Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Maaf....


__ADS_3

Aini duduk di teras mushola di kampus setelah melaksanakan shalat Ashar. Saat melihat sosok laki-laki yang dikaguminya tengah berwudhu, ia membatalkan untuk beranjak dari mushola. Suasana mushola tidak begitu ramai karena waktu sudah menunjukan pukul empat sore, kebanyakan para mahasiswa sudah meninggalkan kampus, hanya beberapa kelas saja yang baru selesai perkuliahan dan hanya beberapa mahasiswa yang datang ke mushola untuk melaksanakan shalat Ashar.


Ia mengambil sebuah amplop berwarna pink bermotif bunga dari dalam tas nya. Dengan jantung berdebar ia memasukannya kembali, kemudian ia keluarkan lagi, hingga akhirnya amplop itu ia selipkan di sebuah buku yang ia pegang sambil didekapnya.


Ia menimbang-nimbang dengan jantungnya yang semakin berdegub kencang, haruskah surat itu ia berikan kepada laki-laki yang selama ini merisaukan hatinya, agar hatinya tenang, plong? Ternyata surat itu sudah berada di dalam tasnya lebih dari satu minggu. Tapi ia ragu untuk memberikannya, takut akan membuatnya kecewa.


" Aini....... Belum pulang?" Aini terkejut mendengar suara yang dikenalnya. Ia langsung berdiri dari duduknya dengan ekspresi kagetnya.


" Eh.... I.. Iya Kang, lagi nunggu Ayah, mau pulang bareng." Jawabnya sambil mendekap erat buku di dadanya.


"Rapatnya sudah selesai, ayahmu pasti sedang menunggumu di ruangannya." Ujar Faisal. Ia tadi ikut rapat bersama dekan dan guru besar dan baru selesai hampir pukul empat sore.


" Eh... Oh... Iya. Kalau begitu aku duluan Kang." Ujar Aini tergesa-gesa hingga ia lupa niatnya untuk memberikan surat pada Faisal. Namun sebelum ia masuk ke gedung kantor ayahnya, ia berbalik, teringat niatnya untuk memberikan suratnya pada Faisal. Tekadnya bulat untuk menyampaikan perasaannya walaupun hanya lewat sepucuk surat. Ia menunggu Faisal yang berjalan ke arahnya.


"Kang Faisal...... Ini....." Aini menyerahkan suratnya, membuat Faisal mengernyitkan alisnya.


"Untuk Kang Faisal, nanti baca yah." Ujar Aini dengan suara bergetar. Jangan ditanya jantungnya yang berdetak cepat. Kemudian ia segera berbalik meninggalkan Faisal. Faisal menatap amplop berwarna pink di tangannya, lalu memasukannya ke dalam saku bajunya.


Hingga Faisal pulang ke tempat kost nya, ia penasaran dengan amplop yang diberikan Aini, apa isinya, batinnya. Sambil duduk di pinggir tempat tidurnya ia membuka amplop itu, ada dua lembar kertas surat yang dipenuhi tulisan Aini. Ia pun langsung membacanya.


Dua kali ia membaca surat itu dengan perasaan tidak percaya walaupun ia sudah bisa menduga perasaan Aini terhadapnya. Tidak percaya kalau Aini berani mengungkapkannya, dan ini yang ia takutkan.


Selama ini ia memang nyaman berinteraksi dengan gadis itu, periang, enak diajak diskusi, baik hati, supel, perhatian juga, tapi ia menganggapnya tak lebih dari sekedar teman, walaupun ia merasakan perhatian yang diberikan Aini berbeda, terlihat jelas Aini menyukainya tapi Faisal tak pernah menanggapinya. Dan sekarang mau tidak mau ia harus menanggapi surat dari Aini, entah jawabannya ia menerima atau menolak perasaan Aini.

__ADS_1


Setelah lama merenung sambil duduk di tepi tempat tidur akhirnya Faisal melipat surat dari Aini dan menyimpannya di lemari lokernya. Keputusannya sudah bulat, saat ini belum waktunya untuk memiliki pendamping. Ia harus fokus dengan pendidikan S2 nya di Jerman yang akan ia jalani sekitar 2 bulan lagi. Besok ia akan menemui Aini dan menjawab langsung suratnya. Aini pasti akan kecewa, tapi lebih baik kecewa sekarang dari pada Aini akan terus berharap padanya dan mungkin kecewanya akan semakin dalam.


Keesokan harinya selesai aktifitas di kampus Faisal melajukan motornya ke rumah Aini, hari Rabu adalah jadwal ia belajar bahasa Jerman dengan Aini. Ayah Aini yang meminta Aini mengajari Faisal di rumah Aini, tentu saja di rumah tidak hanya berdua, ada ibunya Aini juga asisten rumah tangga yang ikut mengawasi aktifitas mereka.


Saat Faisal tiba di rumah Aini, Aini sudah berada di rumah, bahkan sudah mandi dan berdandan secantik dan serapih mungkin. Tapi kali ini ada yang berbeda, Aini terlihat lebih kalem saat menyambut kedatangan Faisal.


"Silahkan masuk Kang." Hanya itu yang dia ucapkan, biasanya ia akan langsung membredeli Faisal dengan beberapa pertanyaan, kali ini setelah Faisal duduk di ruang tamu ia langsung masuk ke dalam dan kembali lagi dengan membawa satu gelas minuman dingin dan beberapa toples cemilan.


Dadanya berkecamuk, dengan perasaan campur aduk, malu, takut kecewa, penyesalan kenapa ia begitu berani mengungkapkan perasaannya, sampai merutuki diri sendiri sebagai wanita yang tidak tahu malu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, surat itu sudah sampai ke tangan Faisal bahkan mungkin sudah dibacanya, dan sekarang ia harus siap menerima jawaban Faisal juga harus siap kecewa kalau Faisal menolaknya.


"Tadi kuliah sampai jam berapa? Saya gak lihat di mushola." Tanya Faisal membuka pembicaraan. Biasanya mereka akan bertemu di mushola kampus dan Aini pasti akan lebih dulu menyapa Faisal.


"Sampai jam sebelas." Jawab Aini singkat, benar-benar seperti bukan Aini, dan Faisal merasakannya. Apa karena surat kemarin? Batin Faisal. Pulang lebih awal juga bukan Aini banget, biasanya ia akan menghabiskan waktunya di kampus walaupun tidak ada jam kuliah, paling tidak setelah shalat dhuhur baru ia akan pulang.


"Kalau salah koreksi yah." Tambahnya lagi saat Aini masih diam, biasanya Aini akan langsung mencontohkan pengucapan yang benar tapi kali ini Faisal yang lebih dulu berinisiatif. Dan pertemuan sore ini menjadi pertemuan yang terasa aneh bagi Faisal, Aini benar-benar tidak banyak bicara dan terlihat canggung. Ia jadi ragu untuk menjawab isi surat Aini. Tapi kalau ditunda-tunda malah akan memberi kesan ia memberi harapan pada Aini.


"Aini... ada yang ingin saya bicarakan, kamu masih ada waktu kan? Maksudnya tidak sedang sibuk?" Ujar Faisal setelah sesi belajarnya selesai. Dan jantung Aini pun kembali berdetak cepat, ia terlihat grogi, sudah bisa mengira apa yang akan dibicarakan Faisal, pasti berkaitan dengan suratnya kemarin. Rasanya ia ingin menghilang dari hadapan Faisal, kalau saja waktu bisa diputar ia tidak akan memberikan suratnya pada Faisal, biarlah surat itu hanya sebagai ungkapan perasaannya yang hanya ia dan Allah yang tahu.


"Eu... Apa berkaitan dengan surat kemarin? Eu...... Kalau iya, anggap saja surat itu tidak ada, dan tidak perlu dijawab, ma... maaf aku sudah lancang sama Kang Faisal." Jawab Aini dengan sedikit gugup, terlihat penyesalan di wajahnya. Ia benar-benar merasa malu atas keberaniannya. Kalau bisa tidak usah membahas isi surat itu, tidak perlu dijawab batinnya lagi


"Iya tentang surat kemarin, sudah saya baca..... Saya minta waktu sebentar saja, biar kita sama-sama enak." Faisal menjeda sejenak, menoleh ke ruang keluarga yang hanya terhalang oleh lemari pajangan, ibunya Aini dan asisten rumah tangganya tidak terlihat disana. Aini hanya diam, kedua tangannya yang terasa dingin saling mere mas, berusaha menghilangkan kegugupannya.


"Terima kasih sudah memberikan perhatian pada saya, terima kasih juga sudah jujur. Hanya....saya minta maaf, saya tidak bisa membalas perasaan Aini, jujur saya belum terpikir untuk memiliki pendamping hidup, masih banyak target impian saya yang belum saya capai, dan target saat ini saya ingin fokus dengan pendidikan saya di Jerman." Faisal menghela nafasnya, melirik ke arah Aini yang menunduk sambil memainkan jari tangannya.

__ADS_1


Aini sejak tadi malam sudah memperkirakan jawaban Faisal, bahkan ia sudah menyiapkan hatinya kalau jawaban Faisal tidak sesuai dengan harapannya. Tapi entah mengapa saat ini hatinya begitu perih, ini pertama kalinya ia merasakan ditolak, walaupun ini bukan pertama kalinya ia merasakan jatuh cinta pada seseorang, tapi ia tidak pernah ditolak, yang ada ia menolak laki-laki yang menyukainya, ia juga yang memutuskan hubungan dengan cinta pertamanya saat masa SMA.


Aini berusaha menahan diri jangan sampai larut dalam emosi, tidak boleh menangis, tidak boleh ada air mata. Ini bukan salah Faisal, ini salah dia yang tidak bisa memendam perasaannya. Ia yang memulai walau sudah bisa menduga Faisal tidak memiliki perasaan apapun padanya. Tapi tetap saja hatinya terasa perih.


"Saya juga tidak ingin memberikan harapan yang belum jelas. Allah sudah menentukan jodoh kita, bahkan sebelum kita dilahirkan. Dan saya yakin Allah yang akan menggerakan kita dengan jodoh kita bila sudah tiba waktunya. Jangan menunggu saya, kalau suatu hari nanti Aini memang sudah menemukan jodoh yang tepat, terimalah. Insya Allah itu yang terbaik untuk Aini." Ucapan Faisal semakin menunjukan kalau tidak ada harapan lagi untuk Aini. Di suratnya Aini memang menyampaikan bersedia menunggu Faisal sampai Faisal selesai kuliah S2 nya di Jerman, tapi Faisal sudah jelas menjawabnya kalau Aini jangan menunggunya. Bukankah itu penolakan secara halus?


"Sekalai lagi maaf..... Maafkan saya Aini, semoga kamu bisa berlapang dada menerima jawaban saya dan kita masih terus berteman kan?" Dengan penuh penyesalan Faisal meminta maaf lagi, ia sadar telah menyakiti hati Aini, tapi mau bagaimana lagi, saat ini ia memang belum siap untuk memiliki pendamping, dalam kamusnya tidak ada yang namanya pacaran, kalau ia menerima Aini makan ia harus siap menghalalkannya dan itu tidak ada dalam rencananya sama sekali.


Aini berusaha tegar, tidak memperlihatkan kesedihannya, saat Faisal pamit ia berusaha tersenyum, untungnya ia bisa menahan air matanya tidak sampai keluar walaupun di dalam dadanya sudah bergejolak ingin menjerit, ingin menumpahkan dengan tangisan, namun berhasil ia tahan.


Selepas Faisal melajukan motornya, ia langsung masuk ke dalam kamarnya, menguncinya dan tumpahlah tangisnya, bantal kesayangannya pun basah oleh air matanya.


Bersambung......


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Assalamualaikum readers ku tercinta.


Othor ingin menyampaikan permohonan maaf yang telah menghilang dari peredaran๐Ÿ™


Rasanya tidak perlu dijelaskan alasannya, yang penting sekarang sudah kembali untuk menyelesaikan novel ini.


Terima kasih pada readers yang masih setia menunggu kelanjutan novel ini. Terus kawal sampai tamat yah, tinggal beberapa bab lagi kok Insya Allah tamat๐Ÿค—

__ADS_1


Sekali lagi Maaf...... ๐Ÿ™ (cocok kan sama judul episode bab ini๐Ÿ˜„)


__ADS_2