Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Berpikir Positif


__ADS_3

Setelah dilakukan observasi di ruang emergency Rakha dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Kondisinya belum stabil betul, dari hasil pemeriksaan darah ulang, trombositnya malah makin menurun, hematokritnya juga masih tinggi, dan kadar trombosit, hematokritnya akan dicek per enam jam, jadi Rakha akan diambil darahnya per enam jam.


Melihat pasien dengan kondisi seperti Rakha tentu tidak asing lagi bagi Rafael, sudah menjadi hal biasa, tapi melihat yang terbaring lemah di tempat tidur pasien adalah anaknya sendiri, perasaan cemas, takut, tidak tega, sampai rasa bersalah bercampur aduk dalam dadanya. Bagaimana bisa ia kecolongan, tidak memperhatikan dengan teliti kondisi Rakha, bagaimana bisa ia menganggap Rakha hanya mengalami demam biasa, bahkan tidak sedikitpun terpikirkan kalau virus dengue akan menyerang putranya.


Tak pernah sedetik pun ia meninggalkan Rakha kecuali untuk ke kamar mandi, shalat pun ia lakukan di samping tempat tidur putranya. Mami dan kakaknya Richan ikut menemani Rafael menjaga Rakha.


"El kamu dan Richan makan dulu sana biar mami yang menjaga Rakha." Sekarang memang sudah lewat dari jam makan malam, waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, namun Rafael belum ingin mengisi perutnya yang sejak siang belum diisi dengan benar, ia hanya minum air mineral dan cairan isotonik.


"Aku gak lapar mih." Ujar Rafael, ia duduk bersandar di tempat tidur pasien disamping putranya, ia benar-benar tidak mau beranjak dari sisi putranya.


"Kanu harus makan El, dari siang kamu belum makan, mumpung Dika tidur, sana, cafetarianya nanti keburu tutup."


"Abang aja deh yang makan sana, aku titip take away saja." Rafael tidak mau meninggalkan Rakha.


"Ya udah aku beli makan dulu, mami mau nitip apa?" Tanya Richan sebelum keluar kamar.


"Gak ada, mami mau istirahat saja, biar nanti gantian jagain Rakha." Mami beranjak ke ruang istirahat penunggu, ada satu tempat tidur, satu set sofa, layaknya seperti kamar hotel. Richan keluar kamar menuju cafetaria. Tinggalah Rafael yang menemani Rakha.


Ia memandangi layar HP nya, membuka chatnya dengan Kharisa, tidak ada lagi pesan balasan dari Kharisa untuknya. Pukul lima sore tadi Rafael baru menghuhungi Kharisa memberitahu kondisi Rakha, jelas saja membuat Kharisa terkejut.


"El kamu kemana saja? Aku hubungi kamu gak diangkat terus, mana Rakha? Aku mau bicara sama dia." Kharisa langsung mencecar Rafael, karena sejak pagi Rafael mengabaikan panggilannya.

__ADS_1


"Sory Sa, sepertinya tadi HP aku silent, aku juga tidak memperhatikan Hpku dimana ." jawabnya bohong.


"Sa besok aku dan Rakha gak jadi pulang, kamu bisa ke sini?" ujar Rafael saat itu.


"Sudah kubilang El, aku gak bisa ke sana, trus kenapa gak jadi pulang? Jangan bilang itu jadi alasan agar aku datang ke sana. Jangan aneh-aneh deh El, besok bawa pulang Rakha, janjinya kamu bawa Rakha hanya sampai besok."


"Sa.....Rakha.....sakit." Rafael terdengar ragu-ragu mengatakannya.


"Gak usah bohong deh El." Entah kenapa nada suara Kharisa terdengar meninggi, ia sepertinya tidak percaya pada Rafael, mungkin karena perlakuan maminya pada Kharisa.


"Rakha di rawat di rumah sakit, kamu ke sini yah, Rakha nanyain kamu terus."


"Aku gak bercanda Sa, dari tadi pagi aku membawanya ke rumah sakit. Ganti vidio call ya Sa." Saat itu Rafael langsung mengganti mode vidio call. Kharisa pun langsung menerima panggilan vidio call Rafael, terlihat wajah laki-laki yang sesungguhnya masih ia cintai. Kharisa membelalakan matanya saat terlihat putra kesayangannya terbaring di tempat tidur dengan selang infus di tangannya, nanun Rakha tenah tertidur pulas.


"Rakha......" panggilnya dengan suara bergetar. Tentu saja ia tidak akan menyangka kalau putranya yang sedang berlibur malah terbaring di rumah sakit, di negara orang lagi jauh darinya.


"Rakha sedang tidur Sa, biarkan dia istirahat ya."


"Apa yang terjadi pada Rakha? Kenapa ia sampai harus dirawat, gimana keadaan dia? Kenapa kamu baru ngasih tau sekarang?" Kharisa memberondong dengan pertanyaan, dan Rafael semakin merasa bersalah saat melihat wajah di layar HPnya penuh kecemasan dengan genangan air yang dengan perlahan jatuh di pipinya.


"Maafkan aku Sa, tadi aku tidak memperhatikan HPku ada dimana." Tentu saja jawaban Rafael bohong, sejak berangkat ke rumah sakit, HPnya ia bawa terus tapi bingung harus memberitahu Kharisa bagaimana? Sampai akhirnya setelah empat jam Rakha berada di rawat inap ia baru berani memberitau Kharisa.

__ADS_1


Tidak ada balasan lagi pesan dari Kharisa setelah ia mengirimkan pesan meminta dikirim foto KTP Kharisa, rencananya Rafael akan membelikan tiket pesawat untuk Kharisa besok di penerbangan pertama. Ia tau Kharisa marah padanya, marah karena tidak memberitau Kharisa dari awal saat Rakha di bawa ke rumah sakit, kalau diberitau dari awal mungkin Kharisa sudah terbang menuju Singapura, kalau berangkat sekarang tentu saja mepet, tiket pesawat pun belum ia dapatkan karena dua penerbangan terakhir sudah full penumpang.


Sementara di kamarnya Kharisa baru saja selesai menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa besok pagi ke Singapura, ia akan berangkat dengan mamanya mengambil penerbangan pukul enam pagi. Tiket sudah disiapkan oleh asisten papanya, papanya sendiri tidak bisa ikut karena ada urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, nanti akan menyusul katanya, sekalian menemui mama Lisna dan Rendi yang sudah ada di Singapura.


Ia sudah membaca pesan Rafael kalau Rafael akan menyiapkan tiket, tapi Kharisa enggan membalasnya. Ya, ia marah pada Rafael, marah karena Rafael baru memberitaunya sementara Rakha dibawa ke rumah sakit sejak tadi pagi. Ditambah rasa khawatirnya pada Rakha membuat hati dan pikirannya campur aduk. Apakah Rakha rewel? Biasanya kalau sakit Rakha suka rewel, inginnya dipeluk, digendong, kadang tidak mau jauh dari momynya. Sekarang Rakha sedang sakit, dirawat di rumah sakit adalah pengalaman pertama untuknya, dan pasti Rakha harus diinfus, diambil darah, mungkin sampai berkali-kali ditusuk dengan jarum, pasti Rakha kesakitan saat dipasang infus, saat diambil darah, sementara ia tidak ada disampingnya. Membayangkan itu membuat hatinya perih, dadanya terasa sesak, air matanya pun tidak bisa dibendungnya. Ia hanya bisa memeluk guling membayangkan ia sedang memeluk Rakha, sambil menghalau ketakutannya akan sesuatu yang parah terjadi pada Rakha. Tadi mama mengingatkan untuk tidak membayangkan yang macam-macam, selalu berpikir positif, sakit Rakha tidak parah, ia akan kembali sehat, itu yang dari tadi mama ingatkan. Kharisa pun berusaha untuk berpikir positif Raka akan baik-baik saja, tadi saat vidio call ia pun bisa melihat Rakha tengah tertidur pulas, semoga saja saat bangun tidak rewel seperti yang ia bayangkan.


Ia membuka pesan WA yang baru masuk dari Rafael.


"Sa, gimana, mau berangkat jam berapa besok, biar aku belikan tiketnya."


"Aku sudah dapat tiket, besok berangkat jam enam dengan mama. Rakha dirawat di lantai berapa, ruang apa?" Kharisa langsung membalas pesan Rafael.


"Besok aku jemput di bandara." Rafael mengirim pesan lagi.


"Tidak usah, aku bisa pakai taksi." Dengan segera Kharisa membalas pesan Rafael, entah kenapa ia masih jengkel dengan Rafael.


"Aku jemput kamu, aku tunggu di pintu keluar." Balas Rafael. Kharisa pun tidak membalas pesan Rafael lagi, kalau sudah begini Rafael tidak akan bisa dibantah, pasti ia akan tetap menjemputnya.


Pukul sebelas malam, Kharisa berusaha memejamkan matanya walaupun terasa sulit. Tapi ia harus istirahat agar besok bisa bertemu putranya dalam keadaan segar. Ia terus memejamkan matanya sambil terus berdoa untuk kesembuhan Rakha, dengan berpikir positif Allah Maha Pengabul Doa, Rakha pasti sehat lagi. Ia pun terlelap dalam tidurnya.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2