
Di sebuah apartement yang berada di pusat kota Singapura, tepatnya di atas sebuah mall yang tidak jauh dari rumah sakit terkenal di Asia Tenggara, Rafael baru saja selesai melakukan sambungan telpon dengan Kharisa, tepatnya Kharisa yang lebih dulu menutup pembicaraan mereka. Ia mendekati putranya yang masih terlelap, duduk di sampingnya.
Terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya, dan tidak lama kemudian pintu itu terbuka. Ternyata mami Rafael, tanpa minta ijin lagi ia melangkah masuk ke kamar putranya.
"Rakha masih tidur?" Tanyanya.
"Masih Mih, kecapean dia." Rafael menghampiri maminya yang baru saja duduk di sofa. Ia duduk di sebelahnya, menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa, seolah menunjukan ia pun merasa lelah.
"Kharisa gimana? Sudah dihubungi?" Rupanya kedatangan mama ke kamar Rafael untuk menanyakan Kharisa.
"Dia gak bisa ke sini Mih." Jawab Rafael lirih.
"Kamu bilang kan kalau Rakha ingin jalan-jalan bareng sama momynya?"
"Sudah, tapi dia tetap gak mau, dia mau liburan ke sini juga minggu depan, sama papa mamanya, jadi Rakha nanti balik lagi ke sini."
"Dia gak mau ke sini pasti karena mami."
"Mih, sebenarnya Kharisa sudah memutuskan ninggalin aku, seperti yang mami inginkan, tapi aku akan mempertahankan hubunganku dengan Kharisa walau mami gak merestui, maaf mih kalau aku gak bisa jadi anak yang patuh sama mami, semua ini kulakukan karena aku ingin menjadi laki-laki yang bertanggung jawab atas kesalahan yang telah kulakukan dulu. Aku juga sangat mencintai Kharisa, dan menyayangi Rakha, darah dagingku sendiri, aku tak bisa berpisah dari mereka. Jadi kalau mami masih ingin memisahkan aku dengan Kharisa, aku minta maaf mih, aku akan terus berjuang mendapatkan Kharisa dan restu dari papanya. Aku tidak ingin ada ayah yang lain untuk Rakha, hanya aku ayahnya, dadynya." Rafael berkata-kata dengan sungguh-sungguh dengan duduk tegak menghadsp maminya.
"El....maafkan mami." Wanita setengah baya itu tampak berkaca-kaca, entah karena mendengar ucapan anaknya atau karena dia menyesal dengan apa yang telah ia lakukan pada putranya dan ibu dari cucunya.
"Kalau mami minta maaf pada Kharisa, apa dia akan memaafkan mami." Ucapan maminya sontak membuat Rafael terhenyak tidak percaya, apa ia tidak salah dengar?
"Mami mau minta maaf pada Kharisa? Berarti ......berarti mami menerima Kharisa?" Tanyanya tidak percaya.
"Jadi mami merestui aku bersama Kharisa?" Tanyanya lagi sambil menggenggam tangan maminya. Mami menganggukan kepalanya bersamaan dengan bening kristal jatuh di pipinya. Rafael langsung memeluk maminya.
"Apa mami pantas untuk dimaafkan Kharisa, mami pasti sudah sangat menyakiti hatinya."
__ADS_1
"Kharisa orang baik, ia pemaaf, pasti ia maafin mami." Rafael masih memeluk maminya, menepuk-nepuk pelan punggungnya, meyakinkan maminya.
"Pulang dari sini kita temui Kharisa ya Mih, kita sama-sama minta maaf sama dia. Terima kasih Mih, terima kasih sudah mau nerima Kharisa, terima kasih sudah merestui kami. Dari awal aku percaya, kalau mami selalu menjadi ibu yang hebat untukku." Dan isak tangis mami pun pecah dalam dekapan tubuh kekar putranya. Rafael tidak mau bertanya lagi apa yang membuat maminya berubah seratus delapan puluh derajat menerima Kharis, yang penting maminya sudah menerima Kharisa, tinggal ia meyakinkan Kharisa untuk kembali bersama, menjadi orang tua yang utuh untuk Rakha.
"Momy....." Terdengar suara rintihan Rakha memanggil momynya. Rafael langsung bergegas mendekati Rakha.
"Sudah bangun sayang?" Rafael mengerutkan keningnya, ternyata Rakha masih tertidur, matanya menutup, namun terlihat gelisah, ia mengeratkan pelukannya pada bantal yang sejak tadi dipeluknya.
"Masih ngantuk boy...?" Rafael mengusap pipi Rakha, namun betapa terkejutnya ia, saat pipi Rakha teraba panas.
"Kamu demam sayang." Ia meraba lagi area kening Rakha yamg juga teraba panas. Kini tampak kecemasan di wajahnya.
"Rakha kenapa?" Tanya mami, ia menghampiri Rakha, menempelkan punggung tangannya di area wajah Rakha.
" Demam...?" El, sepertinya kamu harus beli obat penurun panas untuk anak, di sini mami tidak sedia obat untuk anak, adanya yang tablet. "Mami ambilkan termometer dulu." Mami keluar kamar dengan berlari kecil, sementara Rafael menyibakan semilut yang menutupi tubuh Rakha
"Hey Boy, you will be fine, bangun yuk, sudah mau maghrib." Rafael membangunkan Rakha dengan mengusap pipinya, sudah tiga jam lebih Rakha tidur, rupanya bukan karena kecapean biasa, tapi karena kondisi tubuh Rakha yang sedang lemah, saat ini tubuh Rakha sedang berperang melawan entah virus atau bakteri yang mampir ke dalam tubuhnya, hingga ada reaksi demam.
"Dady.....aku haus." suaranya terdengar lemah.
"Oke, dady ambil minum dulu, Rakha gak boleh turun yah." Rakha menganggukan kepalanya. Rafael pun beranjak ke dapur mengambil air minum, saat kembali ke kamar sudah ada mami duduk di tempat tidur di sisi Rakha.
"Suhunya 38,8°C El, Kamu harus beli obat dulu." ujar mami.
"Ini Rakha mau minum dulu, yuk minum dulu sayang." Rafael membantu memegang gelas, setengah gelas kandas diminum Rakha, sepertinya ia benar-benar haus.
"Dady pergi beli obat buat Rakha dulu yah, Rakha tunggu di sini sama Oma, oke."
"Tapi dady jangan lama yah."
__ADS_1
"Ya hanya sebentar, Dady cuma ke bawah beli obat saja." Rafael meninggalkan Rakha dan maminya.
Setelah kepergian Rafael, Mami duduk disamping cucunya.
"Rakha pusing gak?" Tanya mami sambil mengusap-usap kepala Rakha.
"Sedikit..." jawabnya.
"Rakha makannya bubur dulu yah, nanti Oma masakin buat Rakha, atau Rakha mau cream soup?" Rakha hanya menganggukan kepalanya.
"Oma, aku mau pulang, mau ketemu momy."
"Ya, nanti lusa kita kan akan pulang, tapi Rakha harus sehat dulu ya sayang. Nanti sebelum pulang Oma belikan mainan buat Rakha. Rakha mau mainan apa?" Suara omanya terdengar bergetar, matanya kembali berkaca-kaca.
"Oma nangis? kenapa Oma nangis?" Rupanya netra Rakha jeli juga melihat ada genangan air di mata Omanya.
"Nggak, bukan nangis, Oma hanya terharu, bisa bareng Rakha liburan di sini. Rakha seneng gak?" Oma menyeka air di matanya.
Rakha menganggukan kepalanya. " Tapi aku kangen momy." Ujar Rakha sambil merengut.
"Ya nanti kalau pulang kan Rakha ketemu momy."
Maafkan Oma, karena keegoisan Oma , kamu jadi terpisah dengan dadymu, kamu pasti melewati hari-hari sulit bersama momymu. Oma janji kamu akan hidup bahagia bersama momy dan dadymu.
Pintu kamar terbuka, tampak Rafael masuk diikuti seseorang di belakangnya, dia Richan kakaknya.
"Minum obat dulu ya sayang, biar demamnya turun." Rafael membuka kemasan obat sirup, menuangkan ke gelas obat sesuai takaran dosis yang tepat untuk Rakha. Rakha pun tidak sulit untuk minum obat.
"Oma buatkan cream soup dulu buat Rakha, Rakha harus makan yang banyak." Mami beranjak menuju ruang dapur.
__ADS_1
Aku akan buatkan cream soup terenak untukmu, cucuku. Semoga kamu tidak akan pernah tahu kalau oma dulu tidak pernah menganggapmu, yang perlu kamu tahu kini Oma sangat menyayangimu.
bersambung