
Malam semakin larut, namun tak menyurutkan dua sejoli yang sedang hot-hotnya menikmati malam dengan melakukan aktifitas yang melelahkan namun menyenangkan, membuat mereka terbang menikmati sensasi yang membuat mereka tidak bosan mengulang aktifitas itu di setiap malamnya. Apalagi malam ini mereka bisa leluasa berdua di dalam kamarnya tanpa gangguan putra kesayangan mereka. Akhirnya malam ini mereka berdua berhasil membuat Rakha menjadi anak yang mandiri dengan tidur sendiri di kamar barunya.
Kamar mama Kharisa akhirnya digunakan untuk kamar Rakha, tentu seijin pemilik lamanya.
"Pakai saja kamar mama buat kamar Rakha, dia sudah besar, sudah harus memiliki kamar sendiri dan harus berani tidur sendiri. Mama kan hanya sesekali datang ke sini, nanti bisa tidur dengan Rakha kalau menginap di sini." Ujar mama saat Rafael meminta ijin untuk menggunakan kamar mama mertuanya untuk Rakha.
Setelah mendapat ijin dari mama Rafael dan Kharisa langsung mengganti furnitur kamar mama dengan furnitur yang cocok untuk Rakha, nuansa warna biru dan merah khas mobil balap animasi kesukaan Rakha menjadi pilihan agar Rakha betah menempati kamarnya.
Betapa girangnya Rakha tadi sore setelah melihat kamar barunya, dan ia pun bersemangat untuk tidur di sana, walaupun awalnya ia terlihat ragu apakah akan berani tidur sendirian tanpa ditemani momy dan daddynya.
Namun ucapan momy dan daddynya yang terus menguatkannya membuatnya memberanikan diri mencoba tidur sendiri.
"Anak laki-laki harus jadi pemberani, dan Rakha anak pemberani." Ujar Rafael memberikan semangat.
"Nanti Rakha kalau ditanya bu guru jadi tidak malu lagi karena sudah tidak tidur dengan momy lagi." Kharisa teringat kalau Rakha pernah cerita di kelasnya ditanya gurunya, siapa anak yang masih tidur sama ibu atau ayahnya, dan Rakha menjawab jujur, tapi malah ditertawakan temannya. Sempat waktu itu minta tidur sendiri, tapi kamarnya yang belum tersedia.
"Ya momy aku mau tidur sendiri di kamar." Akhirnya Rakha mau juga tidur sendiri di kamarnya.
"Tapi nanti momy temani aku dulu, kalau aku sudah tidul, momy boleh ninggalin aku." Ujarnya pada momynya. Kharisa pun menyetujuinya, ia akan menemani dulu Rakha sampai Rakha tidur.
Dan malam ini setelah Rakha tidur pulas di tempat tidur barunya, Kharisa meninggalkannya sendirian, dengan menguatkan hati walau sebenarnya ada sedikit khawatir bagaimana kalau Rakha terbangun di tengah malam, dan merasa ketakutan. Kenapa mesti takut dengan hal yang belum terjadi? Kan ada Allah yang menjaganya. Batinnya.
"El aku kok malah degdegan yah, besok undangan resepsi kita akan di bagikan ke karyawan rumah sakit. Bagaimana reaksi mereka yah?" Kharisa teringat kalau besok Rafael akan membagikan undangan resepsi mereka. Kemarin siang mama dan papa Kharisa yang mengantar langsung dari Jakarta, sekalian kangen sama cucu mereka katanya, sorenya mereka kembali lagi ke Jakarta.
"Yang pasti mereka akan kaget he..he...." Kekeh Rafael.
"Kamu mau ikut bagiin undangannya?"
"Kamu mau lihat aku dibuli sama karyawan satu rumah sakit?" Kharisa malah balik bertanya pada Rafael. Ia tidak bisa membayangkan apa reaksi mereka, pasti mereka akan mencapnya sebagai perebut tunangan orang, pelakor. Lebih baikbia tidak mendengar cemoohan mereka apalagi melihat langsung reaksi mereka, ini yang menbuatnya dulu berat menerima kembali Rafael. Tapi demi Rakha, demi cintanya, demi pengorbanan yang sudsh dilakukan Vania ia harus rela melewati ini semua. Toh lama-lama mereka pun akan bosan membicarakannya.
"Aku akan membelamu kalau ada yang membulimu, kalau perlu aku minta HRD memecat mereka." Bela Rafael.
__ADS_1
"Ha....ha....gak usah lebay, sampai mecat segala, mereka butuh pekerjaan untuk menghidupi mereka dan keluarganya. Aku sudah siap kok mau digosipkan, atau dituduh apapun, terserah mereka mau mencap aku apa, toh aku sudah tidak disana lagi, telingaku gak akan panas mendengarnya, paling hanya mendengung, ha...ha...ha...." Sepertinya Kharisa memang sudah siap menerima resikonya, hanya memang sedikit berdebar saat membayangkannya.
"Nanti aku bikin konfrensi pers saat morning meeting, kamu tenang saja, pokoknya tidak akan ada yang berani menjelekan kamu." Rafael mengecup kepala Kharisa yang menyender di dadanya.
"Terserah kamu, asal jangan sampai ada pemecatan karyawan hanya karena membicarakan aku." Ujar Kharisa. Mereka sama-sama diam sejenak, entah apa yang ada falam pikiran masing-masing, yang pasti mereka belum terlihat mengantuk walaupun malam semakin larut dan tubuh mereka lelah karena aktivitas malam yang menguras tenaga.
"Tadi sama Faisal ngobrol apa saja?" Tiba-tiba suara Rafael memecah kesunyian mereka berdua.
"Hmm.....aku cerita kalau aku gak jadi pindah ke Jakarta, tetap di sini dampingin kamu. A Isal sangat mendukung, katanya memang seharusnya seorang istri mendampingi suaminya. Aku jadi semakin yakin dengan apa yang akan aku lakukan, aku akan tetap berkarya walaupun tidak bekerja di sebuah perusahaan besar. Kamu mengijinkan aku membantu di yayasan Wa Dini kan? Aku bisa berperan sebagai PR (Public Relation) disana, siapa tau yayasannya bisa lebih berkembang."
"Kamu jadi semakin yakin karena ucapan Faisal? Bukan karena memang gak mau jauh dari aku?" Tanya Rafael, entah kenapa setiap mendengar Kharisa menyebut nama Faisal api cemburunya selalu berkobar, padahal ia sudah tahu tidak ada hubungan apa-apa diantara Faisal dan istrinya, selain hubungan persahabatan dan persaudaraan.
"Hmmm....jangan mulai deh, sudah kubilang gak usah cemburu sama A Isal."
"Jangan pernah berpikir macam-macam, aku sudsh jelaskan kan seperti apa hubunganku dengan A Isal, aku hanya menganggapnya sebagai sahabat, sebagai kakak."
"Tapi kamu kaya seneng banget kalau sudah ngobrol dengan Faisal, wajar kan kalau aku cemburu, tandanya aku cinta dan takut kehilangan kamu." Ucap Rafael membenarkan sikapnya. Dalam hati Khatisa juga mengiyakan, wajar suaminya cemburu, justru aneh kalau suami tidak cemburu melihat istrinya dekat dengan laki-laki lain.
"Iya...aku percaya sama kamu, tapi kamu harus tau kalau aku cemburu."
"Udah ah, kita lanjut nanti saja ngobrolnya, sudah jam setengah dua belas lagi. Tidur....tidur....." Lebih baik di cut saja obrolannya dari pada harus menanggapi kecemburuan Rafael, bisa panjang bahasannya sampai ke masa lalu.
"Eh sebentar...ada yang mau aku tanyakan. Kamu minta apa sama Faisal sebelum kita menikah?" Rupanya Rafael penasaran dengan info yang didengarnya dari obrolan Kharisa dengan Fakhira waktu di apartemen papa Kharisa di Singapura. Ia masih mengingat jelas ucapan Fakhira.
"Faisal cerita sama teteh, lewat telpon, terakhir kemarin sebelum dia berangkat ke Semarang. Cerita banyak tentang keinginan kamu, keinginan Rakha, kegalauan dia."
"Cerita gimana teh?" Tanya Kharisa saat itu.
"Permintaanmu pada Faisal, tapi Faisal sudah menjawabnya kan? Yakinlah jawaban Faisal adalah merupakan petunjuk untuk meyakinkan hatimu dalam mengambil keputusan."
Ucapan Fakhira masih teringat jelas dalam benak Rafael. Permintaan Kharisa pada Faisal, apa itu? Rafael pernah menduga-duga, dan ia sangat takut kalau dugaannya itu benar, ia takut kalau Kharisa memiliki perasaan pada Faisal.
__ADS_1
"Minta apa? Aku gak minta apa-apa sama A Isal." Kharisa mengernyitkan keningnya mencoba mengingat-ingat apa ia pernah minta sesuatu pada Faisal.
"Sebelum Rakha sakit, kamu pernah minta sesuatu pada Faisal kan? Kamu minta apa sama dia?" Tanya Rafael lagi, masih penasaran dia.
Deg....Kharisa langsung teringat permintaannya meminta Faisal menjadi ayah Rakha. Tapi apa maksudnya ini yang ditanyakan Rafael?
"Gak ada, aku gak ada minta sesuatu sama A Isal." Bantah Kharisa, mulutnya menyangkal berbeda dengan hatinya yang membenarkan kalau ia pernah meminta sesuatu pada Faisal. Tapi tidak mungkin ia menjawabnya jujur, takut malah Rafael nanti berpikir macam-macam, lebih baik ia pura-pura lupa. Seperti judul lagu saja 'Pura-pura Lupa'. Batinnya.
" Sudah ah tidur, sudah malam, besok gak boleh terlambat bangun, shalat subuh di masjid, jangan sampai keduluan Rakha bangunnya." Kharisa menarik selimutnya lebih tinggi sambil merubah posisinya membelakangi Rafael.
"Ok, tapi nanti kamu ingat-ingat lagi, mungkin kamu lupa, aku tahu kamu pernah minta sesuatu pada Faisal." Rafael masih penasaran, ia sebenarnya ingin tahu perasaan Kharisa terhadap Faisal itu seperti apa, padahal untuk apa membahasnya, toh sekarang Kharisa sudah menjadi miliknya dan sampai saat ini Kharisa menunjukan sikapnya kalau ia juga mencintai Rafael. Dan Kharisa tidak menanggapinya, ia memejamkan matanya agar cepat bisa tidur.
"Sa...." Rupanya Rafael masih ingin Kharisa terjaga.
"Hmmm...."
"Besok aku shalat subuhnya di rumah saja yah, kita berjamaah bareng Rakha."
"Sebaik-baiknya laki-laki shalatnya di masjid, apalagi shalat subuh, utamakan di masjid." Kini Kharisa menanggapi ucapan Rafael dengan suara yang tegas.
"Sekali -kali Sa, kan tetap berjamaah walau di rumah juga."
"Katanya ingin menjadi orang yang lebih baik. Ya udah kalau mau shalat di rumah, shalatnya pakai mukena." Sindir Kharisa sambil terkekeh.
"Hmm..ya deh bu ustadzah. Tapi bangunin aku yah. Eh tapi jangan sampai bangunin juniorku, bisa repot nanti, beneran gak shalat di masjid jadinya."
"Ish......" Kharisa mencubit tangan Rafael yang semakin erat memeluknya dari belakang.
"Makanya jangan nempel-nempel begini. Udah aku mau tidur." Kharisa melonggarkan pelukan Rafael
"Aku gak bisa tidur kalau gak meluk kamu Sa." Rafael malah mengeratkan lagi pelukannya. Kharisa hanya bergeming sambil memejamkan matanya. Dan mereka pun akhirnya terlelap menyambut mimpinya.
__ADS_1
bersambung