Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Aku Milikmu


__ADS_3

Faisal baru saja pulang dari masjid dekat rumahnya, setelah shalat Isya ia bertemu dengan beberapa adik tingkatnya waktu kuliah yang sekarang berada di tingkat akhir. Mereka pun duduk di pelataran masjid, terlibat obrolan tentang seputar tugas akhir skripsi yang sedang mereka kerjakan, mereka memanfaatkan pertemuan dengan seniornya untuk sharing pengalaman mengerjakan skripsi agar bisa cepat dan lancar. Dengan senang hati Faisal berbagi pengalaman dengan juniornya hingga membuatnya lupa dengan perutnya yang tadi mulai terasa lapar.


Baru saja masuk ke dalam kamar kost nya, HPnya berdering, ia mengernyit membaca nama yang tampil di layar HPnya. 'Bi Dewi calling'. Faisal memang menyimpan nomor mama Kharisa tapi belum pernah mama Kharisa menghubunginya atau sebaliknya. Entah kenapa ia berpikir ada hal yang penting sampai mama Kharisa menghubunginya. Segera ia mengambil HPnya dan menerima panggilan itu.


"Salamikum, hallo Om Isal." Wajah Faisal langsung berseri mendengar suara bocah yang sangat dikenalnya.


"Waalaikumsalam, kok tumben Rakha nelpon nya dari HP Oma, momy nya mana?"


"Momy pulang sama Daddy, soalnya halus kelja, aku di rumah Opa sama Oma sana nenek." Jawab Rakha polos.


"Om Isal aku mau vidio call yah, bental."


"Oma aku mau vidio call, gimana calanya." terdengar suara Rakha pada Omanya, Faisal hanya menunggu aksi inisiatif Rakha yang ingin vidio call dengannya, padahal ia bisa saja merubah mode menjadi vidio call.


"Tekan gambar kamera." Terdengar suara omanya.


"Telus Oma?" Rupanya ada intruksi lagi di layar hp yang dipegang Rakha.


"Tekan ini....tekan lagi....." Mama Kharisa membimbing Rakha hingga terlihatlah wajah keduanya di layar HP Faisal.


"Om Isal....." Terlihat wajah Rakha begitu ceria, terlihat bahagia seperti baru bertemu dengan orang yang dirindukan setelah lama tidak berjumpa, padahal kemarin mereka bertemu di acara akad nikah momy daddynya Rakha.


Mereka berdua asyik ngobrol jarak jauh lebih dari setengah jam. Rakha minta ditambah hapalan juz ama nya, sekarang masuk ke surat Al Lail. Faisal mencontohkan bunyi ayat pertama sampai ayat tiga diikuti oleh Rakha.


"Nanti Om Isal kirim rekaman suaranya ke HP Oma yah, nanti kalau sudah hapal Rakha telepon Om Isal. Sekarang Rakha istirahat, sudah malam, besok harus bangun pagi untuk shalat subuh."


"Iya....udah dulu ya Om Isal, aku sayang Om Isal. Salamikum." Tentu saja Rakha nurut sama Om nya itu.


"Assalamualaikum." Faisal mengulang dengan tegas ucapan salam Rakha, memperbaiki ucapannya.


"He...he....Assalamualaikum." Rakha yang mengengerti kalau Omnya memperbaiki ucapan salamnya langsung mengulangnya dengan benar.


"Waalaikumsalam." Jawab Faisal dengan senyum di bibirnya.


"Daaaah Om Isal." Tidak lama kemudian layar HP Faisal berubah menjadi gelap. Ia menghela nafasnya, duduk di karpet lalu membuka laptopnya.


Hatinya merasa lega, ternyata Rakha tidak berubah terhadapnya walaupun sudah ada Daddynya, tadi pun jelas terdengar mengucapkan kalau Rakha sayang padanya, anak itu memang ekspresif, tidak malu-malu mengungkapkan perasaannya. Beda dengan momynya yang suka memendam perasaannya, tak pernah mengungkapkan kalau ada hal apapun seperti yang membuatnya tidak nyaman atau tidak ia sukai. Kecuali saat ia mengungkapkan keinginan memintanya menjadi ayahnya Rakha.


Kalau saja ia menerima permintaan Kharisa, apa mungkin sekarang ia tengah bersama Kharisa dan Rakha? Tiba-tiba pikiran itu terbersit dalam benaknya.


"Astaghfirullah...." Gumamnya, Faisal mengusap kasar wajahnya. Bukankah ia sudah yakin dengan jawaban yang diberikan kepada Kharisa, kenapa sekarang berpikir seperti itu.


Sekarang Kharisa sudah bahagia dengan keluarga barunya, bahkan Kharisa sekarang tengah bersama suaminya, laki-laki yang dicintainya, yang sejak lama ditunggunya. Mungkin sekarang Kharisa tengah menikmati kebersamaan dengan Rafael tanpa Rakha di sisi mereka.


"Ya Allah...bahagiakan dan muliakan Kharisa bersama keluarganya." Doa tulus terucap dari bibir Faisal.


Faisal menyalakan laptopnya, mengaktifkan hotspot HPnya, jaringan internet langsung terhubung ke laptopnya. Ia akan searching lagi untuk bahan penelitian di google, beberapa artikel yang berhubungan dengan penelitian sudah ia baca. Ia jadi ingat apakah Aini sudah mengirim terjemahannya melalui e mail, tadi sore ia mengirim pesan kalau akan mengirimnya malam ini kalau sudah selesai menerjemahkannya, tapi ternyata belum ada.


Kini perutnya mulai terasa lapar lagi, Faisal memang belum makan malam, tadinya pulang dari masjid akan makan di warung tenda kaki lima yang banyak tersedia di pinggir jalan raya, tapi gara-gara bertemu juniorna ia jadi lupa, dari masjid malah langsung pulang ke tempat kost nya.

__ADS_1


Rasanya malas kalau harus keluar lagi, akhirnya Faisal memutuskan akan menunggu tukang nasi goreng yang biasa lewat saja walaupun agak lama, biasanya di atas jam sembilan malam baru lewat.


Faisal membuka box yang ada di meja di sebelah laptopnya. Masih ada setengah lagi brownies pemberian Aini, ia mengambil satu potong brownies bertoping keju, lalu menggigitnya, merasakan sensasi rasa coklat yang tercium khas wanginya dan rasa sedikit pahit namun pas dengan rasa manis legit, kombinasi dengan rasa gurih dari toping keju membuat Faisal mengambil satu potong lagi. Sepertinya lidahnya ketagihan untuk merasakan enaknya brownies hasil karya putri sang profesor.


Ia jadi teringat saat bertemu dengan Aini tadi di kampus. Gadis itu selalu menunjukan wajah cerianya setiap bertemu dengannya, termasuk dulu saat ia masih jadi kakak tingkatnya. Pantas saja ia senang berdiskusi, rupanya karena latar belakang lingkungan keluarganya. Jadi terpikir kenapa Aini harus repot-repot sharing ilmu dengannya padahal ada ayahnya yang seorang guru besar di kampus mereka. Baru terpikir sekarang setelah tahu Aini putrinya Prof Apandi.


Apa ada maksud lain dari gadis itu? Melihat wajahnya yang berbunga-bunga setiap bertemu dengannya, belum lagi sekarang jadi lebih sok akrab setelah bertemu kembali saat menjemput di bandara, termasuk brownies pemberiannya ini.


Apa dia menyukaiku? Terbersit pertanyaan itu dalam benak Faisal. Tapi ia menepikan dugaan itu. Sepertinya ia yang kegeeran. Aini memang gadis yang ceria, kepada siapa pun ia bersikap ramah, dan mungkin saja brownies ini sebagai ucapan terima kasih karena ia telah menjadi supir mengantar Aini dan ayahnya ke rumah dari bandara.


Jadi jangan terlalu berprasangka. Untuk apa juga berpikir sampai ke sana, kalau memang Aini benar menyukainya, itu hak nya, lalu memangnya ia mau apa? Perjalanannya masih panjang, masih banyak mimpinya yang harus diwujudkan, melanjutkan sekolah S2, membuat orang tua dan keluarganya bangga, itu yang harus dipikirkannya saat ini.


Faisal pun kembali fokus membaca artikel di layar laptopnya setelah menghabiskan dua potong brownies yang berhasil mengganjal rasa laparnya. Fokus! Fokus raih impianmu Faisal. Batinnya.


*****


"Sa, kamu belum ngantuk?" Kharisa dan Rafael masih berbaring di tempat tidur dengan selimut menutupi tubuh polos mereka, mereka masih terjaga setelah setengah jam yang lalu melakukan ibadah yang pertama kali dilakukan setelah resmi menjadi suami istri. Lengan kanan Rafael menjadi bantalan kepala Kharisa, sementara tangan kirinya mengelus punggung tangan Kharisa yang berada di atas dadanya.


"Belum....aku biasa tidur dibatas jam sepuluh malam." Jawab Kharisa. Jam di meja belajar Rakha masih menunjukan pukul setengah sepuluh malam.


"Kamu gak cape gitu?"


"Haah....?" Kharisa mengangkat kepalanya melihat wajah suaminya.


"Kamu cape gak? Tadi kamu hebat. Tadi kita hampir satu jam loh Sa, tapi kamu kuat, bisa ngimbangin aku." Ucapan Rafael sontak saja membuat Khsrisa menepuk tangan Rafael ysng tengah mengelusnya.


"Ish....gak usah dibahas kali." Wajah Kharisa terlihat merona.


"Malu tau." Kharisa mengerucutkan bibirnya.


"Justru harus dibahas, untuk keharmonisan huhungan suami istri. Orang Indonesia memang gitu, menganggap tabu atau tidak penting akan kualitas hubungan s*x suami istri. Padahal itu penting agar tau apakah pasangan kita puas atau tidak. Banyak suami atau istri yang tidak puas terus nyari kepuasan di luar. Padahal semuanya bisa diselesaikan dengan keterbukaan, lalu mencari solusi untuk mengatasi masalahnya."


"Kebanyakan setelah melakukan huhungan s*x suami langsung tidur karena merasa kebutuhannya sudah terpenuhi tanpa memperhatikan istrinya apakah istrinya juga mencapai kepuasannya atau tidak, dan karakter para istri di Indonesia khususnya, mereka tidak berani mengungkapkan keluhannya pada suaminya, mereka lebih memilih nerima. Padahal kepuasan dalam hubungan s*x penting banget untuk kesehatan fisik dan psikologis. Coba perhatikan banyak para istri yang sering uring-uringan, emosinya tidak stabil, biasanya karena tidak puas dalam hubungan suami istri, yang lebih bahayanya si istri mencari yang lain untuk memenuhi keouasannya, akhirnya tingkat perceraian tinggi." Kharisa mencermati apa yang dijelaskan Rafael, walau ia meras malu untuk membahasnya.


"Aku tidak mau seperti itu, aku ingin kita saling terbuka, kamu boleh komplain apabila ada yang tidak suka atas apa yang aku lakukan, kamu juga harus sampein keinginan kamu seperti apa, mau bagaimana."


"Maksudnya?" Kharisa bukan tidak mengerti maksud Rafael, tapi kalau sampai detail spa yang dia suka dan tidak suka saat berhubungan intim dengan Rafael sepertinya belum terbayang, karena belum berpengalaman, tadi pun hanya mengikuti insting dan mengimbangi apa yang dilakukan Rafael.


"Misalnya kamu tidak suka berci*man bibir karena mulutku bau misalnya, kamu harus bilang. Atau kamu sukanya aku menyentuh bagian tubuhmu yang ini......" Rafael memperagakan menyentuh bagian dada Kharisa, sontak saja membuat tangan Kharisa menepisnya.


"Iiihh... El gak usah dicontohin juga kali, mesum."


"He....he....biar jelas Sa." Kekeh Rafael, Rafael memang sengaja menggoda istrinya.


"Kalau kamu menyukainya kamu harus bilang, atau kamu mau gaya seperti apa, gaya seperti tadi, gaya standar sih, atau woman on top atau mau ***** *****? Ah nanti kita harus mencobanya, nanti kamu rasakan enaknya yang mana." Kharisa kini mencubit punggung tangan Rafael, terus terang ia malu membahas ini.


"Kenapa? Jangan tabu membahas hal seperti ini, ini penting untuk keharmonisan hubungan kita Sa, toh kita membahasnya berdua, yang penting jangan membahasnya dengan orang lain." Rafael memang termasuk asertif, tidak malu atau segan mengungkapkan perasaannya atau sesuatu yang penting menurutnya, dan ia akan jujur mengatakan apa yang ia suka atau tidak ia suka, mungkin karena terbiasa dengan karakter orang barat yang lebih asertif dibandingkan orang Indonesia yang lebih tertutup.


"Kamu sepertinya berpengalaman." Entah kenapa muncul kecurigaan Kharisa dengan pengetahuan Rafael tentang hubungan s*x, ia jadi khawatir apakah Rafael berpengalaman selama kuliah di Amerika, secara gaya hidup di sana bebas.

__ADS_1


"Aku baca Sa, aku pernah baca jurnal penelitian dosenku. Di Amerika aku fokus belajar, gak pernah aneh-aneh. Aku tidak pernah melakukannya selain dengan kamu dulu, sekali-kalinya." Jelas Rafael, Kharisa pun percaya dengan ucapan suaminya.


Rafael jadi teringat saat pertama kali dulu melakukannya dengan Kharisa, sangat beda rasanya, kepuasannya beda, jelas saja dulu melakukannya tergesa-gesa, dan tidak tenang, dipenuhi rasa takut dan tidak tega melihat Kharisa yang kesakitan. Ya dulu Kharisa begitu kesakitan sampai menangis, tapi tadi sepertinya tidak merasa kesakitan, yang ada malah sampai beberapa kali melambung tinggi.


"Sa tadi kamu gak sakit?"


"Hmmm?" Sepertinya Kharisa sedang tidak konsen, mungkin ada yang sedang dipikirkannya, entah apa, hingga tidak mendengar jelas pertanyaan Rafael.


"Tadi kamu sakit gak?" Ulangnya lagi, kali ini dengan berbisik di telinga Kharisa, membuat Kharisa merinding karena hembusan nafas Rafael.


"Nggak, hanya perih dikit." Jawab Kharisa.


"Kan pengantin wanitanya sudah tidak perawan lagi El, sudah ada buntutnya juga." Suara Kharisa terdengar sedikit kecewa, ia kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga kehormatannya, beruntung jodohnya laki-laki yang dulu merenggut kesuciannya, coba kalau jodohnya laki-laki lain, mungkin ia akan berada dalam rasa bersalah tidak bisa memberikan kesuciannya untuk suaminya.


"Ah Sa....maafkan aku, kamu jangan sedih gitu, kan aku juga yang mengambil kesucianmu." Rafael kini memeluk tubuh Kharisa. Terlihat penyesalan di wajahnya.


"Ya itu semua sudah berlalu, yang penting kita menyesalinya, mungkin sudah jalan kita harus seperti ini, sudah ada Rakha juga yang harus kita syukuri." Ucap Kharisa menghibur hatinya.


"Ya aku sangat bersyukur, ada Rakha diantara kita, dia yang menjadi jalan kita bersatu kembali dalam ikatan halal pernikahan."


"Aku juga sangat bersyukur akhirnya memiliki kamu Sa. Sekarang kamu miliku." Rafael kini berbaring menyamping, tangan kanannya menyangga kepalanya hingga bisa memandangi istrinya.


"Kamu miliku Sa." Ia mengulang kembali ucapannya, dengan suara berat , tatapan mereka pun bertemu membuat Kharisa merasakan gelanyar aneh di tubuhnya, melihat tatapan Rafael yang sepertinya berhasrat kembali. Kharisa hanya bergeming saat punggung tangan Rafael mengelus pipinya, lalu menyentuh bibirnya.


"Kamu gak cape kan? Gak sakit juga kan?"


"Aku ingin mengulang yang tadi Sa, boleh kan?" Kharisa masih bergeming. Namun kini jantungnya terasa berdebar.


Ah mana boleh dia menolak permintaan suaminya, pikir Kharisa. Ia telah menjadi miliknya.


"Aku milikmu El, tentu saja aku gak bisa menolak permintaan kamu." Ujar Kharisa.


"Tapi kamu gak keberatan kan?" Tanya Rafael memastikan, tentu saja ia juga tidak ingin Kharisa merasa terpaksa. Kharisa menggelengkan kepalanya.


"Tapi aku mau ke kamar mandi dulu, kita harus membersihkan tubuh kita dulu." Ucap Kharisa buru-buru sebelum Rafael kembali menyentuhnya.


"Tapi tidak harus mandi kan?"


"Hanya membersihkannya saja. Aku duluan yah, bisa ambilkan bajuku." Entah dimana keberadaan baju mereka, yang jelas tidak terlihat di atas tempat tidur. Ternyata ada di lantai, Rafael mengambilnya, memberikan pada Kharisa.


Mereka pun bergantian membersihkan tubuh masing-masing sebelum mengulang aktivitas yang akan membuat mereka kelelahan tapi menyenangkan dan membawa mereka melambung tinggi.


bersambung


Maaf belum bisa double up, lumayan lah hari ini bisa up.


Sok jangan lupa likenya, komen juga dong kasih masukan gitu.😉


Boleh vote nya buat kado pernikahan Kharisa dan Rafael. (Ngarep . com.)😀🤗

__ADS_1


Hatur Nuhun🙏🤗


__ADS_2