
"Saya punya proyek penelitian, kerjasama dengan Humboldt University Jerman, saya masukan kamu ke dalam tim bersama Pak Andi, hari ini Pak Andi tidak bisa datang karena ayahnya sedang kritis di rumah sakit. Jadi saya akan sedikit menjelaskan proyek penelitian ini." Kini Faisal tengah berada di ruang kantor Prof Apandi. Tentu saja Faisal merasa senang dilibatkan dalam proyek penelitian, selain menambah ilmu dan pengalaman akan menambah point untuk pengembangan karirnya sebagai dosen.
Ia sudah yakin akan mengembangkan karir di dunia pendidikan perguruan tinggi, otomatis ia memiliki kewajiban untuk mengamalkan Tridarma Perguruan Tinggi, salah satunya adalah penelitian, selain pendidikan dan pengabdian masyarakat. Dan saat ini ia belum diberikan kewenangan untuk berbagi ilmu langsung dengan mahasiswa di kelas, karena belum memenuhi syarat basic pendidikannya yang harus S2. Jadi dengan mengikuti penelitian ini ia tetap bisa mengembangkan dirinya.
Prof. Apandi menjelaskan secara garis besar rencana proyek penelitiannya, dan tugas apa saja yang harus dikerjakan Faisal.
"Untuk langkah awal, kita akan mengumpulkan beberapa sumber literatur. Saya sudah ada beberapa sumber buku, tapi berbahasa Jerman, saya akan minta bantuan putri saya untuk menerjemahkannya, untung saja dia masih menguasai bahasa Jerman, dia sudah mau." Jelas Prof. Apandi.
"Putrinya Prof, maksudnya Aini?" Faisal tidak menyangka kalau gadis yang tadi memberinya brownies menguasai bahasa Jerman.
"Iya Aini, dulu pas SD, SMP, sekolahnya di Jerman, waktu itu saya sedang program S2, S3 di sana, anak istri saya bawa ke sana waktu itu. Anak itu memang cepat menguasai bahasa disana, setelah kembali ke Indonesia sampai sekarang masih menguasainya, beda dengan dua kakaknya yang berkurang kemampuan berbahasa Jermannya."
"Ternyata sampai sekarang Aini masih berhubungan dengan teman-temannya waktu di Jerman, hampir tiap hari ada saja yang menghubunginya, sampai vidio call segala." Faisal tertegun mendengar cerita Prof Apandi tentang putri bungsunya.
"Nanti kamu kerja sama dengan Aini, bisa kan? Sumber yang sudah dia terjemahkan, kamu pilih bagian yang cocok lalu kamu susun, nanti saya akan lihat. Kamu bisa cari literatur lain juga, kalau yang berbahasa Inggris saya yakin kamu menguasainya."
"Baik Prof." Jawab Faisal mengiyakan.
"Kamu sudah punya nomor Aini?"
"Belum prof." Jawab Faisal jujur.
"Nanti kamu minta sama Aini nomornya, dia sedang ke perpus, nanti kembali ke sini lagi."
"Baik Prof." Ujar Faisal tanpa banyak bicara.
Setelah selesai urusan dengan Prof.Apandi, Faisal menuju ruangannya dilantai dua, ruangan untuk dosen, ia bergabung satu ruangan dengan empat dosen yang lainnya. Tidak lama ia berada di ruangannya, hanya mengambil beberapa buku yang tertinggal yang sedang ia baca, ia pun meninggalkan ruangannya yang sepi tidak ada satu rekan dosennya yang masuk karena memang masih suasana libur.
Ia menuju lantai satu, rencananya akan menunggu Aini di lobi, yang kata ayahnya sedang ke perpustakaan.
Tidak sampai lima belas menit menunggu di lobi, gadis yang ditunggunya datang menunjukkan batang hidungnya, berjalan dengan wajah ceria menghampiri Faisal. Gadis itu memang selalu tampak ceria apalagi saat berhadapan dengan Faisal, wajahnya terlihat berbunga-bunga.
"Kang Faisal masih di sini?" Tanyanya dengan senyum lebar menghiasi bibirnya.
"Ya, saya nunggu kamu." Jawaban Faisal membuat wajah Aini merona, suatu kehormatan baginya orang yang dikaguminya tengah menunggunya.
"Menungguku? Benarkah?" Tanya Aini dengan wajah meronanya.
"Aku mau minta no HPmu? Boleh?"
"Haah........?" Aini terlihat kaget campur senang, tidak percaya Faisal meminta nomor HPnya. Dulu ia sangat ingin meminta nomor Faisal tapi niatnya selalu diurungkan, apalagi setelah Faisal mulai menghindarinya entah karena apa.
"Oh, ya boleh." Ia mengeluarkan HPnya.
"Berapa nomong Kang Faisal, nanti aku misscall."
Faisal pun menyebutkan nomornya, dan tidak lama kemudian HPnya berdering, muncul nomor tak dikenal di layar HPnya.
"Itu nomorku, save yah. Oh ya, namaku Ainiya Almaira Adzra." Ucapnya dengan wajah berseri. Faisal menganggukan kepalanya.
"Prof Apandi bilang kamu membantu menerjemahkan sumber literatur untuk penelitian, nanti kalau ada yang sudah selesai, aku ambil, atau kamu kirim ke email saya, nanti saya kirim alamat emailnya, gak papa nyicil juga, biar aku mulai nyicil juga mengengerjakannya."
"Oh Kang Faisal masuk tim penelitian ayah?Siap Kang, nanti saya kabarin kalau sudah ada yang aku kerjakan." Aini terlihat bersemangat. Ia sudah mendapat nomor kontal Faisal, senang juga karena Faisal dilibatkan dalam penelitian ayahnya, berarti akan banyak kesempatan untuk bertemu bahkan berdiskusi bersama, karena ia pun diajak ayahnya untuk membantu walaupun tidak tertulis secara resmi sebagai anggota timnya, niatnya pun hanya untuk belajar dan mencari pengalaman di dunia penelitian.
__ADS_1
"Ya sudah, saya pulang dulu." Pamit Faisal karena tidak ada kepentingan lain lagi di kampus, lebih baik ia mulai mencari informasi kewat Google yang berkaitan dengan penelitiannya di kamar kost nya.
"Oh iya." Aini menganggukan kepalanya, sedikit membungkukan badannya. Faisal berlalu meninggalkanya.
"Kang Faisal." Ucap Aini dengan suara yang lebih keras saat Faisal baru beberapa langkah meninggalkannya. Faisal pun menoleh ke belakang.
"Browniesnya dihabiskan yah." Ujar Aini nyengir. Faisal mengernyitkan keningnya.
"Oh ya, makasih yah." Ujar Faisal sambil mengangguk lalu berjalan keluar gedung kantor menuju tempat parkir.
Aini menghela nafas setelah Faisal tidak terlihat lagi. Ia melenggang menuju ruangan ayahnya dengan wajang riang, mereka memang janjian pulang bersama dan akan makan siang bersama di restoran favorit keluarganya. Ayah dan putrinya itu memang terlihat dekat dan terlihat ayahnya sangat menyayangi putri bungsunya.
*****
Waktu sudah menunjukan jam istirahat untuk shalat dhuhur dan makan siang. Tapi rupanya Kharisa tidak menyadarinya, ia terlihat masih khusyu di depan layar monitor di meja kerjanya, jarinya dengan lincah bergerak di atas keyboard, sesekali meggeser mouse dan mengecek lembar rujukan pasien yang menumpuk di mejanya.
"Sa makan dulu yuk, perutku udah protes nih." Tiba-tiba Meli masuk ruangan, menyimpan berkas yang dibawanya di atas meja kerjanya lalu menghampiri Kharisa.
"Eh sudah jam istirahat kah?" Tanya Kharisa ia melirik jam di tangan kiriya, sudah menunjukan pukul dua belas lebih tujuh menit.
"Aku mau shalat dhuhur dulu yah, bentar, shalatnya di sini kok, biar tenang, nanti kalau makan dulu suka kebablasan keasyikan sambil ngobrol di kantin. Tuh kan ada cake buat ganjal dulu." Ujar Kharisa sambil menunjuk meja pantry lalu beranjak menuju toilet yang berada di luar ruangannya. Meli pun mengiyakan, lalu menikmati snack dan cake yang dibawa Kharisa.
Selesai Kharisa shalat mereka menuju kantin untuk makan siang, sesibuk apapun urusan perut tidak boleh disepelekan kalau mau terus produktif, apalagi Kharisa memiliki riwayat gastritis, ia tak ingin penyakit itu kambuh disaat ia hatus menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk setelah tidak masuk kerja selama dua minggu kemarin.
"Kharisa....." Kharisa langsung menoleh ke arah suara yang dikenalnya, dengan senyum mengembang di bibirnya ia berjalan ke arahnya, ia sudah merindukan bertemu dengan sahabatnya ini.
"Apa kabar Mba?" Kharisa menyambut uluran tangan wanita mantan tunangan suaminya. Mereka cipika cipiki kemudian saling berpelukan.
"Gimana liburannya? Pasti menyenangkan?" Tanya Kharisa melepas pelukannya.
"Alhamdulillah sudah sehat." Kharisa mengerti maksud pertanyaan Vania, pasti menanyakan kabar Rakha.
"Kamu ambil makan dulu, nanti duduk di sini yah, masih kosong." Vania teringat kalau Kharisa belum makan siang, ia sendiri sudah hampir menghabiskan makan siangnya. Kharisa menganggukan kepalanya lalu mengajak Meli megambil makan siangnya.
Kharisa dan Meli menikmati makan siangnya satu meja bersama Vania dan Meita, sesekali menjawab pertanyaan Vania, namun ada rasa bersalah dalam hati Kharisa, Vania belum tahu statusnya yang sudah menjadi istri Rafael dan tidak mungkin sekarang ia memberitahunya.
"Mba pulang kerja ada waktu? Ada yang mau aku bicarakan." Tanya Kharisa setelah menghabiskan makannya, Vania tengah menghabiskan jus mangganya.
"Mmm....ya boleh, bisa hari ini aku sedikit nyantai. Kita ngobrol di messku yah." Vania langsung mengiyakan, ia pun ingin tahu cerita dan kabarnya Rakha. Meita yang mendengar obrolan sahabatnya dengan wanita yang dianggap saingannya menggerutu dalam hatinya, pintar sekali Khstisa mengambil hati Vania hingga mereka kini menjadi dekat, malah sekarang Vania seperti sedikit menjauh darinya. Sekarang saja Vania mau makan bareng karna dipaksa, diancam kalau Vania tidak makan ia pun tidak akan makan.
"Raf....sini." Vania melambaikan tangan pada seseorang dan memanggilnya. Ternyata Rafael dengan Andre baru masuk ke dalam kantin. Rafael berjalan ke meja dimana Vania duduk. Kharisa pun menoleh, jantungnya langsung berdetak lebih cepat saat melihat Rafael mendekat ke arahnya, ia berusaha menenangkan hatinya, entah kenapa ia merasa salah tingkah bertemu dengan Rafael, padahal sejak kemarin ia berada di dekatnya.
Ia jadi teringat belum membuka pesan Rafael yang dikirim ke WAnya, karena sejak tadi ia fokus mengerjakan pekerjaannya. Ia menundukan kepalanya saat Rafael duduk di kursi kosong di sebelah Vania disebrangnya, mengaduk-aduk jus alpukatnya, sebenarnya ia sedang menetralkan denyut jantungnya agar kembali normal.
"Gimana target kerjaannya Sa, kekejar gak?" Tanya Andre yang duduk di sebelahnya. Andre memang belum kembali ke ruangannya sejak keluar untuk meeting dengan direktur.
"Yang angket sudah selesai Pak, saya sedang merekap rujukan minggu pertama." Jawab Kharisa sambil mengaduk-aduk jusnya, sama sekali tidak melihat ke arah Rafael.
"Cepet juga kamu ngerjainnya." Ucap Andre kagum, Kharisa memang selalu bisa diandalkan, sayangnya hanya tinggal dua minggu lagi dia sebagai stafnya.
"Dia fokus ngerjainnya Pak, sampai tidak bergerak, ya Kan Kharis?" Celetuk Meli sambil terkekeh, ia pun mengakui kecepatan Kharisa mengerjakan tugasnya, kalau dia yang mengerjakan pasti masih berkutat dengan rekapan angket kepuasan pasien, pas menganalisa langsung blank bingung mau apa yang mau ditulis, itu pengalamannya minggu kemarin, hingga tidak bisa melampirkannya dalam laporan bulanan bagian marketing.
Sebenarnya Kharisa sudah selesai dengan makan siangnya, tapi ia merasa tidak enak untuk pamit, masih ada waktu sepuluh menit lagi waktu istirahat, Vania pun masih asyik berbincang dengan Andre, sesekali Rafael menimpali sambil sibuk dengan HPnya, sepertinya ia sedang mengirim pesan pada seseorang.
__ADS_1
HP Kharisa di saku celana kulotnya beberapa kali bergetar tanda ada pesan masuk, namun ia mengabaikannya, kemudian terasa getarannya lebih lama sepertinya ada panggilan telpon. Ia mengambil HP dari saku celana kulotnya, menatap layar HPnya, tampak nama yang tidak asing disana. Rupanya Rafael yang menghubunginya. Ia mengangkat kepalanya melihat ke arah Rafael yang tengah menatap layar HPnya juga. Ia bingung apa maksud Rafael menghubunginya padahal ia ada di depannya. Tidak lama kemudian getaran HPnya berhenti. Disusul dengan getaran pesan masuk, di notif tampak pesan WA dari Rafael 'Buka pesan WA', itu isi pesan yang terbaca di notif.
Kharisa membuka pesan WAnya ternyata banyak pesan yang dikirim Rafael sejak tadi pagi. Ada panggilan telpon juga. Tadi memang HPnya disilent.
"Sa, sekarang tugas ke luar gak?"
"Aku langsung meeting dengan direktur."
"Sa, kerjaannya banyak? Kata bang Andre kamu gak dapat tugas luar lagi."
"Sibuk banget? Sampai gak sempat buka HP?"
Itu beberapa pesan yang dikirim Rafael, sama sekali gak dibukq Kharisa. Belum lagi pesan sebelum istirahat.
"Nanti makan siang bareng di kantin yah jam setengah satu."
"Sudah istirahat belum? Makan siangnya duluan saja, aku masih dengan direktur."
Kemudian ada panggilan telpon lagi, sepertinya saat Kharisa sedang shalat.
"Kamu sibuk banget sampai gak ingat suami?"
"Kamu gak nawarin suaminya mau makan sama apa?"
"Nasib, baru satu hari nikah dicuekin istri."
"Buka pesan WA."
Ia menatap ke arah Rafael setelah membaca pesannya dengan perasaan merasa bersalah. Sementara Rafael menatapnya dengan wajah datar, tidak ada senyum sedikit pun di bibirnya. Tentu saja merasa kecewa karena sejak berada di rumah sakit tidak dianggap oleh Kharisa. Kharisa pun membalas pesan Rafael.
"Maaf, tadi aku fokus dengan kerjaan."
"Sekarang buruan makan, ambil sendiri saja, nanti makan malam aku yang siapin."
"Selama di rumah sakit bersikap seperti ini saja, please."
"Only 2 week. Ok."
Kharisa melirik Rafael yang tengah membaca pesan darinya.
"Tapi ingat di luar rumah sakit kita suami istri." Kharisa berdecak membaca balasan pesan dari Rafael. Tentu saja ia tidak mungkin lupa kalau ia istrinya Rafael dan Rafael adalah suaminya.
"Apalagi di rumah kita bisa melakukan yang biasa dilakukan suami istri, tidak ada penolakan." Rafael mengirimkan pesan lagi, pesan kali ini membuat Kharisa membulatkan matanya. Sementara Rafael tersenyum melihat ekspresi Kharisa. Kharisa memasukan HPnya tidak berniat membalas pesan dari suaminya.
"Mel kita kembali ke ruangan." Kharisa melihat jam di tanagannya yang sudah menunjukan pukul satu lebih lima menit.
"Mbak, aku duluan ke atas yah." Ujar Kharisa pada Vania.
"Eh kita bareng, aku juga udah selesai kok." Vania berdiri dari duduknya.
"Raf, Bang Andre aku duluan yah, kalian cepetan makan dulu." sambungnya.
"Pak Andre, saya duluan yah." Kharisa pun pamit pada atasannya, kemudian berlalu tanoa pamit pada suaminya.
__ADS_1
Rafael menghela nafasnya, tidak bisa protes dicuekin oleh istrinya. Ia benar-benar seperti suami yang tak dianggap. Tunggu saja nanti di rumah, ia akan menuntut habis haknya sebagai suami. Batinnya.
bersambung