
Rakha sudah tertidur lelap, sebelum tidur ia mengoceh terus membicarakan dadynya yang sama sekali belum pernah ia bayangkan seperti apa rupa Dadynya.
"Momy aku milip Dady gak? Kalau milip aku mau ikut lomba milip ayah. Mau ikut lomba digendong juga, boleh kan Mom, pasti selu aku digendong Dady, aku gak belat kok, Dady pasti kuat gendong aku." Ucapnya percaya diri, dan Kharisa hanya mengiyakan saja dan menyuruh Rakha untuk segera tidur agar besok tidak terlambat bangun.
Setelah Rakha tidur, ia mengambil HPnya yang tersimpan di meja, ia membuka chat WA, dan menuliskan pesan kepada seseorang.
"Maaf apa aku mengganggu?" Itu pesan yang baru saja ia kirim, namun tidak langsung ada jawaban, bahkan pesannya belum terbaca.
"Ada yang ingin aku sampaikan." Ia mengirimkan satu pesan lagi, masih belum terbaca. Akhirnya ia merebahkan tubuhnya di samping Rakha, baru saja kepalanya menempel di bantal, terdengar nada panggilan telpon di HPnya, dan ternyata panggilan vidio call dari yang barusan dikirim pesan oleh Kharisa. Kharisa pun merejecknya, malas kalau harus vidio call. Tidak lama kemudian terdengar panggilan telpon lagi. Kali ini Kharisa menerimanya. Ia turun dari tempat tidur dan duduk di lantai dekat pintu agar tidak mengganggu Rakha.
"Kenapa di rejeck vidio call nya?" Langsung terdengar pertanyaan di sebrang sana.
"Aku gak mau vidio call." jawab Kharisa
"Aku kangen sama Rakha, aku ingin lihat dia." Beberapa hari ini Rafael memang belum sempat menemui Rakha atau menghubunginya di telpon karena kesibukannya. Setiap hari ia mengikuti rapat dengan direktur untuk persiapan akreditasi rumah sakit hingga pulang lewat dari jam enam sore. Sebelum pulang ia berkoordinasi dengan dokter jaga baik yang di IGD maupun yang di rawat inap hingga pukul delapan malam baru oulang ke mess.
"Rakha sudah tidur." Ujar Kharisa, Rafael pun percaya, karena waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. "Apa aku mengganggu?" Tanyanya.
"Nggak, aku belum mau tidur kok, baru mandi jadi masih seger. Tadi ada yang mau disampaikan?" tanya Rafael.
"Mmm...ya. Aku sudah memutuskan, besok akan memberitau Rakha siapa Dadynya." ucapan Kharisa sontak saja membuat jantung Rafael tiba-tiba berdetak kencang, ia diam terpaku, mencermati apa ia tidak salah dengar. Secepat itukah Kharisa mengambil keputusan memberitau Rakha kalau ia adalah dadynya, padahal beberapa hari yang lalu ia memutuskan akan bersabar sampai Kharisa merasa siap.
"Kamu serius?" Tanya Rafael tidak percaya.
"Ya besok aku akan memberitaunya, sepulang aku kerja."
"Eu...eu...boleh aku ada di sana saat kamu memberitaunya?" Suara Rafael terdengar gugup, bagai mana tidak gugup, ia merasa mendapat kejutan istimewa, yang di nanti-nantinya sebentar lagi akan menjadi nyata, ia akan dipanggil Dady oleh putranya.
"Aku ingin memeluknya saat ia mengetahui kalau aku dadynya. Boleh kan Sa?" Ujar Rafael saat tidak terdengar jawaban dari Kharisa.
"Bisakah kamu membawa hadiah mainan pesawat terbang untuk Raka? Ia meminta hadiah itu saat Dadynya pulang." Bukannya menjawab, Kharisa malah mengajukan pertanyaan yang menandakan ia mengijinkan Rafael datang ke rumahnya besok. Saat obrolan sebelum tidur beberapa hari yang lalu Rakha ingin dibawakan hadiah pesawat terbang, katanya kalau dadynya pergi lagi ia akan menyusulnya dengan pesawat terbang itu. Hmmm imajinasi anak kecilnya ternyata jalan.
"Of course, aku akan membawakan hadiah pesawat terbang untuk Rakha." Ucap Rafael dengan suara bergetar, entah kenapa hatinya berdesir mendengar Rakha ingin mendapat hadiah dari dadynya. Ya selama ini dadynya belum pernah memberikan apapun untuk Rakha, jangankan hadiah, melihat pun belum pernah, pasti itu yang ada di benak putranya. Hadiah yang sudah ia berikan untuk Rakha tentu saja dianggap bukan dari dadynya, itu dari Om Dokter teman Momynya.
"Makasih ya Sa....besok pulang kerja aku langsung ke rumah kamu." Ujarnya lagi.
"Oh ya, hari Sabtu di sekolah Rakha ada acara 'Father's Day, apa kamu bisa mendampingi Rakha ke sekolahnya, ada beberapa kegiatan di sana yang harus diikuti oleh ayah dan anak. Tapi kalau tidak bisa juga tidak apa-apa." Sebenarnya dalam hati Kharisa berharap semoga Rafael bisa, Rakha pasti akan kecewa kalau dadynya tidak bisa hadir, mungkin Rafael akan mudah mengajukan ijin dari rumah sakit, secara ia anak pemilik rumah sakit, tapi ia juga tau, beberapa hari ini Rafael terlihat sibuk, tidak hanya Rafael, sepertinya semua level manajer terlihat sibuk, ditambah agenda rapat dengan direktur setiap hari untuk persiapan akreditasi rumah sakit.
"Sabtu besok? Aku usahakan pasti bisa." Jawab Rafael. Ya untuk Rakha harus diusahakan bisa, ia tidak ingin melewatkan acara penting untuk perkembangan Rakha, bahka ia punya hutang banyak pada putranya itu, ia harus mengganti waktu yang terlewatkan selama empat tahun, hampir lima tahun malah termasuk saat Rakha masih dalam kandungan, ia melewatkan masa-masa itu.
"Besok aku kasih tau acaranya seperti apa.... Makasih ya El." Ujar Kharisa dengan perasaan lega. Rakha tidak akan cemberut lagi karena ia bisa mengikuti acara spesial untuk ayah dan anak di sekolahnya.
"Aku yang makasih Sa, thanks sudah ngasih kesempatan untuk aku, jadi ayah Rakha, dadynya Rakha."
"Sama-sama, aku melakukan ini karena memang kamu ayahnya, apapun yang akan terjadi pada kita kamu tetap ayahnya Rakha."
"Yang akan terjadi pada kita adalah kita akan hidup bersama, menjadi keluarga yang utuh, ingat itu Sa." Suara Rafael terdengar tegas penuh percaya diri.
__ADS_1
"Ah sudah malam, sebaiknya kita istirahat." Rupanya Kharisa menghindari obrolan lebih jauh lagi dengan Rafael, obrolan tentang hubungan mereka, waktu pun sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
"Ya, kamu harus istirahat, tidur yang nyenyak, sampai ketemu besok?" Rafael pun mengerti kalau Kharisa ingin mengakhiri obrolannya, padahal ia masih ingin bicara dengan kharisa membahas hubungan mereka.
"Assalamualaikum...." Kharisa mengucapkan salam, tanpa menunggu Rafael menjawabnya ia mematikan HPnya.
Kharisa berusaha memejamkan matanya, tapi pikirannya masih terus menerawang, membayangkan ia dan Rafael menjadi orang tua yang utuh untuk buah hati mereka, seperti yang tadi diucapkan Rafael, mereka akan hidup bersama, menjadi keluarga yang utuh. Siapa yang tidak ingin hidup bersama dengan orang dicintai, apalagi sudah ada anak diantara mereka, Kharisa pun inginnya seperti itu, tapi ia terlalu takut untuk mencoba mewujudkannya, akan banyak tantangan dan hambatan yang harus mereka hadapi. Belum lagi akan membuat orang lain sakit hati karena dikhianati, rasanya terlalu berat untuk dilalui.
Ya Allah jika memang ia jodohku, mudahkanlah segala urusannya, jika bukan, ikhlaskan hati ini.
Hanya doa itu yang bisa ia panjatkan untuk menenangkan hatinya.
*****
Rafael keluar dari masjid menuju mobil yang diparkir di pinggir jalan, agak jauh dari masjid, karena parkiran memang penuh. Ia baru saja melaksanakan shalat Jumat, shalat yang wajib dikerjakan oleh laki-laki di saat waktu dhuhur, dilakukan secara berjamaah. Untuk shalat jumat ia memang tidak pernah meninggalkannya walaupun shalat wajib lima waktunya tidak pernah ia kerjakan. Bisa dibilang ia mengerjakan shalat seminggu hanya satu kali, yaitu shalat jumat. Kali ini ia sengaja shalat di masjid raya kota sekalian ingin mencari hadiah mainan pesawat terbang untuk Rakha. Ia terlihat begitu bersemangat, wajahnya pun terlihat lebih berseri dari biasanya.
Setelah mencari di tiga toko mainan akhirnya ia mendapatkan mainan yang diinginkan Rakha, mainan pesawat terbang yang paling bagus menurutnya, dilihat dari ukuran, bahan, dan modelnya. Tentu saja harganya pun paling mahal. Sebelum kembali ke rumah sakit ia mampir di toko donat, membeli satu box ukuran besar dan lima box ukuran mini yang akan dibawa ke sekolah Rakha besok agar bisa dinikmati Rakha bersama teman-temannya.
Saat kembali ke rumah sakit, di depan lift ia berpapasan dengan Kharisa yang juga baru kembali ke rumah sakit setelah kunjungan ke klinik bersama Zaki.
"Sa....aku sudah dapat hadiah buat Rakha." Ujar Rafael dengan wajah berserinya. Kharisa langsung menatap tajam Rafael, memberi kode agar tidak sembarangan bicara. Ya...saking bahagianya ia reflek bicara pada Kharisa tanpa melihat situasi sekitar. Zaki terlihat mengernyit, pasti ia heran melihat Rafael berbicara pada Kharisa seperti sudah mengenal akrab, memanggil dengan sebutan yang ridak biasa pula.
"Eh siang Dok, dokter mau ke atas juga?" Sapa Kharisa pada Rafael, semoga Zaki tidak mendengar jelas ucapan Rafael tadi, dan tidak berpikir macam-macam.
"Ya, mau ke lantai enam." Jawab Rafael, kali ini ia bicara datar, paham maksud tatapan Kharisa tadi. Rafael memang ada rapat dengan direktur, untuk membentuk struktur organisasi tim akreditasi. Saat pintu lift terbuka, mereka pun masuk bersama-sama dengan pengunjung rumah sakit yang lain.
Sebelum mengendarai motornya, Kharisa menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum A...."
"Waalaikumsalam, Ya Neng?" tanya Faisal
"A aku kok degdegan nih."
"Sudah di rumah?" Faisal sudah tau kalau sore ini Kharisa akan memberitau Rakha tentang dadynya.
"Belum, masih di parkiran rumah sakit, baru mau pulang."
"Udah tenang aja, bayangkan Rakha bahagia setelah tau dadynya pulang, dia pasti senang bisa sering ketemu dadynya, cukup bayangkan itu, gak usah berpikir macam-macam dulu, belum tentu juga Rakha bertanya macam-macam. Dadynya bisa datang juga kan?"
"Ya, Rafael mau datang juga."
"Tuh kan, jadi gak sendiri, Rakha pasti akan menerima dadynya, bukankah ia sangat merindukannya. A Isal cuma bisa mendoakan semoga semuanya lancar." ujar Faisal menguatkan Kharisa.
"Makasih ya A."
Setelah menghubungi Faisal Kharisa lebih merasa tenang, benar kata Faisal gak usah berpikiran macam-macam, jalankan saja dulu, ia yakin Rakha akan menerima Rafael sebagai ayahnya.
__ADS_1
Pukul lima sore Kharisa mengajak Rakha duduk di ruang tamu. Ia tau kalau Rafael sudah ada di depan rumahnya, ia pun mengirim pesan agar menunggu lima menit lagi, baru boleh masuk ke rumah.
"Hey Boy...kalau Dady datang ke sini sekarang, seneng gak?" Rakha yang tengah menyusun legonya langsung menegakan tubuhnya menatap momynya.
"Dady pulang sekalang Mom? Benel?" Rakha malah balik bertanya dengan mata berbinar. Kharisa menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Ya Dady akan ke sini bawa hadiah pesawat terbang untuk Rakha." ujar Kharisa.
"Yeeeeaaahh........" Rakha bersorak sambil melompat-lompat.
"Tapi sini dulu dengerin Momy, sini duduk dekat Momy." Kharisa menepuk sofa di sampingnya. Rakha pun mengikuti perintah momynya.
"Rakha masih ingat gak dulu momy pernah liatin foto dady, waktu dady pakai seragam sekolah sama Momy." Rakha terlihat mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat.
"Kalau Rakha lupa, nih Momy liatin lagi foto dady." Kharisa membuka galery fotonya, mencari fotonya saat berdua bersama Rafael di lapangan basket sekolah, foto yang diambil saat kelulusan Rafael, waktu itu ia upload di IG miliknya, dan itu foto satu-satunya yang ia miliki saat bersama Rafael, karena foto yang lainnya ada di HP lamanya yang tertinggal di rumahnya. Rakha terlihat antusias mendekat ke momynya.
"Ini dady waktu masih SMA, ini Momy, waktu itu momy belum pakai kerudung." Kharisa memperlihatkan fotonya, Rakha mengambil HP dari tangan momynya, memperhatikannya dengan lekat, entah apa yang tengah dipikirkannya, yang jelas keningnya tampak berkerut.
"Momy....ini Dady? Kok milip........" Rakha tidak meneruskan ucapannya, ia memperhatikan lagi fotonya, takut salah dugaannya, walaupun usianya masih kurang dari lima tahun Rakha termasuk anak yang jeli dan juga kritis.
"Rakha ingat gak, Momy pernah liatin foto ini, waktu itu Rakha bilang dady ganteng kaya Rakha, inget gak?" Kharisa mencoba mengingatkan Rakha. Dan Rakha mulai mengingatnya, ia menganggukan kepalanya. Melalui foto ini Kharisa ingin Rakha percaya kalau seseorang yang sebentar lagi akan datang membawa hadiah untuk Rakha itu adalah dadynya. Kharisa yakin saat Rakha melihat foto Rafael walaupun saat masih SMA, pasti akan langsung ingat pada seseorang yang dia panggil Om Dokter, jelas wajahnya sangat mirip, tentu saja karena memang orang yang sama. Waktu lima tahun tidak banyak yang berubah dari wajahnya, hanya sekarang terlihat lebih dewasa. Saat Rakha masih menatap foto dadynya dengan keraguan akan dugaannya, terdengar seseorang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum."
Rakha langsung menoleh, matanya membulat menatap laki-laki yang berdiri di depan pintu yang terbuka dengan senyum lebar di bibirnya memperlihatkan barisan giginya yang rapi, dengan kedua tangannya memegang sebuah box mainan bergambar pesawat terbang.
"Waalaikumsalam." terdengar Kharisa menjawab salam laki-laki itu, sementara Rakha masih bergeming menatap wajah yang tidak asing baginya. Ia melihat layar HP di tangannya, memastikan wajah laki-laki yang kini mendekat ke arahnya sama dengan wajah yang ada di layar HP momynya.
"Dady.......?" Rakha masih terlihat tidak percaya.
"Om doktel......Dady......?" Rakha menoleh ke momynya, meminta jawaban. Kharisa menganggukan kepalanya dengan mata berkaca-kaca.
"Ya Om dokter dady Rakha." Jawab Kharisa meyakinkan.
"Sini my boy....peluk dady." Rafael berjongkok bertumpu pada lututnya, ia merentangkan kedua tangannya setelah menyimpan hadiah untuk Rakha di atas meja. Rakha terlihat ragu, namun dengan perlahan ia mendekati Om Dokternya yang ternyata adalah dadynya. Rafael langsung meraih tubuh kecil putranya ke dalam pelukannya.
"Dady......."Rakha pun membalas pelukannya
"Yes....I'm your dady." Bisiknya, air matanya pun tak bisa dibendungnya.
bersambung.........
Ah.....lega.
Jangan bosan dukung Othor dengan like dan komen yah. Hatur nuhun🙏
.
__ADS_1