Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Mimpi Rakha


__ADS_3

Satu persatu orang yang menyayangi Rakha mengunjungi Rakha dengan wajah bahagia, dengan tulus mendoakan Rakha agak cepat kembali sehat seperti semula. Termasuk mami Faisal dan Richan yang segera datang ke rumah sakit setelah Rafael memberi kabar kalau Rakha sudah sadar.


Rakha ingin selang di hidungnya di lepas, tentu tidak nyaman ada benda asing di tubuhnya. Faisal pun mengkonsultasikannya dengan dengan dokter yang merawat saat visit memeriksa Rakha, termasuk untuk pindah perawatan di ruang biasa agar bisa ditemani oleh keluarga. Perkembangan kesehatan Rakha memang terlihat drastis, hanya dalam waktu beberapa jam ia berada dalam kesadaran penuh dan sudah bisa diajak bicara, tanda vitalnya normal, hanya tubuhnya saja masih terlihat lemah.


"Kita lihat reflek menelannya dulu bagus atau tidak, kita coba makan minum via oral. Kalau bagus nanti sore NGTnya kita lepas, dan kalau kondisinya stabil boleh dipindahkan ke ruang biasa." Ujar dokter Danil dengan logat melayunya, ia sudah tau kalau ayah dan kakek pasiennya juga seorang dokter, ternyata kakeknya Rakha dr.Birawan Hartadi, Sp.BTKV cukup di kenal oleh beberapa dokter di sana, termasuk oleh dokter anestesi yang menangani Rakha saat dipasang ventilator.


"Om doktel aku gak mau ditinggal Momy dan Dady." Tiba-tiba terdengar Rakha bersuara, dan suaranya terdengar lebih keras, otomatis dokter, perawat ada di sana menoleh pada Rakha.


"Wow good boy, kamu sudah bisa bicara dengan suara kencang, sepertinya kamu benar-benar cepat sihat. Nanti coba banyak makan lewat mulut yah, biar ini dilepas." Dokter Danil menununjuk pada selang NGT yang terpasang di hidung Rakha.


"Aku mau sama Momy sama Dady." rengeknya. Kharisa yang berada di sampingnya langsung mengecup keningnya. "Momy will always be with you."


"Oke, selama di sini Rakha boleh ditemani Momy or Daddy. Bergantian saja nanti boleh ditemani." Dokter pasti paham betul kalau anak masih bergantung pada orang tuanya dan tidak mau ditinggal, jadi membolehkan Kharisa dan Rafael menemaninya bergantian di luar jam besuk, apalagi kondisinya dalam kondisi sadar penuh. Wajah penuh kelegaan terpancar di wajah Kharisa dan Rafael. Apalagi Rafael yang sejak awal merasa bersalah tidak bisa menjaga Rakha dengan baik.


"Sa, kita gantian saja jagain Rakha, sekarang biar aku yang jagain, kamu sama mama kamu istirahat saja dulu di apartemen, dari kemarin kamu belum istirahat dengan benar, diantar Bang Richan yah." Dari kemarin Rafael menyuruh Kharisa pulang ke apartemen untuk istirahat tapi selalu ditolaknya.


"Aku di sini saja, kamu kalau mau pulang, pulang saja, biar aku yang jagain Rakha." Suara Kharisa terdengar sedikit ketus, padahal Rafael selalu bersikap baik dan sabar menghadapi Kharisa yang mengacuhkannya.


"Kasihan mama kamu Sa, biar disana bisa istirahat dengan nyaman, nanti sore atau malam kamu ke sini lagi."


"Tadi kan Rakha gak mau ditinggal." Kharisa masih bersikeras bertahan menemani Rakha.


"Kan ada aku Sa, kita gantian."


"Aku gak mau ninggalin Rakha." Keukeuh Kharisa. Ia tidak mau terjadi apa-apa lagi pada putranya. "Udah aku aja yang nungguin Rakha, kamu keluar saja."


Rafael menghela nafasnya, lebih baik ia mengalah biar tidak menjadi debat yang panjang. Ia melihat putranya yang mulai memejamkan mata lagi, kali ini pasti tidur biasa, bukan karena penurunan kesadaran. Rakha memang harus banyak istirahat untuk memulihkan kondisinya.


"Ya sudah, aku nunggu di luar." Akhirnya Rafael yang mengalah meninggalkan Kharisa dan putranya.


Sore harinya Rakha dipindahkan ke ruang perawatan biasa, selang NGT nya sudah dilepas, masker oksigen telah diganti dengan selang oksigen yang dipasang di hidungnya, infus pun hanya satu terpasang di tangan kirinya.

__ADS_1


Di ruang perawatan VIP kini Rakha berada, tampak berkumpul orang-orang yang menyayangi Rakha disana. Mama, Rafael dan Kharisa tampak duduk di sofa, sementara Faisal duduk di kursi di samping tempat tidur Rakha. Seperti biasa saat bersama Faisal, Rakha selalu minta diceritakan kisah para nabi atau sahabat rosul, walaupun diulang tak pernah membuat Rakha bosan. Hingga waktu menunjukan pukul lima sore Faisal pamit pada Rakha kalau ia akan pulang.


"Nanti habis maghrib Om Isal pulang, Rakha cepet sembuh yah, biar cepet pulang juga ke Indonesia." Faisal memutuskan pulang malam ini, setelah melihat kondisi Rakha yang semakin membaik, ia langsung mencari tiket, ternyata ada penerbangan ke Bandung pukul delapan malam, jadi besok ia bisa persiapan untuk keberangkatannya ke Semarang esok harinya mendampingi guru besarnya.


"Om Isal pulang kemana? Ke lumah Abah, Aki, Enin? Aku juga mau ke lumah Abah, kata Abah aku halus ngajak Momy sama Dady ke lumah Abah." Rafael mengerutkan keningnya, heran dengan celotehan Rakha, kapan Abah bicara pada Rakha, seingatnya sejak Rakha pindah belum pernah lagi ketemu Abah.


"Kapan Abah bilang begitu sama Rakha?" Tanya Faisal penasaran.


"Waktu di lumah Dady, Abah bilang sama aku." Faisal terlihat tambah heran, kapan Abah datang ke rumah Rafael, untuk apa juga?


"Momy....momy....." Rakha memanggil Kharisa.


"Ya Sayang....." Kharisa menghampiri putranya, duduk di ujung tempat tidur. "Ada apa?"


"Nanti kalau sudah sembuh, aku pulangnya mau ke lumah Dady." Rafael yang mendengar ucapan putranya langsung menghampiri, tentu dengan perasaan berbunga, merasa dibutuhkan Rakha. Sementara Kharisa terlihat kecewa dan ada perasaan takut kalau Rakha akan meningglkannya dan lebih senang tinggal bersama Rafael dan keluarganya.


"Nanti Momy kesepian dong gak ada Rakha?" ujar Kharisa dengan wajah merengut, meminta belas kasihan putranya.


"Tlus nanti kita main sama kelinci lagi, Dady hebat bisa buatin lumah kelinci, tapi Dady jangan ninggalin aku lagi yah, Momy juga." Kharisa dan Rafael terlihat tambah bingung, mereka berdua saling berpandangan, Faisal sudah curiga kalau yang diucapkan Rakha bisa saja mimpi yang dialaminya selama ia coma. Biasanya orang yang sedang coma sering masuk ke alam mimpinya , kadang memimpikan hal yang ada di alam bawah sadarnya.


"Kapan Rakha main sama kelinci? Kemarin kayanya Rakha tidur terus deh, sampai Om Isal bangunin juga gak bangun-bangun." Faisal mencoba membawa Rakha ke alam sadarnya membedakan mana yang dialaminya secara nyata dan mana yang berada di alam mimpinya.


"Eh...aku kan kemalin jalan-jalannya sama Dady sama Opa, lihat aqualium laksasa tlus belenang, ya Dady?" Kini Rakha yang terlihat kebingungan.


"Rakha mimpi yah?" Tanya Faisal. Bola mata Rakha bergerak ke kanan, ke kiri, ke atas seolah sedang mengingat-ingat sesuatu, walaupun terlihat lemah dan pucat tetap saja anak itu terlihat menggemaskan.


"Iya yah? Momy kan gak ikut bellibul sama aku sama Dady." Ingatannya kembali terang.


"Jadi aku mimpi...he....he..." Rakha nyengir membuat Faisal, Kharisa dan Rafael ikut nyengir.


"Memangnya Rakha mimpi apa saja?" Tanya Kharisa, ia merasa lega ternyata yang tadi diucapkan oleh Rakha adalah mimpinya.

__ADS_1


"Aku mimpi di lumah Daddy, lumah Daddy bagus, ada kolam lenangnya, aku tidur di kamal aku dimani Momy sama Dady, kasulnya dibatas mobil Mcqueen, tlus aku main kelinci, kelincinya ada....mmmm....ada empat, Dady yang buat lumah kelincinya. Tlus kelincinya kelual dali lumahnya, kabul...." Kharisa mengengarkan elotehan Rakha dengan mata berkaca-kaca, apa yang diceritakan Rakha dalam mimpinya sering ia dengar sebelumnya, itu harapan Rakha yang sering diungkapkan padanya.


"Momy aku mau tidulnya sama Momy, sama Dady."


"Momy kenapa kita tidak tinggal sama Daddy?"


"Momy, Daddy boleh nginap di sini yah, aku mau tidul sama Daddy."


Kini keinginan Rakha itu hadir dalam mimpi Rakha, pasti mimpinya itu begitu indah bagi Rakha hingga ia enggan untuk bangun dari tidurnya.


"Aku mengejal kelinnci itu." Rakha melanjutkan cerita mimpinya. " Kelincinya pelgi jauh, aku kejal lagi, tapi kelincinya hilang, tlus aku tidak bisa pulang, aku sedih, nangis gak bisa ketemu Momy sama Daddy." Anak itu sepertinya masih terus ingin bercerita tentang mimpinya, untungnya Rakha tidak terlihat sesak karena banyak bicara, malah wajahnya terlihat lebih cerah dari sebelumnya, Rafael pun tidak mencegah Rakha melanjutkan ceritanya.


"Tlus ada Abah datang, kata Abah aku halus jagain Momy, gak boleh ninggalin Momy, Abah ngantel aku ke lumah Daddy, eh tlus ada Momy sama Daddy, tapi Abahnya gak ada." Ternyata Abah ada dalam mimpi Rakha, pantas saja saat baru sadar tadi ia menanyakan Abah mana.


"Iya, Abah gak ada, karena Rakha hanya mimpi." Ujar Faisal sambil mengelus pucuk kepala Rakha. Tiba-tiba Rakha terlihat merengut, wajahnya terlihat sedih, sangat kontras dengan saat ia menceritakan mimpinya.


"Kenapa? Kok jadi sedih gitu?" Faisal cepat membaca perubahan ekspresi Rakha.


"Momy jadi kita tidak akan tinggal di lumah Dady? Aku gak bisa tidur sama Momy sama Daddy?" Rakha menatap sendu momynya, terlihat kekecewaan di wajah Rakha.


"Insya Allah setelah Rakha sembuh, Rakha bisa tinggal sama Momy, sama Daddy." Kharisa dan Rafael menoleh pada Faisal, apa maksudnya ucapan Faisal barusan? Kharisa menatap tajam Faisal, apakah ini berarti jawaban Faisal tidak bersedia menjadi ayah Rakha. Tanyanya dalam hati


"Om Isal gak bohong kan?" Tanya Rakha dengan mata bersinar penuh harap. Dibalas dengan senyuman di bibir Faisal.


"Tanya aja sama Momy, sama Daddy. Makanya Rakha harus cepat sembuh yah, biar bisa cepat bareng Momy dan Daddy."


bersambung....


Haiii.. .maaf yah telat Up nya, biasa ada urusan di dunia nyata. Mohon dimaklumi yah🤗


...Jangan lupa tinggalkan like komen hnja...

__ADS_1


lile


__ADS_2