
"El , kita mau kemana? Kenapa gak masuk tol lingkar luar saja biar cepat." Tiba-tiba Kharisa bersuara, padahal sejak masuk mobil dia diam saja menatap ke jendela sebelah kirinya. Ia masih marah dengan kejutan yang diberikan Rafael ,sebetulnya ia senang juga dijemput Rafael apalagi ada putranya, hanya saja ia kesal sejak kemarin tidak tau kabar putranya, dan ternyata Rafael membawa Rakha ke rumahnya, dan bertemu dengan orang tuanya. Ia duduk di kursi depan disamping Rafael, sementara Rakha duduk di belakang sesuai keinginanya, agar bisa leluasa bermain dengan mainan barunya.
Kharisa masih hapal jalanan di daerah Jakarta Selatan walaupun lebih dari tiga tahun ia tidak pernah ke sana, tidak banyak yang berubah, hanya sekarang lebih banyak cafe dan resto dengan tampilan menarik.
"Aku mau ngajak kamu bernostalgia." Jawab Rafael sambil tetap fokus ke jalanan di depannya.
"El ini udah mau sore, kasihan Rakha nanti kecapean. Lebih baik kita langsung pulang saja." Kharisa jelas tidak ingin berlama-lama bersama Rafael, apalagi tadi apa katanya? Rafael bilang mau ngajak bernostalgia? Untuk apa? Hanya akan membuka kenangan yang membuat luka lamanya meradang kembali.
"El kita langsung pulang saja, besok Rakha harus sekolah." Ujarnya lagi.
"Mumpung kita ke sini Sa, aku kangen nongkrong di kafe dekat sekolah dulu. Kamu juga pasti kangen." Ujarnya enteng. Rupanya keinginan Rafael bertentangan dengan perasaan yang berkecamuk di dalam batin Kharisa. Jelas Kharisa ingin mengubur kenangan bersama Rafael, agar ia tidak berat memutuskan tidak akan menerimanya kembali dan hidup bersama, sementara Rafael justru ingin mengenang masa-masa indah saat mereka bersama agar Kharisa tidak mudah melupakan kenangan manis itu, dan mengingat kembali cinta mereka yang begitu indah hingga bila cinta Kharisa telah luntur, bisa tumbuh lagi setelah mengingat indahnya kebersamaan mereka dulu.
Kharisa hanya diam, tidak berusaha menolak lagi karena mobil BMW yang membawa mereka telah memasuki Jl. KH. Ahmad Dahlan daerah Kebayoran, tempat sekolah SMA mereka dulu. Tentu saja Kharisa mengingat jalan ini, ia menegakan duduknya, menatap ke depan, mulai terlihat bangunan sekolahnya dulu yang termasuk sekolah unggulan dan favorit di Jakarta. Rafael melambatkan laju mobilnya, membelokan ke arah gerbang sekolah dan berhenti di depannya.
"Sa...kamu pasti kangen tempat ini kan? Ah rasanya aku ingin masuk ke dalam, bisa gak yah." Sekolah terlihat sepi, tidak terlihat seorang pun di sana, tidak ada petugas security yang berjaga di pos, mungkin karena hari libur dan waktu sudah menjelang sore hari.
"Gak usah aneh-aneh El, ngapain kita masuk ke sana, gerbangnya juga digembok." Ujar Kharisa ketus, jelas ia tidak ingin mengenang masa-masa sekolahnya dulu, apalagi dengan terpaksa dan tiba-tiba ia harus meninggalkan sekolah ini, hatinya terasa perih.
"Kamu gak kangen Sa, aku terakhir ke sini saat. baru pulang dari Amrik beberapa bulan yang lalu, aku nemuin wali kelasmu dulu untuk bertanya tentang kamu, dan aku mendapat petunjuk. Bu Amel bilang pernah mengirim raport dan berkas fortofolio kamu ke kota dimana sekarang kamu tinggal, tapi ia tidak punya data alamat lengkapnya, hanya hapal nama kotanya. Itulah kenapa aku mempercepat kepindahanku dari rumah sakit pusat." Kini Karisa tertegun mendengar ucapan Rafael. Benarkah Rafael mencari tau tentang dia?
"Waktu libur kuliah semester pertama aku juga datang ke sini, tapi tidak ada satu orang pun yang tau keberadaan kamu, waktu itu Bu Amel sedang cuti melahirkan, ia melahirkan di kampung halamannya, HPnya tidak bisa dihubungi, dan tidak ada yang tau alamat jelas kampung halaman Bu Amel. Saat itu aku tidak mendapatkan informasi apapun tentang kamu, dam akhirnya lima tahun kita berpisah ya Sa." Rafael menghela nafas panjang, dadanya terasa sesak.
"Dan seperti mimpi tiba-tiba aku bertemu kamu di tempat yang sebelumnya membuatku malas untuk pindah ke sana, lalu bertemu Rakha...." Rafael menoleh ke belakang, tampak Rakha tengah asyik memainkan mainan robot yang bisa berubah menjadi pesawat tempur.
"Rasanya seperti mimpi....." ujarnya lagi. Kharisa hanya diam mendengarkan sambil menatap ke depan.
__ADS_1
"Aku kangen dengan lapangan basketnya, tempat pertama kita kenalan dulu, kamu masih ingat kan? Waktu itu kamu jutek banget Sa, tapi itu yang bikin aku suka sama kamu." Rafael menoleh dengan menyunggingkan bibirnya, bertepatan dengan Kharisa yang juga menoleh ke arah Rafael, tatapan mereka pun bertemu, Kharisa dengan cepat memalingkan lagi mukanya ke arah depan.
"Jadi gak mau turun nih, gak mau lihat almaternya?" Sepertinya Rakha penasaran ingin mengajak Kharisa bernostalgia di sekolah.
"Gak usah." Jawab Kharisa sambil menggelengkan kepalanya. "Lagian aku bukan siswa lulusan sekolah ini." Kini suaranya terdengar sendu. Kharisa memalingkan wajahnya ke arah jendela, tidak ingin Rafael melihat matanya yang mulai berembun. Sayangnya ia tak bisa menahan embun dimatanya untuk tidak jatuh di pipinya. Ia langsung mengusap pipinya ya g basah dengan kedua tangannya. Tentu saja Rafael melihatnya.
"Ah Sa, maaf aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Ujar Rarael, ia mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Kharisa yang basah, tapi Kharisa segera menepisnya.
"Sory....sory..Sa." Rafael mengerti Kharisa tidak mau disentuh.
"Dady....kenapa belhenti di sini?" Tiba-tiba Rakha berdiri di belakang dadynya, rupanya Rafael dan Kharisa lupa kalau ada Rakha duduk di belakang. Entah tadi obrolan mereka didengar Rakha atau tidak, semoga saja tidak, kalau pun mendengarnya, semoga saja Rakha tidak mengerti.
"Eh Boy.....ini sekolah dady sama momy dulu waktu masih jaman SMA." Rafael mengusap kepala putranya.
"Sekolah Momy sama Dady besal...." Rakha memperhatikan bangunan yang dikelilingi pagar di depannya.
"Aku mau sekolah boalding school sama Khanza, boleh kan Momy?" Kharisa menoleh ke belakang, menganggukan kepala sambil tersenyum pada putranya. Sepertinya Khanza gadis cilik yang sok dewasa itu sudah mempengaruhi Rakha tentang sekolah mereka.
"Siapa Khanza?" Tanya Rafael, ia baru mendengar nama itu disebut putranya.
"Itu temen aku, eh sodala aku." Jawab Rakha santai. Rafael mengernyit, menatap Kharisa meminta penjelasan.
"Khanza anak seumuran Rakha, keponakannya Faisal." Jelas Kharisa, Rafael menganggukan kepalanya tanda mengerti. Namun mendengar nama Faisal disebut, ekspresinya menunjukan tidak suka.
"Telus nanti aku sekolahnya mau ke Mesil, kaya Wa Ila dan Wa Fakhli." Celoteh Rakha lagi
__ADS_1
"Eh Rakha laper gak? Kita mampir ke kafe dulu yah." Rafael buru-buru mengalihkan pembicaraan, ia curiga yang disebut Rakha itu jangan-jangan saudaranya Faisal lagi, ia malas mendengarnya, sepertinya api cemburu menghiasi hatinya.
Rafael melajukan mobilnya meninggalkan sekolah SMAnya yang penuh kenangan, berhenti di depan sebuah cafe yang tidak jauh dari gedung sekolah. Cafe yang juga penuh kenangan bagi Rafael dan Kharisa.
Rafael memesan makanan dan minuman yang dulu sering mereka pesan. Cheesse cake makanan favoritnya, dimsum, dan spageti saus carbonara dengan ekstra cheesse. Rakha malah hanya ingin memesan ice cream saja, namun tetap mencicipi makanan yang dipesan dadynya. Cafe itu terlihat banyak perubahan, namun nuansanya masih tetap sama seperti dulu, membuat Kharisa sulit untuk tidak mengingat masa lalu bersama Rafael. Niatnya ingin melupakan kenangan bersama Rafael malah kini kenangan itu muncul kembali.
Setelah selesai menikmati makanannya, mereka pun meninggalkan cafe penuh kenangan itu. Dulu hampir tiap hari sepulang sekolah mereka mampir di cafe ini.
Mobil mereka kini melewati daerah pondok indah, daerah tempat rumah Kharisa berada, juga rumah papanya namun beda komplek perumahan. Entah kenapa Rafael malah mengarahkan mobilnya sampai ke sana, padahal membuat mereka lebih jauh menuju arah jalan pulang ke kota tempat mereka tinggal.
"Mau lihat rumah kamu gak? Kali aja kangen." Ujar Rafael. Ia masih ingat jalanan menuju rumah Kharisa.
"Boleh." Entah kenapa Kharisa mengiyakan dan menganggukan kepalanya. Yang jelas ia sangat merindukan rumahnya, rumah tempatnya dibesarkan, namun lima tahun yang lalu ditinggalkannya.
Hari sudah mulai senja, langit telah menunjukan warna kemerahan saat Kharisa berada di depan rumahnya. Rumah itu kosong namun terlihat bersih dan terawat. Benar kata papanya, rumah ini kosong tapi terawat dengan baik. Semoga suatu saat ia bisa tinggal lagi di rumah ini, bersama mamanya, dan Rakha tentunya.
Setelah puas memandangi rumahnya, ia pun mengajak Rafael pulang.
"Kita pulang El, langit sudah mau gelap."
Rafael melajukan mobilnya menuju arah tol lingkar luar, dengan harapan perjalanan bisa lebih cepat. Adzan Maghrib pun berkumandang saat mobil mereka memasuki pintu tol. Tidak terdengar celotehan Rakha di kursi belakang karena ternyata bocah kesayangan Kharisa itu terlelap memeluk robot mainan barunya. Suasana di dalam mobil pun hening, Kharisa dan Rafael saling diam dengan pikirannya masing-masing, tapi ternyata dengan ingatan yang sama, sama-sama mengingat kebersamaan mereka dulu, mengingat masa-masa indah mereka sebelum takdir memisahkan.
bersambung.......
Hai....aku Upnya agak-agak pendek gak papa yah, semoga besok bisa up lagi.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah, asli itu yang bikin othor semangat Up lg🤗
Have a nice dream😴