Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Tidak Mungkin Bersama


__ADS_3

Ddrrtt....ddrrrttt....


Nada panggilan masih terus terdengar dan getaran HPnya kini terasa di telapak tangan Kharisa.


"Boleh aku terima telpon dulu?" Tanya Kharisa, minta aijin pada Rafael. Rafael pun menganggukan kepalanya.


Kharisa menekan tombol hijau dan terdengar suara yang tidak asing lagi di telinganya mengucapkan salam.


"Assalamualaikum Neng."


"Waalaikumsalam, ada apa A tumben nelpon jam segini, gak lagi sibuk?" Tanya Kharisa, entah kenapa, setiap mendengar suara Faisal ia bawaan hatinya merasa tenang.


"Lagi nyantai, lagi nyusun materi pembelajaran, cuma gak tau kok keingetan pengen nelpon, Neng gak apa-apa kan? Eh ini A Isal ganggu gak?" Suara Faisal begitu jelas terdengar, mungkin sampai terdengar oleh Rafael. Kharisa berdiri kemudian berjalan ke arah danau menjauhi Rafael, tidak enak kalau obrolannya dengan Faisal sampai terdengar oleh Rafael walaupun tidak ada obrolan rahasia.


"Aku baik-baik saja A, aku lagi ngobrol sama Rafael A, dia sudah tau tentang Rakha, bahkan sudah bertemu di sekolahnya, sekarang dia menanyakan kebenaran siapa Rakha, siapa ayahnya, sepertinya selama ini dia tidak tau kehamilanku dan Rakha, entah apa yang disampaikan orang tuanya tentang aku." ujar Kharisa lirih.


"Neng udah jelasin semuanya?"


"Sudah, baru cerita sampai Rakha lahir."


"Oh A Isal ganggu yah, maaf ya Neng, ya udah lanjutkan lagi, ingat jangan terbawa emosi, jangan terburu-buru ngambil keputusan, pikirkan dulu baik-baik."


"A Isal Sabtu besok ke rumah kan?"


"Insya Allah, paling Sabtu sore dari Bandung, ya udah sok dilanjut, A Isal tutup yah. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Kharisa kembali ke tempat duduknya, sejak tadi pandangan mata Rafael tak lepas dari sosok Kharisa, entah kenapa hatinya kini bergemuruh mendengar suara laki-laki yang menghubungi Kharisa sepertinya begitu akrab, apalagi mendengar panggilan khusus untuk Kharisa, sama seperti Arjuna memanggil Kharisa dengan panggilan 'Neng'.


"Maaf.....sudah cukup atau mau dilanjutkan lagi?" Sebenarnya dari yang radi disampaikan Kharisa sudah jelas kalau dadynya Rakha adalah Rafael.


"Aku ingin tau saat Rakha lahir. Ahh......kamu pasti kesakitan saat itu." Rafael membayangkan bagaimana Kharisa berjuang melahirkan putranya sementara ia tidak disampingnya bahkan tidak tau Kharisa telah berjuang mempertahankan darah dagingnya dan berjuang dengan taruhan nyawa melahirkannya ke dunia.


"Risa .....maafkan aku, sungguh aku tidak tau apa yang terjadi sama kamu." Kali ini suara Rafsel terdengar bergetar, dadanya pun terasa sesak diliputi rasa bersalah. Ia ingin meraih tangan Kharisa tapi Kharisa segeramengangkat tangannya pura-pura merapihkan hijabnya yang tertiup angin.


"Aku lanjutkan yah." Ujar Kharisa dengan


"Aku melahirkan di rumah bidan tidak jauh dari tempat kami tinggal, alhamdulillah kondisi kehamilanku saat itu baik-baik saja, aku dan janinku sehat, jadi dokter kandungan membolehkanku lahir di bidan, Aku ditemani Mama yang selalu setia mendampingiku, aku juga di temani oleh sahabat terbaikku, dia yang selalu menguatkanku hingga aku bisa tegar berdiri, namanya Faisal, dia juga yang mengantarkan kami ke bidan saat aku mengalami kontraksi. Raka lahir dengan selamat, rasanya seperti mimpi, diusiaku yang baru menginjak delapan belas tahun aku melahirkan anakku, tapi aku tidak menyesal melahirkan Rakha, saat itu aku begitu bahagia, apalagi saat melihatnya dipangkuanku." Senyumnya mengembang saat terbayang hari bersejarah itu.


"Bayi mungil itu begitu tampan, saat pertama kali melihatnya langsung mengingatkanku pada ayahnya, saat baru lahir saja sudah mirip dengan ayahnya, sayangnya ia lahir tanpa ayah, hingga di akte kelahirannya hanya tercantum namaku saja sebagai ibunya." Kharisa mengerjap, menahan air yang mulai menggenang di matanya. Sementara Rafael tampak mengeraskan rahangnya dengan tangan terkepal.


"Kenapa namaku tidak dicantumkan Sa? Kalau aku tau aku akan bertanggung jawab, aku tidak akan menolak darah dagingku sendiri." ujar Rafael geram.


"Memang aturannya begitu, anak yang lahir di luar nikah di akte kelahirannya tidak dicantumkan ayah biologisnya, kecuali orang tuanya bisa menunjukan buku nikah di akte kelahiran akan ditulis nama ayah dan ibunya.


"Tapi aku pribadi tidak ingin memutus hubungan darah anakku dengan ayah biologisnya. Maaf jika tanpa ijinmu aku menyematkan nama belakangmu di nama anakku, berharap ayahnya kelak akan mengakui sebagai anaknya."


"Tentu saja aku mengakuinya, Rakha anakku Sa, darah dagingku, dia anak kita." Wajah Rafael terlihat memerah, bagaimana mungkin Kharisa bisa berpikiran kalau ia tidak akan mengakuinya.


"Aku akan bertanggung jawab Sa, aku akan menjadi ayahnya yang seutuhnya, aku akan menjadi dadynya yang selama ini ia nantikan kepulangannya." Kini mata Rafael pun berkaca-kaca, ia tak mampu menahan kepedihan hatinya yang telah menelantarkan darah dagingnya. Ia pun beranjak dari duduknya, berjongkok di depan Kharisa dan meraih kedua tangan Kharisa dalam genggamannya, tentu saja membuat Kharisa terkejut hinga berusaha menarik tangannya dari genggaman Rafael, namun genggamanya begitu kuat.

__ADS_1


"Risa.....bawa aku menemui Rakha, katakan padanya Dadynya sudah pulang, bawa aku menemuinya Sa." Suaranya terdengar bergetar, kini pipi Rafael telah basah oleh air mata penyesalannya, ya...dia menangis, laki-laki bertubuh tegap itu menumpahkan penyesalannya dengan air mata yang tidak bisa dibendungnya, dadanya terlalu sesak membayangkan bagaimana kehidupan Kharisa tanpa suami membesarkan anaknya. Semua karena ulahnya, karena keegoisan orang tuanya.


"Risa maaafkan aku, maafkan aku yang tidak berusaha mencarimu dengan sungguh-sungguh, maafkan aku telah membuatmu menderita ....kamu mau memaafkan aku kan? Ijinkan aku membayar kesalahanku Sa. Aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian, aku akan selalu bersamamu, bersama anak kita, ijinkan aku membayar semuanya walaupun yang aku lalukan nanti tidak akan senilai dengan pengorbananmu Sa." Rafael mempererat genggamannya, sementara Kharisa masih bergeming dengan linanganbair mata.


"El....aku telah memaafkanmu, kamu boleh menemui Rakha, tapi harus di rumahku. Tapi maaf, untuk mengatakan kalau kamu dadynya, aku minta waktu, aku akan sampaikan di waktu yang tepat." Kharisa menarik tangannya dari genggaman Rafael saat dirasakan genggamannya mulai longgar.


"Kenapa Sa, kenapa harus menunggu waktu yang tepat? Aku yakin ia sangat mengharapkan Dadynya pulang, aku akan meminta maaf padanya Sa, jangan kau siksa aku dengan rasa bersalahku dan penyesalanku Sa." Kini Rafael duduk di samping Kharisa dengan menghadap ke arahnya.


"Aku ingin menguatkan dia dulu, aku tidak ingin dia kecewa." Jawab Kharisa, ia menyeka kedua matanya yang basah dengan kedua tangannya.


"Kecewa? Kecewa kenapa?"


"Aku tidak ingin dia kecewa karena harapannya berkumpul dengan dadynya belum tentu bisa terwujud."


"Risa....kamu meragukan kesungguhanku menerima Rakha sebagai putraku?" Tanya Rafael dengan nada penuh penekanan. Kharisa langsung menggelengkan kepalannya.


"Aku percaya kamu akan betanggung jawab El." ujarnya.


"Lalu kenapa?"


"Karena kita tidak bisa menjadi orang tua yang utuh untuk Rakha." Jawab kharisa. Sontak saja membuat Rafael mengeraskan rahangnya, dan matap Kharisa dengan tatapan tajam.


"Kenapa? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi? Oh....atau karena laki-laki yang tadi menelponmu?" Tangan Rafael kini memegang bahu Kharisa, sorot matanya memperlihatkan kecemburuan.


"Lepas El....." Tangan Kharisa menepis tangan Rafael yang memegang bahunya.


"Jadi benar karena laki-laki itu, laki-laki yang sangat berarti bagimu?" Tampak sekali kemarahan di wajah Rafael, kemarahan karena cemburu lebih tepatnya.


"Tapi bukan karena dia." ujar Kharisa


"Lantas karena apa?"


"Karena kamu sudah bertunangan dengan Vania, El."


Deg.....


Jantungnya seakan berhenti. Rafael pun diam terpaku. Jawaban Kharisa seolah menyadarkan dia kalau dia sudah memiliki janji dengan wanita lain. Ya....dia sudah bertunangan dengan Vania, wanita yang tidak pernah dicintainya.


"Berikan aku waktu untuk mencari alasan yang tepat untuk disampaikan kepada Rakha. Dia anak yang kritis tapi ia akan mengerti kalau dijelaskan baik-baik." Ujar Kharisa


"Sa....aku tidak mencintai Vania, percaya sama aku, aku bersedia bertunangan dengan Vania karena desakan orang tuaku."


"Dan kamu harus penuhi janjimu pada mereka termasuk pada Vania." ujar Kharisa dengan nada tegas.


"Saat hari pertama kali kamu datang ke rumah sakit, hari itu pula aku tau kalau kamu sudah bertunangan dengan Vania, aku mendengarnya langsung dari obrolan Vania dan temannya."


"Saat itu aku begitu kecewa, sedih, itulah kenapa aku menhindar bertemu denganmu, tapi aku selalu mencoba berdamai dengan takdir, seperti yang selama ini aku lakukan agar hidupku tenang dan bahagia." ucapnya lirih


"Jadi kamu tidak perlu khawatir El, aku tidak akan menuntutmu menjadi ayah yang utuh untuk Rhaka, atau menuntut kamu menikahiku, tidak..........Kamu mengakui Rakha sebagai putramu saja itu sudah cukup bagiku, jadi saat Rakha bertanya siapa ayahnya aku bisa msnjelaskannya."

__ADS_1


"Beberapa hari ini aku sudah belajar untuk mengikhlaskanmu, bukankah jodoh setiap orang sudah ada yang mengatur? Mungkin memang kita tidak ditakdirkan untuk berjodoh, kita harus terima ketetapan takdir itu. Jadi peecayalah El, aku dan Rakha akan baik-baik saja, aku tidak akan membatasi hubunganmu dengan Rakha karena kamu ayahnya."


"Tidak Sa....Tuhan belum menetapkan takdir kita, kamu salah kalau mengatakan kita tidak ditakdirkan untuk berjodoh, sudah ada Rakha diantara kita, buah cinta kita walau dengan cara yang salah, kita masih ada waktu untuk menunggu takdir ditetapkan untuk kita dan aku yakin kita akan bisa bersama, aku kamu dan Rakha." Rafael terlihat berapi-api, ia bicara dengan penuh keyakinan kalau mereka akan bersatu


"Tunggu aku Sa, aku akan selesaikan urusanku dengan Vania dan orang tuaku, aku..." Belum selesai Rafael bicara Kharisa sudah memotongnya.


"Tidak El, aku tidak ingin merusak hubungan kalian, aku tidak ingin kamu menyakiti Vania, jangan putuskan pertunangan kalian El, aku sungguh tidak apa-apa." Kini Kharisa yang khawatir kalau Rafael benar-benar memutuskan pertunangan mereka, pasti ujung-ujungnya ia akan dituduh menjadi kambing hitamnya. Ia tidak mau menjadi perusak hubungan orang, apalagi mendapat julukan pelakor, tidak.....ia tidak mau.


"Kamu mungkin tidak akan apa-apa, tapi aku Sa, aku tidak bisa hidup dengan wanita yang tidak aku cintai, aku menerima perjodohan itu karena tidak ada alasan yang kuat untuk menolak, tapi sekarang aku memiliki alasannya. Kamu dan Rakha sekarang yang menjadi tujuanku Sa, dan aku yakin kamu tau bagaimana perasaanku padamu, aku masih sangat mencintaimu Sa, jadi kumohon ijinkan aku berada diantara kalian, demi anak kita Sa, demi Rakha. Beri aku waktu untuk menyelesaikan semuanya, please Sa." Ujar Rafael dengan suara memelas.


HP Rafael di kantong celananya berdering, ia mengambilnya dan melihat layar, terpampang nama 'Bang Andre' yang menghubunginya.


"Ya Bang...?" Tanya Rafael mendahului.


"Mau sampai jam berapa kalian disana? Ini sudah tengah hari, apa kalian tidak lapar?" Tanya Andre, sepertinya ia sudah menunggu dari tadi.


"Ini udah mau selesai Bang, Bang Andre dimana?"


"Aku tunggu di tempat makan yang dekat waterboom, di warung yang ke tiga, ada mobilku terparkir si depannya. Aku sudah pesankan ikan bakar, ayam bakakak plus karedok dan sambalnya, nanti kamu tinggal bayar, buruan aku sudah kelaparan." Rafael berdecak, kakak sepupunya ini selalu saja menyisipkan candaan tiap harinya, dia yang pesan masa Rafael yang barus bayar."


"Bang Andre sudah menunggu kita, kita temuin dia." Kharisa pun menganggukan kepalanya, karena memang tidak ada lagi yang perlu dibicarakan


ia bangkit dari duduknya dan berjalan mengikuti jalan setapak menuju mobil Rafael, diikuti Rafael yang berjalan di belakangnya. Rafael membawa mobilnya menuju tempat makan yang disebutkan Andre, memarkirkannya di sebelah mobil Andre.


"Risa ...tunggu." Kharisa menghentikan gerakan tangannya yang akan membuka pintu, kemudian menoleh.


"Sekali lagi aku mohon, tunggu aku, percaya aku, aku tidak mencintai Vania dan aku tidak mungkin hidup dengan wanita yang tidak aku cintai."


"Kita akan hidup bersama, aku, kamu dan Rakha."


"Dan nanti sore aku akan menemui Rakha." Rafael mematikan mesin mobilnya, kemudian keluar dan membukakan pintu untuk Kharisa yang masih tertegun dengan ucapan Rafael.


Andre terlihat duduk lesehan menikmati duwegan(kelapa muda utuh). Di depannya telah tersaji beberapa jenis makanan ada ikan bakar, bakakak ayam, karedok, pete bakar dan sambal dan lalapannya. Tak lupa duwegan untuk Rafael dan Kharisa pun sudah disiapkan. Sebanyak itu dipesan untuk mereka bertiga.


Selesai makan mereka pun kembali ke rumah sakit, Kharisa kembali satu mobil dengan Andre, agar tidak membuat orang rumah sakit curiga.


Sore harinya Rafael mewujudkan keinginannya untuk mengunjungi Raka. Pukul empat sore ia keluar dari gedung rumah sakit, menuju messnya, ia mandi, menggunakan baju serapih mungkin untuk memberikan kesan yang baik di pertemuan keduanya dengan Rakha.


Beberapa bingkisan sudah ia siapkan, Ia membelinya sebelum kembali ke rumah sakit, aneka mainan ia pilih tanpa tau jenis mainan apa yang Rakha sukai, begitupun dengan aneka makanan dan minuman susu ia beli sampai dua kantong plastik penuh, tak peduli apa nanti akan dimakan Rakha atau tidak.


Kini Rafael telah berada teras depan rumah Kharisa. Dengan jantung berdebar ia mencoba mengetuk pintu.


Tok.....tok........tok


"Assalamualaikum"


"Waalaimkumsalam." Terdengar jawaban dari dalam rumah, suara anak-anak terdengar begitu jelas, juga suara langkah kaki yang makin mendekat. Pintu pun terbuka, terlihat sosok anak kecil dengan mata membulat dan wajahnya terlihat menggemaskan.


"Om doktel.....Om doktel mau ketemu aku?"

__ADS_1


bersambung


__ADS_2