Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Menyiapkan Hati


__ADS_3

Dengan jantung berdebar Kharisa berjalan mengikuti langkah Mila dan Arjuna menuju lantai enam. Ia berusaha menenangkan dirinya dengan beberapa kali menarik nafas panjang. Ia belum bisa membayangkan, apa yang akan dilakukannya saat berhadapan langsung dengan Rafael, dan bagaimana reaksi Rafael saat melihatnya, apakah ia masih mengenalinya? Penampilan Kharisa tentu jauh berbeda dengan saat masih SMA dengan hijabnya, tapi wajahnya tidak banyak berubah, terlihat lebih cantik malah, dan terlihat lebih dewasa. Rasanya ia ingin membalikan badannya dan berlari meninggalkan gedung rumah sakit, namun pasti akan menimbulkan kecurigaan. Pintu lift pun sudah terbuka, ia tidak bisa menghindar lagi untuk masuk ke dalam lift, posisi Arjuna di belakangnya seolah mnggiringnya untuk masuk ke dalam lift.


Wajahnya terlihat pucat, tentu saja Anjuna mengetahuinya.


"Neng kamu kenapa? Sakit?" Tanyanya.


"Gak apa-apa hanya sedikit pusing." Jawabnya bohong.


"Kamu lemes gitu, oh ya pasti belum makan kan, kamu mah orang lain pada makan enak, kamu malah pacaran di bawah, nanti habis ketemu Pak Andre kamu makan dulu, mudah-mudahan belum dibereskan makanannya?" Ujar Mila.


Ting...


Pintu lift pun terbuka, mereka langsun menuju auditorium yang terlihat tidak terlalu ramai seperti tadi saat acara penyambutan Yanmed baju.


"Kharisa kemana saja kamu, dari tadi saya cari, tadi pagi kan saya bilang langsung ke auditorium, langsung ke aula kalau gak ngerti auditorium." Ujar Pa Andre dengan nada kesal.


"Maaf Pak tadi saya ke bawah habis shalat dulu." Ujar Kharisa dengan wajah menunduk, mencoba mencari alasan.


"Memang shalat berapa lama? Kamu shalat satu jam?"Pak Andre jelas tidak menerima alasan Kharisa, Kharisa menghilang hampir satu jam, tidak mungkin shalat sampai satu jam kalau tidak ditambah dengan aktivitas lain yang entah apa yang dilakukan Kharisa.


"Tadi saya mau ngenalin staf marketing ke manajer Yanmed yang baru juga ke dokter spesialis yang baru bergabung. Kenapa saya kenalin? Karena kamu nanti akan berinteraksi dengan mereka untuk konfirmasi jadwal praktek atau kegiatan pelayanan kesehatan di luar rumah sakit. Yang lain sudah saya kenalkan tinggal kamu yang belum." Kharisa masih menunduk, menyembunyikan wajahnya yang pucat juga terlihat cemas. Begitulah Pak Andre saat ada yang tidak sesuai dengannya ia akan bertindak tegas, tanpa pandang bulu, mau sedekat apapun kalau salah menurutnya ia akan menegurnya. Siska yang duduk di dekat Pak Andre tersenyum puas penuh kemenangan melihat langsung Kharisa ditegur Pak Andre.


"Sekarang mereka sudah turun ke ruang komite medik, nanti kamu kenalan sendiri sama mereka, datangi satu-satu di ruang prakteknya, saya gak mungkin datangin mereka satu-satu hanya untuk ngenalin kamu." Kharisa mengangkat kepalanya, mengedarkan pandangannya. Ia tidak salah dengar kan? Mereka sudah tidak ada di ruangan ini lagi? Termasuk Rafael juga sudah tidak ada di sini? Benar ia tidak melihat Rafael, atau orang-orang yang menggunakan jas putih, termasuk dokter Arjuna pun yang baru datang dengannya sudah tidak ada lagi di ruangan ini.


Akhirnya Kharisa bisa bernafas lega. Tidak mengapa ia ditegur Pak Andre, dibentak sekalipun untuk saat ini tidak mengapa, asal ia tidak bertemu Rafael dulu, ia benar-benar tidak siap.

__ADS_1


*****


"Assalamualaikum...." Suara yang sudah tak asing di telinga bocah yang sedang asik menonton kartun kesayangannya berhasil mengalihkan perhatiannya. Ia segera berlari ke luar rumah yang pintunya terbuka dan langsung memeluk pemilik suara yang mengucapkan salam tadi.


"Om Isal kok udah nyampe lagi disini, kok cepet." Rakha tampak keheranan, pasalnya baru saja om kesayangannya itu vidio call dan bilang akan datang ke rumah Rakha, tentu saja bayangan Rakha Om Isalnya baru akan nyampe agak siang nanti.


"Hey anak soleh, jawab dulu salamnya dong." Ujar Faisal yang tengah jongkok melepaskan pelukannya.


"He....he...lupa , waalaikumsalam."


"Om Isal belum jawab, kok bisa cepet ke sini?"


"Karena Om Isal nginep di rumah Wa Dini." Jawab Faisal, wajah Rakha langsung merengut mendengar jawaban Faisal.


"Soalnya Om Isal nyampenya malam, pasti Rakha sudah tidur." Jawab Faisal jujur. Faisal baru nyampe di rumah Wa Dini pukul sepuluh malam. Ia datang memenuhi permintaan Kharisa yang sejak beberapa hari lalu memintanya datang, ada hal penting yang mau dibicarakan katanya. Kemarin sore Kharisa pun mewanti-wanti lewat chat WA agar Faisal mengunjunginya.


"Momy udah berangkat kerja belum?"


"Belum...oh iya lupa, ayo masuk Om." Rakha menarik tangan Faisal ke dalam rumah.


"Momy.....Oma....ada Om Isal datang." Teriak Rakha, Faisal duduk di sofa ruang tengah, Rakha pun mengikuti duduk disampingnya dengan bergelayut manja.


"Ya...sebentar." Terdengar suara Kharisa dari dalam kamarnya.


"Eh ada Om Isal, tumben Sal pagi-pagi sudah nyampe, jam berapa dari sana?" Mama keluar dari dapur membawa semangkuk besar nasi goreng.

__ADS_1


"Nyampe jam sepuluh malam Bi, nginep di Wa Dini." Jawab Faisal


"Oh, pantesan, ayo sekalian sarapan bareng, Bi Dewi bikin nasi goreng baso request Rakha. Rakha ayo sarapan dulu, katanya mau nasi goreng." Mama menyiapkan beberapa piring di meja makan.


"Om ayo salapan dulu." Rakha menarik lagi tangan Faisal.


"Om sudah sarapan di rumah Wa Dini, Om temanin Rakha saja yah, ayo." Mereka pun beranjak menuju meja makan.


Pintu kamar Kharisa terbuka, tampak Kharisa sudah siap untuk berangkat kerja, hari ini baju yang dipakai terlihat lebih santai, hari Sabtu tidak ada jadwal kunjungan ke luar, baik kunjungan ke klinik ataupun kunjungan ke perusahaan, hari ini ia hanya akan membuat laporan kegiatan selama satu minggu kemarin. Beberapa hari ini, setelah kedatangan Rafael sebagai Manajer Yanmed, ia tidak terlalu bersemangat untuk berada di rumah sakit, ia lebih senang berlama-lama di luar rumah sakit, melaksanakan tugas luar. Tentu saja tujuannya untuk menghindari bertemu dengan Rafael, saat berada di rumah sakit ia merasa seperti seorang buronan yang berusaha agar tidak tertangkap. Selama lima hari ini, ia bisa menghindari bertemu dengan Rafael, walaupun seperti main kicing-kucingan.


Selesai sarapan Kharisa berangkat kerja, ia minta diantar oleh Faisal menggunakan motornya tentu saja Rakha pun jadi ingin ikut mengantar momynya.


"Yeaaah aku mau antel momy kelja." Soraknya saat Kharisa membolehkannya ikut mengantarkannya. Akhirnya Faisal membonceng Kharisa di belakang dan Rakha berdiri di depan.


Saat jam pulang kerja, pukul satu siang, Faisal menjemput Kharisa, tapi tanpa Rakha. Mereka akan pergi ke suatu tempat yang nyaman untuk bicara berdua.


Kharisa sudah tidak tahan lagi untuk menyampaikan persoalan yang sedang dialaminya kepada Faisal, ia ingin meminta pendapat Faisal apa yang harus ia lakukan saat bertemu Rafael.


Dan di tempat ini, di sebuah cafe yang nyaman untuk ngobrol menurut Kharisa mereka duduk berhadapan, bagi mereka yang tidak mengetahui hubungan Kharisa dan Faisal pasti akan menyangka kalau mereka adalah sepasang kekasih. Biarlah, terserah mereka mau ngomong apa, yang pasti saat ini Kharisa hanya ingin mendengarkan pendapat Faisal untuk menguatkan juga menyiapkan hatinya.


bersambung....


Haiiii....nih aku kasih bonus up walaupun pendek.


Jangan kesel dulu Kharisa belum ketemu dengan Rafael, sabar kalau kata A Isal mah. Biarkan Kharisa berguru dulu pada masternya, agar saat ketemu Rafael, hatinya benar-benar siap.

__ADS_1


__ADS_2