
POV Rafael
"Kharisa Maura Pradita"
Membaca nama itu membuatku tertegun. Ya nama itu, persis dengan nama seseorang yang sampai saat ini sedang kucari di kota kecil ini. Apakah orangnya sama dengan gadis yang namanya masih terukir di hatiku, gadis yang saat kami berpisah statusnya masih kekasihku, kalau iya kenapa ia tidak menyapaku, apa ia tidak mengenaliku? Ah .....kenapa aku tidak melihat wajahnya. Saat aku akan duduk pun aku tidak memolperhatikannya dengan jelas, kerena ia tengah menunduk. Aku lihat ke arahnya, aku hanya bisa melihat punggungnya, gadis itu berhijab dan telah berlalu meninggalkan ruangan kantin. Dan aku penasaran, aku pun coba mengejarnya.
"Rafael.....Mau kemana?" Kudengar Bang Andre memanggilku, namun aku tidak menggubrisnya aku terus berlari kecil sambil mengedarkan pandanganku mencarinya, hingga sampai di depan lift aku tidak menemukannya. Cepat sekali jalannya, dan kemana dia, dia karyawan rumah sakit, tapi bagian apa dia? Tunggu tadi dia pamit pada Bang Andre, berarti Bang Andre mengenalnya. Aku pun kembali ke kantin untuk menanyakan ke Bang Andre siapa dia.
Aku pun kembali duduk di samping Bang Andre dengan sedikit terengah. Kulihat makan siangku yang baru beberapa suap saja ku makan.
"Dari mana? Ada apa Raf?" Tanya Bang Andre keheranan.
"Abang kenal gadis yang di sini yang barusan pergi?" Tanyaku penuh harap Bang Andre mengenalnya.
"Tentu saja, dia stafku, namanya Kharisa, kenapa? Memangnya kalian belum saling kenal?"
"Kharisa Maura Pradita?" Ujarku dengan sedikit lega, ternyata gadis itu staf Bang Andre, aku akan lebih mudah memastikan dia Kharisa yang kucari atau bukan.
"Tuh kamu sudah tau namanya." Ujar Bang Andre.
"Aku baca namanya di Id Cardnya, tapi aku tidak lihat wajahnya." Bang Andre terlihat mengernyit.
"Bukankah tiga hari yang lalu kalian bertemu? Aku meminta Kharisa konfirmasi jadwal praktek dokter spesialis yang baru masuk, sekalian kusuruh dia mengenalkan diri, waktu hari Senin dia gak sempat aku kenalin sama kamu. Dia bilang sudah ketemu kamu, berkasnya pun sudah kamu paraf." Sekarang aku yang mengernyit. Tiga hari yang lalu gadis yang bernama Kharisa datang menemuiku?
"Tidak ada Bang, ada juga staf abang yang laki-laki datang ke ruanganku, namanya .....Zaki, ya Zaki." Jawabku. Zaki datang membawa lembar jadwal praktek dokter spesialis baru, aku mengeceknya dan langsung ku paraf.
"Oh ...jadi bukan Kharisa yang nemuin kamu, jadi dia nyuruh Zaki." Bag Andre tampak manggut-manggut.
"Bentar....memangnya kenapa kamu nanyain Kharisa? Jangan bilang kamu naksir dia, hey bos ingat kamu sudah bertunangan, tunangan kamu ada di sini, jangan buat masalah" Tanya Bang Andre penuh curiga.
"Bang, wajahnya saja aku belum lihat." ujarku
"Lalu....?" Rupanya Bang Andre penasaran, aku pernah cerita soal Kharisa ke Bang Andre, kekasihku yang tiba-tiba menghilang dan lost contact , aku juga cerita tentang apa yang dikatakan mami soal Kharisa, sepertinya ia lupa kalau nama kekasihku itu Kharisa, biasa kupanggil Risa.
"Bang, Abang ingat kan kekasihku yang menghilang?" Tanyaku pada Bang Andre.
"Kekasihmu yang meninggalkanmu dengan laki-laki lain?" Malah itu yang diingat Bang Andre.
"Belum pasti Bang, dan aku akan pastikan benar tidaknya." Ujarku penuh keyakinan.
"Lalu apa hubungannya dengan Kharisa?" Tanyanya penuh selidik.
"Namanya sama, nama panjangnya sama dengan Risa kekasihku, Kharisa Maura Pradita, hanya dulu Risa gak berhijab, tadi kulihat gadis itu berhijab" Bang Andre diam, sepertinya ia sedang berpikir.
"Aku harus memastikan dia Risa atau bukan, ruangan abang sebelah ruang HRD kan?" Aku berdiri hendak beranjak meninggalkan Bang Andre, namun tangannya menahan tanganku.
"Tunggu dulu, jangan terburu-buru, jangan buat heboh kantorku. Duduk dulu, makan siangmu pun belum selesai." Ujarnya sambil menarik tanganku, aku pun kembali duduk, tapi aku sudah ***** untuk menghabiskan makan siangku."
"Kalau hanya untuk memastikan dia orang yang kau maksud atau bukan tidak perlu menemuinya, lihat saja dari foto, pastikan iya atau bukan." Bang Andre membuka layar HPnya yang terkunci.
"Abang punya fotonya?"
__ADS_1
"Ya iyalah, gadis cantik di depan mata sayang kalau gak dijadikan koleksi fotonya, ada yang lagi berdua juga, aku sama dia terlihat serasi, seperti sepasang kekasih." Ujarnya dengan senyum jahilnya, sia lan, dalam kondisi aku tegang begini dia malah bercanda.
"Mana Bang....?" Aku sudah tidak sabar untuk melihatnya.
"Bentar, aku cari yang wajahnya terlibat jelas dari depan, nih ada, sudah seperti pasangan kekasih kan?" Dasar Bang Andre, tidak tau dia kalau aku lagi degdegan. Dia menyerahkan HPnya, langsung ku ambil dan terlihat foto Bang Andre berdua dengan gadis berhijab, sepertinya lagi di rumah makan, duduk lesehan di saung. Kutatap wajah gadis berhijab di layar HP, aku zoom agar terlihat jelas.
Deg....Jantungku berdetak sangat keras, mataku membulat, benar.....dia Kharisa, dia Risa kekasihku, walaupun penampilannya berbeda dengan hijabnya aku tidak mungkin lupa wajahnya, dia terlihat cantik dengan senyum di bibirnya, sama seperti dulu, tidak ....sekarang dia terlihat lebih cantik dengan make up sederhananya, membuat dia terlihat lebih dewasa. Aku tersenyum sendiri sambil terus menatap gambarnya.
"Akhirnya aku menemukanmu Risa." Gumamku.
"Gimana?" Tanya Bang Andre penasaran.
"Ini Risa Bang, benar ini Risa." Ujarku dengan senyum bahagia.
"Aku harus menemuinya, aku harus tau alasan kenapa dia meninggalkanku." Aku beranjak berdiri, namun Bang Andre kembali menahanku.
"Tunggu Raf, Ini masih jam kerja, kamu hanya akan menggangu pekerjaan dia. Kamu mau menemuinya di ruangannya? Kamu mau buat drama pertemuan sepasang kekasih yang terpisah lalu akan menjadi berita heboh di rumah sakit ini? Sabar dulu Raf." Ujar Bang Andre membuatku kesal, tapi ada benarnya juga ucapan Bang Andre, kalau aku menemuinya di ruang kerjanya, aku tidak akan leluasa bicara dengan Kharisa, dan teman kerjanya pasti akan keheranan atau akan menjadi berita heboh, tapi aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya, lima tahun aku memendam kerinduan untuk bertemu dengannya, terlepas dari cerita mami tentang Kharisa yang tidak bisa dengam begitu saja aku percaya, aku tetap merindukannya dan berharap apa yang diceritakan mami tidak benar adanya.
"Bang bisa bantu aku kan?" Aku benar-benar tidak bisa menunggu lagi, aku harus bertemu Kharisa sekarang, aku harus minta bantuan Bang Andre.
"Bantu apa?" Tanyanya
"Suruh Kharisa ke ruanganku, terserah abang alasannya apa, di ruanganku aku bisa leluasa bicara dengannya kan?" Ujarku dengan semangat.
"Sekarang masih jam kerja Raf, tidak enak membahas urusan pribadi, lebih baik kalian bertemu dan bicara di luar rumah sakit, cari tempat yang tenang dan nyaman." Dalam kondisi begini bang Andre masih sempet mengingatkan jam kerja, aku pun termasuk orang yang disiplin dalam urusan keeja, tapi untuk yang satu ini tidak bisa dinanti-nanti, penantianku sudah terlalu panjang, lima tahun aku tidak bertemu dengannya, tidak tau kabar beritanya, aku sudah tidak sabar mendengar alasannya menghilang selama ini.
"Please Bang, aku tidak bisa menunggu lagi, aku ridak akan bisa konsen bekerja sebelum bertemu dengannya, lagi pula bertemu di luar jam kerja apalagi di luar rumah sakit dia belum tentu mau, aku rasa dia menghindar bertemu denganku, dia pasti sudah melihatku sejak hari pertama aku datang, dan dia menghindari bertemu denganku, buktinya tadi dia tidak menyapaku, padahal aku duduk di depannya, gak mungkin kan dia tidak melihatku. Please Bang bantu aku, sekarang suruh Kharisa ke ruanganku, oke Bang, aku tunggu di ruanganku." Ujarku sedikit tegas, kulihat Bang Andre menghela nafas.
"Aku hanya ingin bicara dengannya Bang." Ujarku, memangnya aku mau ngapain Kharisa di ruang kerjaku, paling aku ingin memeluknya, menumpahkan rasa rinduku.
"Makasih Banyak Bang, aku tunggu di ruanganku." Aku kembali menegaskan, kemudian beranjak menuju ruanganku.
*****
"Kharisa..." Pak Andre keluar dari ruangannya membawa sebuah map hijau di tangannya.
"Ya Pak." Kharisa yang tengah asyik menginput data rujukan pasien dari klinik perusahaan karena kasus kecelakaan kerja pun menghentikan sejenak pekerjaannya, sambil menoleh ke arah Pak Andre.
"Tolong serahkan memo internal ini ke Yanmed, permintaan dokter untuk mengisi penyuluhan kesehatan di PT. Tirta Luhur Selasa depan." Ujar Pak Andre sambil menyerahkan map yang berisi memo internal. Pak Andre memperhatikan perubahan ekspresi Kharisa yang tampak terkejut.
"Sa...saya yang ke bagian Yanmed Pak?" Kharisa malah bertanya, dalam hatinya pasti ia ingin menolak permintaan Pak Andre, kenapa harus dia, bukankah di ruangan itu ada yang lain selain dia, kenapa tidak Siska saja yang disuruh, pasti dia akan bersemangat menemui bagian Yanmed.
"Kenapa?" Tanya Pak Andre, tentu saja Pak Andre tau kenapa Kharisa sampai terkejut hanya karena disuruh ke bagian Yanmed, ia merasa kasihan juga melihatnya, tapi tadi ia sudah menyanggupi untuk membantu Rafael mempertemukan Kharisa dengan Rafael di ruangan kantor Rafael.
"Eh...nggak apa-apa Pak." Jawab Kharisa, wajahnya mulai terlihat pucat, jantungnya jangan ditanya, saat mendengar kata Yanmed, jantungnya otomatis berdetak cepat.
"Ya udah sana, biar segera ditindak lanjuti, kita bisa ngasih info kesiapan kita ke pihak perusahaannya." Kharisa pun menganggukan kepalanya, ia beranjak berdiri, namun tampak ragu untuk melangkah, seperti ada yang sedang dipikirkannya. Tentu saja otaknya langsung bekerja merancang apa yang akan diucapkan saat bertemu manajer Yanmed, bagaimana nanti harus bersikap, ekspresi apa yang harus ditunjukan saat berhadapan dengan Rafael? Bahagia, sedih, kecewa, marah atau biasa saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya? Di sepanjang jalan menuju ruangan Yanmed itu yang dipikirkannya.
Selintas terbayang wajah putranya saat terus menanyakan Dadynya.
"Momy kapan Dady pulang?"
__ADS_1
"Momy kenapa Dady tidak bisa di telepon?"
"Momy kenapa Dady sekolahnya lama?"
"Momy aku mau ketemu Dady."
Tak terasa tiba-tiba pandangannya memburam, ia mengerjap agar air yang menggenang di matanya tidak jatuh di pipinya. Sambil terus berjalan dengan menunduk ia mengeringkan kedua matanya yang basah dengan tangan kanannya.
Rakha Dadymu sudah pulang, dan Momy akan bertemu Dadymu sekarang, tapi Momy tidak bisa berjanji membawa Dadymu pulang. Batin Kharisa.
Dan tak terasa ia sudah berada di depan ruangan Manajer Yanmed. Sebelumnya ia melewati ruangan staf Yanmed dan Jangmed (Penunjang Medik), namun entah kenapa ruangan staf itu begitu sepi, tidak ada seirangpun disana. Debar jantungnya semakin menggila, saat ia akan mengetuk pintu yang tertulis nama yang begitu di kenalnya, ia pun mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, hingga yang ketiga kali ia memberanikan diri mengetuk pintunya dan terdengar jawaban dari dalam ruangan.
"Masuk!"
Dengan menguatkan hatinya ia membuka handle pintu dan mendorongnya hingga pintu terbuka, Kharisa pun melangkah masuk, menutup kembali pintunya namun sedikit terbuka, kemudian berdiri di depan pintu dengan wajah pucat, tatapannya langsung bertemu dengan tatapan mata yang tajam milik laki-laki berjas putih yang tak lain adalah Rafael, ia tengah berdiri bersandar di depan meja kerjanya dengan tangan bersedekap di dadanya. Tatapannya terlihat begitu mendamba.
Kharisa masih diam terpaku, bibirnya terasa kelu, terasa berat walaupun hanya untuk mengucapkan salam.
"Se...selamat siang dokter." Terlihat Kharisa begitu gugup, suaranya pun terdengar gemetar.
"Risa....Ya kamu Risa....." Ujar Rafael, dengan senyum lebar dan mata berbinar ia melangkah menghampiri Karisa. Melihat Rafael yang semakin dekat dengannya ia bergeser dari tempat berdirinya namun Rafael langsung meraih kedua bahunya, kemudian menarik tubuh Kharisa ke dalam pelukannya. Tentu saja membuat Kharisa terkejut dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Rafael.
"Risa, akhirnya aku menemukanmu." Ucap Rafael sambil mempererat pelukannya tidak ingin melepaskan Kharisa.
"Aku merindukanmu Risa, apa kamu tidak merindukanku?" Ucapnya lagi.
"Tolong lepaskan, jangan seperti ini." Ujar Kharisa sambil terus berusaha melepaskan pelukan Rafael. Kharisa bukannya tidak merindukan Rafael, ia sangat merindukannya, ia sangat menantikan saat pertemuan dengan laki-laki yang dicintainya, tapi tidak harua seperti ini. Walaupun Rafael dalah ayah kandung putranya tapi status hubungan mereka bukan siapa-siapa, yang pasti bukan mahramnya. Kalau dulu sebelum ia paham aturan agama, mungkin dengan senang hati ia akan menyambut pelukan Rafael, bahkan membalas pelukannya, tapi kini ia sedikit tau tentang batasan laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, maka jelas ia akan menolak sikap Rafael yang di luar batas sampai memeluknya. Lagi pula Rafael kini bukan miliknya lagi, Rafael milik Vania. Bagaimana kalau Vania atau ada orang lain yang melihat Rafael sedang memeluknya. Tidak....tidak boleh ada yang melihat mereka dalam keadaan seperti ini.
"Lepaskan.....tolong lepaskan." Kini Kharisa berusaha melepaskan dirinya dengan keras, hingga Rafael melongggarkan pelukannya, langsung saja Kharisa tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia mendorong tubuh Rafael hingga pelukannya pun terlepas. Hampir saja Rafael jatuh terhuyung, namun ia bisa menjaga keseimbangannya hingga masih bisa berdiri dengan mwmbungkuk.
"Kenapa Risa? Kenapa kamu menolakku? Kamu tidak merindukanku? Kamu benar-benar sudah melupakanku?" Tanya Rafael dengan nada sedikit emosi. Ia tidak menyangka Kharisa menolak pelukannya, padahal ia ingin mencurahkan rasa rindunya yang ia simpan selama lima tahun, rasa cintanya masih sama seperti lima tahun yang lalu, walaupun statusnya kini sebagai tunangan wanita lain, tapi cintanya tidak berubah, hanya untuk wanita yang kini dihadapannya.
Kharisa menggelengkan kepala dengan mata yang mulai basah, entah kenapa lidahnya begitu kelu, begitu sulit untuk mengeluarkan kata-kata.
"Tidak....tidak....." hanya kata itu yang keluar dari mulutnya, hatinya begitu campur aduk, tidak tau apakah ia harus bahagia atau bersedih. Yang jelas ia memendam kekecewaan yang belum bisa ia ungkapkan pada Rafael.
"Kenapa kamu menghindar dari aku? Kamu sudah melihatku waktu hari pertama aku datang ke sini kan? Tapi kenapa kamu malah menghindar dari aku, kamu tidak ingin bertemu denganku? Kenapa? Apa karena kamu malu bertemu denganku? Kamu malu karena kamu telah meninggalkanku kan? Ah aku tau, ternyaya benar, kamu telah melupakanku." Entah apa yang ada di benak Rafael, ia terlihat kecewa, merasa Kharisa tidak senang dengan pertemuan mereka.
" Maksudnya apa?" Tanya Kharisa heran, kenapa Rafael memiliki dugaan seperti itu.
Belum sempat Rafael menjawab pertanyaan Kharisa, seseorang mengetuk pintu ruangan Rafael. Kharisa dengan gerakan cepat mengeringkan pipinya yang basah.
"Permisi Dok....oh maaf saya kira tidak ada tamu." Ternyata Nela stafnya Rafael langsung masuk setelah mengetuk pintu, ia terlihat mengernyit, mungkin merasa heran melihat Rafael yang berdiri di depan Kharisa, posisi mereka berada di dekat pintu, untung saja Nela tidak melihat saat Rafael memeluk Kharisa tadi.
"Maaf dok, ada dokter Arjuna ingin bertemu dokter." Ujar Nela
"Saya hanya ingin menyampaikan titipan Pak Andre, saya permisi." Tiba-tiba Kharisa menyerahkan amplop hijau, dan berlalu meninggalkan Rafael yang masih berdiri melongo.
"Dok maaf apa bisa dokter Arjuna menemui'
"Oh ya tentu , suruh masuk saja ?
__ADS_1
bersambung