kulihat ibunya Rafael muncul dengan penampilan yang begitu modis dan elegan, lengkap menenteng tas kecil di tangan kirinya, sepertinya mau menghadiri acara resmi. Ia mengernyit, mungkin tengah mengingat-ingat wajahku.
"Selamat siang tante, aku Kharisa, aku temannya...eu....kekasihnya Rafael." Aku bilang saja kalau aku kekasih Rafael, berharap ia dapat mengingatku yang dulu pernah datang meminta pertanggungjawaban Rafael.
"Oh....silahkan duduk, tapi maaf saya tidak bisa lama, harus pergi soalnya." Aku pun duduk di sofa, diikuti oleh Faisal dan Bi Nani dengan Rakha dalam gendongannya.
"Jadi ada perlu apa?" wajahnya terlihat datar, sama sekali tidak terlihat senyum di bibirnya.
"Saya ingin ketemu Rafael tante." Ibunya Rafael diam, pandangannya mengarah pada Rakha yang masih terlelap dalam pangkuan Bi Nani. Aku mengerti maksud pandangannya kepada Rakha, sepertinya ia mulai mengingatku.
__ADS_1
"Satu setengah tahun yang lalu saya pernah datang ke sini tante, bersama papa dan mama saya, saat itu saya tengah mengandung anak Rafael dan saya meminta tanggung jawab Rafael, tapi malah ditawarkan untuk menggugurkannya. Tapi maaf tante waktu itu saya tidak melakukannya, saya mempertahankan kehamilan saya hingga ia lahir." Aku melirik ke arah Rakha dan ibunya Rafael mengikuti arah pandanganku.
"Ini Rakha, anak Rafael Tante, usianya meningjak sebelas bulan, untuk itu saya datang ke sini ingin bertemu dengan Rafael, kalaupun tidak ada saya ingin minta nomor telfonnya tante."
"Rafael memang tidak ada di sini, liburan akhir tahun ini tidak pulang, jadi maaf tante tidak bisa bantu banyak. Dan maaf tante harus segera berangkat." Ibunya Marvel berdiri dari duduknya.
"Boleh saya minta nomor HPnya tante." Apa ia tidak mendengar permintaanku minta nomor HP Rafael, tidak mungkin kan ia tidak punya nomornya.
"HP saya tertinggal di rumah anak saya, dan saya tidak ingat nomornya, lain kali saja kamu datang ke sini lagi" Entah kenapa aku merasa ia tidak jujur, sepertinya ia tidak ingin aku bertemu Rafael atau menghubungi Rafael.
"Saya tidak tinggal di Jakarta tante, saya sudah jauh-jauh datang ke sini untuk menemui putra Tante, walaupun tidak bisa bertemu tapi saya mohon, saya minta nomor HPnya Tante." Mataku mulai berkaca-kaca, dan pandanganku mulai memburam, aku merasa ibunya Rafael tidak ingin aku menghubungi putranya, berarti ia tidak menerima Rakha sebagai cucunya.
"Sudah saya bilang HP saya tertinggal di rumah anak saya, maaf saya harus bersngkat sekarang." Ia beranjak akan membuka pintu keluar, apa ini berarti ia mengusir kami?
"Sebentar Tante....." Aku mengeluarkan buku memo kecil dan pulpen dari dalam tas selempangku. Kutuliskan nomor ponselku di kertas memo yang kusobek dengan rapi, lalu kuserahkan padanya.
"Ini no HP saya, saya mohon berikan nomor ini kepada Rafael Tante, saya hanya ingin memberitahu kalau Rakha adalah putranya." Ia pun menerimanya, tanpa bicara lagi ia mempersilahkan kami keluar dari rumahnya, dengan membuka lebar pintu yang tadi akan dibukanya.
Dengan perasaan kecewa aku meninggalkan rumah Rafael dengan tangan kosong, kedatanganku ke Jakarta ternyata hasilnya di luar ekspektasi, jangankan bertemu Rafael, nomor HPny saja aku tidak bisa mendapatkannya.
Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya sedih rasanya melihat Rakha yang tertidur lelap dengan wajah tak berdosa, apakah Rakha tidak pantas mendapatkan kasih sayang dari ayahnya?
__ADS_1