Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Saat Kecewa Datang Melanda


__ADS_3

Benarkah itu dia?


Benarkan itu Rafael kekasihnya, laki-laki yang selama ini dinantinya, ayah biologis dari putranya?


Kalau itu benar Rafael kekasihnya, kenapa ia tidak bahagia melihatnya? Kenapa ia malah merasakan hatinya sakit, dadanya terasa sesak? Bukankah selama lima tahun ia menanti momen ini, bertemu dengan laki-laki yang telah meninggalkan benih cinta di dalam rahimnya walau tanpa sengaja. Bukankah ia telah merencanakan disaat bertemu Rafael ia akan berkata " El... benih yang kau tanam telah tumbuh menjadi anak laki-laki yang sehat, cerdas, memiliki paras tampan sepertimu, sifatnya pun mirip denganmu, makanan kesukaannya juga sama denganmu, ia sangat menyukai keju sama sepertimu. Dan ia sangat merindukanmu, merindukan Dadynya." Bukankah itu yang ingin disampaikan kepada Rafael kalau bertemu dengannya. Tapi kenapa setelah ia melihat Rafael di depan mata, ia urungkan rencananya? Bahkan keinginannya untuk menemuinya pupus sudah, karena kini ia malah merasakan kecewaan.


Tentu saja kecewa, Rafael yang di depan sana bukan lagi kekasihnya, ia sudah menjadi milik wanita lain, bukankah tadi pagi dengan jelas ia mendengar obrolan Meita dan Vania di dalam lift, kalau manajer Yanmed yang baru adalah tunangan Vania, calon suami Vania, bahkan ia pun melihat sebuah cincin pertunangan melingkar di jari manis Vania dan pasti di jari manis Rafael pun melingkar cincin yang sama. Ya itu bukan Rafael kekasihnya, bahkan mungkin Rafael telah melupakannya.


Ah dadanya kini terasa semakin sesak, genangan air di ke dua matanya kini semakin menebal. Ia tidak mungkin berada di ruangan ini terus, tidak boleh ada yang melihat ia menitikan air mata, tidak boleh ada yang tau kalau ia sedang menahan sakit dan sesak di dadanya. Di saat orang lain satu persatu maju berbaris untuk mengucapkan selamat, ia memilih meninggalkan ruangan auditorium


"Kharisa, mau kemana?" Rupanya Ahmad melihat Kharisa yang berbalik arah.


"Aku ke bawah dulu Mas, titip bawakan laptop yah." Jawab Kharisa tanpa menoleh, ia berjalan dengan cepat sambil menundukan kepala, langsung menekan tombol lift, dan lift pun terbuka, ia pun segera masuk, untungnya tidak ada orang lain selain dirinya di dalam lift itu. Ia membasuh kedua pipinya yang basah, air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi untuk tidak jatuh membasahi pipinya. Setelah pintu lift terbuka di lantai satu ia berjalan menuju mushola. Ia harus menenangkan dirinya, dengan shalat biasanya hatinya lebih tenang dan waktu pun telah memasuki waktu dhuhur, Ia mengambil wudhu, kemudian melaksanakan shalat dhuhur. Selama melaksanakan shalat ia tidak bisa menahan air matanya, selesai shalat ia pun berdzikir, berharap hatinya lebih tenang, kemudian berdoa.


Ya Allah inikah jawabanmu atas doa-doaku selama ini. Kau hadirkan orang yang selama ini kucari, tapi kenapa aku kecewa, keadaannya tidak seperti yang kuinginkan Ya Allah. Hamba tau ketetapanmu adalah yang terbaik untukku, hamba mohon bimbing hamba agar tidak berprasangka buruk kepadamu, lapangkan hati ini, bimbing hati ini agar ikhlas menerima ketetapanmu, dan berikan petunjuk kepada hambamu yang lemah ini apa yang harus hamba lakukan Ya Rabb, agar hamba tidak salah dalam melangkah. Golongkan hamba ke dalam orang-orang yang sabar dan ikhlas ya Rabb. Aamiin.


Itulah yang bisa dilakukan oleh Kharisa saat ini, memohon kelapangan hati, meminta petunjuk kepada Sang Penentu Takdir. Ia selalu ingat apa yang diucapkan Faisal saat dulu ia terpuruk karena kehamilan yang tidak diinginkannya.


"Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan kita, saat Allah memberikan ujian kepada kita itu tandanya Allah ingin mengangkat derajat kita menjadi lebih tinggi. Agar kita berhasil melewati ujian itu, kuncinya ikhlas, sabar dan tawakal kepada Allah. Ikhlas berarti kita jalani ujian itu, kita nikmati dengan sabar tanpa mengeluh dan tawakal berarti kita berserah diri kepada Allah, kita serahkan segala urusan, persoalan kita kepada Allah. Allah yang memberikan ujian kepada kita, sesungguhnya Allahlah yang memiliki jawabannya. Makanya yang harus kita lakukan juga adalah berdoa meminta petunjuknya." Itulah nasehat dari seorang siswa kelas 12 SMA saat itu, dan selalu diulang-ulang saat Kharisa mengeluh


"Ingat Neng, ikhlas, sabar, tawakal."


Kharisa tidak bisa memungkiri apa yang selalu diingatkan Faisal benar adanya, saat ia berusaha ikhlas menerima takdirnya ia pun merasakan ketenangan dalam hidupnya, tidak ada lagi marah, benci bahkan ia bersyukur telah mempertahankan janin yang tidak berdosa di dalam rahimnya. Bahkan setelah lahir, Rakha lah yang menjadi sumber kebahagiaanya, Rakha lah yang menjadi penyemangat hidupnya hingga ia bisa sampai di titik sekarang ini.


Terbukti saat ia ikhlas dan sabar ia bisa menjalani hidupnya dengan tenang dan bahagia.


Dan saat ini, Allah sedang mengujinya lagi.


Allah ingin mengangkat derajatmu Kharisa.


Ingat! Ikhlas, sabar, tawakal.

__ADS_1


Ingat Neng, ikhlas, sabar, tawakal.


Ia berusaha menguatkan hatinya.


Ah saat ini ia jadi rindu sosok Faisal di sisinya.


Rupanya mushola pun mulai terlihat ramai oleh pengunjung rumah sakit yang hendak melaksanakan shalat, membuat Kharisa beranjak dari sana, tapi ia tidak ingin kembali ke auditorium, atau ke ruang kerjanya, tidak ingin bertemu dengan rekan kerjanya yang pasti akan bertanya kenapa matanya merah dan sembab, apalagi bertemu dengan Rafael, tidak, ia belum siap. Bukankah Pak Andre bilang ia akan mengenalkan stafnya dengan manajer Yanmed baru? Tidak, ia belum siap, apa yang akan ia ucapkan kepada Rafael saat mereka bertemu, apa yang akan ia lakukan? Sekarang belum saatnya, ia harus membuat rencana lagi apa yang harus dilakukannya, mengingat Rafael sekarang adalah tunangan Vania.


Ia pun melangkahkan kakinya ke luar gedung rumah sakit. Ia ingin menghirup udara bebas, agar otaknya yang terasa penat terisi dengan oksigen yang bisa ia hirup dengan leluasa. Bekerja di rumah sakit membuatnya semakin merasa bersyukur, di saat beberapa pasien memerlukan tambahan oksigen karena ketidakmampuannya menghirup oksigen bebas ia bisa leluasa menghirup oksigen bebas yang Allah gratiskan untuk semua makhkuk ciptaannya di bumi ini. Ya rasa syukur juga ternyata bisa menenangkan jiwanya, juga membuatnya bahagia.


Ia memilih duduk di sebuah taman di samping IGD yang biasanya digunakan oleh keluarga pasien IGD untuk menunggu. Taman itu tidak begitu ramai, hanya ada empat orang yang sedang duduk di sebuah gasibu kecil. Kursi-kursi taman terlihat kosong, Kharisa pun duduk di salah satu kursi di bawah barisan pohon cemara yang menjulang tingga. Cuaca siang itu terlihat mendung, memang sejak pagi tadi juga mendung, matahari seakan enggan memancarkan sinarnya seolah mendukung suasana hati Kharisa yang sedang berkabut.


"Kok malah di sini? Yang lain lagi pada makan-makan di atas." Tiba-tiba terdengar suara berat membuat Kharisa terkejut, lalu menoleh ke arahnya.


"Pasti sedang melamun, sampai terkejut begitu, biasanya gadis cantik itu melamun karena merindukan pujaan hatinya, benar gak tebakanku?" Pemilik suara berat itu kini duduk di samping Kharisa.


"Dokter Juna ngapain ke sini?" Tanya Kharisa heran, bukankah ia harusnya berada di lantai enam berkumpul dengan atasan barunya.


"Dokter Juna ngikutin aku?" Arjuna pun menganggukan kepalanya.


"Saat aku masuk aula, aku melihat gadis cantik yang tengah bengong dengan muka pucat, lalu keluar dengan pipi yang basah, aku khawatir dengan gadis itu, aku ikutin, syukurlah ternyata dia ke mushola, aku takutnya dia ke nyebrang jalan tanpa tengok kanan kiri." Ujarnya lagi sambil nyengir. Saat masuk auditorium, Arjuna memang langsung mencari keberadaan Kharisa, agar bisa duduk berdekatan, namun saat menemukannya, ia mengurungkan niatnya duduk di dekatnya, ia memilih tempat duduk agak jauh namun bisa mengawasi Kharisa.


"Astaghfirullah, dokter Juna iihh." Kharisa terlihat merengut.


"Ha...ha...ha....sory...sory....untungnya dugaanku salah, gadis itu ternyata berjiwa kuat, ia memilih duduk melamun di taman untuk menenangkan hatinya." Wajah Kharisa terlihat memerah karena malu, ternyata sejak tadi ada orang yang melihatnya, mengawasinya, apalagi orangnya adalah Dokter Arjuna.


"Ada apa Neng? Tiba-tiba sedih? Apa ada keluarga menyampaikan berita duka?" Tanya Arjuna penasaran. Kharisa menggelengkan kepalanya sambil menatap ke depan.


"Apa di aula sana ada seseorang yang membuatmu sedih?" Tanyanya masih penasaran.


"Gak ada apa-apa dok."

__ADS_1


"Ya sudah kalau gak mau cerita." Arjuna terlihat sedikit kecewa, padahal ia berharap ia bisa menjadi tempat Kharisa berkeluh kesah. Ia mengambil sesuatu dari dalam saku jas dokternya.


"Ini untuk kamu." Arjuna menyodorkan sesuatu yang berbentuk persegi panjang berwarna ungu.


"Katanya coklat bisa membuat orang bahagia." Ujarnya. Kharisa menatap Anjuna sesaat, lalu tertuju pada coklat yang masih di tangan Arjuna.


"Ambilah, lalu buktikan benar gak bisa membuat bahagia, kalau benar aku akan membawakannya untukmu setiap hari." Ucapan Arjuna membuat Kharisa ragu untuk mengambilnya, namun Arjuna meraih tangan kanan Kharisa dan meletakan coklat yang bungkusnya berwarna ungu itu di atas telapak tangan Kharisa.


"Heiiii.....pantesann dicariin di atas gak ada, malah pacaran di sini." Ujar Meli dengan vokume suara tinggi.


"Kharisa tuh dicariin Pak Bos, dari tadi uring-uringan nyariin kamu, ayo buruan ke atas, mau dikenalin Yanmed baru."


Deg.


Kharisa merasa jantungnya mau copot, ia masih bergeming, rasanya ia ingin pulang saja, tapi apa alasannya.


"Ayo Neng Kharis, Pak Bos nungguin, Dokter Arjuna, kayanya dokter-dokter juga pada ngumpul di atas deh."


"Ya udah ayo bareng ke atas." Ajak Arjuna.


Dengan tubuh gontai dan jantung berdebar akhirnya Kharisa mengikuti langkah Meli dan Arjuna menuju lantai enam.


bersambun........


Akhirnya Up di waktu pagi menjelang siang, sambil nyuri-nyuri waktu di aktivitas dunia nyata. Maaf tadi malam gak kuat bergadang.


Gak pernah bosan Othor ucapkan terima kasih atas support, like, komen dan hadiahnya.🙏


Percayalah itulah yang membuat Othor semangat melanjutkan cerita.


Thanks yah.🙏🤗

__ADS_1


Selamat Beraktifitas, semoga Allah lancarkan segala urusannya.😘😘


__ADS_2