Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Rencana Ke Depan


__ADS_3

Esok harinya, Kharisa berangkat ke rumah sakit bareng satu mobil dengan Rafael, karena motor Kharisa masih di rumah sakit, tadinya ia akan memesan ojek online biar cepat dan tidak menjadi bahan mencurigakan orang lain kalau melihat mereka ada dalam satu mobil, tapi Rafael melarangnya.


"Nanti pas nyampe parkiran kita hubungi Vania untuk jemput kamu biar orang lain gak curiga." Ujar Rafael meyakinkan istrinya.


Dan benar saja sebelum berangkat ke rumah sakit, Rafael menghubungi Vania, minta ia menjemput Kharisa saat tiba di parkiran belakang. Rafael sengaja memarkirkan mobilnya di dekat mesa Vania.


Selepas shalat Isya di masjid, Rafael langsung mengunci pagar dan pintu rumah, mobil sudah masuk ke dalam carport sejak Rafael pulang sebelum maghrib tadi. Kali ini mereka pulang dari rumah sakit masing-masing. Kharisa pulang on time dengan motornya, Rafael pulang lebih telat karena banyak PR yang harus ia kerjakan terkait dengan persiapan akreditasi rumah sakit


Selesai shalat magrib mereka menikmati makan malam yang dibeli Kharisa di restoran sea food, ia belum percaya diri untuk masak sendiri, jadi sementara lebih baik membeli makanan jadi, ia pun membeli kebutuhan rumah seperti makanan minuman instan dan beberapa snack untuk cemilan mereka.


Pasangan yang baru dikukuhkan dalam ikatanan halal pernikahan dan tengah dimabuk cinta itu tidak ingin melewatkan malam indah mereka begitu saja, mumpung hanya berdua, dan besok belum tentu mereka bisa menikmati aktivitas ibadah yang menyenangkan, karena putra kesayangan mereka pasti ingin selalu bersama momy dan daddynya.


Dengan malu-malu tapi mau Kharisa kembali menjalankan kewajibannya sebagai istri, begitu pun Rafael menjalankan kewajibannya sebagai suami memberikan nafkah batin kepada istrinya, mereka saling menjalankan kewajiban dan mendapatkan hak yang kini menjadi candu bagi mereka.


Mereka baru saja selesai melakukan penyatuan yang membuat mereka berkeringat walaupun ruangan kamar begitu sejuk karena pendingin ruangan. Seperti biasa Kharisa berbaring dengan berbantalkan lengan Rafael, tubuh mereka masih sama-sama polos dalam satu selimut. Denyut jantung dan nafas mereka sudah kembali tenang, entah apa yang sedang mereka pikirkan, keduanya sama2 diam hanya menikmati kehangatan tubuh mereka yang bersentuhan.


"Sa, nanti kita bentar lagi LDRan dong, aku kuat gak yah jauh dari kamu." Ujar Rafael tiba-tiba memecah kesunyian.


"LDRan kaya berpisah ke tempat yang jauh aja sampe gak kuat segala." Kharisa terkekeh mendengar ucapan Rafael yang terlalu lebay menurutnya. "Dari sini ke Jakarta cuma dua jam kali." sambungnya.


"Ya tapi tetep aku gak bisa terus sama kamu tiap hari, sekarang aja dua jam gak ketemu di rumah sakit rasanya gimana gitu, gatel pengen lihat kamu, apalagi nanti."


"Aku gak bisa bayangin kembali tidur sendirian, kembali memeluk guling, biasanya meluk kamu, trus kalau aku lagi pengen, gak ada kamu, pasti rasanya tersiksa...." Ujar Rafael lagi.


"Lebay ih.....kamu lebay El, kemarin-kemarin kamu sendiri juga biasa saja." Protes Kharisa sambil menjembel pipi Rafael.


"Sekarang beda Sa." Rafael meraih tangan Kharisa yang menjembel pipinya, digenggamnya lalu dikecupnya, Kharisa hanya bergeming membiarkan punggung tangannya dikecup berulang kali.


"Sekarang aku sudah ngerasain manisnya kamu."


"Ish.....memangnya aku makanan." Ujar Kharisa sambil menarik tangannya dari genggaman Rafael.


"Kamu memang santapan makan malamku yang tidak membosankan, malah membuatku ketagihan." Rafael malah merangkul tubuh Kharisa hingga lenganya menyentuh bagian dada Kharisa yang polos, membuat jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

__ADS_1


"Iisshh....El." Kharisa mencoba melepaskan diri dari pelukan Rafael namun pelukan Rafael begitu kuat.


"El...tolong ambilkan bajuku." Kharisa yang merasa tubuhnya mulai meremang karena sentuhan Rafael mencoba menghentikannya, mungkin dengan menggunakan baju mereka bisa menghindari sengatan yang menjalar saat tubuh mereka bersentuhan. Dengan berat hati Rafael pun melepaskan pelukannya dan mengambil baju tidur Kharisa yang teronggok di lantai.


Setelah menggunakan baju tidurnya, kharisa duduk bersandar di kepala tempat tidur.


"Trus aku harus gimana?" Tanya Kharisa melanjutkan pembicaraan.


"Apa?" Malah Rafael tidak paham maksud pertanyaan Kharisa.


"Kamu gak setuju aku pindah ke Jakarta?" Kharisa memperjelas maksud pertanyaannya.


"Bukan begitu, aku kan sudah bilang apa pun yang kamu lakukan asal membuatmu bahagia, aku mendukungnya." Rafael pun ikut duduk bersandar lalu meraih kembali tangan Kharisa.


"Jadi....?" Kini Kharisa minta penegasan Rafael.


"Ya .....It's Ok, untuk sementara kita berpisah, oh...No...No...bukan berpisah, maksudnya berjauhan dulu sementara." Sepertinya Rafael anti dengan dengan kata berpisah, ia tidak ingin terulang kembali berpisah dengan Kharisa yang membuatnya merana.


"Iya...yah walaupun sih inginnya kita bareng terus." Jawab Rafael


"Kalau gitu kamu gak ridho aku ke Jakarta?" Kharisa paham pasti Rafael inginnya ia di sini menemaninya, ia pun sebenarnya tidak ingin berjauhan, tapi sebelum ia menikah dengan Rafael sudah memutuskan untuk bekerja di perusahaan papanya dan Rafael mendukungnya , siapa sangka dalam hati kecil Rafael sebenarnya tidak ingin berjauhan.


"No....No....aku ridho kok sementara berjauhan." Rafael buru-buru meyakinkan kembali Kharisa.


"El...sekarang kamu suami aku, aku ingin apa pun yang aku lakukan mendapat ridho dari kamu, suamiku, aku gak mau kalau malah aku sia-sia dan malah membuat aku tidak mendapat ridho Allah, karena sesungguhnya bagi seorang istri ridho Allah ada pada ridho suaminya."


"Maaf kalau keputusanku untuk pindah ke Jakarta tidak dibicarakan lagi dengan kamu. Tapi keputusanku itu belum bulat, kalau kamu tidak menginginkannya masih bisa diubah."


"Maksud kamu?" Tanya Rafael, ia menegakkan duduknya, apa ini berarti ada harapan Kharisa masih bisa terus bersamanya?


"Ya....kalau kamu tidak ingin aku ke Jakarta, aku akan tetap di sini, dampingin kamu dan Rakha."


"Realy....? Kamu mau dampingin aku di sini?" Wajah Rafael terlihat berseri. Kharisa menganggukan kepalanya, senyumnya pun terbit di bibirnya. Kharisa yakin ini keputusan yang tepat, sebaik-baik istri berada di sisi suaminya.

__ADS_1


"Aaahhh....yesss....yesss." Rafael bersorak sambil mengepalkan tangannya seperti yang baru mendapat kejuaraan. Lalu memeluk Kharisa dan menciumi kedua pipinya bergantian.


"Ishh.... stop El." Kharisa mendorong Rafael, akhirnya menghentikan aksinya.


"Ok sekarang kita bicarakan rencana ke depan agar jelas." Rafael merubah posisinya menjadi duduk bersila, menghadap Kharisa yang masih bersandar di tempat tidur.


"Perkiraanku di sini sekitar empat sampai lima bulan lagi, aku akan ikut test spesialis di Jakarta, kalau lulus berarti aku jalanin pendidikan spesialisku sampai lima tahun ke depan, tapi kalau gak lulus aku gabung rumah sakit pusat. Kamu sendiri gimana? Kalau masih di sini apa tidak jadi resign? Bang Andre pasti akan senang."


"Oh gak.....aku tetep resign. Aku masih boleh tetap kerja?" Kharisa balik bertanya.


"Offcourse, aku tahu kamu tidak akan bisa berdiam diri, tapi mau kerja dimana?" Kharisa terdiam tidak menjawab pertanyaan Rafael, belum terpikirkan kalau bekerja di tempat lain dimana, harus mencari informasi dulu.


"Atau untuk sementara kamu santai saja dulu di rumah, antar jemput Rakha sekolah, temanin Rakha di rumah, dia pasti senang ditemenin mamynya tiap hari."


"Jadi Rakha cancel pindah sekolah." Kharisa jadi ingat kalau Rakha sempat mengajukan akan pindah sekolah, berarti besok harus bicara lagi dengan pihak sekolah untuk membatalkan pindah sekolahnya.


"Pastinya, Rakha akan tinggal di sini dengan kita, no problem kalau mama dan Bi Nani mau tinggal di Jakarta, begitu kan?" Rafael meminta persetujuan Kharisa.


Kharisa diam sejenak, memikirkan di rumah ini tanpa mama dan Bi Nani, bisa kah? Jawabannya harus bisa Kharisa.


"Ya, gak papa, hanya kita bertiga di sini. Aku akan belajar menjadi seorang istri dan seorang ibu yang baik." Jawaban Kharisa membuat Rafael kembali memeluknya.


"Besok aku bicarakan dengan mama, pasti mama terkejut dengan rencana kita. Kalau aku ternyata tidak mendapat pekerjaan lain, aku bisa membantu di yayasan Wa Dini, menggantikan pekerjaan mama, mungkin aku juga bisa mengerjakannya kalau diajarin mama." Terbersit ide Kharisa untuk membantu yayasan, sekarang ia memang tidak butuh pekerjaan untuk mendapatkan materi, ia hanya butuh pekerjaan untuk mengisi kegiatannnya dan berinteraksi dengan orang lain.


Kharisa semakin yakin dengan keputusan yang diambilnya, semoga saja bisa mengantarkannya menjadi istri sholehah.


bersambung


Hai readerku tercinta🤗


Mohon maaf beberapa hari kemarin othor terserang demam dan flu berat, mudah-mudahan bukan Om Icron, jadi asli gak kuat buat upgrade. Sekarang udah mendingan, tinggal puyeng-puyeng dikit dan belum nafsu makan. Jadi mohon dimaklum yah.


Hanya mengingatkan, tetap jaga prokes, konsumsi vitamin untuk daya tahan tubuh, agar tubuh tetap sehat. Jangan lupa bersyukur dan berdoa. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2