Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Ayah Rakha


__ADS_3

Menyendiri....menyepi kadang dibutuhkan untuk menenangkan diri sambil merenungi perjalanan hidup yang penuh lika liku, juga introspeksi diri apakah sudah menjalani hidup dengan benar, apalagi saat ujian datang terus mendera. Itu yang dilakukan Kharisa saat ini. Setelah meninggalkan Mami Rafael di rumah makan, ia tidak langsung pulang ke rumah. Dengan perasaan penuh kecewa, marah ia melajukan motornya menuju sebuah masjid yang dikenal dengan nama Tajug Gede yang merupakan masjid kebanggan warga daerah di sana. Masjid itu ramai dikunjungi saat hari libur karena memiliki taman yang indah, dan banyak memiliki spot yang menarik untuk berfoto. Kalau hari kerja masjid itu terlihat sepi karena jauh dari lingkungan warga, hanya beberapa orang saja yang singgah untuk melaksanakan shalat atau beristirahat.


Selesai shalat dan curhat dan berdoa pada Sang Khalik, Kharisa duduk di selasar masjid area wanita, tidak terlihat ada seorang pun di sana, hanya ada beberapa pengunjung laki-laki yang keluar masuk masjid melaksanakan shalat. Ia masih enggan untuk pulang ke rumah. Ia tidak ingin terlihat sedih saat pulang ke rumah, matanya memang terlihat sembab. Dan saat bertemu mamanya ia pasti tidak bisa menahan rasa sedihnya, bagai mana tidak sedih, orang yang selama ini menyayanginya dengan tulus, melindunginya, membelanya, berjuang bersama agar bisa menjalani hidup dengan baik tiba-tiba ada orang lain dengan seenaknya menjelekan mamanya, menuduh mamanya sebagai penggoda suami orang lain, dan yang lebih menyedihkan lagi yang mamanya mengajarkan ia menggoda Rafael, dan itu keluar dari mulut wanita yang tak lain adalah ibu dari laki-laki yang dicintainya.


Tentu saja yang diucapkan mami Rafael tidak benar, dan jatuhnya adalah fitnah. Ia tau bagaimana ceritanya mamanya bisa menikah dengan papanya, mama Lisna sendiri yang cerita, jadi tidak mungkin mengarang cerita. Mama Lisna yang meminta mamanya untuk menikah dengan papa, malah mama sempat menolak karena tidak ingin menyakiti perasaan mama lisna, dan mama sendiri saat itu tidak mencintai papa, yang ada takut dan segan karena papa adalah bos di tempat kerjanya. Namun akhirnya mama mau setelah dibujuk mama Lisna dan kondisi mama Lisna saat itu mulai menurun. Jadi tidak ada ceritanya mama Kharisa yang menggoda papa.


Sekarang yang harus ia pikirkan adalah apakah ia akan melanjutkan hubungan dengan Rafael atau meninggalkan Rafael seperti permintaan maminya, terus terang untuk saat ini ia belum bisa mengambil keputusan ini. Yang ia pikirkan adalah putranya Rakha. Tapi melihat bagaimana sikap mami Rafael terhadapnya, rasanya berat untuk menghadapinya.


Ia merasakan getaran Hp di dalam tasnya, sejak akan bertemu dengan maminya Rafael sengaja HPnya ia silent.


Rafael calling......


Kharisa menghela nafasnya, menatap layar HPnya namun enggan menerima panggilan itu, sampai akhirnya HPnya tidak bergetar lagi. Ia mengecek notif yang masuk, ternyata banyak panggilan dan pesan WA yang masuk, dari Rafael sampai lebih dari dua puluh kali panggilan, Vania dan Faisal pun ada menghubunginya.


"Sa, kamu dimana?"


"Are you ok?"


"Angkat telponku, please."


"Sa, aku ke rumahmu."


Itu pesan yang dikirim Rafael, namun Kharisa tidak membalasnya. Ia lebih penasaran untuk membuka pesan dari Faisal.


"Neng A Isal mau ke sana."


"Neng baik-baik saja kan?"

__ADS_1


"Neng dimana? A Isal udah mau keluar tol."


Karisa pun segera membalas pesan dari Faisal.


***


Entah kenapa setelah membalas pesan Kharisa, Faisal merasa tidak tenang, padahal ia yang memberikan nasehat kepada Kharisa untuk berpikir positif, malah dia sendiri yang negatif thinking. Mengetahui Kharisa akan bertemu dengan ibunya Rafael mengingatkan ia pada kejadian beberapa tahun lalu, bagaimana terlukanya hati Kharisa saat itu, dan sekarang ia mengkhawatirkannya kalau itu terjadi lagi. Bagaimana kalau ibunya Rafael tetap tidak mau menerima Kharisa? Dan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti perasaan Kharisa lagi?


Kekhawatirannya akhirnya membawa langkahnya menuju jalan raya, menyetop sebuah angkutan kota yang bisa membawanya ke tempat penghentian bis di dekat pintu jalan tol. Di dalam bis ia coba menghubungi Kharisa, tersambung namun tidak diangkat. Ia pun mengirimkan pesan, namun belum terbaca. Hingga saat ia melihat pesannya dibaca dan di balas Kharisa, ia langsung menghubunginya.


"Assalamuakaikum. Neng kamu baik-baik saja kan?"


"Neng dimana?" Tnaya Faisal denan nada penuh kekhawatiran.


Kharisa pun memberitau keberadaannya dimana, ia merasa lega mengetahui Kharisa baik-baik saja namun ia tau nada suaranya terdengar Kharisa sedang sedih.


"Neng......" Kharisa langsung menoleh mendengar suara yang tidak asing memanggilnya.


"A....." Kharisa menyunggingkan senyumnya berusaha tidak memperlihatkan kesedihannya.


"Neng, apa ibu Rafael membuat Neng kecewa lagi?" Tebak Faisal setelah ia duduk bersila di depan Kharisa, kini ia yakin kekhawatirannya memang terjadi, walaupun Kharisa berusaha tersenyum namun ia masih bisa melihat ada kesedihan dan kekecewaan dari wajahnya.


"Mami Rafael benar-benar tidak mau nerima aku jadi menantunya." Jawab Kharisa getir.


"Alasannya?" Ini yang membuat Faisal penasaran, termasuk Kharisa juga penasaran dan tadi ia mengetahui alasannya yang menurutnya alasan itu tidak masuk akal sebenarnya.


"Karena aku terlahir dari istri kedua, mami Rafael mengira mama wanita penggoda, dan aku seperti mama yang menggoda Rafael hingga aku hamil." Mata Kharisa mulai berkaca-kaca, sedih rasanya mengingat mamanya dituduh seperti itu, bahkan direndahkan. Tadi pun Kharisa tidak terima mamanya direndahkan.

__ADS_1


"Tante, kalau tante memang tidak suka sama saya, tante tidak usah bawa-bawa mama saya, tante tidak punya hak menghina mama saya. Tante boleh hina saya, tapi jangan hina mama saya , apa yang tante tuduhkan tidak benar." Itu yang diucapkan Kharisa untuk membela mamanya, ia tidak rela mamanya dihina, boleh saja ia yang dihina tapi tidak dengan mamanya.


"Kenapa ibunya Rafael bisa berpikiran seperti itu?" Faisal terlihat heran. Kharisa menggelengkan kepalanya, ia juga tidak tau kenapa mami Rafael bisa berpikiran seperti itu, kenal pun tidak dengan mama papanya, mungkin ia mendapatkan informasi dari pihak lain, tapi kenapa begitu yakin tanpa konfirmasi lagi.


"Aku juga tidak tau, tapi udahlah A, aku sudah lelah, sepertinya aku lebih baik menyerah, toh tidak bersama Rafael juga, ia tetap ayahnya Rakha, tetap akan menjadi dadynya Rakha, aku tidak akan memutuskan hubungan antara ayah dan anak, tapi untuk hidup bersama, sepertinya tidak bisa." Kharisa menatap langit yang mulai terlihat mendung, seperti hatinya yang diselimuti kabut saat teringat lagi kata-kata mami Rafael tadi.


"Kamu tenang saja, aku sudah mengakui Rakha sebagai cucu kami, dan Rafael akan bertanggung jawab menanggung biaya hidup Rakha, termasuk menanggung hidup kamu, karena kamu yang merawat cucu kami. Jadi jangan pernah berusaha menjauhkan Rakha dari kami, dan dari Rafael, karena kami punya hak juga atas Rakha." Ucapan mami Rafael tadi membuat Kharisa tertegun, enak sekali sekarang merasa punya hak atas Rakha setelah apa yang mereka lakukan dulu, apa tidak malu pada diri sendiri juga pada cucunya. Tapi ia hanya bisa menarik nafas panjang tidak mengiyakan juga tidak membantahnya.


"Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi saya permisi." Kalimat itu yang diucapkan untuk mengakhiri pembicaraan dengan mami Rafael. Walaupun merasa tidak sopan Kharisa berjalan meninggalkan mami Rafael yang sepertinya masih ada yang ingin dibicarakan, namun Kharisa tidak ingin mendengar apapun lagi, apalagi yang berurusan dengan putranya. Ia takut kalau keluarga Rafael menuntut tak asuh Rakha.


"Neng....jangan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa, pikirkan dulu dengan matang, jangan karena emosi nanti menyesal di kemudian." Seperti biasa Faisal selalu mengingatkan Kharisa, ia tau Kharisa sedang dalam keadaan emosi, tidak berpikir panjang.


"Aku sudah memikirkannya A, Insya Allah ini yang terbaik."


"Neng belum membicarakannya dengan Rafael, bicarakan dulu, siapa tau Rafael punya solusi, A Isal yakin Rafael tidak akan begitu saja menerima keputusan Neng. Bukankah Neng dan Rafael saling mencintai, pikirkan juga Rakha."


"Mami Rafael tidak menginginkanku jadi menantunya A, ia pasti akan terus berusaha menganggu, memisahkan kami. Lebih baik aku mengalah, Rafael tidak akan mengejarku lagi kalau aku memutuskan menikah dengan laki-laki lain yang mau menjadi ayah untuk Rakha, bukankah malah Rakha akan mendapatkan kasih sayang lebih dari dua orang ayah." Entah sejak kapan terpikir oleh Kharisa untuk menikah dengan laki-laki lain selain Rafael.


"Sebenarnya ada yang pantas untuk menjadi ayahnya Rakha, ia sangat menyayangi Rakha, tapi aku tidak tau apakah ia mau menjadi ayah Rakha dengan menikahi ibunya atau tidak." Ucapan Kharisa membuat Faisal mengerutkan keningnya, dalam hati ia bertanya, siapa laki-laki yang dekat dengan Kharisa bahkan sangat menyayangi Rakha dan entah kenapa rasa kecewa muncul di hatinya. Mungkinkah ada laki - laki lain yang dekat dengan Kharisa?


"A...A Isal mau gak jadi ayah Rakha?" Sontak saja Faisal terkejut mendengar pertanyaan Kharisa.


bersambung


Hai readerku tercinta, terima kasih masih setia mengikuti cerita ini. Maaf kalau up nya jadi tambah lama, inginnya bisa up tiap hari, bahkan inginnya bisa Crazy up, tapi apa daya gak kuat kalau harus begadang lagi. Jadi harap maklum yah, yang pasti novel ini akan diselesaikan sampai tamat dengan happy ending tentunya.


Jadi ikutin terus jalan ceritanya. Jangan lupa like, komen juga dan kirim hadiah. Thanks yah🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2