
Malam semakin larut, tapi Rafael masih berada di kamar menemani Rakha, rencananya ia akan pulang ke apartemennya. Tidak mungkin ia menginap di apartemen Kharisa apalagi dalam satu kamar dengan Kharisa. Namun Rakha ngambek saat tadi Rafael mengatakan kalau ia akan pulang walaupun dengan alasan menemani Oma Sarah.
"Daddy bohong, katanya gak akan ninggalin aku." Ujar Rakha merajuk.
"Daddy gak ninggalin Rakha, Daddy hanya pulang dulu sebentar nemanin Oma, besok pagi-pagi ke sini lagi.
"Gak boleh, kan ada Om Lichan." Sepertinya Rakha tidak bisa dibohongin. Setelah makan malam Richan pamit pulang, dan Rakha tau Om nya itu pulang ke apartemen yang ada Oma Sarah.
"Ya udah Daddy tidur di sini, ayo kita tidur." Akhirnya Rafael mengalah sementara, setelah Rakha tidur baru ia akan pulang
"Momy mana?"
"Momy lagi ngobrol sama Wa Ira, nanti ke sini, ayo sekarang Rakha tidur, Rakha harus banyak istirahat, biar cepet pulang ke Indonesia, sebentar lagi kan sekolah. Ayo baca doa dulu." Akhirnya Rakha manut, setelah berdoa ia memejamkan matanya dan terlelap dalam tidurnya.
Waktu sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam saat Rafael memutuskan untuk pulang, lebih awal lebih baik agar ia pun bisa tidur cukup, karena pagi-pagi ia akan kembali ke apartemen Kharisa, kalau bisa sebelum Rakha bangun ia sudah di sini.
Setelah memastikan Rakha tidur nyenyak, ia beranjak dari tempat tidur, membuka pintu kamar dengan pelan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan putranya. Setelah pintu terbuka ia tidak langsung keluar, sekilas ia mendengar Kharisa menyebut namanya. Setelah Isya dan makan malam tadi Kharisa dan Fakhira duduk di sofa ruang TV, sepertinya banyak yang mereka obrolkan dan sampai saat ini masih terlihat asyik. Dan sepertinya Kharisa sedang curhat pada wanita yang usianya lebih tua tiga tahun darinya.
Rafael berdiri di depan pintu yang setengah terbuka, ia benar-benar berniat menguping.
"Dalam hatiku aku yakin kalau Rafael jodohku, apalagi sudah ada Rakha diantara kami, tapi saat akan mengatakan iya kadang suka timbul keraguan lagi, mungkin lebih ke arah takut kalau nanti terjadi sesuatu dalam hubungan kami setelah menikah. Menurut Teh Ira berarti aku sudah yakin belum?" Rafael mendengar dengan jelas pertanyaan Kharisa.
"Kalau kita sudah berdoa, memohon petunjuk Allah, yakinlah Allah akan menuntun kita melangkah, mengambil keputusan yang terbaik menurut Allah, bukan baik menurut kita."
__ADS_1
"Dalam masalah jodoh, Allah yang akan mempertemukan jodoh kita sesuai apa yang tertulis di Lauhul Mahfudz. Kalau sudah jodoh tidak akan ada yang bisa menghalangi, pasti ketemu, sebaliknya kalau bukan jodoh sebesar apapun usaha kita selalu akan ada penghalang untuk memisahkan, seperti itulah jodoh." Fakhira terdiam sejenak, apa yang ia ucapkan sebenarnya untuk menguatkan dirinya sendiri, dengan berbekal keyakinan ini ia bisa tetap tegar walaupun di dalam hatinya pasti menyimpan luka.
"Kalau kata Abah mah, kita harus pintar membaca pesan cintaNya. Allah tidak selalu memberikan petunjuk berupa mimpi. Dalam kehidupan yang dijalani, banyak juga yang bisa dijadikan petunjuk, contohnya dengan kejadian Rakha sakit sampai coma, mungkin dibalik itu ada petunjuk dari jawabanNya, kita harus bisa mencerna apa maksud Allah dibalik semua itu." Yang disampaikan Fakhira sama seperti yang disampaikan Faisal sebelum kembali ke Indonesia, tentu saja ia mendapat ilmu dari guru yang sama.
"Faisal cerita sama teteh, lewat telpon, terakhir kemarin sebelum dia berangkat ke Semarang. Cerita banyak tentang keinginan kamu, keinginan Rakha, kegalauan dia." Fakhira menjeda ucapannya. Kharisa terlihat menegakan duduknya.
"Cerita gimana teh?" Tanya Kharisa memastikan, wajahnya terlihat cemas, campur malu juga kalau benar yang diceritakan Faisal adalah permintaannya untuk menjadi ayahnya Rakha.
"Permintaanmu pada Faisal, tapi Faisal sudah menjawabnya kan? Yakinlah jawaban Faisal adalah merupakan petunjuk untuk meyakinkan hatimu dalam mengambil keputusan." ujar Fakhira meyakinkan Kharisa, ia tahu adiknya tidak sembarangan mengambil keputusan pasti melibatkan Allah di dalamnya.
"Aaahhh... A Isal cerita sama Teh Ira?" Kharisa menutup mukanya dengan kedua tangannya karena malu pastinya. Tentu saja malu, kesannya ia yang agresif terhadap Faisal. Semwntara Rafael yang masih berdiri di balik pintu yang terbuka makin penasaran dengan yang dikatakan Fakhira. Apa permintaan Kharisa pada Faisal? Tanyanya dalam hati.
"Tidak perlu malu begitu." Fakhira terkekeh melihat sikap Kharisa. "Faisal tidak bermaksud 'ember', dia hanya minta pendapat Teteh. Dan Teteh yakin keputusannya itu yang terbaik. Jadi kamu tidak usah ragu lagi mengambil keputusan, bukankah Rakha sangat ingin berkumpul dengan momy dan daddynya?"
"Jangan tanya Teteh, tanya hati kecilmu." Fakhira menggenggam tangan Kharisa seolah memberikan dukungan atas apapun keputusan Kharisa.
"Eh udah jam berapa nih, sampai gak terasa, Teh Ira pasti cape mau istirahat." Kharisa melihat jam di layar HPnya di atas meja, sudah menunjukan pukul sepuluh malam kurang lima belas menit.
"Rakha udah tidur belum yah." Kharisa menoleh ke belakang, pintu kamarnya terbuka setengahnya. Jangan-jangan malah belum tidur karena ada daddynya, tapi tidak terdengar suaranya, juga suara Rafael.
"Ayo, Teh Ira istirahat saja di kamar."
"Makasih ya Sa, jadi ngerepotin." Ujar Fakhira
__ADS_1
"Ngerepotin apa, dari pada di hotel sendirian, mending di sini, bisa seru-seruan. Pulangnya jangan besok ya Teh, bareng saja lusa. Besok kita jalan-jalan dulu, aku selama di sini belum kemana-mana."
"Ya deh, teteh juga pengen tau kota yang katanya paling maju di Asia Tenggara ini." Anggap saja sekalian refreshing untuk melupakan sejenak kekecewaannya, batin Fakhira.
"Eh, Bi Dewi kok belum pulang juga Sa." Sejak Fakhira datang ke apartemen belum bertemu dengan mama Kharisa, katanya lagi nemenin papa Kharisa bertemu koleganya sekalian shopping kayanya.
"He..he...kayanya mama sama papa lagi nostalgia mengenang masa lalu, secara mereka kan udah lebih dari lima tahun gak pernah jalan berdua. Udah gak papa Teh Ira istirahat saja, besok pagi juga ketemu." Ujar Kharisa. Fakhira pun menganggukan kepalanya, ia beranjak menuju kamar yang biasa dipakai Rendi. Karisa juga beranjak menuju kamarnya, baru saja dua langkah, ia melihat Rafael keluar dari kamar, tampak senyumnya menghiasi bibirnya, membuat Kharisa tertegun dan salah tingkah. Jadi teringat obrolannya tadi dengan Fakhira. Mungkin sudah saatnya ia harus menerima Rafael, memutuskan hidup bersamanya, menjadi orang tua yang utuh untuk Rakha.
"Rakha sudah tidur." Ujar Rafael setengah berbisik, tidak mau suaranya terdengar oleh Rakha yang akan membangunkannya.
"Kamu mau pulang?" Entah kenapa nada suara Kharisa terdengar seperti tidak rela kalau Rafael pergi. Rafael menganggukan kepalanya.
"Besok pagi-pagi aku ke sini lagi, aku usahakan sebelum Rakha bangun, nanti aku telpon kamu kalau besok sudah di depan pintu." Rafael sendiri sebenarnya berat untuk pulang ke apartemennya, inginnya berada di sini bersama Rakha, juga Kharisa tentunya, tapi mereka bukan siapa-siapa, status hubungan mereka belum jelas. Jadi terpikir untuk memastikan hubungan mereka saat ini juga.
"Tapi aku ingin bicara sebentar sama kamu, di ruang tamu saja, bisa kan?" Kharisa menganggukan kepalanya, mereka berdua menuju ruang tamu. Mereka duduk bersebelahan, sofa ruang tamu memang hanya ada satu muat untuk dua orang, ditambah satu buah kursi bulat sebagai pelengkap. Sepertinya Rafael sengaja duduk di sebelah Kharisa agar bisa dekat. Mereka duduk miring saling berhadapan.
"Apa yang mau dibicarakan?" Jantung Kharisa tiba- tiba berdebar, ia menduga Rafael akan melanjutkan pembicaraan kemarin, walaupun Kharisa meminta waktu dua hari untuk berfikir tapi dari gelagatnya bisa terlihat Rafael begitu mengharapkan jawaban Kharisa.
"Aku tidak mau disebut pembohong oleh putraku sendiri, aku ingin memenuhi janjiku padanya kalau aku tidak akan meninggalkannya, aku akan bersama dengan Rakha. Tadi dia sempat mengira aku akan meninggalkannya, karena aku pamit pulang ke apartemen walau dengan alasan menemani mami. Rakha tidak mengijinkan aku pergi, tapi aku gak mungkin kan tinggal bersama kalian karena status kita yang belum jelas." Rafael menjeda ucapannya, kemudian menarik kedua tangan Kharisa ke dalam genggamannya, sontak saja Kharisa terkejut dan berusaha melepaskan dari genggaman Rafael, tapi genggaman Rafael begitu kuat, akhirnya Kharisa mengalah.
"Untuk itu, walaupun kamu belum memberikan jawaban, besok aku akan bicara dengan papamu untuk melamarmu."Ujar Rafael dengan percaya diri, tentu saja percaya diri akan diterima Kharisa karena tadi ia telah mendengar obrolan Kharisa dengan Fakhira.
" Aku yakin kamu mencintaiku, walau mungkin saat ini cintamu untukku tidak sebesar dulu, tapi aku janji akan membuat kamu mencitaiku seperti dulu lagi."
__ADS_1
bersambung