Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Hati Seluas Samudra


__ADS_3

POV Kharisa


Satu minggu sudah aku berada di Singapura, bukan untuk berlibur akhir tahun seperti yang direncanakan sebelumnya, tapi menemani jagoanku yang tengah berjuang untuk sembuh dari sakitnya yang hampir membuatku kehilangannya. Dan malam ini, malam pergantian tahun, aku menemani Rakha di rumah sakit, hanya sendiri. Rafael sedang menjemput papinya ke bandara sekalian mengantar mami dan papinya ke apartemen, mama malam ini menginap di apartemen bersama papa yang baru tiba tadi sore.


Kulihat Rakha sudah tertidur pulas, padahal waktu belum terlalu larut, waktu masih menunjukan pukul sembilan malam, kemarin-kemarin ia tidur di atas jam sepuluh, karena siangnya ia banyak tidur. Kondisi Rakha sudah semakin baik, tidak menggunakan selang oksigen lagi, hanya infusnya yang masih terpasang, karena masih ada obat untuk paru-parunya yang harus disuntikan. Rencana dokter lusa sudah boleh pulang.


Alhamdulillah Allah masih memberikan kepercayaan padaku untuk menjaganya. Entah apa yang akan terjadi padaku jika Allah mengambilnya, mengambil penyemangat hidupku, mungkin aku tidak akan bersemangat lagi menjalani hidup, mungkin selama hidup aku akan menjadi orang yang menyalahkan diri sendiri, menyalahkan orang lain, bahkan menyalahkan Allah Sang Pemilik Alam Semesta. Aku tahu apa yang kita miliki bukan milik kita, bahkan diri kita sendiri bukan milik kita, tapi milik Allah yang bisa kapan saja mengambilnya kembali, tapi kalau saat ini Allah mengambil Rakha, rasanya aku tidak akan sanggup, dialah penguatku hingga aku bisa bertahan menjalani hidup.


Bersyukur aku masih bisa bersamanya, memeluknya, mendengar celotehannya, ah...betapa Allah sangat menyayangiku, masih mengijinkanku bersamanya. Aku janji akan menjaganya dengan baik, mendidiknya menjadi anak yang taat kepadaNya dan berbakti pada orang tuanya


Orang tuanya....ya orang tua Rakha tentu saja aku dan Rafael, momy dan daddynya.


Deg...


Aku jadi teringat pemintaan Rakha saat ia baru sadar dari tidur panjangnya. Ia ingin pulang ke rumah Daddynya, tidur bersama momy dan daddy, ternyata ia merindukan kebersamaan dengan momy dan daddynya, itu impiannya hingga terbawa ke alam mimpinya saat ia coma.


Dan kemarin Rafael membahas permintaan Rakha, saat aku dan dia hanya berdua menemani Rakha, mama sedang makan siang di cafetaria, dan Rakha tidur pulas setelah makan siang.


"Sa....kamu sudah tau kan apa yang diimpikan Rakha?" Aku dengar Rafael bertanya sesuatu


"Hah....?" Aku yang tengah duduk di sofa memainkan HPku menoleh ke arahnya yang tengah mendudukan tubuhnya di sofa di sebelahku


"Kenapa?" Tanyaku lagi, aku tidak fokus dengan pertanyaan Rafael.


"Tentang impian Rakha, kamu sudah dengar kan harapan dia?"


"Harapan apa?" Tanyaku lagi, dalam hatiku aku menduga-duga maksud pertanyaan Rafael.


"Kita hidup bersama, Rakha ingin tinggal dengan momy dan daddynya." Benar dugaanku Rafael menanyakan ini, sebenarnya aku sempat memikirkannya, tapi aku belum bisa mengambil keputusan, banyak yang harus kupertimbangkan. Aku pun bergeming, menundukan kepalaku, tidak berani menatapnya yang tengah menatapku dengan penuh harap.

__ADS_1


"Gimana Sa? Bukankah kamu berjanji akan menuruti apapun keinginan Rakha kalau ia kembali sadar dari comanya? Rakha sudah menyampaikan keinginannya, sekarang saatnya kamu membuktikan janjimu pada Rakha." Ah ya aku pernah mengatakan akan mengabulkan apapun keinginan Rakha kalau ia bangun dari comanya, tapi aku tidak berpikir keinginan Rakha yang seperti ini. Aku jadi terjebak dengan ucapanku sendiri. Baiklah akan ku pertimbangkan hidup bersama Rafael.


Harapanku untuk bisa bersama A Isal pun sepertinya tidak akan terwujud, dengan terang-terangan di depan Rakha ia bilang keinginan Rakha untuk bisa bersama aku dan Rafael akan terwujud setelah Rakha sembuh, berarti secara tidak langsung itu jawabannya atas permintaanku, padahal aku telah meyakinkannya lagi kalau Rakha pun akan senang kalau A Isal menjadi ayahnya, karena Rakha pernah berharap kalau A Isal mau menjadi ayahnya. Tapi A Isal malah mengatakan " Maaf, A Isal hanya bisa menjadi kakak, sahabat untuk Neng, dan menjadi Om yang sangat menyayangi Rakha, ini yang terbaik." Aku pun tidak bisa memaksanya lagi, walaupun dalam hati kecilku aku yakin kalau A Isal suka sama aku, mungkin juga cinta tapi tak pernah diungkapkan, dan ia tau kalau aku masih mencintai Rafael.


Sebelum meninggalkan rumah sakit A Isal juga malah menguatkanku untuk bersama Rafael.


"Ikuti kata hati, jangan karena nafsu atau ego, baca pesan cintaNya. Sudah banyak petunjuk yang menjadi jawaban atas doa yang selama ini dipanjatkan. Bukankah Neng minta diberikan yang terbaik? Insya Allah jawabannya ada di dalam hati Neng." Itu ucapan A Isal saat aku mengantarnya ke lobi dan menunggu taksi yang akan mengantarnya menuju bandara.


"Demi Rakha, demi kebahagiaan Neng juga, lembutkan hati untuk mudah memaafkan, masih ingat kan MLM? Maklumi, Lupakan, Maafkan, Insya Allah hidup kita tenang." Selalu itu yang diingatkan A Isal, aku tau ia pun melakukan itu, ia memang mudah meminta maaf dan mudah memaafkan.


"A Isal yakin Neng memiliki hati seluas samudra. Ibunya Rafael pasti akan meminta maaf dan menyadari kesalahannya. Maafkanlah, siapa tau itu bisa jadi jalan beliau menjadi orang yang lebih baik." Kenapa A Isal begitu yakin kalau mami Rafael akan meminta maaf ? Memang sih ia terlihat berubah, ia terlihat ingin mendekatiku, tapi enggan karena aku selalu berusaha menghindarinya. Bagiku memaafkan maminya Rafael adalah kata yang mudah diucapkan tapi berat untuk dilakukan, setelah apa yang ia lakukan padaku dan Rakha, tapi aku berusaha mencerna ucapan A Isal, dengan maaf dariku, apakah maminya Rafael bisa menjadi orang yang lebih baik? Apa aku bisa menjadi pembuka jalan kebaikan untuknya?


Dan benar ucapan A Isal, esok harinya mami Rafael meminta bicara berdua denganku di cafetaria dan ia benar-benar meminta maaf dengan wajah penuh penyesalan dan derai air mata. Waktu itu aku hanya diam, tidak bicara apa pun, entah kenapa hati ini terasa sakit, dan gambaran masa lalu bagaimana perlakuan mami Rafael terhadapku bermunculan dalam benakku.


Hingga ia berlutut di kakiku, aku tersentak kaget.


"Tante jangan seperti ini, bangunlah...." ujarku sambil berusaha membuatnya berdiri, tentu saja kami menjadi pusat perhatian pengunjung cafetaria walaupun tidak begitu ramai. Orang tua bersimpuh di hadapan yang lebih muda, ada apa?


"Tante tidak akan bangun sebelum kamu memaafkan Tante." Mami Faisal masih berlutut memegang kedua kakiku, aku jadi teringat saat aku meminta maaf pada papa, aku pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh maminya Rafael, berarti mami Rafael menyesal dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Apakah ini saatnya aku memaafkannya? Melupakan semua perlakuannya yang membuatku sakit hati.


"Maafkanlah, siapa tau itu bisa jadi jalan beliau menjadi orang yang lebih baik."


"A Isal yakin Neng memiliki hati seluas samudra."


Kata-kata A Isal terngiang di telinga.


"Tante ayo bangunlah, tidak anak dilihat orang."


"Tante tidak akan bangun sebelum mendapat maaf darimu Kharisa." Terdengar suaranya serak membuatku tak tega.

__ADS_1


"Aku memaafkan Tante, bangunlah." Akhirnya terucap juga kata memaafkan dari bibirku.


Ya aku telah memaafkan mami Rafael walaupun belum tulus dari dasar hatiku, tapi aku berusaha berlapang dada melupakan semua sikapnya yang menyakitkan.


Cekrek


Seseorang membuka pintu, ternyata Rafael. Ia terlihat lebih segar dan sudah berganti pakaian.


"Rakha sudah tidur?" Tanyanya sambil berjalan ke tempat Rakha, ia mengecup kening putranya yang terlihat pulas. Lalu berjalan menghampiriku, duduk di sofa persis di sampingku, aku pun menggeser tubuhku agak tidak terlalu dekat dengannya.


"Kamu belum tidur Sa?" Pertanyaan yang tidak perlu dijawab menurutku, dia bisa lihat aku memang belum tidur.


"Belum ngantuk." Tapi aku menjawabnya.


"Jadi kita bisa ngobrol dong, melanjutkan obrolan kemarin yang terpotong." Aku sudah tau obrolannya akan mengarah kemana, dia pasti minta jawabanku.


"Ini malam tahun baru, kita menghabiskannya di rumah sakit, tapi aku bersyukur bisa bersama kamu dan Rakha." Ia memiringkan tubuhnya menghadap ke arahku. Aku masih diam tidak menanggapi ucapannya, entah kenapa tiba-tiba aku merasakan debaran jantungku, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Aku pura-pura membuka chat WA untuk menghalau debaran jantungku yang mulai menggila, aku merasa dejavu, pernah merasakan hal seperti ini saat dulu Rafael mengatakan cintanya dan menunggu jawabanku.


"Esok sudah tahun baru, hari baru, aku berharap bisa meraih kehidupan baru, kehidupan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Tidak sendiri, tapi bersama kamu dan Rakha." Aku melihat jam di layar HPku, pukul 11. 05 waktu Singapura. Kurang dari satu jam lagi tahun berganti. Tahun baru, kehidupan baru, tentu saja kehidupan yang lebih baik, bersama Rafael?


"Aku yakin kamu tidak akan mengecewakan aku dan Rakha, sekarang tidak ada penghalang lagi untuk kita bersama. Tidak ada alasan lagi kamu menolak hidup bersamaku dan Rakha. Benar kan?" Debar jantungku kenapa masih belum bisa dikendalikan, dan mulut ini kenapa menjadi kaku untuk bicara, aku ingin mengatakan sesuatu tapi kenapa lidah ini terasa kelu. Aku akan mengikuti kata hatiku untuk menjawab pertanyaan Rafael.


"Kharisa Maura Pradita, maukah kamu menerimaku, menjadi istriku, hidup bersamaku, menjadi ibu dari anak-anakku?"


bersambung.....


Hai readerku tercinta🤗


Mohon maaf telat lagi Upnya, semoga terus memaklumi Othor yang sok sibuk ini🙏🤗

__ADS_1


Pendukung Rafael pasti bersorak. Pendukung A Isal jangan kabur dong, tenang aja jodoh sudah diatur, sudah disiapkan jodoh terbaik untuknya.😘😘


__ADS_2