Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Saatnya Berdamai


__ADS_3

"Omaaaa.......?" Suara panggilan anak kecil yang sekarang tidak asing ditelinganya membuat mami Rafael sedikit terkejut, ia langsung menoleh ke arah cucunya yang sedang berjalan ke arahnya. Ia baru saja menyalakan teko elektrik untuk memasak air panas. Kebiasaan mami Rafael di pagi hari membuat air teh hijau.


"Rakha sudah bangun? Ini kan masih pagi." Mama Rafael terlihat heran melihat anak kecil sudah bangun sepagi ini, biasanya anak-anak akan bangun pukul enam atau pukul tujuh. Waktu masih menunjukan pukul lima pagi waktu Singapura, dan Rakha sudah bangun sejak lima belas menit yang lalu, ia membangunkan dadynya mengajaknya shalat subuh berjamaah, kemudian menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan berwudhu, itu sudsh menjadi kebiasaan Rakha setiap harinya. Saat Rafael masih berada di kamar mandi, Rakha keluar kamar dan ternyata sudah ada omanya di dapur yang tidak jauh dari kamar tempat Rakha tidur. Apartemen itu memiliki tiga kamar dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya.


"Aku mau shalat subuh Oma, beljamaah sama Dady, Oma sudah shalat belum?" Pertanyaan cucunya membuatnya tertegun. Shalat .....? Kapan yah terakhir ia melaksanakan shalat, sepertinya lebaran idul adha kemarin ia shalat berjamaah di masjid dekat rumahnya.


"Eu....oh.... " Mami Rafael seperti kebingungan mau menjawab apa, jujur atau bohong.


"Kalau Oma belum shalat subuh, kita beljamaah sama Dady yu Oma, Dady lagi wudhu."


"Ah ya...Oma belum shalat." Entah kenapa ia menjawab jujur, padahal tadi ia akan berbohong mengatakan sudah.


"Rakha....ayo kita shalat." Rafael muncul keluar dari kamarnya saat tidak menemukan Rakha di kamar.


"Ya Dady, Oma juga belum shalat, mau shalat beljamaah, ya kan Oma?" Bocah menggemaskan itu tidak bisa membuat omanya menolak ajakan cucunya.


"Eeh....iya." jawab Mami Rafael. Rafael mengerutkan keningnya. Sejak kapan maminya shalat, mukena pun entah ada atau tidak di apartemen ini. Benar saja mami Rafael terlihat bingung, ia baru ingat shalat harus memakai mukena, karena sehari-harinya ia tidak menutup auratnya dengan menggunakan hijab.


"Oma ambil mukena dulu yah, eh atau kalian shalat saja duluan, takutnya oma lama mau ke kamar mandi dulu." Akhirnya mama Rafael ngeles agar tidak shalat berjamaah, ia benar-benar tidak ingat di apartemen ini menyimpan mukena atau tidak.


"Ya sudah, Rakha let's pray." Rafael mengajak putranya masuk ke kamar untuk shalat. Dan maminya masuk ke kamarnya entah shalat subuh atau tidak.


Kini mereka tengah duduk di meja makan untuk menikmati sarapan, ada Rafael, Rakha, Oma dan Opanya. Richan tidak terlihat ada di antara mereka. Mama Rafael menyiapkan menu sarapan sandwich dan susu plus sereal untuk Rakha. Mereka menikmati sarapan tanpa suara, sesekali mama Rafael memperhatikan cucunya yang tengah menikmati sarapannya yang telihat tidak bersemangat, lebih sering memainkan sendoknya di mangkuk yang berisi susu dan sereal coklat.

__ADS_1


"Rakha mau Oma suapin makannya." Tanyanya.


"No Oma....aku bisa makan sendiri." jawab cucunya tidak bersemangat.


"Kenapa? Rakha tidak suka serealnya?" Rafael tau Rakha tidak terlalu suka dengsn rasa coklat, ia lebih menyukai sereal yang berbentuk bintang, kemarin Rafael lupa memberitahu maminya hingga Mami Rafael membelikannya yang coklat.


"I miss momy, dady." Ujar Rakha sambil menunduk, lagi-lagi ia ingat momynya.


"Habis sarapan kita vidio call momy, ayo Rakha habiskan dulu sarapannya, oke." Tidak ada cara lain untuk melepas kangen Rakha pada momynya selain vidio call, Rafael paham itu, ia juga tidak ingin melihat putranya murung terus, padahal nereka sedang berlibur, harusnya Rakha senang menikmati liburannya.


"Ok Dady." Rakha pun mulai menghabiskan sarapannya walaupun masih ada sisa, kenyang katanya.


"Hari ini Opa mau ajak Rakha berenang, lalu lihat ikan di aquarium raksasa, Rakha pasti suka" Opanya mencoba menarik perhatian Rakha dengan rencana jalan-jalannya agar tidak teringat terus momynya.


Selesai sarapan Rafael menghubungi Kharisa, Rakha langsung saja berada di depan layar HP menunggu momynya.


"Momy.........kesini....."


"Kenapa Momy gak kesini....?"


"Aku mau jalan-jalannya sama momy." Tampak kesedihan di wajah Rakha, padahal ini bukan pertama kalinya ia berjauhan dengan momynya, dan bukan pertama kalinya pergi dengan dadynya, entah kenapa Rakha seperti yang sangat merindukan Kharisa. Mereka berdua larut saling melepas rindu, Rakha bercerita pengalaman di disneyland kemarin, Kharisa memberikan nasehat agar Rakha nurut sama dadynya, harus mau makan, dan jangan lupa shalat.


"Aku shalatnya beljamaah sama Dady, momy, tapi aku gak ngaji, buku Ummi nya gak dibawa."

__ADS_1


"Sekalang aku mau diajak belenang sama Opa, tlus ke aqualium laksasa." celotehnya.


"Hati-hati di sana yah, jangan jauh-jauh dari dady, ok." Kini Kharisa sudah terlihat tegar, tidak menunjukan kesedihannya, padahal hatinya masih merasakan perih, mengingat putranya tengah berada bersama orang-orang yang dulu tidak menginginkan putranya, bahkan tidak menginginkannya. Kharisa menutup sambungan vidio callnya karena harus berangkat kerja.


Mami Rafael memperhatikan Rakha dengan seksama, ia bisa melihat bahkan merasakan bagaimana kedekatan cucunya dengan ibunya. Ia teringat saat anak-anaknya masih kecil, ia tidak sedekat itu dengan anak-anaknya termasuk Rafael. Pantas saja Rakha begitu sedih saat tidak bersama Kharisa, karwna Kharisa begitu perhatian pada putranya itu.


Benar kata Rafael, Kharisa ibu yang baik, mendidik Rakha dengan baik, bisa dilihat bagaimana Rakha menjadi anak yang mandiri, sopan, penurut, dan yang membuat Mami Rafael salut di usia yang belum genap lima tahun, Rakha sudah menjalankan sholat, bahkan mengingatkan yang ada di sekitarnya. Rasanya malu kalau cucunya tau ternyata omanya tidak melaksanakan shalat.


"El....apa Kharisa akan menyusul ke sini?"


"Memangnya kenapa Mih?" Rafael heran maminya menanyakan Kharisa.


"Rakha sepertinya senang kalau ada momynya di sini."


"Pastilah, selama ini Kharisalah yang paling dekat dengan Rakha, mereka gak pernah lama berpisah. Tapi Kharisa gak mau diajak ke sini, bukankah momy juga gak ingin Kharisa ada di sini?" Entah kenapa ucapan dan pertanyaan Rafael terasa menyentil hati maminya. Ya, bukan Kharisa yang tidak mau ada di sini, menemani putranya berlibur, tapi ia yang tidak menginginkan Kharisa dekat dekat dengan Rafael, bahkan ia telah memintanya menjauhi Rafael. Tapi kenapa kini ia merasa menyesal dengan apa yang telah ia perbuat pada Kharisa.


Bisakah ia meralat ucapannya?


Melihat Kharisa memang mengingatkannya pada masa lalu yang membuat hidupnya terasa hancur, terpuruk, bahkan butuh waktu bertahun-tahun hingga akhirnya ia menerima takdir hidupnya.


Dan kini ia ingin berdamai dengan masa lalunya, merasakan bahagia saat bersama cucunya, namun ikut merasakan kesedihan saat cucunya sedih membuatnya ingin terus melihat cucunya bahagia, dan kebahagiaan cucunya ada pada Kharisa dan putranya. Ia semakin yakin untuk berdamai dengan Kharisa, tapi apakah Kharisa mau memaafkannya?


"El....coba ajak Kharisa untuk menyusul ke sini, bilang saja Rakha ingin berlibur bersama momynya."

__ADS_1


bersambung


__ADS_2