
Kharisa tengah mengedarkan pandangannya di sebuah kamar sederhana ukuran 3x3 meter yang akan ia tempati untuk sementara. Ya untuk sementara sampai bayinya lahir, itu kata mamanya. Mereka kini berada di sebuah desa di Garut yang berbatasan dengan Kabupaten Bandung. Mereka tinggal di rumah milik kakak ipar Mama Kharisa yang kosong, hanya ditempati jika keluarga kakaknya pulang kampung atau berlibur. Keluarga kakak mama Kharisa sendiri tinggal di kota kecil masih di Jawa Barat, lebih dekat ke ibu kota. Rumah itu berada di lingkungan pesantren, suami kakak mama Kharisa adalah salah satu putra pemilik pesantren tersebut.
Kharisa duduk di tempat tidur yang cukup untuk dua orang, hanya ada tempat tidur, meja kecil dan lemari pakaian dua pintu yang hanya berisi beberapa kain sprei dan selimut.
"Kharis mandi dulu biar segar, setelah shalat Isya kita ke rumah Abah, kita makan malam disana." Tanpa Kharisa sadari Mama sudah berada di dalam kamar.
"Oh ya...Kharis sama Mama tidurnya di kamar ini, gak papa yah kita tidur berdua, mama gak enak kalau tidur di kamar Wa Dini." Wa Dini adalah panggilan dari Kharisa untuk kakak mamanya. Kharisa hanya menganggukan kepalanya. Ia masih terlihat sedih, ia masih tidak menyangka akan melewati hidup seperti ini karena kebodohannya, meninggalkan papanya, meninggalkan kehidupannya yang nyaman di ibu kota dengan fasilitas yang serba ada dan serba mudah yang diberikan papanya. Sekarang ia harus tinggal di sebuah desa yang jauh dari keramaian, jauh dari mall dan tempat hiburan. Akankah ia betah tinggal di tempat barunya?
"Ayo mandi dulu." ujar Mama lagi, Kharisa pun menganggukan kepalanya, ia mengambil handuk yang masih ada di kopernya, kemudian menuju kamar mandi yang berada di belakang, tidak seperti kamarnya di Jakarta yang kamar mandinya ada di dalam kamarnya.
Setelah shalat Isya, mama, Kharisa dan Bi Nani mendatangi rumah Abah yang letaknya tidak jauh dari rumah yang ditempati Kharisa, Abah adalah pendiri sekaligus pemilik pondok pesantren yang juga mertua dari Wa Dini, usia Abah sudah lebih dari 70 tahun, tapi masih terlihat sehat dan bugar, hanya rambutnya saja yang sudah terlihat putih dan kulitnya keriput, beliau masih dipercaya untuk memimpin pondok pesantren walaupun sebagian tanggung jawabnya dibantu oleh kedua putra Abah yang juga tinggal di lingkungan pondok.
"Assalamualaikum...." ucap Mama saat di depan pintu ruang tamu yang terbuka.
"Waalaikumsalam...." terdengar jawaban serempak dari ruang tengah yang tenyata keluarga Abah telah berkumpul menyambut kedatangan Kharisa dan mamanya. Terlihat Wa Dini dan suaminya Wa Ahmad masih duduk di atas karpet di dekat Abah, setelah tadi mengantarkan Kharisa dan mamanya ke tempat ini, dan setelah acara kumpul keluarga ini Wa Dini akan kembali pulang kerena besok harus mulai aktivitas lagi. Wa Dini dan Wa Ahmad mengelola yayasan yang bergerak di bidang pendidikan Islam Terpadu dari mulai TK sampai SMA di kota tempat tinggalnya. Sebenarnya Mama memiliki rumah tepat di depan rumah Wa Dini, hanya saja kondisinya saat ini sedang dikontrakan kepada pihak lain sampai waktu dua tahun lagi, hingga Wa Dini menyarankan Kharisa dan Mamanya untuk tinggal di rumah suaminya di lingkungan pesantren ini demi keamanan dan keselamatan Kharisa dan janinnya.
__ADS_1
"Masuk sini Wi....." ujar Wa Dini sambil menata makanan yang dibawanya dari dapur. Mama, Kharisa dan Bi Nani duduk di depan Abah dan mencium punggung tangannya dengan penuh takzim, kemudian menyalami yang lainnya satu persatu. Selain Wa Ahmad, tampak hadir putra Abah yang lain, adiknya Wa Ahmad yaitu Wa Rahmat beserta istri dan anak bungsunya dan Wa Abdul juga bersama istri dan anaknya.
Abah sangat ramah menyambut Mama dan Kharisa, dan mempersilahkan untuk makan karena makanan pun sudah siap tersaji di depan mereka.
"Abah.....Dewi sebelumnya minta ijin untuk tinggal di rumah A Rahmat sampai Dewi dan Kharisa mendapatkan tempat tinggal, dan mohon maaf kalau merepotkan semua keluarga Abah di sini." Mama membuka pembicaraan setelah mereka selesai makan malam.
"Abah senang Dewi mau tinggal di sini....gak usah sungkan, Abah dan keluarga di sini adalah keluarga kamu juga, hanya beginilah suasana di kampung, beda sekali dengan Jakarta, semoga cucu Abah betah di sini, Neng siapa namanya? Abah lupa, padahal tadi sudah dikasih tau sama Dini, maklum Abah sudah tua." Abah memandang Kharisa dengan senyum lembut, beliau sudah tau kondisi yang dialami Kharisa dan Mamanya dari cerita yang disampaikan Dini menantunya. Abah sangat mendukung keputusan yang diambil mama Kharisa mempertahankan kehamilan Kharisa.
"Kharisa Abah....." jawab Kharisa sambil mengangkat kepalanya setelah Mama Kharisa menyenggol bahu Kharisa memberi kode untuk menjawab pertanyaan Abah.
"Oh ya...Neng Kharisa. Anggap Abah kakek Neng Kharisa ya Neng, jangan sungkan. Biar gak bosan nanti ikut saja kegiatan di pondok sekalian biar banyak teman juga. Kalau mau melanjutkan sekolah nanti bisa dibantu dengan Wa Rahmat. Eh...kan ada Isal nanti bisa jadi temannya juga." Abah mencari cucunya yang bernama Faisal yang biasa di panggil Isal, ternyata Faisal duduk di sudut ruangan. Faisal adalah putra bungsu Wa Rahmat.
"Ya Bah....." Faisal langsung menggeser duduknya mendekat kakeknya.
"Isal nanti bantu Neng Kharisa, kenalkan dengan teman akhwat yang lain agar betah di sini, anggap Neng Kharisa adik kamu ya Sal."
__ADS_1
"Baik Bah...." Faisal menganggukan kepalannya. Ia menengok ke arah Kharisa, disaat yang sama Kharisa mengangkat kepalanya, ia mengedarkan pandangannya mencari yang mana Faisal, ia melihat sosok laki-laki muda dengan wajah tampan yang terlihat seumuran dengannya, namun wajahnya terlihat lebih dewasa, dan pandangan mereka pun saling bertemu, Faisal melempar senyumnya dan menganggukan kepalanya, terlihat wajahnya sangat ramah. Kharisa kembali menundukan kepalanya, ia merasa tidak percaya diri untuk interaksi dengan orang lain karena kondisinya yang tengah berbadan dua.
Setelah hampir satu jam mereka berbincang dengan Abah, mama, Kharisa dan Bi Nani kembali ke rumah yang sekarang menjadi tempat tinggalnya, Wa Dini dan Wa Rahmat kembali lagi ke kota tempat tinggalnya.
Di dalam kamar Kharisa membaringkan tubuhnya di tempat tidur, mama pun berbaring di sampingnya, tidur sekamar dengan putrinya membuatnya lebih tenang.
"Mah....Papa mencari kita gak yah?" ucap Kharisa tiba-tiba.
"Mama berharap tidak bertemu Papa kalau Papa masih tetap dengan keputusannya menggugurkan cucunya." Sebetulnya Papa mengirim pesan setelah tau Mama dan Kharisa meninggalkan rumah, Papa marah, mengirim pesan dengan kata-kata yang menunjukan kemarahannya, tapi Mama tidak memberitahu Kharisa.
"Maafkan Mama, kalau keputusan Mama membuatmu jauh dari Papa, Mama lakukan ini demi masa depan Kharis, bukan hanya di dunia tapi untuk kebaikan kelak di akhirat. Gak tau kenapa Mama sangat takut dengan balasan di akhirat nanti, semoga ini hidayah dari Allah, jalan yang ditunjukan Allah untuk kita, untuk hidup kita yang lebih baik." Mama memiringkan tubuhnya, memandangi putrinya yang tengah menatap lagit-lagit kamar.
"Kharis tidak usah khawatir, di tempat ini banyak yang sayang dengan kita, pasti banyak yang sayang juga dengan cucu Mama nanti." Mama mengelus perut putrinya, kemudian menarik tangan putrinya, diletakannya di atas perut putrinya.
"Sayangi cucu Mama, kelak ia yang akan menjadi penawar sedihmu, menjadi kekuatanmu menjalani kehidupan nanti. Cucu mama akan menjadi anak yang kuat dan sholeh menjadi penyelamatmu di akhirat nanti." Bening kristal tampak jatuh di pipi Kharisa, ia mencoba mencerna kata-kata mamanya yang berupa nasehat. Ia percaya dengan mamanya dan akan mengikuti semua nasehatnya.
__ADS_1
"Sekarang tidur....kita harus istirahat, besok kita akan sambut hidup baru kita di tempat baru ini." Kharisa pun memejamkan matanya, ia berusaha melupakan sejenak kesedihannya, berusaha menyambut mimpi yang akan membuatnya bahagia saat bangun esok pagi.
bersambung........