
'I like Monday'. Ungkapan itu biasa diungkapkan oleh para pekerja kantoran untuk memulai hari kerjanya agar bersemangat memulai hari setelah melewati hari libur. Kadang hari libur membuat sebagian orang menjadi semangat lagi untuk memulai harinya karena saat hari libur mereka berhasil membuang kepenatan, kejenuhan setelah melakulan aktivitasnya selama lima sampai enam hari kerja. Tapi ada juga yang malah malas, tidak bersemangat memulai hari kerja, mungkin karena kelelahan mengisi hari liburnya, atau ada sesuatu hal yang yang malah membuat moodnya tidak bagus. Dan ini yang dialami oleh Kharisa.
Pukul enam pagi ia mendapat pesan dari atasannya, Andre, untuk mewakilinya hadir di Morning Meeting dengan Direktur. Andre sendiri mendadak mengambil cuti karena ada kepentingan harus ke Singapura. Kharisa menduganya pasti urusan dengan tunangannya, ya Kharisa sudah tau kalau ternyata bosnya itu sudah bertunangan, pintar sekali bosnya itu menyembunyikan statusnya.
Awalnya ia bertanya kenapa harus dia yang ikut morning meeting, kan ada yang lain yang lebih senior, tapi ternyata di pesan berikutnya Andre meminta Kharisa mempresentasikan hasil kegiatan Meet and Great.
"Apa gak sebaiknya Mas Ahmad atau Mba Siska saja yang ikut MM Pak?"
"Karena kita harus melaporkan kegiatan Meet and Great yang kita ikuti minggu kemarin, jadi kamu yang wakili saya, saya sudah buatkan laporan mingguan dan kegiatan M&G dalam bentuk power point, saya kirim ke email kamu. Kamu pelajari dulu, nanti tinggal bacakan saja." Jelas Andre dalam balasan pesannya.
"Mungkin Zaki juga bisa Pak." Kharisa masih mencoba menawar, sebetulnya ia menyukai tantangan, mencoba hal yang baru, tapi kali ini moodnya lagi down. Ia malas ketemu Rafael, pasti ada Rafael di sana, ada Vania juga, karena selain manajer, koordinator juga ikut morning meeting. Sikap Rafael kemarin membuatnya kesal, membuat ia malas bertemu dengannya.
"Sudah kamu saja yang ikut MM, I belive you can present well. Oke. Sy harus boarding. Good luck."
Kharisa tidak berani membantah lagi, ia mengecek email yang dikirim Andre di HPnya.
Perfect, laporan itu tersaji begitu menarik, tampak grafik dengan tampilan menanjak, grafik batang yang semakin tinggi menunjukan progres kinerja bagian marketing tidak mengecewakan. Ia mempelajari sebentar laporan tersebut dan mulai tumbuh percaya diri untuk menyajikannya di depan direktur dan bagian lain. Materi presentasi laporannya sudah keren, ia harus berusaha membawakannya sebaik mungkin.
Pukul setengah sembilan Kharisa telah berada di ruang meeting bersama para manajer dan koordinator dari tiap bagian. Yang paling banyak adalah bagian keperawatan, terlihat dari seragam khasnya, beberapa koordinator ruangan yang lebih familiar disebut kepala ruangan sudah mengenali Kharisa dengan baik, terutama kepala ruangan rawat inap karena saat memegang marketing internal Kharisa sering berinteraksi dengan kepala ruangan. Mereka duduk di meja bundar yg lumayan besar, sebagian duduk di barisan kursi di belakangnya.
Dokter Arjuna pun terlihat duduk bersama deretan dokter lainnya yang memegang jabatan, ia menjabat sebagai penanggung jawab rawat inap. Ia langsung tersenyum saat melihat Kharisa masuk ke dalam ruangan, wajahnya begitu sumringah melihat kedatangan Kharisa yang beberapa hari ini jarang dilihatnya, sayangnya kondisi tidak memungkinkan untuk dia duduk di dekat Kharisa karena tempat duduk yang terbatas, dan disebelah Kharisa sudah terisi.
__ADS_1
Meeting pun dibuka oleh sekretaris direktur sebagai pengatur acara, masing-masing bagian menyampaikan laporan mingguannya, bagian lain diperbolehkan menanggapi dan menyampaikan masukan, meeting mingguan ini menjadi ajang koordinasi antar bagian juga, termasuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi di pelayanan.
Saat bagian Melayanan Medik mendapat bagian maju, tampak Rafael berdiri maju mempresentasikan laporannya. Di mata Kharisa pesonanya masih tetap sama, saat dulu ia begitu kagum melihat Rafael mempresentasikan hasil uji cobanya di depan para siswa lain saat pemilihan siswa berprestasi, apalagi kini dengan tampilan yang lebih dewasa, lebih tenang membuat Kharisa tidak berani menatap ke depan, ia menundukan kepalanya sambil mencoret-coret kertas di atas mejanya, entah membentuk gambar apa, yang pasti gambar yang tidak jelas. Ia takut menjadi goyah dengan keputusannya untuk tidak mengharapkan Rafael lagi.
Bagian marketing mendapat kesempatan di akhir menyampaikan laporannya, dan saatnya Kharisa maju ke depan menyampaikan laporannya. Jantungnya otomatis berdetak cepat saat sekretaris direktur mempersilahkan bagian marketing maju ke depan. Dalam hatinya tak lepas memanjatkan doa. Dia memanjatkan doa yang sama saat ia akan presentasi sidang skripsinya. Faisal yang megajarkan doanya hingga ia hapal di luar kepala.
"Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii"
Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)
Tanpa menghiraukan yang hadir di depannya, ia mulai mempresentasikan laporannya, ya itulah cara agar ia tidak grogi, tidak usah memperdulikan siapa yang hadir di depannya, anggap saja mereka semua sama dengan posisinya. Ia mulai menjelaskan grafik perkembangan kunjungan pasien berdasarkan kriteria tertentu, dari mulai pasien umum, jaminan asuransi, pasien rujukan, san beberapa kriteria lainnya. Dangan lugas Kharisa menjelaskan seperti paham sekali dengan laporan yang dibuat Andre, padahal ia baru membacanya tadi sebelum berangkat ke rumah sakit. Kharisa pun sedikit memberikan analisa progres marketing ke depannya, dan rencana kegiatan satu minggu ke depan.
Terakhir ia menyampaikan rekapan angket kepuasan pasien terhadap pelayanan rumah sakit yang selama ini dipantau terus oleh bagian marketing internal, termasuk masukan dan komplain dari pasien dan keluarganya, saat inilah masing-masing bagian rumah sakit harus legowo menerima komplain dan masukan dari customer rumah sakit, baik dari pasien, keluarga pasien atau relasi yang selama ini bekerja sama.
Acara selanjutnya pembahasan dari direktur Rumah Sakit. HP Kharisa di atas meja bergetar dan muncul notif pesan WA masuk dari Rafael, dari Arjuna juga.
Ia membuka pesan dari Arjuna.
"Neng presentasinya keren👍"
"Congrat."
__ADS_1
"Thanks." Kharisa langsung membalas pesan dari Arjuna. Senyum tipis terbit di bibir Arjuna yang senang pesannya dibalas, walaupun hanya satu kata.
Ia beralih pada pesan dari Rafael, ia ragu untuk membukanya, ia pun membiarkannya. Saat ia mengedarkan pandangan di ruang meeting yang tidak begitu luas, tatapan matanya bertemu dengan orang yang mengirim pesan, tatapannya seolah mengandung perintah agar ia membuka pesannnya. Seolah terkena hipnotis Rafael, Kharisa pun membuka pesan dari Rafael.
"Setelah meeting selesai jangan dulu keluar." Kharisa mengernyit membaca pesan itu.
"Aku mau bicara, penting." Kharisa masih tertegun, tidak mencoba membalas pesan Rafael. Ia menduga pasti Rafael akan membahas lagi pembicaraan mereka kemarin sore.
Kemarin sore, setelah Rendi dan pacarnya kembali ke Jakarta, setelah Faisal juga pamit, tinggalah Rafael dengan Kharisa di ruang tamu, Rakha tidur di kamarnya, sejak di perjalanan pulang ia tertidur pulas, perjalanan dari tempat makan lumayan jauh, Rendi mendapat komendasi tempat makan dari sahabatnya waktu kuliah di Singapura, ia tinggal di kota yang sama dengan Kharisa sayangnya temannya sedang pulang ke Bandung. Dan ternyata tempatnya di tempat bendungan yang pernah Kharisa kunjungi bersama Rafael.
"Sa, aku akan menemui papamu." Ucap Rafael sore itu. kaku sudah bilang sama Mas Rendi, dan Mas Rendi setuju, dia akan mengatur pertemuan dengan papa. Kamu mau ikut?" Sontak saja ucapan Rafael membuat Kharisa terkejut, ia saja masih belum merencanakan menemui papanya, ia masih menjaga perasaan mamanya. Menurut Rendi papa menunggu mama meminta maaf pada papa, sementara mama ingin papa datang menyampaikan penyesalannya telah berniat menggugurkan kehamilan Kharisa lima tahun yang lalu, ternyata dua-duanya terkesan egois.
Langsung saja Kharisa meminta Rafael membatalkan niatnya bertemu papanya, namun sepertinya Rafael berkeras hati tidak ingin membatalkannya, itulah yang membuat Kharisa kesal pada Rafael sampai saat ini.
"Tidak ada balasan berarti dianggap setuju. Please, jangan dulu keluar, oke." Rafael mengirim pesan lagi merasa Kharisa tidak menanggapinya.
"Untuk apa lagi? Aku harus kembali bekerja." Balas Kharisa, rupanya ia tidak setuju dengan pendapat Rafael, tentu saja ia tidak mau berduaan di ruang meeting bersama Rafael, bagaimana nanti kalau ada yang melihat mereka, apalagi Vania. Kharisa bergidik membayangkannya.
"Kalau begitu aku yang ke ruanganmu." Ternyata Rafael tidak pantang menyerah, membuat Kharisa mengangkat kepalanya menatap laki-laki yang baru saja mengirimkan pesan padanya. Kembali tatapan mereka bertemu, Tatapan Kharisa memberi isyarat agar Rafael jangan aneh-aneh di tempatnya bekerja. Sementara Rafael memberi isyarat kalau ia serius dan sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Rafael.
__ADS_1
bersambung....