Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Bahagia Melihatnya Bahagia


__ADS_3

POV Faisal


Betapa bahagianya aku mendengar kalau Bi Dewi sudah baikan dengan suaminya, sudah saling memaafkan bahkan sepertinya akan kembali bersama-sama. Aku pun melihat kebahagiaan Kharisa terpancar di wajahnya, matanya tampak berbinar saat mengatakan "Mama lagi dipelaminan, dampingi Papa.....Ah A Isal nanti aku mau cerita, pokoknya hari ini aku seneeeng banget." Akhirnya harapannya untuk menyatukan orang tuanya terwujud. Selama ini ia selalu merasa bersalah karena yang menjadi penyebab mama dan papanya berpisah, tapi aku selalu meyakinkan kalau apa yang terjadi pada keluarganya adalah bagian garis takdir yang memang sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa, tidak perlu disesali, tinggal ambil hikmahnya saja.


"Kalau Neng dan mama gak pergi dari rumah, kita gak akan saling kenal, A Isal gak akan ketemu dan kenal sama Rakha, iya kan? Semua memang sudah Allah tuliskan kalau A Isal itu akan ketemu wanita yang sabar, ibu yang hebat, momynya Rakha Athaillah Prasetya."


"Bukankah Neng pernah bilang dengan ujian yang Allah berikan, Neng merasa menjadi manusia yang lebih baik, lebih taat melaksanakan perintah Allah, begitu juga dengan mamanya Neng. Begitulah cara Allah mengangkat derajat manusia, Allah berikan ujian dengan solusinya dan Allah siapkan hadiahnya." Kata-kata seperti itulah yang selalu aku katakan pada Kharisa untuk menghilangkan rasa bersalahnya.


Saat berada di pelaminan kulihat wajah Bi Dewi terlihat berseri saat aku mengucapkan selamat pada kedua mempelai, ia berdiri di samping suaminya, dan mereka terlihat serasi meskipun perbedaan usia yang cukup jauh antata Bi Dewi dan suaminya, papanya Kharisa memang terlihat awet muda, mungkin usianya di atas ayahku, tapi tubuhnya masih terlihat tegap.


"Maafkan sikap Om dulu, Om terbawa emosi." Ujar Papa Kharisa saat kami bersalaman, ia menepuk bahuku "Nanti om ingin bicara sama kamu, setelah ini selesai, bisa?" Aku sedikit kaget, rupanya papa Kharisa mengingat saat ia menghajarku tanpa bertanya terlebih dulu. Entah apa yang ingin ia bicarakan namun dari sorot matanya terlihat wajah penyesalan, mungkin ia akan meminta maaf lagi secara khusus. Entahlah.....yang pasti setelah turun dari pelaminan mengucapkan selamat kepada Mas Rendi dan istrinya, kulihat ada seseorang dengan wajah muram, ia Rafael, sepertinya ia mendengar yang diucapkan papa Kharisa padaku, sementara ia hanya bersalaman biasa dengan papa Kharisa, apa papa Kharisa belum tau kalau itu adalah ayah dari cucunya?


Sejak pertama bertemu tadi aku lihat wajahnya terlihat masam, sepertinya tidak suka dengan kedatanganku, tapi aku kan datang ke acara ini tujuannya untuk memenuhi undangan Mas Rendi, tidak ada hubungannya dengan dia, hanya kebetulan saja bertemu. Tapi aku bisa memahami dia bersikap seperti itu, dia pasti cemburu, tidak suka dengan kedekatanku dengan Rakha dan momynya. Padahal tidak perlu bersikap seperti itu, aku pun tau batasanku, kedekatanku denga Rakha dan Kharisa karena memang sudah menganggap mereka saudaraku sendiri, Rakha sudah kuanggap seperti anakku sendiri, walaupun aku belum pernah pengalaman punya anak itu seperti apa, tapi Rakha sudah kuasuh sejak ia lahir, jadi wajar saja aku dekat dengannya, begitu pun Rakha yang merasa dekat denganku bahkan seperti ada ikatan batin.


Kharisa sendiri sudah kuanggap sebagai adikku, walau sebenarnya dalam hatiku tumbuh perasaan yang lebih dari sekedar menganggapnya adik, tapi aku selalu berusaha membuangnya jauh-jauh. Berkali-kali aku tidak menanggapi perasaan itu, tapi tetap saja rasa itu selalu muncul saat bertemu dengannya, debaran jantung yang berbeda kurasakan saat berdekatan dengannya. Rasa itu semakin kuat saat kami tinggal berjauhan, rasa rindu saat tidak berjumpa dengannya selalu menggoda hingga rasa bahagia kurasakan walau hanya mendengar suaranya lewat telfon. Tapi aku sadar, rasa itu tidak boleh hadir terlalu dalam di hatiku, ini hanya hawa nafsuku, dan mungkin saja Kharisa tidak memiliki rasa yang sama terhadapku, bukan mungkin lagi, tapi bisa dipastikan Kharisa sama sekali tidak memiliki rasa itu. Aku tau sampai saat ini Kharisa masih mencintai Rafael, ayah dari putranya. Dan aku tidak ingin hubunganku dengan Kharisa berubah jika dia tau kalau aku sebenarnya memiliki perasaan suka padanya, bisa saja dia akan menjauhiku jika tau aku menyukainya. Selama ini kami sama-sama tau saling menyayangi, tapi hanya sebatas sayang kakak terhadap adiknya dan sebaliknya.


Jadi sebenarnya Rafael tidak perlu takut kehilangan Kharisa, aku pun akan mendukung jika mereka hidup bersama, Rakha membutuhkan orang tua yang utuh, dan Rakha terlihat bahagia setelah bertemu ayahnya. Aku pun akan bahagia melihat Kharisa dan Rakha bahagia walaupun pasti ada sedikit rasa perih di hatiku, tapi aku percaya Allah Maha Pembolak balik hati, dan akupun percaya dengan ketetapan jodoh yang sudah Allah tetapkan. Aku yakin Allah telah menyiapkan jodoh terbaik untukku dan akan memberikannya di saat yang tepat. Saat ini aku pun belum berniat menjemput jodohku, aku ingin konsen meniti karirku dulu, melanjutkan pendidikanku juga membahagiakan orang tuaku.


Pukul dua siang aku masih berada di tempat resepsi, sesuai pesan dari papa Kharisa yang katanya ingin berbicara denganku setelah acara selesai. Bi Dewi juga mengajak pulang bareng, aku pun tidak bisa menolak, lumayan ada tumpangan setengah jalan, nanti tinggal melanjutkan perjalanan ke Bandung dengan menggunakan travel atau bis.


Kharisa, Bi Nani dan Rakha sedang ke kamar hotel tempatnya menginap untuk ganti baju sekalian merapihkan kopernya dan check out kamar. Sedangkan Rafael bersamaan dengan Kharisa ke kamar ia meninggalkan gedung, sebelumnya ia mengajak Kharisa untuk pulang bareng, tapi Kharisa menolak karena sudah ada supir dan mobil yang disiapkan papanya untuk mengantarkan Kharisa dan mamanya pulang. Kekecewaan terlihat di wajah Rafael, aku bisa merasakan apa dirasakannya, harapannya pasti ingin bersama-sama putranya juga Kharisa,namun tidak bisa terlaksana. Kharisa sepertinya masih belum memutuskan untuk menerima Rafael kembali walaupun ia mencintainya. Aku tau Kharisa masih takut dengan ibunya Rafael yang masih belum mau menerimanya. Ah semoga saja kalau mereka berjodoh, Allah mudahkan segalanya, mudah bagi Allah untuk melembutkan ibunya Rafael.

__ADS_1


Kulihat papa Kharisa turun dari pelaminan menggandeng Bi Dewi, aku pun menghampirinya.


"Terima kasih sudah mau menunggu." Ujar Papa Kharisa. Ternyata bisa ramah juga, beda sekali saat aku bertemu untuk pertama kalinya yang penuh kemarahan.


"Ya Om, kebetulan tidak ada kegiatan lain."


"Kita ngobrol di sana." menunjuk meja bulat area VIP. Aku pun mengikuti langkahnya, duduk di kursi meja bulat.


"Sekali lagi Om mau minta maaf atas tindakan Om dulu, Om terbawa emosi mengingat laki-laki yang telah merusak putri Om, sampai Om kira laki-laki itu kamu tanpa bertanya terlebih dahulu."


"Gak apa-apa Om, saya mengerti perasaan Om saat itu." Ujarku, tidak ingin Papa Kharisa merasa bersalah.


"Om juga ingin mengucapkan terima kasih, kamu telah menjaga putri dan cucu Om, dan Om lihat Kharisa banyak berubah, dia lebih dewasa tidak manja lagi. Mama Kharisa cerita bagaimana kamu mendampingi Kharisa saat masa sulitnya. Om bersyukur Kharisa dipertemukan dengan orang-orang baik. Sekali lagi Om ucapkan terima kasih." Ucapan papa Kharisa terdengar sangat tulus.


"Sebagai ucapan terima kasih, Om ingin memberimu hadiah, ya anggap saja hadiah sebagai ucapan terima kasih Om walaupun terlambat."


"Tidak usah repot-repot Om, apa yang saya lakukan pada Kharisa memang sudah seharusnya, kami berteman dan bersahabat." Aku jadi merasa tidak enak, sunggu aku tidak mengharapkan balasan apapun dari keluarga Kharisa, karena aku memang tulus menganggapnya sahabat, bahkan saudara.


"Mama Kharisa bilang kamu jadi dosen di almamatermu? Yang Om tau jadi dosen itu harus terus meng up grade ilmunya, pendidikannya pun minimal S2 kan?"


"Ya Om." Aku menjawabnya sambil menganggukan kepala.

__ADS_1


"Kamu ada rencana untuk melanjutkan S2?"


"Ada Om." Jawabku jujur.


"Bagus......Kalau kamu lulus masuk program S2, kabarin Om, Om yang akan tanggung biayanya sampai lulus." Aku tersentak kaget mendengar apa yang diucapkan Papa Kharisa.


E..eh....tidak usah Om, rencananya saya mau cari program beasiswa, saya pun rencananya mau coba ikut tes program beasiswa luar negeri." Tentu saja ku tidak ingin menyusahkan papa Kharisa.


"Hmm....pokoknya kabarin Om kalau kamu lulus masuk program S2." Papa menepuk bahu lenganku. Aku pun tidak membantahnya lagi.


"Lalu rencana hubunganmu dengan Kharisa bagaimana?"


"Hah...gimana Om?" terus terang aku tidak mengerti dengan pertanyaan yang ini.


"Kamu tidak ada rencana untuk melamar putrim ?" Pertanyaan papa Kharisa membuat jantungku berdebar


"E...eh.....kami hanya bersahabat Om, kami memang sangat dekat, saya, Rakha dan Kharisa, tapi tidak terpikirkan untuk menjalin hubungan lebih jauh, maaf Om."Ujarku jujur. Papa Kharisa sepertinya belum tau keberadaan Rafael, apa Kharisa bekum mengenalkan Rafael ke papanya?


"Hmmm...padahal Om sangat senang kalau kamu bisa mendampingi Kharisa, Om lihat kamu laki-laki bertanggung jawab, Rakha pun sudah menganggapmu seperti Ayahnya."


"Ah...maaf Om kami hanya bersahabat." Ya bersahabat, karena aku tau siapa laki-laki yang dicintai Kharisa. Dan aku ingin dia bahagia. Aku akan bahagia melihatnya bahagia.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2