Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Tidak Ingin Punya Musuh


__ADS_3

Hari ini Kharisa bertugas mengunjungi klinik pratama dan klinik bersalin yang berada di sekitar kota, didampingi oleh Zaki, staf marketing yang lebih dulu bergabung dengan rumah sakit satu tahun yang lalu. Kunjungan ini adalah kunjungan rutin yang dilakukan tiap bulan, tujuannya untuk memberikan informasi terbaru tentang pelayanan di rumah sakit, memberikan ucapan terima kasih karena telah memilih rumah sakit Setya Medika saat membutuhkan tindakan merujuk pasien untuk mendapatkan pelayanan yang lebih tinggi, tak lupa meminta feedback atau masukan terhadap pelayanan rumah sakit. Intinya silaturahim rutin agar terjalin hubungan yang baik tidak hanya sebagai mitra kerja tapi lebih ke arah persaudaraan. Rencananya mereka berangkat setelah Morning Meeting. Waktu masih menunjukan pukul 07.40 WIB. Baru ada Kharisa di ruangan divisi marketing, ia tengah menyiapkan perlengkapan perangnya, brosur info layanan rumah sakit, baik rawat jalan, rawat inap maupun penunjang yang terdiri dari beberapa brosur, tak lupa lembar kunjungan untuk minta tanda tangan sebagai bukti kalau timnya sudah melakukan kunjungan. Ini adalah minggu kedua ia ditempatkan di marketing eksternal, setelah dua minggu menjalankan marketing internal. Ia semakin paham alur kerja di rumah sakit ini, alur koordinasi di internal marketingnya ataupun koordinasi dengan divisi lain.


"Kharisa kita gak dapat mobil inventaris nih gimana? Kemarin kamu gak buat pesanan ke bagian umum, tadi aku cek gak ada pesanannya, hari ini mobil invent dipake keluar semua." Tiba-tiba Zaki masuk ruangan dengan wajah merengut.


"Loh kemarin aku sudah minta tolong ke Mba Siska minta dibuatkan pesanan pemakaian mobil untuk jam delapan. Kemarin aku kan pulang jam lima baru nyampe rumah sakit, habis ke kawasan Industri sama Pak Andre, aku kirim pesan di WA, nih lihat, Mba Siska jawab iya." Kharisa memperlihatkan chat WAnya dengan rekan kerjanya Siska.


"Wah payah nih Siska, aku laporin di MM (Morning Meeting)" Zaki terlihat kesal.


"Gak perlu gitu kali Mas Zaki, kita kan bisa pakai motor, bisa pakai motor aku, kita keliling di area kota kan? Masih bisa dijangkau pakai motor." Kharisa memberikan solusi masalah yang menurutnya sepele, ia gak masalah jika harus memakai motornya, Zaki sendiri tidak membawa motor karena tinggal di mess.


"Bukan soal bisa tidaknya, tapi gengsinya Neng, masa marketing rumah sakit terbesar di kota ini jalan pakai motor, kalah sama marketing klinik bersalin." Ternyata masalah gengsi yang membuat Zaki kesal.


"Kalau aku sih no problem jalan pake motor Mas, dari pada kerjaan terbengkalai." Ujar Kharisa meyakinkan.


"Udah ah kita sampaikan saja di MM, nanti gimana Pak Andre saja." Ini pengalaman pertama bagi Zaki saat ada tugas luar tidak kebagian mobil inventaris, biasanya bagian umum akan memprioritaskan kendaraan untuk bagian marketing kalau ada koordinasi sebelumnya, ia jadi heran dengan Siska, biasanya Siska paling rajin melakukan koordinasi, apalagi kalau berurusan dengan bagian umum, ia paling semangat karena ada seseorang yang disukainya di sana.


"Kayanya Siska sentimen deh sama kamu, dia kayanya iri karena kamu sering dipuji pak Andre, merasa ada saingan dia, sebelum ada kamu dia kan yang suka diandalkan Pak Andre."


"Jangan suka suudzon Mas, mungkin dia memang lupa." Kharisa tidak mau berpikiran negatif, walaupun sebenarnya ia merasakan sikap Siska yang sering menatap dan senyum sinis, kadang menyindir, tapi ia membuang pikiran buruknya. Sejak kenal Faisal ia tidak pernah berpikiran buruk pada orang lain, Faisal selalu mengingatkan, "Jangan pernah buruk sangka, siapa tau prasangka kita yang salah, hanya akan menimbulkan permusuhan, jangan pernah mencari musuh, lebih baik perbanyak teman. Kalau ada yang berniat tidak baik lebih baik menghindar jangan dilawan, hanya membuang energi percuma, kalau ada yang berbuat kesalahan, maklumi, lupakan dan maafkan, insya Allah hidup kita akan tenang." Dan benar selama ini ia selalu menghindari permusuhan, bahkan bukan tidak jarang ia mendengar pembicaraan orang lain yang sudah mulai tau kalau ia punya anak tanpa suami, ia diamkan, tak pernah menanggapinya, ternyata membuatnya lebih tenang. Lebih baik memperbaiki diri dari pada menilai buruk orang lain, begitu kata Faisal.


Pukul delapan kurang lima satu persatu staff marketing berdatangan, termasuk Pak Andre. Otomatis para staf mengambil posisi duduk di meja meeting.


"Maaf Pak kemarin saya lupa koordinasi dengan bagian umum." Ujar Siska datar, setelah ia ditegur Pak Andre karena laporan Zaki. Zaki benar-benar menyampaikan keluhannya di morning meeting. Dari wajahnya tidak terlihat ekspresi perasaan bersalah.


"Kamu kerja di sini tuh bukan satu dua bulan, hampir dua tahun, bagaimana bisa lupa untuk koordinasi penggunaan mobil, mobil bagi divisi kita itu ibarat kaki, kalau gak ada kita tidak bisa jalan." Ujar Andre sedikit emosi, pasalnya Siska adalah staff seniornya.


"Makanya ajukan mobil invent khusus untuk marketing Pak, jadi kita gak harus permintaan penggunaan mobil setiap hari......" Timpal Siska.


"Kamu tidak usah mengalihkan kesalahanmu, perbaiki dulu kinerja kamu, kalau target kita tercapai tidak usah mengajukan juga rumah sakit bakal ngasih." Ucapan Pa Andre langsung membuat Siska diam. Yang lain pun hanya bisa diam, tidak berani bicara satu kata pun. Pa Andre memang orangnya tegas, ia tidak akan segan untuk menegur bawahannya bila melakukan kesalahan seperti yang dilakukannya pada Kharisa saat hari pertama masuk orientasi.


"Saya dan Ahmad hari ini akan ke perusahaan, pake mobil saya, gak mungkin saya batalkan, kalau kalian jalan agak siang gimana? Nunggu mobil invent balik. Zaki, coba kamu koordinasi dengan umum, kira-kira jam berapa mobil yang tercepat bisa balik. Kalian tidak ada janji khusus kan?" Ujar Pak Andre memberikan solusi.

__ADS_1


"Maaf Pak, bagaimana kalau kami pake motor?" Usul Kharisa. Siska tersenyum sinis mendengar usulan Kharisa.


"Motor?" Memangnya kalian mau panas-panasan pake motor?"


Akhirnya Karisa dan Zaki diijinkan tugas luar menggunakan motor. Mereka memakai motor Kharisa, walaupun Zaki masih terlihat merengut, tapi selama di perjalanan akhirnya ia menikmatinya, kapan lagi membonceng gadis cantik, pikirnya.


Sebelum pukul satu siang mereka sudah tiba di rumah sakit, ternyata menggunakan motor membuat pekerjaan mereka lebih cepat selesai, untungnya cuaca hari ini tidak terlalu panas, sedikit mendung malah, seolah sang matahari begitu pengertian kalau mereka tidak ingin kepanasan. Tiba di rumah sakit mereka langsung menuju kantin, tenggorokan mereka sudah terasa kering dan cacing di perut mereka sejak tadi sudah berontak kelaparan. Mereka langsung memesan minuman dingin untuk menyegarkan tenggorokannya kemudian mengambil makanan sesuai selera mereka.


"Kharisa, Zaki......." Saat mereka mencari tempat duduk kosong, seseorang memanggil dan melambaikan tangannya, ternyata Pak Andre mengajak mereka gabung. Di depan Pak Andre duduk dua orang wanita menggunakan seragam rumah sakit. Mereka pun menghampiri meja Pak Andre yang muat untuk enam orang


"Kalian sudah selesai? Tumben siang begini sudah balik lagi?" Tanya Pak Andre heran.


"Iya Pak, ternyata menggunakan motor bisa lebih cepat." Jawab Kharisa yang sudah duduk disebelah kanan Pa Andre, Zaki duduk di sebelah kiri Pak Andre, rupanya Pak Andre tidak mau menggeser duduknya, sejak tadi ia berada di tengah.


"Eh Kharisa ni kenalin calon ibu bos kita Ibu Vania, di bagian akunting, ini Kharisa staffku yang baru, tapi sudah seperti karyawan senior, bisa diandalkan, makanya aku langsung ajukan dia kontrak bulan ini." Ujar Pak Andre, Kharisa pun mengulurkan tangannya dengan senyum di bibirnya, membuat ia terlihat lebih manis, disambut oleh Vania dengan wajah ramahnya. Mereka saling berjabat tangan.


"Salam kenal Bu, saya Kharisa."


" Oh iya maaf, saya panggil Mba Vania saja." Ralat Kharisa, Vania pun menganggukan kepalanya. "Nah itu lebih enak kedengarannya." ujarnya.


"Aku gak dikenalin nih?" Ujar wanita yang duduk di sebelah Vania, sambil melirik ke arah Pak Andre. Namun Pa Andre terlihat cuek, malah membaca pesan yang baru masuk di HPnya.


"Oh ya, kenalkan ini Meita, temanku di bagian akunting juga." Akhirnya Vania yang memperkenalkan teman di sebelahkanya.


"Salam kenal Mba Meita." Kharisa mengulurkan tangannya.


"Sepertinya kamu staf spesialnya Pak Andre." Ujar Meita sambil membalas uluran tangan Kharisa singkat dengan tatapn mata menyelidik.


"Dia mah staf spesial divisi marketing, ya gak Ki." Ujar Pak Andre sambil menyenggol Zaki. Meita terlihat mengerucutkan bibirnya mendengar ucapan Pak Andre yang kesannya membela Kharisa


"Eh...iya Pak." Jawab Zaki sambil mengunyah makanan di mulutnya.

__ADS_1


"Gak kok, Pak Andre terlalu berlebihan." Sanggah Kharisa. "Aku masih banyak kurangnya, masih harus banyak belajar dari seniorku." Tambah Kharisa merendah.


"Kamu ini memang staffku yang baik dan tidak sombong." Kekeh pak Andre, Kharisa hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Van, aku baru dapat pesan nih di group WA keluarga, jadinya malam minggu besok kalian meresmikan pertunangan kalian?" Tanya Andre pada Vanesa.


" Iya Bang, Bundaku yang minta dimajuin, soalnya Oma udah sering sakit-sakitan." Jawab Vanesa datar, tidak terlihat bersemangat, rona bahagia pun tidak terlihat di wajahnya, padahal membicarakan pertunangannya,


"Siiplah, jadi setelah hubungan kalian resmi, kalian berkumpul di sini, bagus, jadi gak ada yang berani naksir sama bos kita." Pak Andre terkekeh dengan ucapannya sendiri. Vania tersenyum hambar.


"Wah selamat ya Van, benar, nanti gak akan ada yang berani deketin calon suami kamu, karena calon istrinya ada di sini. Ada pesta besar dong." Malah Meita yang terlihat bersemangat, tentu saja Meita sudah tau siapa calon tunangan teman di sebelahnya, siapa lagi kalau bukan Rafael, anak pemilik rumah sakit yang sebentar lagi akan menjadi manajer Yanmed di rumah sakit ini.Vania sendiri yang menceritakan calon tunangannya.


"Acaranya hanya mengundang keluarga dekat saja, dia gak suka acara pesta-pesta." Rupanya ini yang membuat Vania tidak bersemangat, ia mengharapkan acara pertunangannya dilaksanakan di hotel dengan mengundang, keluarga besar, teman dekat, teman kerja dan relasi papanya, tapi ternyata Rafael ingin acaranya sederhana, hanya keluarga terdekat yang diundang, acaranya pun dilaksnakan di rumah Vania.


"Yang penting kan hubungan kalian ada kemajuan, lebih jelas, tinggal siap-siap menuju pernikahan." Ujar Pak Andre menghibur, ia tau kenapa Rafael tidak mau pesta besar-besaran.


"Pak Andre sendiri kapan nih? Sudah ada calonnya kah?" Tanya Meita, ia memang penasaran dengan laki-laki yang membuatnya jatuh cinta, sayangnya cintanya tak berbalas. Pak Andre sama sekali tidak menghiraukan Meita yang sering mencari perhatiannya, dan sering juga memberikan perhatian lebih.


"Aku? Aku mah masih nunggu, nunggu kesiapan yang di sebelahku nih, belum siap aja." Jawabnya sambil melirik ke arah Kharisa.


"Eh...." Kharisa yang sejak tadi menjadi pendengar sambil menikmati minuman dinginnya otomatis menoleh ke arah Pak Andre.


"He...he...he...kapan siapnya Neng, nanti Abang langsung lamar." Kekeh Pak Andre. wajah Meita terlihat memerah memendam amarah. Sementara Kharisa terlihat bingung, akhirnya ia sadar kalau Pak Andre sedang bercanda menggodanya.


"Pak, udah jam satu lewat, saya duluan." Ujar Kharisa, ia mulai tidak nyaman melihat ekspresi Meita yang menatapnya dengan tajam seolah menganggapnya musuh. Kenapa hari ini ia merasa menemukan dua orang yang menganggapnya musuh? Sungguh ia tidak ingin punya musuh.


"Ayo Mas Zaki! Mba Vania, Mba Meita saya duluan." Kharisa sudah berdiri mengajak rekannya yang masih asik menghabiskan minumnya, kemudian beranjak pergi, Zaki pun ikut beranjak mengikuti Kharisa.


"Ya udah jam satu lewat, aku juga duluan yah." Pak Andre pun beranjak menyusul Kharisa dan Zaki meninggalkan Vania dan Meita yang masih memasang wajah cemberutnya.


bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2