
Setelah menghubungi mamanya lewat vidio call, Kharisa langsung menghubungi Rafael, namun sambungan telpon WAnya tidak dijawab, ia coba menghubungi lewat sambungan telpon biasa, sama tidak dijawab, membuatnya jadi gusar. Tadi mama bilang Rakha dibawa Rafael, katanya mau diajak jalan-jalan dan menginap tapi mama gak nanya menginapnya dimana, persepsi mamanya Rakha menginap di mess Rafael. Tadinya sore ini Rakha mau diajak ke Garut oleh mama bersama keluarga Wa Dini, Bi Nani juga ikut, jadi di rumah tidak ada siapapun, mendadak memang, mama pun belum bilang ke Kharisa. Tapi Rafae agar Rakha tidak diajak, ia sudah janji akan mengajak Rakha jalan-jalan dan Rakha pun terlihat ingin bersama dadynya. Akhirnya mama mengijinkan Rakha dibawa Rafael, mama percaya tidak mungkin Rakha dibawa kabur oleh dadynya.
Namun berbeda dengan Kharisa yang begitu khawatir Rakha dibawa Rafael sampai menginap, ia memang tidak membatasi interaksi anaknya dengan ayahnya, tapi kalau sampai menginap ia merasa khawatir juga. Ia takut Rafael membawa Rakha ke rumahnya, bertemu dengan orang tua Rafael. Ia masih belum yakin kalau orang tua Rafael menerima Rakha dan akan memperlakukan Rakha dengan baik.
Di kamar hotel ia mencoba menghubungi Rafael lagi, masih tetap tidak menjawab. Kemana sebenarnya Rafael dan Rakha, sekarang waktu menunjukan hampir pukul enam, apa mereka terlalu asyik jalan-jalan hingga mengabaikan panggilan telponnya. Akhirnya Kharisa mengirimkan pesan WA.
"El kamu dimana? sama Rakha kan?"
"Kata Mama Rakha diajak nginep sama kamu? Nginep dimana?"
"Kenapa telponnya gak diangkat?"
"Aku mau VC sama Rakha sebelum masuk sesi lagi jam delapan."
Kegiatan Meet and Great hari pertama, tadi baru selesai pukul setengah enam, dan sekarang saatnya peserta istirahat di kamarnya masing-masing sebelum dilanjut acara selanjutnya pukul delapan malam nanti. Kharisa sangat antusias mengikuti sesi kedua tadi setelah jam istirahat. Ia merasa beruntung mengikuti kegiatan ini, banyak ilmu baru yang ia dapatkan untuk meningkatkan kinerjanya sebagai orang yang bergerak di bidang marketing. Sesi kedua dan ketiga diisi dengan training dengan materi tentang Power Communication menggunakan teknik NLP (Neuro Linguistik Programming). Waktu kuliah ia banyak mendapatkan teori ilmu komunikasi, namun dalam training kali ini banyak juga hal-hal baru yang ia dapatkan, khususnya teknik NLP ini.
NLP sendiri merupakan salah satu teknik pengaturan pola pikir alam sadar seseorang yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas diri, meningkatkan kemampuan public speaking bahkan bisa digunakan untuk proses penyembuhan penyakit oleh diri sendiri.
Teknik NLP sangat cocok dikuasai oleh seseorang yang bekerja di suatu perusahaan yang bergerak di bidang kerjasama, penjualan, public relation, customer care. Teknik NLP bisa membuat kemampuan public speaking dan kapasitas diri meningkat, bisa membuat seseorang memiliki pemikiran yang kokoh, sehingga nantinya bisa membangun argumentasi dengan baik. Ketika berkomunikasi ia juga bisa membuat komunikasi lebih menarik, melemparkan ide-ide segar yang bisa membuat orang lain terpukau dan nyaman melakukan komunikasi.
Jika penggunaan metode ini di terapkan dalam meningkatkan kemampuan komunikasi seseorang maka akan berdampak bagus dalam meningkatkan kinerja bagi karyawan atau pegawai yang dalam pekerjaanya sering berhubungan dengan pihak luar misalnya untuk negosiasi. Dalam hatinya, Kharisa pun bertekad akan mempraktekan metode NLP ini baik untuk kepentingan pekerjaannya ataupun untuk kepentingan pribadinya, mulai merubah maindsetnya untuk selalu berpikir positif, mulai membangun impian dengan target waktu yang ditetapkan
Dan ternyata bosnya Andre telah mengantongi sertifikat trainer NLP, ia tampil sebagai pemateri di sesi ketiga membawakan materi teknik komunikasi efektif. Pantas saja selama ini Kharisa selalu kagum dengan cara komunikasi Andre saat berinteraksi dengan relasi bahkan saat bernegosiasi, dengan mudahnya ia mempengaruhi lawan hingga berakhir dengan kata sepakat, ternyata ia sudah menguasai ilmunya.
Selama training Kharisa bisa berkonsentrasi dengan baik, setelah pertemuan dengan papanya yang tidak terduga. Hatinya menjadi lebih tenang setelah makan siang bersama papanya, walaupun belum sempat cerita banyak tapi Kharisa merasa papanya sudah benar-benar memaafkannya, namun saat disinggung mamanya, papa hanya diam dengan rahang mengeras.
"Kapan kamu akan pulang? Papa akan siapkan rumahnya kalau kamu mau kembali lagi, rumah itu sudah lama kosong tapi masih terawat." Ujar papa selesai makan siang tadi.
"Kharis akan pulang kalau mama juga pulang Pah, Kharis pun masih punya ikatan kontrak dengan tempat kerja Kharis sekarang." Saat itu Kharisa menunggu respon papanya, tapi ternyata papanya hanya diam, tidak berkata apa-apa lagi, bahkan terlihat ia mengeraskan rahangnya.
Apa papa masih marah atau bahkan membenci mama? Kharisa tidak ingin membahasnya saat itu, tidak ingin merusak suasana yang telah membuatnya bahagia. Dengan sikap papanya tadi Kharisa sudah sangat bersyukur, maaf dari papanya itu yang paling penting, selanjutnya seiring dengan waktu ia akan berusaha agar papa menerima Rakha sebagai cucunya. Selama pertemuan tadi papanya sama sekali tidak menanyakan kabar cucunya.
Sabar, pelan-pelan, lama-lama papa akan luruh juga, seperti saat ini. Kharisa yakin suatu saat papa dan mamanya akan bersama kembali, menerima Rakha dan mereka akan berkumpul lagi seperti dulu. Ah ia jadi kangen dengan kakaknya Rendi, sampai lupa tidak menanyakan kabarnya, pasti kuliah S2 nya sudah selesai, dan sekarang bekerja di perusahaan papa seperti rencananya dulu. Besok ia akan meminta nomor kontaknya sama papa, tadi mereka sempat bertukar nomor kontak, papanya yang minta duluan nomor kontak Kharisa.
Kharisa melihat jam di HPnya sudah menunjukan pukul delapan kurang lima belas menit, tapi chat di WA Rafael masih belum dibaca, kemana sebenarnya Rafael. Kharisa jadi tidak tenang belum mengetahui kabar putra kesayangannya, tadi waktu shalat Isya pun ia ingat Rakha terus, membuat sholatnya tidak khusyu.
"Kharisa kita ke bawah sekarang yuk!" Ajak Mila teman sekamar Kharisa, ia staf Marketing di rumah sakit pusat.
"Eh iya, sudah mau jam delapan, ayo." Kharisa pun beranjak dari duduknya, baru saja berdiri, ada sebuah notif pesan WA masuk, ia segera mengeceknya, ternyata pesan dari orang yang ditunggu-tunggunya.
__ADS_1
"Maaf Sa, tadi HP tertinggal di mobil. Kamu jangan Khawatirkan Rakha, dia baik-baik saja bersamaku."
"Sekarang dia sudah tidur, sepertinya kelelahan."
"Kamu konsent saja dengan acara di sana."
Saat berada di lift, ia membalas pesan Rafael.
"Dari tadi aku tidak tenang ingat Rakha terus, kenapa kamu ajak Rakha menginap dan gak bilang duku sama aku?"
"Nginap dimana?"
"Aku mau V call, mau lihat Rakha."
Kharisa pun langsung melakukan panggilan vidio call sambil berjalan menuju meeting room, tempat acara berlangsung, sayangnya tidak ada tanggapan dari Rafael membuatnya jadi kesal. Hingga ia masuk ke ruangan, Rafael tidak juga meresponnya. Akhirnya ia tidak bisa melakukan vidio call lagi karena acara akan dimulai.
Sementara di sebuah rumah mewah bernuansa putih, di sebuah kamar yang lumayan luas tampak Rafael sedang membantu memakaikan baju tidur Rakha yang baru selesai mandi air hangat. Mereka baru saja datang setelah jalan-jalan berkeliling di sebuah mall di kawasan Jakarta selatan, tidak jauh dari rumah keluarga Rafael terkenal dengan sebutan Citos, Cilandak Town Square . Bocah menggemaskan itu terlihat segar dengan rambutnya yang setengah basah. Hari ini Rafael menjalankan perannya sebagai ayah dengan baik dan ia sangat menikmatinya. Membelikan beberapa baju saat jalan-jalan di mall, sesekali menyuapi saat makan, mengantar ke toilet, memandikan dan memakaikan baju walaupun Rakha menolaknya, ingin melakukannya sendiri, karena sudah besar katanya, tapi Rafael tetap saja memandikan dan memakaikan baju putranya. Kapan lagi ia melakukan itu pada putranya, semakin bertambah besar tentu lebih tidak pastas Rakha dimandikan dadynya.
Ternyata Rafael berbohong pada Kharisa, pukul delapan malam Rakha belum tidur, malah tidak terlihat mengantuk atau kelelahan seperti yang diinfokan pada Kharisa, sepertinya ia sengaja membohongi Kharisa karena tidak ingin Kharisa tau kalau Rakha dibawa ke Jakarta dan menginap di rumah orang tuanya.
"Dady, aku boleh telpon Momy?" Tanyanya saat melihat HP dadynya di tergeletak di tempat tidur, kemudian ia mengambilnya.
Rafael mengambil HP yang disodorkan putranya. Ia mengecek ternyata ada panggilan vidio call dari Kharisa dan ada pesan di WAnya juga, namun ia tidak membaca pesannya .
Maaf Sa, aku sengaja tidak membalas pesanmu dan tidak menghubungimu, karena aku tidak mau kam tau kalau Rakha kubawa menginap di rumahku dan bertemu orang tuaku. Kamu pasti tidak suka, mungkin juga akan marah, jadi lebih baik kamu tidak mengetahuinya saat ini, agar konsentrasimu tidak terganggu. Aku melakukan ini agar orang tuaku semakin dekat dengan Rakha, dan semoga menjadi jalan mereka menerima kebersamaan kita.
"Hey Boy, kita turun yuk, temui Oma sama Opa, pasti sudah nungguin di bawah, let's go." Rafael mengulurkan tangannya, Rakha pun meraihnya, mereka turun sambil bergandengan menuju ruang keluarga.
"Opa..." Sapa Rakha pada laki-laki setengah baya yang tengah duduk di sofa sambil menatap layar ipad nya.
" Wah cucu Opa cakep sekali, baru mandi yah, sini..sini..." Opa menyimpan ipadnya di meja lalu merentangkan tangannya, saat Rakha mendekat, tubuh kecilnya langsung diraih didudukan di pangkuan opa. Rakha tersenyum manis membuatnya terlihat tambah menggemaskan.
"Wangi sekali cucu Opa." Ujar Opa setelah mencium pipi cucunya.
"Aku kan balu mandi jadi wangi Opa, kata Momy kalau belum mandi aku bau acem." Ujar Rakha sambil menutup hidungnya menirukan gaya momynya. Opa tersenyum melihat tingkah cucunya.
"Opa, ini benelan lumah Opa?" Rupanya Rakha penasaran dengan rumah yang kata dadynya rumah Opa.
"Iya, kenapa?" Opa mengernyit mendengar pertanyaan cucunya.
__ADS_1
"Lumahnya besal, bagus." Jawabnya dengan wajah penuh kekaguman. Tentu saja rumah opanya itu besar dan bagus menurut Rakha karena ini pertama kalinya ia melihat dan masuk ke dalam rumah sebesar dan sebagus ini. Selama ini ia tinggal di rumah sederhana, jauh dari kenewahan, padahal kedua kakek neneknya tergolong orang kaya dengan rumah mewah dan kehidupan mewah juga tentunya.
"Ini rumah Opa, rumah Dady jadi rumah Rakha juga." Suara Opa terdengar bergetar, terlihat gurat penyesalan di wajahnya. Ia tahu, Rafael sudah menceritakan kalau selama ini cucunya hidup dalam kesederhanaan, tentu saja semua karena ulahnya. Tapi mau bagaimana lagi, ia memang tidak akan merestui putranya bersama ibu dari cucunya, karena ia harus menjalankan amanah dari kakek istrinya, menjodohkan Rafael dengan Vania. Tapi sejak pertama kali melihat bocah di pangkuannya ini, entah kenapa jiwa kemanusiaannya berontak. Selama ini ia selalu berbuat baik pada orang lain, menolong pasien yang membutuhkan pertolongannya, entah sudah berapa banyak jiwa manusia tertolong nyawanya melalui jalan keahliannya sebagai dokter bedah jantung, bahkan ia tidak perhitungan dengan materi, tidak jarang ia membebaskan biaya jasa pemeriksaan dan tindakan medik kepada pasien ya g tidak mampu, hingga ia dikenal sebagai dokter yang dermawan. Tapi kenapa kepada cucunya sendiri, darah dagingnya sendiri ia berbuat tidak adil, bahkan dulu mendzaliminya dengan tidak mengharapkan kehadirannya di dunia. Tanpa terasa genangan air mulai menghiasi kedua matanya.
"Opa kenapa jadi sedih, ada ail matanya?" Tanya cucunya yang paham melihat wajah opanya berubah jadi sendu dengan mata berkaca-kaca.
"Ah Opa bukan sedih, tapi Opa bahagia karena bisa bertemu lagi cucu Opa." Kini Opa memperlihatkan wajah bahagianya.
"Aku juga senang ketemu opa lagi." Ujar Rakha jujur, tentu saja ia sangat senang bisa ketemu opanya, bahkan saat tau ternyata ia juga memiliki opa ia menceritakannya dengan bangga kepada teman-temannya kalau ia memiliki kakek nenek selain Omanya yang selama ini tinggal bersamanya.
Rakha pun mulai berceloteh menceritakan jalan-jalannya tadi bersama Dadynya. Tidak lama kemudian mami Rafael datang bergabung bersama suami dan cucunya. Rafael yang sejak tadi duduk di sofa memperhatikan interaksi kakek nenek dan cucunya, ia bisa bernafas lega, yang dikhawatirkan oleh Kharisa tidak terjadi. Orang tuanya benar-benar memperlakukan Rakha dengan baik, terutama papinya yang terlihat sangat menyayangi Rakha. Ia yakin orang tuanya sudah menerima Rakha sebagai cucunya. Sekarang yang harus dipikirkan bangaimana caranya agar orang tuanya menerima Kharisa sebagai menantunya, selain itu ia juga harus bisa membuat Kharisa mau mererimanya kembali dan hidup bersama menjadi orang tua yang utuh untuk Rakha.
Waktu semakin beranjak malam, Rakha pun terlihat sudah mulai mengantuk, walaupun dengan setia mendengarkan suara opanya yang sedang bercerita tentang tugas seorang dokter, rupanya opanya sedang menaburkan racun idealismenya, profesi dokternya menurun ke anak cucunya.
"Aku gak mau jadi dokter." Ujar Rakha saat opanya bilang nanti kalau sudah besar Rakha jadi dokter.
"Kenapa? Kan seperti Opa dan Dady, katanya Rakha suka menolong orang." Tanya Opa heran, biasanya anak kecil kalau ditanya cita-citanya ingin menjadi dokter.
"Sekolahnya jauh, tlus gak pulang-pulang. Aku gak mau jauh dali Momy." ujar Rakha dengan nada sedih, membuat Opanya mengernyit, tidak paham dan merasa aneh dengan jawaban cucunya.
"Dady aku mau telpon Momy, aku kangen Momy...." Tiba-tiba saja Rakha merengek, ia turun dari pangkuan opanya mendekati Dadynya.
"Dady aku kangen Momy, aku mau tidul sama Momy." Rengek Rakha sambil menggelayut di lengan dadynya.
"Rakha tidurnya sama Oma sama Opa yuk, nanti Oma ceritakan dongeng, mau yah." Bujuk Omanya, rupanya mami Rafael pun telah luruh oleh cucunya yang dulu tidak diakuinya. Tapi Rakha menggelengkan kepalanya. "Aku mau tidul sama Momy."
"Mih, Pih, sepertinya Rakha sudah ngantuk aku bawa ke kamar dulu yah." Papi dan Mami Rafael hanya bisa menganggukan kepalanya, padahal mereka masih kangen dengan cucu mereka.
"Kita tidur di kamar Dady yah, biar besok bisa ketemu Momy, sini Dady gendong" Rakha tidak menolak karena dia sudah ngantuk berat. Dan tidak lama kemudian Rakha benar-benar tertidur dalam gendongan Dadynya menuju kamar di lantai atas. Untung Rakha mudah tertidur, hingga lupa keinginannya untuk tidur dengan Momynya.
Rafael membaringkan Rakha di tempat tidurnya, ia kecup keningnya dengan penuh rasa sayang.
Tidurlah Nak, tidur yang nyenyak, malam ini Dady yang akan menemanimu dan menjagamu.
Rafael pu berbaring di sisi putranya yang telah tertidur lelap, memeluk tubuh kecilnya sambil berharap kedepannya bisa terus menemani dan menjaga putranya di setiap hari-harinya.
bersambung.....
bersambung
__ADS_1