Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Hadiah dari Mertua


__ADS_3

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, waktu berganti terasa begitu cepat. Dua bulan sudah Kharisa menikmati perannya sebagai seorang istri dan ibu. Ternyata tidak semudah yang dibayangkan, apalagi tidak ada mama dan Bi Nani yang membantunya. Memang sengaja Kharisa yang meminta Bi Nani tidak ikut dengannya.


"Bi Nani temanin mama saja, aku mau nyoba mandiri Bi, mau merasakan gimana menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga, toh aku juga gak kerja, di yayasan juga waktunya fleksibel, nanti kalau aku gak mampu aku kasih tau Mama sama Bibi." Ujar Kharisa saat ia menolak Bi Nani ikut dengannya juga menolak saran mamanya untuk dicarikan PRT baru khusus membantu Kharisa.


Dulu saat hamil Rakha, saat impiannya untuk menjadi wanita karir punah, ia memang sering menghayal, menjadi ibu rumah tangga, bersuamikan Rafael. Membersihkan rumah, mencuci, memasak mengasuh anak, kemudian menunggu suami pulang , itu yang ia bayangkan, sepertinya menyenangkan, seperti yang ia lihat dari sosok ibunya Faisal yang murni hanya menjadi seorang ibu rumah tangga.


Dan sekarang mengerjakan pekerjaan rumah, menyiapkan keperluan suami, mengantar jemput anak sekolah, memasak, kini menjadi santapan setiap harinya.


Pasti senang dan bangga, saat suami dan anak menikmati makanan yang ia masak, dan mengatakan menyukainya. 'Masakan Mommy enak'. Kalimat itu akan menjadi penyemangat untuk terus memasak aneka jenis makanan. Ini yang membuat Kharisa semangat belajar memasak walaupun hanya melihat dari aplikasi media online.


Seperti pagi ini, setelah shalat subuh dan mengaji sebentar. Kharisa langsung menuju dapur, langsung praktek membuat nasi goreng kesukaan putranya, namun kali ini ia mencoba dengan resep berbeda. Menambahkan kornet dan keju yang potong kotak-kotak kecil, membuat rasa nasi goreng terasa lebih gurih.


Saat Kharisa akan memindahkan nasi goreng dari wajan ke pinggan, tiba-tiba Rafael memeluknya dari belakang lalu mengecup leher jenjang Kharisa yang terbuka, kebiasaan Kharisa di rumah memang lebih suka rambutnya di cepol ke atas memperlihatkan leher jenjangnya.


"Mommy masak apa, wangi banget sampai ke depan." Ujar Rafael dengan suara berbisik di samping telinga kanan Kharisa, membuat tubuh Kharisa meremang.


"El...kebiasaan deh suka gangguin kalo lagi masak." Kharisa mengedikan bahunya, berusaha menjauhkan wajah Rafael dari tubuhnya, karena kedua tangannya memegang spatula dan pinggan.


"Habis kamu dari belakang terlihat seksi Mom."


"Mulai deh.....lepas El, aku mau mindahin ini dulu."


"Aku gak akan lepas kalau Mommy masih manggil aku nama." Rafael malah menguatkan pelukannya.


Saat honey moon di Lombok Rafael protes karena Kharisa memanggilnya dengan panggilan namanya 'El' .


"Aku gak mau kamu manggil aku El, Faisal saja kamu panggil Aa, masa aku suamimu dipanggil namanya langsung, gak sopan kan." Protes Rafael saat itu.


"Trus kamu mau dipanggil apa?"


"Panggilan spesial lah, honey misalnya, atau sayang, baby atau my love." Permintaan Rafael saat itu tidak diindahkan oleh Kharisa, hingga saat ini ia masih memanggil sebutan yang sama 'El'.


"Cepat panggil aku Honey...." Ujar Rafael, masih memeluk Kharisa dari belakang.


"He...he...sejak kapan kamu jadi lebay begini El." Kekeh Kharisa sambil memindahkan nasi goreng yang tersisa di pinggan. Hendak memutar tubuhnya namun pelukan Rafael membuat ia susah bergerak.


"Aku mau nyimpan nasi gorengnya dulu El, lepas...." Kharisa berjalan menuju meja makan diikuti Rafael yang belum melepaskan pelukannya.


"Aku gak akan lepas sebelum kamu memanggilku dengan panggilan spesial."


"Iya nanti aku pikirkan dulu enaknya manggil kamu apa, sekarang lepas dulu, ini nanti jatoh."


"Berarti dilepasnya nanti." Goda Rafael, ia memang suka sekali menggoda istrinya seperti ini, biasanya Kharisa akan meminta bantuan Rakha untuk melepaskan diri dari suaminya.


"Ih kamu menyebalkan El."

__ADS_1


"Apa mommy bilang?" Rafael malah menciumi pipi kanan Kharisa.


"Rakha......tolongin Mommy." Benar saja Kharisa meminta bantuan putranya. Dan Rakha yang tengah asyik nonton kartun kesukaannya langsung menoleh dan melihat pemandangan mommynya yang tengah berdiri di dekat meja makan membawa pinggan di depan dadanya di dekap erat oleh daddynya.


"Daddy....kenapa daddy senang sekali gangguin mommy?" Rakha beranjak dari duduknya, menghampiri mommy dan daddynya.


"Karena mommy ngegemesin." Jawab Rafael santai tanpa melepaskan dekapannya, tanpa malu-malu di depan putranya malah mengecup pipi Kharisa.


"Rakha tolongin Mommy.... " Wajah Kharisa terlihat memelas. Rakha langsung saja menggelitik pinggang Daddynya agar daddynya melepaskan mommynya. Anak itu terlihat sekali ingin melindungi mommynya.


"Kalau gitu Rakha yang Daddy gangguin." Akhirnya Rafael melepaskan Kharisa dan beralih pada putranya. Dipangkunya Rakha seperti memanggul beras dalam karung, membuat Rakha terhenyak tapi kemudian tertawa senang, merasakan sensasi kepalanya di bawah. Kini giliran Rafael yang menggelitik putranya hingga Rakha tertawa dan menjerit kegelian. Begitulah interaksi ayah dan anak yang dulu sempat terpisah selama hampir lima tahun, dan kini Rafael benar-benar membayar waktu yang dulu terlewatkan bersama putranya.


Setelah Rafael berangkat bekerja, Kharisa merapihkan meja makan dan mencuci peralatan yang dipakai sarapan, hari ini Rakha libur akhir pekan, yayasan tempat Kharisa bekerja sampingan pun libur, jadi hari ini Kharisa akan berada di rumah seharian dan Kharisa memanfaatkan waktunya untuk memasak dan menemani putranya bermain sambil belajar.


Pukul setengah tiga Rafael pulang dari kerjanya, Kharisa menyambut suaminya di depan pintu, mengambil tas kerja lalu mencium tangannya, dibalas Rafael dengan mengecup kening Kharisa, lalu mencuri kecupan di bibir sungguh terlihat seperti pasangan yang romantis.


"Mami tadi telphone, minta kita pulang, kangen sama menantu dan cucunya katanya."


"Jadi sekarang kita ke Jakarta?" Kharisa terlihat bersemangat, tentu saja ia juga kangen bertemu ibu mertuanya yang hampir satu bulan tidak bertemu, ia juga ingin bertemu dengan mama dan papanya.


"Habis Ashar kita berangkat."


Kharisa menganggukan kepalanya, menyimpan tas kerja Rafael di kamar dan segera menyiapkan keperluan yang akan dibawa, membangunkan Rakha yang masih tidur siang. Setelah shalat Ashar mereka pun berangkat menuju Jakarta.


Mommy Rafael menyambut mereka dengan senang, sajian makan malam pun sudah disiapkan. Makanan spesial kesukaan cucunya pun sengaja disediakan, ikan gurame bakar yang sengaja dipesan dari restoran sunda. Ia ingat saat pertama kali bertemu cucunya di sebuah restoran, Rakha makan ikan gurame bakar dengan lahap.


"Kalian bersih- bersih dulu, lalu kita makan malam, papi lagi di jalan , sebentar lagi nyampe." Ujar mami.


"Rakha mandinya dimandiin Oma yah." Terlihat mami begitu merindukan dan ingin dekat dengan cucunya .


"Aku sudah besal Oma, mau mandi sendili."


"Ah ya....cucu Oma sudah besar yah, oke deh, Oma tunggu di sini yah, Oma udah siapin ikan gurame buat cucu Oma." Mami tidak tahan untuk menjembel pipi Rakha yang berisi, ya setelah mommynya tidak bekerja ia banyak makan, karena Kharisa rajin membuat hidangan termasuk aneka kue dan puding.


Rafael mengajak Kharisa dan Rakha ke kamarnya yang ada di lantai atas. Mereka mandi dan melaksanakan shalat Isya berjamaah. Saat turun ke ruang makan sudah ada papi Rafael menunggu di meja makan. Mereka pun menyantap makan malam bersama.


Esok harinya mami mengajak Kharisa menemaninya belanja. Mereka hanya berdua pergi diantar supir, sementara Rakha setelah sarapan langsung mengajak daddynya berenang.


Ternyata mami mengajak Kharisa ke pusat pembelanjaan Thamrin City di Jakarta Pusat. Saat turun dari mobil sebenarnya Kharisa merasa heran, tumben ibu mertuanya mau belanja di tempat ini, biasanya dia membeli kebutuhannya di mall yang menyediakan barang branded.


"Mami ingin membeli baju, nanti bantuin mami pilihin yah." Kharisa mengernyit, beneran ini mami mau membeli baju sini? Di pusat pembelanjaan ini barangnya barang lokal, kalau ada merk branded luar biasanya barang tiruan atau KW.


"Kata temen mami, baju-baju di sini bagus-bagus." Ujar mami, seolah menjawab keheran Kharisa.


"Nanti kalau ada yang bagus kita seragaman yah." Tambah mamy. Kharisa mengiyakan dengan wajah keheranannya.

__ADS_1


Lebih heran lagi saat Mami mengajaknya ke toko busana muslim. Pukul sembilan suasana di tempat itu belum ramai, toko-toko juga baru membuka gerainya, mereka mulai memajang produk terbarunya yang dipajang di manekin.


"Aneh yah mami belanja di tempat ini?" Tanya mami saat mereka masuk ke sebuah toko yang tertutup dinding kaca, tokonya lumayan luas, tampak aneka baju muslim dipajang di sana.


"Mami mau berhijab seperti menantu mami."


"Mami.....?" Kharisa terlihat terkejut, tentu tidak akan menyangka, ibu mertuanya yang tampilannya modis bahkan bisa dikatakan tidak paham ilmu agama, tiba-tiba akan berhijab.


"Mami beneran?" Tanyanya lagi memastikan. Mami mengangguk dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Aaahh....mami selamat." Kharisa memeluk ibu mertuanya, matanya berkaca-kaca.


Akhirnya dengan semangat Kharisa memilihkan beberapa baju muslim yang menurutnya cocok dipakai ibu mertuanya. Kharisa pun memilih dua stel baju, karena dipaksa mertuanya.


Pukul setengah dua belas mereka baru selesai belanja. Mami menghubungi supirnya agar membawa barang belanjaan untuk disimpan di mobil, lalu mengajak Kharisa ke food court untuk makan siang.


"Kita shalat dhuhur di sini saja yah, mami mau ajak kamu ke satu tempat lagi." Ujar mami setelah menghabiskan makan siangnya. Betapa bahagianya Kharisa melihat perubahan ibu mertuanya, yang ia tahu mami Rafael termasuk yang lalai mengerjakan shalat, tapi sekarang malah ia yang lebih dulu mengingat shalat, rasanya tidak sabar untuk memberitahukannya pada Rafael.


Benar saja keluar dari Thamrin City mereka tidak langsung pulang ke rumah. Mobil yang membawa mereka memasuki halaman parkir sebuah showroom mobil produk Eropa yang sama dengan merk mobil yang digunakan mami. Sepertinya mami akan mengganti mobilnya, walaupun masih bagus, mungkin saja mami sudah bosan, pikir Kharisa.


"Ayo kita masuk." Kharisa pun turun dari mobil mengikuti ibu mertuanya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat ada mobil suaminya terparkir disana juga. Ada apa Rafael ke sini juga? Gak mungkin kan kalau ia akan membeli mobil? Tidak ada pembicaraan sebelumnya. Batin Kharisa.


"Mommy........." Terdengar suara bocah yang tidak asing di telinga Kaharisa saat ia masuk ke lobi.


"Hey.... kok Rakha ada di sini, mana Daddy?"


"Daddy lagi lihat mobil disana." Rakha menunjukan dimana daddynya berada.


"Kata Daddy, aku boleh bantu Mommy untuk memilih mobil yang ada di sini." Ujar Rakha polos.


"Memilih mobil?" Kharisa terlihat kaget, ia tidak merasa akan membeli mobil.


"Iya Kharisa, kamu harus memilih salah satu mobil yang ada di sini, hadiah dari papi dan mami." Ujar mami meyakinkan menantunya.


bersambung


Hai Readers, akhirnya bisa up lagi. Terima kasih maaih setia menunggu, walau akhir-akhir ini sering telat up nya. Maafkan.....karena ada beberapa kerjaan yang harus diselesaikan.


Yg penasaran kisah Fakhira dan Richan, Insya Allah nanti ada kisahnya khusus di novel lain, sengaja ditampilkan di sini untuk pemanasan dulu. Setelah novel ini tamat lanjut kisah mereka. Setuju yah.🤗


Dan novel ini sebentar lagi akan tamat, targetnya seharusnya sebelum bulan puasa. Mudah-mudahan tercapai. Sekali lagi terima kasih atas dukungannya dan kesetiaannya mengawal Kharisa dan Rafael. Thanks yah.🤗🙏


Salam


Umi Haifa 😘😘

__ADS_1


__ADS_2