Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Gara-gara Cicak


__ADS_3

Satu persatu peserta meeting meninggalkan ruangan setelah ditutup oleh sekretaris direktur sebagai pengatur acara termasuk direktur. Arjuna masih duduk di kursinya sepertinya sedang menunggu kesempatan untuk menyapa Kharisa yang tengah berbincang dengan salah satu kepala ruangan. Rafael yang berada tidak jauh darinya masih terlihat sedang sibuk dengan laptopnya, entah apa yang sedang ia kerjakan, sepintas terlihat ia membuka beberapa file dalam bentuk microsoft word dan sepertinya ia belum akan meninggalkan ruang meeting, tentu saja karena ia tengah menunggu kesempatan berdua dengan Kharisa, ia yakin Kharisa akan menuruti permintaannya untuk tidak meninggalkan ruangan.


"Dokter Arjuna belum kembali ke ruangan? Hari ini tidak ada pasien rawat inap yang perlu perhatian khusus kan?" Sepertinya Rafael bermaksud mengusir dokter Arjuna secara halus.


"Info dari dokter jaga malam aman dok, hanya pasien ICU ada yang rencana di rujuk ke Setya Medika pusat, rencana Craniotomy, dokter Edward tidak bisa operasi karena sedang di Jerman selama satu minggu, ini pasien jaminan perusahaan, sekarang lagi nunggu konfirmasi kesiapan ICU di pusat." Jelas Arjuna yang tidak paham maksud Rafael agar Arjuna segera meninggalkan ruangan.


"Ya sudah, sekarang pastikan pasiennya segera dirujuk, pastikan juga kondisi pasien di perjalanan bisa aman."


"Oh..baik dok, saya akan follow up dulu pasien ICU, permisi." Akhirnya Arjuna beranjak keluar ruangan, sebelumnya sempat menyapa Kharisa dengan menggodanya.


"Neng, kemana aja, A Juna sampai kangen." Godanya memotong pembicaraan Kharisa dengan kepala ruangan.


"Ah dokter Juna, aku ada terus, dokter Juna yang kemana saja, sekarang sibuk jadi PJ yah?" Seperti biasa Kharisa sudah paham gaya Arjuna yang suka menggodanya, tapi tidak membuatnya jadi ge er.


"Ayo, mau di sini terus?" tanya Arjuna


"Oalah...sampai keenakan, ngobrol sama yang cantik memang membuat lupa waktu." ujar ibu kepala ruangan.


"Dokter Juna sebentar, bareng sama Ibu ke bawahnya. Kharisa Ibu ke bawah yah, maaf loh jadi ganggu waktunya." Ujarnya lagi, sambil membereskan barang yang dibawanya dengan tergesa-gesa, kemudian ia keluar ruangan.


Kini tinggal Kharisa dengan Rafael di ruangan itu. Kharisa merapihkan hand out laporan, alat tulis dan flasdisknya kedalam zipper bag.


"Makasih ya Sa, sudah mau ngasih waktu." Rafael beranjak mendekati Kharisa, duduk di sebelahnya.


"Apa yang mau kamu bicarakan? Kalu soal yang kemarin aku tidak mau bahas lagi." Ujar Kharisa sedikit ketus, ia mulai membangun lagi benteng pertahanannya.


"Please Sa....kalau kamu sudah tidak mencintai aku, paling tidak pikirkan lagi demi Rakha, anak kita." Benar saja Rafael melanjutkan topik obrolan kemarin yang sebenarnya dihindari Kharisa.


"Apa kamu tidak lihat bagaimana dia berharap aku bisa tinggal bersamanya, sudah dua kali dia menanyakan kapan aku tinggal bareng dia, kenapa aku selalu pulang, dan mungkin dia akan terus bertanya sepertu itu. Apa kamu tidak merasa tersentuh ingin membuat Rakha bahagia."

__ADS_1


"Cukup! Apa kamu pikir aku tidak ingin melihat dia bahagia? Kamu pikir yang aku lakukan selama ini bukan untuk kebahagiaan Rakha, bagiku Rakhalah yang menjadi prioritasku." Ucapan Rafael malah memancing emosi Kharisa, jelas saja setelah apa yang ia lakukan untuk Rakha, dengan entengnya Rafael menganggap ia tidak ingin membuat Rakha bahagia.


"Klau begitu ayo kita buat Rakha bahagia, kita hidup bersama menjadi keluarga, menjadi orang tua yang utuh buat Rakha, dia pasti bahagia." Ujar Rafael penuh harap.


"Tidak harus dengan cara seperti itu juga El, sampai saat ini Rakha tidak pernah kekurangan kasih sayang, kebutuhan dia terpenuhi walaupun kami hidup sederhana, dengan dia tau dan bisa melihat dadynya ada itu sudah cukup membuat dia bahagia. Aku juga tidak akan membatasi hubungan kamu dengan Rakha, karena aku sadar dia membutuhkan figur ayah. Tapi untuk hidup bersama, maaf El aku tidak bisa. Aku sudah nyaman dengan keadaan sekarang, aku sudah lelah memperjuangkan kebersamaan kita, tantangannya terlalu berat, aku mohon kamu mengerti aku El." Pertahanan Kharisa cukup kuat, walaupun sebenarnya hatinya ingin berkata lain.


"Kamu egois Sa....kamu tidak memikirkan masa depan Rakha, dia pasti akan lebih bahagia kalau bisa bersama momy dan dadynya, kamu tidak lihat bagaimana kebanyakan anak-anak yang tumbuh karena orang tuanya berpisah, anak-anak broken home? Aku tidak ingin Rakha tumbuh seperti itu, kamu juga tentu gak mau kan?"


"Tentu saja tidak, makanya aku tidak akan pernah melarang kamu dengan Rakha, kamu bisa tetap memberikan kasing sayang, perhatian, pendidikan padanya, setelah usianya cukup aku akan memberikan pengertian padanya kenapa kita tidak bersama, dia pasti akan mengerti, yang penting dia tetap mendapatkan kasih sayang dari aku dan kamu." Kharisa masih tetap dengan pendiriannya, kalau saja Rafael belum bertunangan dengan wanita lain, mungkin Kharisa akan mempertimbangkan permintaan Rafael, siapa yang tidak ingin hidup bersama orang yang dicintai, apalagi sudah ada buah hati yang membutuhkan keluarga yang bisa melindungi dan saling memberikannya kasih sayang. Kharisa pun menginginkan itu, tapi kalau harus merusak kebahagiaan wanita lain, apalagi orang tua Rafael belum tentu mendukung hubungan mereka, lebih baik Kharisa mengalah.


"Sepertinya dugaanku memang benar, kalau kalian itu ada hubungan spesial." Kini emosi Rafael sudah tidak bisa dibendung lagi, kecemburuan yang dipendamnya sejak kemarin membuatnya yakin kalau Kharisa punya hubungan spesial dengan laki - laki yang hampir seharian kemarin ikut berkumpul bersamanya dan keluarga Kharisa, menyebut namanya pun ia engan.


"Kalian? Siapa?" Tanya Kharisa bingung.


"Siapa lagi kalau bukan kamu dan laki-laki itu." Jawab Rafael sinis.


"Ck...Faisal?" Kharisa menarik nafas panjang, ia heran, selalu saja Rafael membawa-bawa Faisal, padahal sudah dijelaskan tidak ada hubungan apa-apa dengan Faisal selain menganggapnya sebagai sahabat, kakak yang selalu membantu dan mendukungnya, tapi memang sih ia merasa nyaman saat berdekatan dengan Faisal, tapi kalau dikatakan memiliki hubungan spesial sepertinya tidak, atau belum mungkin, tidak ada pembicaraan khusus sampai ke sana antara Kharisa dengan Rafael


"Hhhhh...jadi benar, karena itu kamu menolak aku kan? Sebenarnya bukan karena statusku yang telah bertunangan, tapi karena kamu telah menerima laki-laki lain, benar kan?" Rafael terlihat geram.


"Sudahlah El, terserah kamu berpikir seperti apa, aku rasa obrolan kita cukup sampai di sini, aku tidak mau membuat orang lain curiga, apalagi sampai Vania yang curiga." Kharisa sengaja menyebut nama Vania agar Rafael sadar, ada wanita lain yang seharusnya ia perhatikan sebagai calon istrinya.


"Aku harus kembali bekerja." Kharisa beranjak berdiri menenteng zipper bag nya. Namun saat ia akan melewati Rafael, Rafael berdiri menghalanginya, meraih pergelanan tangan Kharisa dengan tatapan tajam penuh kekecewaan.


"Lepas El...." Kharisa berusaha menarik tangannya namun Rafael tak mau melepasnya, ia malah menarik tubuh Kharisa ke dalam pelukannya membuat Kharisa tersentak.


"Mau apa kamu, lepaskan El." Kharisa mendorong dada Rafael tapi percuma tenaganya tidak kuat untuk melepaskan diri dari pelukan Rafael, ia terkunci dalam rangkulan kedua tangan Rafael.


"Aku hanya ingin memelukmu Sa, aku sangat merindukan kamu." Rafael malah membenamkan kepala Kharisa ke dadanya kemudian mengecup pucuk kepala Kharisa.

__ADS_1


"Jangan seperti ini El, aku mohon lepas, nanti ada orang lihat." Suara Kharisa terdengar bergetar, ia takut tiba-tiba ada orang datang dan melihat mereka meperti ini.


Tangan kanan Rafael mengangkat dagu Kharisa hingga kepalanya terangkat membuat wajah mereka berhadapan, sementara tangan kirinya masih merangkul tubuh Kharisa. Buru-buru Kharisa memalingkan tatapannya dari wajah laki-laki yang membuat jantungnya hampir copot.


"Lihat aku Sa, lihat mataku, apa kamu tidak lihat ada cinta dan rindu di mataku, aku juga bisa lihat dari matamu, kamu masih menyimpan rasa cinta untukku, benar kan Sa?" Kharisa menggelengkan kepalanya. "Lepas El." ujarnya, ia masih berusaha melepaskan diri dengan menggerak-gerakkan tubuhnya.


Entah Rafael dirasuki setan apa, dengan lancang dia mendekatkan bibirnya pada bibir Kharisa, sontak saja Kharisa menghindar dengan memalingkan wajahnya namun terlambat, bibirnya telah lebih dulu tersentuh walau hanya satu dua detik, membuat Kharisa semakin berusaha kuat melepaskan diri, matanya mulai berkaca-kaca, rasanya ingin menangis saja, ia takut sekaligus kecewa dengan sikap Rafael yang berani berbuat tidak senonoh padanya.


"Rafael....apa yang kamu lakukan?" Kharisa menginjak kaki Rafael dengan sekuat tenaga, membuat Rafael meringis, dan saat merasakan pelukannya kendor Kharisa mendorong tubuh Rafael hingga pelukannya terlepas. Ia mengambil zipper bagnya yang terjatuh di lantai, kemudian mendorong tubuh Rafael agar tidak menghalanginya, ia pun mengambil jalan kosong yang mepet ke dinding, namun baru saja dua langkah ia dikagetkan dengan sesuatu yang merayap di dinding dari bawah, dengan cepat bergerak ke atas melewati kepalanya.


"Cicaaakkk......Aaaaaahhh, Hiiiyyyyyyyyyy. Teriak Kharisa, ia berbalik lagi, dengan reflek ia mendekat ke tubuh Rafael, menempel di dadanya, sambil bergidik dan memejamkan mata. Tentu saja Rafael langsung memanfaatkan kesempatan untuk merangkul kembali tubuh Kharisa dengan senyum smirk di bibirnya.


"Teenyata kamu masih taku cicak Sa." ujar Rafael sambil menepuk-nepuk pelan punggung wanita yang dicintainya. Kejadian seperti ini bukan yang pertama kali, mungkin ini yang ke tiga atau empat kalinya, dulu saat pacaran masa SMA pernah kejadian seperti ini. Takut pada cicak, lebih ke arah jijik lebih tepatnya pada binatang yang sering menempel di dinding itu membuat Kharisa kadang histeris saat melihat dan dekat dengan binatang itu. Kalau sedang bersama Faisal, biasanya Faisal menangkapnya dan membuangnya setelah dimatikan sebelumnya. Cicak memang salah satu binatang yang dianjurkan dibunuh, selain dianggap sebagai binatang penghantar sihir, juga mengotori rumah dengan kotorannya yang termasuk najis.


Ceklek....


Tiba-tiba terdengar seperti ada seseorang menbuka pintu ruang meeting. Pintu pun terbuka. Benar saja seseorang masuk ke ruangan itu.


" Oh maaf......saya tidak bermaksud mengganggu, saya hanya mencari barang yang mungkin tertinggal di sini. Maaf saya permisi." Orang itu langung keluar dan mutup pintu kembali. Dengan penuh kesadaran Kharisa mendorong Rafael hingga terduduk di kursi, Kharisa segera keluar, mengejar orang yang tadi masuk yang tentu saja dikenalinya.


"Mbak tunggu......"


bersambung.....


Hadeeeuuh...Rafael bikin masalah saja, dan si cicak itu bikin gara-gara juga, (cicak disalahin) hingga membuat Kharisa tanpa sadar malah mendekati Rafael lagi. Pasti orang yang lihat tuh salah paham, memang posisi Rafael juga tengah merangkul Kharisa, gimana gak bikin salah paham, bener gak?


Ya sudah, kita lihat saja apakah sudah saatnya terbongkar hubungan masa lalu Kharisa dengan Rafael. Yang ingin Kharisa jadian sama Rafael atau Faisal sabar yah, ceritanya masih panjang, jadi pantengin terus, yang pasti happy ending😁😘


Ayo sekarang like dan komen dulu biar othor semangat Up nya.🤗

__ADS_1


Hatur nuhun🙏


__ADS_2