
Perjuangan untuk menyelesaikan kuliah dalam waktu tiga setengah tahun atau tujuh semester akhirnya membuahkan hasil. Kharisa dan Faisal bisa mewujudkan impiannya yang mereka bangun saat awal masuk perguruan tinggi, bahkan impian mereka yang sengaja mereka tulis di buku agenda kecil mereka sebagai pengingat kalau mereka mulai jenuh atau malas, kini berhasil mereka wujudkan. Lulus dalam waktu lebih cepat dengan nilai IPK yang sangat memuaskan tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri dan membanggakan keluarga terutama orang tua. Karisa dengan bahagianya bisa mempersembahkan nilai terbaiknya, nilai IPK 3,67 cumlaude untuk mama tercintanya. Begitu juga Faisal meraih IPK 3.74, tentu membuat orang tua dan keluarganya bangga. Dan tentu saja tidak dengan begitu saja mereka meraihnya, ada perjuangan berarti ada pengorbanan.
Kini wajah bahagia menghiasi Kharisa, mata yang basah bukti tangisan bahagianya masih terlihat saat ia keluar dari gedung acara wisuda. Ia langsung mencari mamanya yang mungkin telah keluar lebih dulu, sesuai pesan yang baru saja mama kirim.
"Mama tunggu di luar, di dalam crowded banget."
Kharisa mencari-cari keberadaan mamanya, dan ia melihat mama tengah melambaikan tangan ke arahnya, langsung saja Kharisa menuju mamanya, ingin segera memeluknya.
"Mama.....huks...hiks....." Kharisa mencium tangan mamanya dan memeluknya. Isak tangisnya pun pecah mengiringi pelukan erat mereka berdua. Tangis bahagia bercampur tangis sedih mengingat perjuangan mereka bisa bertahan hidup tanpa didampingi seorang suami dan ayah demi mempertahankan seorang anak yang terlahir suci.
"Ma, terima kasih ya Ma, berkat doa dan dukungan Mama Kharis bisa mencapai ini."
"Mama yang terima kasih, kamu berikan hadiah terindah buat Mama, Mama bangga sama kamu sayang." Mama menangkup kedua pipi putrinya yang basah, kemudian memeluknya lagi. Tentu saja mama sangat bangga saat acara tadi nama putrinya disebut sebagai salah satu mahasiswi yang mendapatkan nilai cumlaude.
"Momy...momy......." Seorang bocah laki-laki yang berusia empat tahun kurang berlari ke arah Kharisa. Kharisa pun melepaskan pelukan dengan mamanya.
"Hai my boy......." Kharisa menggendong putranya dan mencium kedua pipinya.
"Momy topinya lucu, aku mau pakai." Rakha mengambil topi toga yang bertengger di kepala Kharisa, dipindahkan ke kepalanya, jelas tampak kebesara, lalu Kharisa menurunkan Rakha.
"Kebesaran ya sayang." Sambil membetulkan toga yang kebesaran di kepala putranya, senyum Kharisa mengembang di bibirnya, melihat putranya memang selalu membuat ia bahagia.
"Wah Rakha jadi sarjana juga." Timpal Mama Kharisa.
"Ya Oma..he..he......Momy aku mau difoto" Rakha malah bergaya dengan kedua tangan dipingganggnya. Kharisa pun mengambil gambar putranya dengan camera HPnya.
"Bi Dewi, Ibu sama Bapak belum keluar yah." Tanya seorang perempuan berhijab dengan gamisnya yang terlihat anggun, garis wajahnya mirip dengan Faisal yang diturunkan dari bapaknya. Dia adalah Fahira kakak Faisal yang ketiga, ia baru selesai kuliah S2nya di Universitas Al Azhar Kairo, setelah lulus S1 di tempat yang sama ia langsung melanjutkan program S2nya dengan memanfaatkan program beasiswa. Ia kuliah di sana karena mengikuti kakaknya yang pertama Fachri yg yang juga telah menyelesaikan S2nya dua tahun yang lalu, sekarang mengandikan dirinya di pondok pesantren keluarganya. Keluarga Faisal memang mengutamakan pendidikan agar bisa meneruskan mengembangkan pondok yang dirintis oleh Abah, kakeknya. Namun hanya Fachri dan Fahira yang berminat langsung terjun mengembangkan pondok, sementara Kang Farhan lebih memilih usahanya sendiri yang berderak di bidang kontruksi bangunan dan jalan, dsn Faisal yang baru saja lulus bercita-cita ingin menjadi diplomat. Kakak-kakak Faisal lah yang selama ini menjadi motivasi Kharisa untuk melakukan yang terbaik selama menjalani kuliahnya.
"Kharisa selamat yah." Fahira menyalami Kharisa kemudian mereka berpelukan.
"Terima kasih Teh Ira." Kharisa seperti merasa punya kakak perempuan, walaupun baru beberapa kali bertemu namun mereka terlihat akrab, begitu pun Rakha dengan mudah akrab dengan Fahira, ini karena memang Fahira orang yang supel dan sangat menyukai anak-anak.
"Faisal Bapak, Ibu kok bekum keluar yah? Tadi gak lihat di dalam?" Fahira mengedarkan pandangannya mencari keberadaan adik dan orang tuanya di tengah lalu lalang wisudawan dan keluarganya yang keluar masuk gedung tempat wisuda.
__ADS_1
"Tadi tempat duduknya agak jauhan, trua aku langsung keluar karena mama menunggu di luar." jawab Karina, ia pun ikut mengedarkan pandangan mencari faisal. Sementara Rakha masih asyik bergaya dengan topi toga momynya dan minta omanya yang me.gambil gambar, Bi Nani terus tersenyum melihat kelucuan cucu asuhannya, Rakha memang tumbuh menjadi anak yang menggemaskan.
"Oh itu Faisal usah sama uwa." Kharisa menangkap sosok orsng yang begitu dikenalnya, yag selama ini mendukungnya, menjadi penyemangatnya dan juga sosok yang sangat mencintai putranya.
"A Isal....A Isal....." Teriak Kharisa sambil melambaikan tangannya dan yang dipanggil pun langsung menoleh dengan senyum lebar sambil mengacungkan tropi wisuda dan selongsong bertuliskan namanya. Faisal pun menghampiri Kharisa diikuti ayah ibunya.
"Kok lama keluarnya?" tanya kakak perempuannya.
"Biasa tadi dicegat yang minta foto bareng, maklum orang ganteng banyak yang minta foto bareng." Ujar Faisal, Fahira tersenyum mendengar ucapan adiknya, adiknya ini memang ganteng, dan hari ini terlihat lebih ganteng. Sementara Kharisa mencebikan bibirnya, membayangkan pasti teman Faisal yang cewek yang minta foto bareng Faisal, ia terlihat cemberut. Kharisa tau Faisal memang jadi idola di fakultasnya. Entah kenapa ia tidak suka kalau melihat Faisal berdekatan dengan perempuan lain, walaupun hanya teman kuliah Faisal.
"Neng gak mau ngasih selamat sama Aa?"
"Aa juga belum ngasih selamat sama aku." Masih dengan wajah cemberut.
"Selamat ya Neng, akhirnya kita wisuda bareng." Faisal mengulurkan tangannya, Kharisa pun menjabat tangan Faisal dengan air bening menggenang di kedua matanya, hampir tidak pernah mereka bersalaman seperti ini, karena Faisal sangat menjaga untuk tidak bersentuhan langsung dengan lawan jenis, boncengan di motor pun mereka tidak pernah bersentuhan, namun kali ini rasa bahagia begitu membuncah, suka dan duka telah mereka lalui bersama, rasanya Faisal ingin sekali memeluk Kharisa, wanita yang hebat menurutnya, wanita yang sabar menerima takdirnya harus membesarkan putranya tanpa seorang suami di sisinya, dan Kharisalah perempuan paling dekat dekat dengannya walaupun tanpa ada ikatan hubungan apapun, hanya sebagai sahabat, saudara yang saling membantu, saling mensupport untuk sukses bersama-sama.
Begitu pun dengan Karisa, kalau boleh ingin sekali ia memeluk Faisal, laki-laki yang sudah dianggap sebagai kakaknya, yang selalu berada disampingnya, mendampinginya disaat ia terpuruk dalam penyesalan, menjadi penyemangat hingga ia kembali bersemangat untuk melanjutkan sekolahnya hingga sekarang lulus menjadi seorang sarjana, bahkan laki-laki yang ada di depannya ini bisa menjadi sosok ayah bagi putranya dan dengan tulus memberikan kasih sayangnya yang selama ini tidak pernah di dapatkan Rakha dari ayahnya.
"Sssttt.....bukan marham." Fahira langsung mengingatkan saat tangan Kharisa dan Faisal bertautan cukup lama. Mereka pun tersentak dan segera melepaskan tautan tangan mereka dengan wajah merona.
"Sama-sama Bi, terima kasih doanya." Faisal menganggukan kepalanya memberi hormat pada mama Kharisa, kemudian beralih menyambut ucapan selamat dari kakak perempuannya.
"Selamat ya Sal, semoga Allah mudahkan untuk mengamalkan ilmu dalam dunia nyata, bermanfaat untuk banyak umat." Fahira memeluk tubuh adiknya dan menepuk-nepuk punggungnya.
"Hatur nuhun Teh Ira, doakan Isal bisa cepat dapat kerja." Fahira menganggukan kepalanya. "Isnya Allah." ucapnya.
Bapak dan Ibu Faisal memberikan ucapan selamat pada Kharisa, dengan berlinang air mata Kharisa menyalami mereka bergantian. Ayah dan Ibu Faisal juga banyak membantu Kharisa hingga bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Om Isal....kenapa aku gak di sapa, om Isal sombong mentang-mentang Om Isal jadi saljana." Bocah menggemaskan itu memasang wajah cemberut, memalingkan mukanya, kedua tangannya bersedekap di dadanya.
"Euleuh.....euleuh ada sarjana cilik, sini Om peluk." Faisal berjongkok sambil merentangkan tangannya, namun Rakha bergeming dengan wajah cemberutnya, membuat Faisal dan yang lainnya terkekeh melihat gaya ngambek bocah yang menggemaskan itu.
" Masa jagoan Om Isal ngambek gitu, jadi gak mau digendong nih, ya udah Om Isal mau peluk Enin saja." Faisal berdiri pura-pura akan memeluk ibunya.
__ADS_1
"Om Isal peluk aku....." Kini Rakha yang merentangkan tangannya, Faisal pun langsung memeluknya dengan penuh rasa sayang, entah kenapa hati Faisal bergetar, dipeluknya erat Rakha seolah tidak ingin melepasnya, Faisal sadar, setelah ini mungkin ia tidak akan bisa berdekatan terus dengan Rakha, ia belum tentu bisa mendampingi Rakha, menyaksikan perkembangan bocah yang sejak kecil diasuhnya, bahkan saat lahir ia yang mengadzaninya.
"Kita foto-foto dulu yuk, ayo Boy mau foto gak?" Kharisa tau putranya itu suka sekali di foto. Rakha melepas pelukannya, Faisalpun berdiri sambil mengusap matanya yang basah.
"Aku mau difoto sama Om Isal, ayo Om." Rakha menarik tangan Faisal.
"Kita cari dulu foto spot yang bagus yuk." Faisal mengedarkan pandangan mencari tempat yang menarik untuk berfoto.
"Kita foto di sana A, yang ada tulisan nama kampusnya." Ujar bapak Faisal. Mereka pun berjalan menuju tempat yang ditunjuk bapaknya Faisal.
Setelah puas berfoto, mereka menuju parkiran mobil yang agak jauh dari kampus tempat wisuda, mereka hanya menggunakan satu mobil milik bapaknya Faisal, mobil sejuta umat yang muat menampung penumpang tujuh hingga delapan orang. Rencananya mereka akan menuju rumah Kang Farhan, yang telah menyiapkan acara syukuran kecil untuk adik tercintanya. Perlu waktu satu jam untuk sampai di rumah Kang Farhan.
Kini mereka telah berkumpul di rumah Kang Farhan, bukan di rumah kontrakan lagi, tapi rumah yang memiliki area yang cukup luas, rumah sekaligus tempat usaha konveksi yang dibangun dari hasil kerja kerasnya bersama istri tercintanya, berdiri di tengah-tengah pesawahan sehingga jauh dari keramaian, dan polusi udara.
Mereka berkumpul di sebuah gasibu di belakang rumah, tampak kakak Kang Fakhri kakak pertama Faisal juga hadir, ternyata ia menyusul setelah selesai melaksanakan amanahnya memimpin rapat koordinasi dengan para ustad di pondok mewakili yayasan. Di tengah-tengah tampak aneka hidangan tersaji dengan begitu menggoda, ada nasi tumpeng lengkap dengan lauk pauknya yang dihias menarik, aneka kue basah dan minuman segar es kelapa muda juga tersedia.
Sebelum makan Kang Fakhri membuka acara syukuran kecil-kecilan wisuda Faisal dan Kharisa yang hanya dihadiri oleh keluarga inti. Sebelum menikmati hidangan, Kang Fakhri meminta bapaknya untuk memimpin doa. Bapakpun memimpin doa, sebelumnya bapak memberikan beberapa nasehat untuk putranya, juga untuk Kharisa agar tidak sombong dengan memiliki ilmu dan gelar yang tinggi, selalu rendah hati kata bapak.
"Ingatlah selalu ilmu Padi, semakin berisi semakin merunduk, semakin berisi oleh ilmu, iman dan amal semakin rendah hati, tidak sombong, karena kesombongan dimiliki oleh orang tidak berisi untuk menutupi kelemahannya."
"Menjadi sarjana bukanlah akhir dari perjuangan, karena perjuangan masih panjang, masih banyak impian yang harus diraih, jangan puas dan merasa cukup dengan ilmu yang sudah di dapat, karena ilmu akan terus berkembang, jadi kejarlah terus ilmu kemudian amalkan, karena kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Berikanlah manfaat dari ilmu yang kita miliki, Khoirunnas angfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain."
Kharisa pun mengiyakan nasehat dari bapaknya Faisal. Benar saat ini bukan akhir perjuangannya, perjalanannya masih panjang, masih banyak yang harus ia perjuangkan, mendapatkan pekerjaan agar ia tidak membebani mamanya, bahkan harusnya ialah yang menanggung hidup mamanya dan Bi Nani, juga membesarkan putranya yang sangat disayanginya.
Lalu pengakuan dan tanggung jawab dari ayah biologis putranya juga haruskah diperjuangkan?
🍁🍁🍁
Bersambung....
Hai readers, ada yang penasaran kemana Rafael, kok tidak pernah muncul?
Sabar yah, tunggu satu atau dua bab lagi deh, Othor masih mastiin keberadaannya, setelah jelas, pasti muncul, jadi terus pantau yah.😊
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan komen yah, itu yang membuat Othor senang dan semangat lanjutin ceritanya.
Hatur nuhun🙏