Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Dari Hati ke Hati


__ADS_3

Kharisa baru saja turun dari mobil sejuta umat, mobil inventaris rumah sakit yang baru saja mengantarnya mengunjungi beberapa klinik bidan yang lokasinya lumayan agak jauh dari rumah sakit, diikuti oleh Zaki yang turun membawa dua kantong plastik yang berisi makanan, satu kantong berisi dua bakakak ayam, satu kantong lagi berisi tape singkong, makanan khas daerah yang baru saja dikunjungi Kharisa dan Zaki, mereka tadi mengunjungi beberapa klinik praktek mandiri bidan. Ternyata makanan yang dibawa Zaki adalah oleh-oleh dari salah satu bidan yang dikunjungi, katanya sebagai ucapan terima kasih karena selama ini khususnya Kharisa selalu membantu proses saat merujuk pasien dari kliniknya ke rumah sakit.


Kharisa selalu wellcome saat dihubungi jam berapa pun dan selalu memberikan solusi saat bidan tersebut mengalami kendala dalam proses merujuk pasien, misalnya saat tidak ada kendaraan untuk mengantar pasien, Kharisa dengan cepat membantu proses penyediaan ambulan rumah sakit untuk menjemput pasien, pernah juga ada pasien rujukannya yang mengalami kendala biaya, sementara pasien tidak memiliki jaminan kesehatan, Kharisa membantu prosesnya untuk diajukan keringanan biaya dengan mendapatkan diskon dan pembayaran dengan cara diangsur ke pihak rumah sakit, karena rumah sakit sendiri sebenarnya mempunyai fungsi sosial untuk membantu masyarakat yang tidak mampu, asal bisa menunjukan bukti adminstratif kalau pasien memang dalam kondisi tidak mampu secara finansial. Namun kadang petugas lain suka malas untuk membantu prosesnya.


Ia berjalan masuk ke dalam lobi yang terlihat ramai oleh pengunjung rumah sakit, kursi tunggu di depan pendaftaran terlihat penuh, kondisi seperti ini biasa terlihat di sore hari, saat bertepatan dengan dibukanya hampir semua klinik rawat jalan. Saat akan menuju lift, tiba-tiba ia membalikan badannya hingga berhadapan dengan Zaki yang mengikutinya di belakang.


"Mas Zaki, duluan saja ke atas, aku ada urusan sebentar."


"Mau kemana? Ini gimana? Kalau sudah nyampe atas pasti pada pengen makan." Tanya Zaki sambil sedikit mengangkat makanan yang dijinjingnya.


" Aku ke depan dulu bentar, makan aja kalau ada yang mau, bagi-bagi." Kharisa bergegas ke luar lobi dengan jantung berdebar, kedua tangannya saling mere mas, ia berdiri di teras lobi, sesekali melihat ke dalam dengan wajah gelisah. Ternyata tadi ia melihat seseorang yang tidak ingin dilihatnya, melihatnya hanya mengingatkan ke masa lalunya yang membuat hatinya perih. Ya, Kharisa melihat Mami Rafael berdiri di depan lift bersama Vania. Saat ini ia tidak ingin bertemu dengan mami Rafael, tapi tidak mungkin ia berada di luar terus. Ia juga harus mengirim email yang datanya ada di komputernya, sementara waktu telah menunjukan pukul setengah empat sore. Sepertinya Mami Rafael mau ke lantai enam juga, mungkin ke ruang direktur, jadi kalau dia ke atas mungkin saja bisa bertemu. Akhirnya Kharisa menuju mushola untuk melasanakan shalat ashar.


Selesai shalat Ashar Kharisa memberanikan diri ke ruangannya, saat akan mendekati lift, kemabali ia melihat sosok wanita yang terlihat elegant berjalan keluar lift, kali ini didampingi putranya siapa lagi kalau bukan Rafael. Kharisa segera membalikan badannya berjalan de ngan cepat ke arah poliklinik rawat jalan, ia benar-benar tak ingin bertemu Maminya Rafael. Setelah memastikan Rafael dan maminya keluar lobi, ia segera masuk ke dalam lift yang terbuka menuju ruangan kerjanya di lantai enam.


"Kharisa, bakakaknya sudah di buka satu, tuh lagi pada di makan." Seru Zaki saat Kharisa masuk ruangan. Tampak Zaki , Ahmad dan Mila sedang duduk di meja meeting menikmati bakakak dengan sambalnya tanpa nasi, sementara Siska duduk di mejanya enggan untuk bergabung, dia memang jaim, pura-pura tidak mau setelah tau itu pemberian bisan untuk Kharisa, padahal dari tadi ingin mencicipinya. Apalagi setelah Kharisa datang ia makin enggan bergabung, ia lebih menilih merapihkan mejanya dan bersiap-siap untuk pulang, sepuluh menit lagi jam kerja mereka selesai. Bos mereka Andre tidak terlihat di ruangannya, dia sedang meeting dengan direktur bersama manajer yang lainnya.


"Satu lagi bawa pulang aja, bagi-bagi Mil buat Mas Ahmad dan Mas Zaki, lumayan buat teman makan malam, kalau aku di rumah pasti mamaku sudah masak." Ujar Kharisa pada Mila setelah mencicipi satu potong bagian pahanya. Bakakaknya memang enak, ayam kampung tapi tidak alot, bumbunya pun meresap sampai ke bagian dalam daging ayamnya.


Kharisa duduk di tempat kerjanya, ia mengeluarkan HP dari tasnya, lalu mengeceknya, ternyata ada panggilan masuk dan beberapa pesan di chat WAnya. Ada panggilan telpon dati Rafael, ia mengernyitkan keningnya, ada apa Rafael menghubunginya pukul setengah empat lebih, berarti tadi saat ia sedang shalat, HPnya memang di silent. Ada pesan WA juga dari Rafael.


"Sa, aku mau ajak Rakha jalan-jalan sekarang, tadi aku menghubungimu, kamu gak angkat." Kharisa mengernyit lagi, bukankan tadi Rafael bersama maminya keluar rumah sakit? Apa Rafael ke rumahnya dengan maminya? Atau hanya Rafael sendiri dan maminya pulang ke Jakarta. Tapi mengapa di saat masih jam kerja Rafael malah mengajak Rakha jalan-jalan, bukankah harusnya dia rapat dengan direktur bersama manajer lainnya?


Kini suasana hati Kharisa mendadak berkabut, membayangkan putranya yang mungkin saja sedang bertemu Omanya, seorang wanita yang dulu menolak cucunya, dan tidak mau mengakuinya. Ia kini duduk termenung, rencananya untuk mencicil membuat laporan sepertinya ia urungkan, memilih duduk diam menunggu waktu pulang.


Sementara di salah satu ruang kerja bagian keuangan, Vania berada di kubikelnya tengah menatap layar komputernya yang menampilkan tabel tagihan biaya rumah sakit untuk perusahaan asuransi kesehatan. Matanya memang menatap angka-angka yang tertera di layar monitor, tapi tidak dengan pikirannya. Masih terbayang jelas apa yang diucapkan oleh Mami Rafael tadi di rumah messnya. Ia bisa melihat kalau Mami Rafael berkata jujur, tapi hati dan pikirannya masih terus mencerna. Ia malah bersimpati pada wanita yang mengandung anaknya Rafael, jika yang diceritakan mami Rafael itu benar.


"Yang dikatakan Rafael memang benar, ia telah memiliki anak dari kekasihnya waktu SMA, tapi kamu tenang saja kamu tetap akan mejadi menantu tante, kamu dan Rafael akan melanjutkan pertunangan kalian ke jenjang pernikahan." Mami Rafael tidak menyangkal, tapi ia bersikukuh menginginkan Vania tetap menjadi menantunya.


"Tante harap kamu bisa menerima masa lalu Rafael, tante pastikan sekarang diantara mereka tidak ada hubungan apa-apa, Rafael hanya merasa bertanggung jawab pada putranya. Vania sayang kamu mau kan menerima putranya Rafael? Kamu mau kan menyayanginya seperti menyayangi anak kamu sendiri." Saat itu Mami Rafael menggenggam kedua tangan Vania, terlihat ada rasa bersalah karena kenyataannya putranya telah memiliki anak dari wanita lain, namun ia terlihat sangat berharap Vania mau menerima kekurangan dan masa lalu putranya.


"Tapi tante, Rafael sendiri tidak ingin melanjutkan pertunangan ini, ia masih mencintai wanita itu, ibu dari anaknya." Vania sendiri tidak yakin kalau pertunangannya akan berlanjut melihat bagaimana kesungguhan Rafael kemarin.


"Vania sayang, bagi tante kamu yang pantas menjadi menantu tante, sampai kapan pun tante tidak akan menerima wanita itu menjadi menantu tante, tante bisa menerima anak Rafael sebagai cucu tante, tapi tidak dengan ibunya."

__ADS_1


"Tapi kenapa tante, wanita itu telah memberikan cucu untuk tante, cucu tante pasti sangat membutuhkan keluarga yang utuh." Entah kenapa Vania merasa mami Rafael tidak adil dan ucapannya bertentangan dengan hati kecil Vania.


"Ssstt....kenapa kamu malah mendukung mereka sayang. Ada alasan khusus kenapa tante tidak bisa menerima wanita itu jadi menantu tante yang tidak bisa tante jelaskan sama kamu. Yang tante inginkan kamu bisa berperan menjadi ibu bagi cucu tante, asalkan kamu mau menerima dan menyayangi cucu tante, kamu bisa kan?"


"Maaf tante, saya belum bisa ngasih keputusan seperti apa, saya harus bicarakan dulu semua ini dengan mama dan papa." Seperti itulah jawaban Vania, walaupun mami Rafael mendukung hubungannya terus berlanjut tapi hati kecilnya sepertinya berontak. Kasihan sekali wanita itu tidak diterima oleh mami Rafael, memangnya ada apa? Ia jadi makin penasaran siapa wanita itu, Mami Rafael pasti mengetahuinya, ia pun menanyakannya di kesempatan itu.


"Tante siapa wanita itu? Tante pasti tau dan mengenalnya kan?"


"Dia hanya masa lalu Rafael, pacarnya waktu SMA, kamu tau sendiri kan pacaran jaman SMA seperti apa, ya cinta monyet gitulah."


"Boleh aku tau siapa dia tante? Namanya, tinggalnya dimana?"


"Namanya Kharisa....ah sudahlah kamu tidak usah memikirkan wanita itu, tante yakin dia tidak ada hubungan lagi dengan Rafael, selain terikat karena ada anak."


Deg.....


Nama itu sama dengan nama wanita yang sempat di curigainya, tapi apakah itu orang yang sama?


Dan kini nama itulah yang sedang berputar-putar dalam benak Vania. Ia harus memastikannya, bertanya langsung pada orangnya, yang beberapa hari kemarin sempat diawasinya, kalau benar wanita itu Kharisa staf marketing rumah sakit ini, berarti hebat sekali Kharisa bisa menutupi hubungannya dengan Rafael, bahkan tidak terlihat dan tidak ada yang tau kalau ia sudah mempunyai anak.


Ia masuk ke ruangan marketing setelah mengetuk pintu yang terbuka beberapa kali, namun tidak ada yang mempersilahkan masuk, ia pun memberanikan diri masuk untuk melihat wanita yang akan ditemuinya, tidak ada orang lain selain Kharisa yang tengah duduk di tempat kerjanya, dengan tatapan kosong.


"Ehm....." Vania gyang sudah berada di depan meja Kharisa sengaja berdehem untuk menyadarkan Kharisa, sontak saja Kharisa terkejut di depannya telah berdiri seseorang yang dikenalnya namun tidak begitu akrab dengannya.


"E...Eh....Mba Vania?" Kharisa langsung berdiri dari duduknya, jantungnya berdetak cepat karena terkejut "Ada yang bisa saya bantu? Mau ketemu Pak Andre yah? Sepertinya beliau belum kembali dari meeting dengan direktur." Ujarnya dengan sikap ramahnya.


"Aku ada perlu sama kamu, bisa kita bicara berdua?"


"A... Aku ?" Tanya Kharisa heran, perasaan tidak ada masalah pekerjaannya yang harusd dibicarakan dengan bagian keuangan, namun ia tersadar jangan-jangan soal urusannya dengan Rafael, apa Vania sudah mengetahui hubungan masa lalunya dengan Rafael?


"Bagaimana? Bisa kan aku minta waktumu sebentar?" Permintaan Vania membuat Kharisa terlihat kikuk.


"Ah...ya bisa Mbak, sebentar....." Kharisa mengambil kursi dari meja milik Mila, membawanya ke arah Vania.

__ADS_1


"Silahkan duduk Mbak." Kharisa menyodorkan kursi dan mempersilahkan Vania duduk, dengan jantung berdebar, di dalam hatinya ia bertanya-tanya, kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh Vania?


"Kamu pasti heran yah aku datang ke sini dan ingin bicara sama kamu." Ujar Vania santai, tidak terlihat sedikit pun wajah permusuhan yang ia tunjukan walau kini hatinya semakin yakin kalau Kharisa yang disebutkan Mami Rafael adalah orsng yang sama dengan yang ada di depannya, tidak seperti temannya Meita, yang selalu menunjukan permusuhan karena merasa Kharisa menjadi saingannya untuk mendekati Andre.


"Kamu tidak buru-buru pulang kan? Di luar juga hujan besar." ujarnya lagi.


"Ah ya....memangnya apa yang ingin Mbak bicarakan?" Dalam hati kecilnya Kharisa begitu khawatir kalau Vania ingin menanyakan hubungannya dengan Rafael, ia takut Vania akan menghujatnya karena mungkin saja Rafael telah membatalkan pertunangan mereka dan sekarang Vania datang melabraknya, tspi kalau dilihat dari sikap Vania ia begitu tenang dan tidak terlihat kemarahan di wajahnya, Kharisa jadi bingung sendiri.


"Aku ingin mengklarifikasi sesuatu, tapi maaf kalau ternyata aku salah, aku tidak bermaksud menuduhmu, tapi aku mohon jawab dengan jujur." Kharisa terlihat gusar, sepertinya dugaannya benar, Vania sudah mengetahuinya, mungkin saja Rafael sudah cerita semuanya, ia harus siap-siap menerima kemarahan Vania dan mungkin saja Vania akan membencinya.


"Apa kamu memiliki hubungan dengan Rafael?" Tanya Vania, Kharisa tertegun mendengar pertanyaan Vania, ia bingung harus menjawab apa, karena sejujurnya untuk saat ini memang ia tidak memiliki hubungan khusus dengan Rafael selain sebatas Rafael adalah ayah dari putranya.


" A..aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Rafael Mbak, eh dengan dokter Rafael maksudnya." Jawab Kharisa gugup, entah kenapa ia begitu gugup padahal Vania bertanya baik-baik.


"Memiliki hubungan di masa lalu mungkin? Kamu tidak usah takut, aku tidak akan ngapa-ngapain kamu, aku hanya perlu tau cerita yang sebenarnya seperti apa." Melihat Kharisa gugup membuat Vania kini semakin yakin kalau wanita yang dicintai Rafael adalah Kharisa yang ada di depannya. " Rafael sudah bilang kalau ia sudah memiliki anak dari wanita yang dicintainya."


"Mba, aku memang memiliki cerita masa lalu dengan Rafael tapi sungguh, saat ini aku tidak punya hubungan apa-apa dengan dia, dan aku tidak akan mengganggu hubungan pertunangan Mbak dengan Rafael, sungguh Mbak."


"Siapa yang bilang kamu merusak hubungan kami? Aku hanya ingin mendengar cerita langsung dari kamu, tantang hubunganmu dengan Rafael, tentang anak kalian juga."


"Anggap saja sekarang kita sedang bicara dari hati ke hati." Ujar Vania santai.


Kharisa pun mulai dengan ceritanya, biarlah Vania mengetahui semuanya, walau hatinya merasakan perih kembali, seolah mengorek luka lama, Kharisa pun tidak bisa menahan kesedihannya, ia ceritakan seadanya, tidak ditambah dan dikurangi bagaimana perjuangannya saat hamil, melahirkan dan membesarkan putranya, juga usahanya agar Rafael tau keberadaan anaknya, yang tak pernah mendapat sambutan dari maminya Rafael. Tanpa disadari Vania pun ikut berlinangan air mata merasakan kepedihan yang dialami Kharisa.


Dan tak terasa waktu pun semakin beranjak.


Senja pun datang, tapi senja hari ini sepertinya tidak ingin menampakan keindahannya,Ā  tidak ada lembayung senja dengan warna merah jingganya menghantarkan Sang Surya ke peraduannya. Yang terlihat langit menjadi hitam, gelap dan hujan pun masih turun dengan lebatnya, seolah alam pun ikut merasakan suasana hati dua wanita yang sedang terlena dalam kesedihan.


bersambung


Ternyata Vania tidak sejelek yang dibayangkan ya teman-teman, ia berhati lembut, dan ternyata tidak egois, karena yang ia pikirkan bukan kebahagiaannya tapi kebahagiaan orang tuanya.


Yok ah kasih likenya, juga komenya, bebas mau komen apa saja, tang saja othor mah gak baperanšŸ¤—

__ADS_1


Thanks atas dukungan semuanya.


__ADS_2