Jangan Ambil Anakku

Jangan Ambil Anakku
Dia Anakku


__ADS_3

"Om doktel ayo masuk....." Rakha menarik tangan Rafael membawanya ke ruang tamu. Rafael pun mengikuti Rakha dengan menenteng bingkisan dua kantong plastik besar di tangan kirinya.


" Silahkan Om doktel duduk." Sebelum Rafael duduk, Rakha lebih dulu duduk di sofa panjang, Rafael pun duduk di sofa tunggal di depannya terhalang oleh meja, ia meletakkan bingkisan di lantai di sebelah kirinya.


"Om doktel kok tau lumah aku?" Tanya Rakha heran, ia memang anak yang kritis, akan bertanya apapun yang membuatnya penasaran, termasuk saat ini ia penasaran kenapa Om dokter yang tadi ditemui di sekolahnya bisa datang ke rumahnya.


"Karena Om....." Rafael menjeda sejenak, hatinya miris menyebut dirinya sendiri dengan sebutan Om di hadapan darah dagingnya sendiri.


"Karena Om tau dari Momy Rakha, Om temannya momy Rakha." Jawab Rafael sedikit berbohong, sebenarnya ia mengetahui rumah ini karena pernah menguntit Kharisa, bahkan mengamatinya hampir satu minggu.


"Owh....jadi Om doktel temannya Momy." Rakha manggut-manggut. "Teman kelja ya Om di lumah sakit?" Tanyanya lagi memastikan.


"Iya, Om sama momy Rakha kerja di rumah sakit yang sama." Jawab Rafael, sejak tadi hatinya berdesir memperhatikan Rakha yang terus bertanya, terbayang bagaimana Kharisa akan menjawab pertanyaan-pertanyaan putranya apalagi saat bertanya tentang dadynya.


"Jadi Om doktel ke sini bukan mau ketemu aku yah, mau ketemu momy?" Kali ini wajah Rakha terkihat sedikit kecewa.


"Om mau ketemu Rakha kok, makanya ni Om bawa ini buat Rakha." Rafael memperlihatkan dua bungkusan di sampingnya.


"Om bawa mainan sama snack buat Rakha, tapi Om gak tau mainan dan snack apa yang disukai Rakha, coba sini lihat Rakha suka gak?" Rakha buru-buru turun dari sofa mendekati bungkusan yang ditunjukan Rafael.


"Waah Om doktel ini mainannya banyak sekali, ini buat aku semuanya?" Rakha mengeluarkan satu-satu mainan dari kantong plastik besar berlogo toko mainan yang terkenal di kota itu. Terlihat ada beberapa mobil hotwheel dan lintasan tracknya, robot yang bisa berubah menjadi mobil, bola basket dengan ringnya yang bisa ditempel di dinding, lego dan beberapa miniatur tokoh kartun Disney, Dragon Ball, Avangers.


"Iya, semuanya buat Rakha, Rakha suka gak?" Rafael melebarkan senyumnya melihat Rakha bersemangat mengeluarkan mainan dan terlihat begitu takjub.


"Suka, suka Om Doktel." Jawab Rakha dengan sumringah, namun sesaat kemudian wajahnya terlihat merengut.


"Tapi Om Doktel halus bilang dulu sama Momy, boleh nggak mainannya buat aku." ujarnya sambil menunduk.


"Pasti boleh, ini kan hadiah dari Om, nanti Om bilang ke Momy Rakha." Wajah Rakha kembali berseri.


"Ada tamu siapa sayang?" Seorang wanita yang usianya belum mencapai setengah abad menghampiri ruang tamu, dia masih terlihat cantik, sepintas mirip dengan Kharisa, dan Rafael sangat yakin kalau ini mamanya Kharisa sama seperti yang beberapa hari yang lalu dilihatnya di teras. Jantungnya kini terasa berdetak cepat, bagaimana pun rasa bersalah kepada Kharisa dan mamanya kini menyelimuti hatinya. Ada rasa khawatir mama Kharisa akan membencinya dan tidak mau menerimanya, tapi ia sudah siap dengan resiko itu, tujuan kedatangannya ke rumah ini selain untuk bertemu putranya, juga untuk menemui mama Kharisa, tentu saja untuk meminta maaf. Dan kini mama Kharisa ada di hadapannya.


"Ada Om Doktel Oma, Om Doktel teman keljanya Momy, tapi Om Doktel ke sini mau ketemu aku, liat Oma Om Doktel ngasih hadiah banyak mainan buat aku." Mama megernyit melihat mainan sebanyak itu untuk cucunya, belum lagi satu kantong di sebelahnya yang berisi makanan. Kemudian mama beralih menatap laki-laki di depannya yang telah berdiri dan menganggukan kepala dengan senyum di bibirnya.


"Maaf tante kalau kedatangan saya mengganggu, saya Rafael." Rafael mengulurkan tangan kanannya hendak meraih tangan mama Kharisa yang tampak tertegun.


Rafael......nama itu tentu tidak asing bagi mama, ia masih ingat saat putrinya menyebutkan siapa laki-laki yang telah menghamilinya. Bahkan ia beberapa kali menanyakan kabar Rafael kepada putrinya, apa sudah bisa dihubungi, atau sudah dapat nomor kontaknya. Terakhir ia menanyakan kepada putrinya apakah masih menunggu Rafael? Dan memberikan saran untuk tidak banyak berharap akan kemunculannya bahkan lebih baik melupakannya dan mulai berpikir rencana ke depan untuk mencari sosok ayah yang tepat untuk Rakha, dan yang mama usulkan adalah mencoba membuka hati untuk Faisal.


Namun kini Laki-laki yang ditunggu putrinya telah ada di depannya.


"Tante......" Rafael meraih tangan kanan mama dan mencium punggung tangannya. Mama sedikit tersentak karena kaget.

__ADS_1


"Oh...iya, silahkan duduk." Ujar Mama setelah menatap wajah Rafael dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Sayang...panggil Momy di dapur, bilang ada tamu." Ujar Mama pada cucunya, Rakha pun mengangguk dan beranjak menuju dapur.


Kini tinggal mama berdua duduk berhadapan dengan Rafael.


"Tante.....saya ingin minta maaf atas apa yang dialami Kharisa dan tante beserta keluarga, semua karena kesalahan saya, tapi sungguh tante saya tidak mengetahui kalau Kharisa hamil dan melahirkan Rakha. Saya sungguh-sungguh minta maaf Tante, kesalahan saya memang sangat besar tapi saya sangat berharap tante mau memaafkan saya." Mama bisa melihat Rafael meminta maaf dengan sungguh-sungguh, dan ia pun pasti akan memaafkannya. Mama tidak ingin meyimpan dendam kepada siapa pun, setiap orang pasti punya kesalahan, termasuk ia pun pasti punya salah pada orang lain yang mungkin disengaja atau tidak disengaja. Jadi kalau ada orang yang merasa bersalah kemudian meminta maaf dengan tulus akan lebih baik untuk dimaafkan dengan hati lapang.


"Saya maafkan......tapi saya mohon kedepannya jangan pernah sakiti lagi Kharisa, sudah cukup penderitaannya selama ini, kini saatnya dia bahagia, jadi saya mohon biarkan dia bahagia bersama putranya." Ucapan mama begitu sukit diartikan oleh Rafael. Ia pun setuju dan berjanji tidak akan menyakiti lagi Kharisa dan akan membuat Karisa bahagia, tapi apa maksudnya biarkan dia bahagia dengan putranya, apa itu berarti ia tidak diijinkan untuk bersama dengan Kharisa dan Rakha, membahagiakan mereka? Rafael membuang jauh dugaaannya, bukan seperti itu maksud mama Kharisa, batinnya.


"Momy....lihat itu, Om doktel bawa hadiah buat aku banyak....." Rakha yang tengah menuntun momynya menunjuk ke mainan yang ada di lantai. Kharisa menoleh ke arah Rafael dengan tatapan mata tajam menyiratkan tanda tidak setuju dengan apa yang dilakukan Rafael membawakan banyak hadiah untuk Rakha. Sementara Rafael hanya tersenyum sambil mengedikan kedua bahunya.


"Rakha mau di sini atau mau ikut Oma ke dalam?" Tanya Omanya yang telah berdiri.


"Aku mau di sini, mau buka mainannya." Rakha pun duduk di lantai di hadapan mainannya


"Tante tinggal ke dalam...." ujar Mama sambil beranjak meninggalkan mereka bertiga.


"Hai Sa....." Ah ya tadi Rafael belum menyapa Kharisa. Sementara Kharisa yang telah duduk di sofa masih menunjukan ekspresi tidak setujunya melihat banyak mainan di lantai.


"Aku boleh bermain dengan Raka yah." Ujar Rafael, namun Kharisa masih diam dengan wajah cemberut. "Jangan cemberut gitu dong." ujarnya lagi sambil senyum menggoda. Kharisa langsung memalingkan wajahnya.


"Momy aku boleh kan buka mainan yang ini?" Raka menunjukan dus berwarna biru bergambar mobil dan lintasan tracknya bertuliskan hot wheels.


Rafael pun ikut duduk disamping Rakha, mengajak Rakha bermain bersama.


"Kita pasang dulu track lintasannyanya, nanti mobilnya bisa jalan sendiri di sini."


"Nah, selesai, eh ini batrenya harus dipasang dulu agar bisa mendorong mobilnya melaju kencang."


"Oke.....sekarang tinggal mainkan mobilnya, simpan di sini lu tekan tombol ini, agar mobilnya terdorong." Rakha menyimpan mobil ukuran mini berwarna merah, warna favoritnya, di lintasan start, kemudian menekan tombol dan mobil pun melaju kencang melewati lintasan rollcoaster, mobil berbahan besi itu tidak terjatuh dan berakhir di finish.


"Yeeeehhh......keren....mobilnya bisa naik dan tidak jatuh." Rakha bersorak kegirangan. Rafael tersenyum bahagia melihat putranya kegirangan, tapi sayang dia saat ini masih harus dipanggil Om. Sabar El tidak lama lagi dia memanggilmu Dady, hibur hatinya.


"Sekalang gigililan Om doktel, ayo Om." Ujar Rakha bersemangat.


"Oke, Om mobilnya warna biru deh." Rafael pun melakukan hal sama dengan yang dilajukan Rakha tadi. Rakha pun kembali bersorak saat mobil milik Rafael berhasil melewati lintasan tanpa terjatuh. Mereka berdua terlihat asyik bermain berdua, hingga tidak menyadari tadi sempat ditinggal Kharisa untuk membawa minuman dan cemilan.


"Udah ah mainnya." Rupanya Rakha sudah mulai bosan dengan mainan hotwheelsnya.


"Kalau sudah, rapihkan lagi mainannya." Ujar Kharisa. Rakha pun merapihkannya dibantu Rafael.

__ADS_1


"Rakha mau minum gak? Ini Om bawakan minuman dan cemilan juga."


"Aku mau susu yang putih Om." Rafael pun mengambilkannya.


"Om doktel kenapa ngasih makanan banyak begini, ini semuanya buat aku Om?" Tanya Rakha masih tidak percaya.


"Iya buat Rakha, nanti bisa buat bekal dibawa ke sekolah Rakha." jawan Rakha


"Makacih ya Om." Ujar Raka setelah menyeruput susu kotaknya. Kini ia tengah menikmati biskuit berlapis keju di tengahnya.


"Momy, kalau nanti Dady sudah pulang, nanti keljanya baleng Momy kan? Blalti baleng Om doktel ya mom." Ucapan Rakha cukup mengejutkan Kharisa dan Rafael. Mereka saling bertatapan dengan wajah kecewa.


"Iya kan Momy?" Tanya Rakha lagi karena belum terdengar Momynya menjawab pertanyaannya.


"Eh...iya." Jawab Kharisa.


"Tuuuh Om Doktel dengal yah kata momy, nanti kalau Dady aku pulang, keljanya nanti di lumah sakit juga, jadi nanti Dady akan berteman sama Om doktel." Hati Rafael mencelos, ah andai saja Kharisa mengijinkan ingin rasanya ia mengatakan pada Rakha kalau ia adalah dadynya. Rafael hanya mampu menganggukan kepalanya dengan senyum pahit di bibirnya.


Terdengar suara adzan menggema dari masjid yang tidak jauh dari rumah Kharisa.


"Rakha, ayo waktunya shalat maghrib, ambil wudhu dulu, nanti Momy nyusul." Ujar Kharisa pada putranya. Rhaka pun tidak membantah, ia sudah paham dengan waktu shalat yang harus disegerakan.


"Om doktel, aku ke dalam dulu yah mau wudhu dulu, telus mau shalat maghlib dulu." Rafael menganggukan kepalanya. Rakha pun masuk ke kamar mandi untuk berwudhu


"Kamu hebat Sa, mendidik Rakha dengan baik."


"Itu juga berkat didikan Faisal, selama ini Faisal yang mengajarkan ilmu agama pada Rakha, nanti kalau dia ada di sini aku kenalkan." Ujar Kharisa. Tidak tau kenapa mendengar nama Faisal, darah Rafael terasa panas, merasa kalau Fasal akan menjadi rivalnya.


"El, kamu terlalu berlebihan dengan semua ini." Kharisa menunjuk pada mainan dan makanan yang dibawa Rafael.


"Tidak ada yang berlebihan untuk Rakha Sa, bahkan ini yang pertama kalinya aku membelikan sesuatu untuk Rakha, aku ingin membayar semua kesalahanku pada Rakha, termasuk padamu Sa. Dan ini belum seberapa dibandingkan yang sudah kamu berikan untuk Rakha.


"Tapi tidak perlu berlebihan seperti ini El."


"Sudah kubilang, tidak ada yang berlebihan, karena dia anakku, darah dagingku, aku ingin memberikan yang terbaik untuknya."


"El....." Kharisa masih menunjukan sikap tidak sependapat dengan Rafael.


"Please Sa, biarkan aku memberikan sesuatu untuk anakku, Oke."


"Ah ya sudah....sebaiknya kamu pulang, sudah maghrib, nanti kita bicarakan lagi hal yang tadi, kita harus samakan cara mendidik Rakha seperti apa, agar Rakha gak bingung.

__ADS_1


*Ah Sa padahal aku masih kangen, masih ingin bersama Rakha, berama kamu juga.


bersambung*


__ADS_2