
Lima hari telah berlalu setelah Rafael memutuskan hubungannya dengan Vania secara sepihak dan jelas tidak diterima oleh Vania. Setelah pembicaraannya dengan Rafael malam itu, esok harinya Vania bersikap seperti biasa, Vania benar-benar tidak menganggap keputusan sepihak Rafael. Sebelum berangkat kerja ia akan menyiapkan sarapan untuk Rafael, memberikannya di mess atau dibawakannya ke ruang kerja Rafael, ia sama sekali tidak pernah menyinggung tentang hubungannya dengan Rafael apalagi menuntutnya meminta waktu quality time untuk berdua. Sekarang rumah sakit sedang disibukan dengan persiapan akreditasi rumah sakit dan Rafael menjadi salah satu koordinatornya, ini sudah cukup menjadi alasan yang bisa dimengerti oleh Vania, saat ia tidak bisa bertemu dengan Rafael baik saat di rumah sakit ataupun saat di mess.
Rafael tidak membahas lagi niatnya untuk memutuskan pertunangannya itu sudah cukup baginya, sambil berharap Rafael dapat berpikir jernih, meninggalkan perempuan yang katanya ia cintai dan lebih memilih pertunangan dengannya yang sudah mendapat restu dari kedua belah pihak. Dan Rafael pun tidak membahas lagi pembatalan pertunangannya.
Dan saat weekend tiba, Vania memanfaatkan waktu liburnya untuk pulang, tujuannya bukan untuk menemui orang tuanya apalagi menyapaikan keinginan Rafael untuk memutuskan pertunangan mereka. Bukan, bahkan ia tidak ingin orang tua dan keluarganya sampai tau, ia akan memperjuangkan hubungannya dengan Rafael jangan sampai putus. Menemui mami Rafael adalah yang saat ini terbersit dalam benaknya. Mencari tau kebenaran ucapan Rafael dari orang tuanya, kemudian mencari dukungan agar orang tua Rafael menentang keinginan putranya, itu yang akan ia lakukan saat ini.
Sabtu pagi ia menghubungi calon ibu mertuanya, membuat janji bertemu di salah satu restoran di daerah Cilandak Jakarta Selatan.
"Tante bisakah kita ketemu nanti sekitar pukul lima sore? Aku rencana pulang setelah jam kerja, ada yang ingin aku bicarakan." ujarnya tadi pagi saat menghubungi maminya Rafael.
"Apa yang ingin kamu bicarakan sayang? Begitu pentingkah?" Tanya Mami Rafael, Vania tau Mami Rafael walaupun hanya sebagai ibu rumah tangga, tapi ia memikiki kesibukan yang lumayan padat, selain sibuk dengan group sosialitanya, ia juga aktif dalam kegiatan sosial, mengelola sebuah yayasan sosial yang bergerak membantu penderita kanker.
"Iya tante, ini penting sekali, berhubungan dengan pertunanganku dengan putra tante." Saat itu mami Rafael lama terdiam tidak menanggapi ucapan calon menantunya.
"Apa Rafael pernah membicarakannya dengan tante?" Tanya Vania curiga kalau calon ibu mertuanya itu sudah mengetehui keinginan Rafael untuk memutuskan pertunangan.
"Membicarakan apa?" Mami Rafael malah balik bertanya, seolah ia tidak tau apa-apa
"Nanti saja pas ketemu aku jelaskan tante."
Dan sore harinya sebelum pukul lima sore Vania sudah sampai di restoran tempat akan bertemu dengan maminya Rafael. Selang sepuluh menit mami Rafael pun datang seorang diri.
"Apa kabar sayang." Sapa calon ibu mertuanya sambil merengkuh lalu cipika cipiki "Sudah lama? maaf tante telat, tadi habis ketemuan dengan calon donatur." ujar Mami Rafael.
"Baru kok tante, silahkan duduk tante, tante mau pesan apa? Kita sekalian makan saja ya tante." Ujar Vania, tutur katanya terdengar ramah, memang pada dasarnya Vania gadis yang baik, ramah dan supel, selain cantik dan penampilannya yang menarik tentunya, itulah kenapa orang tua Rafael menyukai Vania dan menginginkan ia menjadi menantunya.
"Tante pesan minuman saja yah, tadi tante habis makan juga." Vania pun memanggil pelayan dan memesan minuman untuk mami Rafael, sekaligus untuknya.
"Jadi apa yang ingin kamu bicarakan hmm?" Tanya mami Rafael, sebenarnya ia sudah mempunyai dugaan apa yang akan dibicarakan oleh calon menantunya, pasti Rafael sudah mengatakan kepada Vania niatnya untuk memutuskan pertunangan, dan hatinya geram juga karena ternyata putranya sungguh-sungguh dengan ucapannya, tapi ia berusaha untuk bersikap tenang di depan Vania.
__ADS_1
"Tante...apa tante tau kalau Rafael memiliki kekasih?" Tanya Vania ragu, sebenarnya hati kecilnya merasa malu melibatkan mami Rafael, seharusnya ia berusaha sendiri dulu menyelesaikan persoalannya dengan Rafael, tapi ia terlalu takut dengan kesungguhan ucapan Rafael, sebelum Rafael menyampaikan maksudnya pada orang tuanya ia harus mencari dukungan dari pihak Rafael agar menentangnya.
"Kekasih? Setau tante Rafael tidak memiliki kekasih, dia tidak pernah cerita. Memangnya kenapa?" Jelas jawaban mami Rafael dusta, bukan hanya kekasih yang dimiliki Rafael, tapi anak, anak di luar pernikahan, ini yang membuat Rafael ingin membatalkan pertunangannya,. Tapi.sepertinya mami Rafael akan menyembunyikan kebenaran itu untuk mempertahankan hubungan Rafael dengan Vania.
"Seminggu yang lalu Rafael mengatakan ingin memutuskan pertunangan kami, karena.....karena dia mencintai perempuan lain." Vania bercerita dengan suara bergetar, dan genangan air di matanya. Ia pun menceritakan semua yang ia bicarakan dengan Rafael termasuk awalnya ia yang meminta Rafael untuk memberikan waktu lebih untuk quality time mereka berdua agar hubungan mereka lebih dekat, tapi malah Rafael ingin hubungan mereka berakhir. Tentu siapa yang tidak sedih dengan yang dialami Vania. Mami Rafael pun terlihat sedih dan kecewa mendengar apa yang diceritakan calon menantunya, ia menggenggam tangan Vania seolah menunjukan kalau ia ada di pihaknya, sambil mendengarkan, otaknya berpikir apa yang akan ia katakan pada Vania.
"Tante, kalau benar Rafael akan memutuskan pertunangan, bagaimana dengan aku nantinya, aku malu tante, apalagi Sabtu kemarin Om Birawan telah mengumumkan pertunangan kami di depan karyawan rumah sakit, di depan rekan kerjaku, tante sendiri mendengarnya kan?" Kini ia mulai terisak, ia tidak sanggup membayangkan kalau Rafael benar-benar memutuskan pertunangan mereka.
"Sudah...sudah....kamu jangan sedih dulu sayang, tante pasti tidak akan setuju kalau Rafael akan memutuskan pertunangan kalian, begitu juga dengan Om, nanti tante akan bicarakan ini dengan Rafael, tante akan minta penjelasannya. Dan yang pasti Tante dan Om tidak akan membiarkan pertunangan kalian hancur, apalagi hubungan keluarga kita sudah dekat, Rafael pasti tidak akan mempermalukan kita semua, Kamu tenang saja ya sayang." Tentu saja Vania sedikit lega, ia sudah mendapat dukungan dari keluarga Rafael untuk mempertahankan pertunangannya.
Sementara itu hubungan Rafael dengan putranya semakin dekat dan akrab, walaupun tidak tiap hari bertemu, namun setiap malam mereka selalu vidio call, biasanya setelah waktu Isya. Rakha akan bercerita tentang kegiatan dan teman-temanya di sekolah, bahkan ia pun menceritakan kalau sudah melakukan vidio call dengan Om kesayangannya.
"Dady tadi aku di tes sulat Ad Dhuha sama Om Isal, aku udah hapal, Dady mau dengal gak?" Celotehnya lewat vidio call.
"Tentu saja Dady mau dengar Boy." Jawab Rafael walau dengan hati yang kecut mendengar nama Faisal disebut, ya ia cemburu karena bukan hanya ibunya yang dekat dengan Faisal, anaknya juga begitu dekat dengan Faisal dan sepertinya Kharisa, Rakha dan Faisal cukup intens berkomunikasi. Tapi ia mengenyahkan rasa cemburunya, karena ingin mendengar putranya melafalkan ayat suci Al Quran, suatu kebanggaan untuknya walaupun ia sendiri tidak lancar membacanya apalagi menghapalnya.
Rafael pun tidak ingin melewatkan kesempatan untuk lebih dekat dengan putranya dengan menghubunginya setiap malam, harapannya sekali mendayung dua tiga pulau telampaui, selain ngobrol dengan Rakha harapannya bisa ngobrol dengan Kharisa, tapi kenyataannya Kharisa selalu meninggalkan ia berdua dengan Rakha, setelah HPnya diambil alih oleh Rakha, Kharisa langsung pergi tidak menampakan wajahnya lagi di layar HPnya. Kharisa memang tidak pernah membatasi Rafael untuk berinteraksi dengan Rakha, baik bertemu langsung atau menghubungi lewat panggilan vidio call, tapi sekarang malah Kharisa yang sepertinya menjauh dari Rafael. Saat Rafael datang ke rumah Kharisa dua hari setelah family time pun Kharisa meninggalkan Rafael hanya berdua dengan Rakha di ruang tamu, ia malah berada di kamar, entah apa yang ia kerjakan sendirian di kamarnya.
Bukan tanpa alasan Kharisa menjauh dari Rafael, padahal setelah mendapat pencerahan dari Faisal juga mendengar permintaan Rafael agar mereka bisa bersama menjadi orang tua yang utuh untuk Rakha, demi kebahagiaan Rakha, ia akan mempertimbangkannya, namun setelah hari Senin kemarin sepertinya Kharisa berubah pikiran lagi, ia tidak berharap bisa hidup bersama Rafael, ia berusaha mengubur lagi harapannya. Dan yang menjadi alasannya adalah tidak ingin menjadi perusak hubungan pertunangan Rafael dengan Vania. Pasti akan menyakitkan bagi Vania kalau pertunangannya hancur karena dirinya.
Ternyata Kharisa telah mengetahui kalau Rafael telah nyampaikan keinginannya kepada Vania untuk memutuskan pertunangan mereka. Kharisa mendengar sendiri dari mulut Vania saat ia tidak sengaja mendengar obrolan Vania dengan sahabatnya Meita di kantin saat makan siang hari di hari Senin.
"Apa??? memutuskan pertunangan?" Meita terlihat terkejut saat itu, suaranya terdengar kencang, untungnya tidak banyak orang di kantin, karyawan rumah sakit banyak yang sudah kembali ke ruangan masing-masing.
"Ssttt.....jangan keras-keras, jangan sampai yang lain tau." Bisik Vania, sambil menepuk punggung Vania. Sayangnya Kharisa yang duduk di belakang mereka mendengarnya, posisi Vania dan Meita memang membelakangi Kharisa
"Trus alasannya apa?" Kini suara Meita terdengar setengah berbisik, namun masih terdengar samar-samar oleh Kharisa.
"Kharena dia telah mencintai perempuan lain?" Jawab Vania lirih.
__ADS_1
"Ck, selalu ada pelakor yang mengganggu sebuah hubungan." Desis Meita
"Kamu tau siapa perempuan itu?" tanya Meita antusias. "Kalau kamu tau siapa perempuannya kita samperin saja, kita buat perhitungan sama dia kalau dia berani mengganggu hubungan kamu sama Bos Yanmed. Vania menggelengkan kepalanya.
"Aku gak tau, mungkin saja perempuan itu teman kuliahnya waktu di Amerika, atau rekannya di rumah sakit pusat, dia kan baru pulang dari Amrik sekitar tiga bulan yang lalu, dan selama ini aku gak pernah dengar kalau ia punya pacar. Ah entahlah Met, yang pasti aku akan mengabaikan ucapannya tadi malam, aku anggap dia gak pernah mengatakan apa pun tentang hubungan kami.
"Ya udah sabar ya Van, mungkin saja bos Yanmed sedang galau, ia tidak sungguh-sungguh, mungkin juga karena sedang banyak pikiran urusan pekerjaan jadi dia asal ngomong karena merasa kamu tiba-tiba menuntut dia." Sebagai sahabat Meita menenangkan hati Vania.
"Tapi Van menurutku kamu harus waspada juga di lingkungan rumah sakit ini, siapa tau perempuan itu ada di sini, aku bantu awasi pak bos deh, kalau saja benar pelakornya di sini, aku benyek-benyek deh tuh pelakor." ucap Meita bersemangat, entah kenapa ia selalu bersemangat dengan urusan pelakor, seperti ada dendam tersendiri terhadap wanita yang di disebut pelakor ini, mungkin ia punya pengalaman pribadi.
"He...he...Met kamu itu terlalu berlebihan, Rafael di sini baru sebulanan, dia juga sibuk, mana sempet ngurusin nyari cewek." Dugaan Vania tidak mungkin perempuan yang dicintai Rafael ada di rumah sakit ini, pastinya perempuan itu orang yang sudah dikenal sebelumnya.
"Bisa juga lagi Van, ada kan istilah cinta pada pandangan pertama, bisa saja saat pertama bertemu langsung jatuh cinta, trus jalin hungungan serius."
" Eh sudah ah Met, ayo kita balk ke ruangan, udah lebih lima belas menit." Ujar Vania pelan, ia sebenarnya malas kembali ke ruangannya, sudah malas berpikir mengerjakan tugasnya, apalagi hatinya sedang resah, pasti gak bisa konsentrasi, tapi ia tidak mau di cap sebagai karyawan yamg memanfaatkan statusnya sebagai anak pemegang saham.
Di saat Vania dan Meita beranjak meninggalkan kantin, Kharisa yang masih duduk menikmati makan siangnya yang terlambat karena ia baru saja sampai di rumah sakit pukul setengah satu siang setelah tugas luarnya selesai, ia duduk diam terpaku mencoba mencerna apa yang tadi dia dengar. Entah apa yang ada di pikirannya, yang pasti ia paham apa yang sedang dibicarakan oleh Vania dan Meita. Ia pun tidak melanjutkan makan siangnya, ***** makannya pun telah hilang.
"Aku bukan pelakor." Ia bergumam. suaranya terdengar begitu pelan dan hanya ia yang bisa mendengarnya.
Kejadian itulah yang menjadi alasan Kharisa menghindar dan berusaha menjauh dari Rafael. Ia ingin hidup tenang, berdamai dengan takdir, mengikuti kemana arus menuntunnya dan kemudian ia berlabuh. Toh kebahagiaannya dan Rakha tidak akan selalu ia dapat saat bersama Rafael. Kebahagiaan itu bisa si ciptakan salah satunya dengan mensyukuri apa yang telah Allah berikan. Itulah kunci kebahagiaan.
bersambung....
Hai readerku tercinta, maaf ya kalau Up nya telat-telat, biasalah pasti karena alasan klise kerjaan di dunia nyata, harap maklum yah.ππ€
Dukung terus Othor yah, pake jempol likenya, komen juga yah, kasih masukan dan saran. Pasti Othor baca kok walau gak di balasπ
Oh ya trm ksh yang udah ngasih saran buat Rafael, pasti akan dipertimbangkan, siapa tau cocok dengan hati seluas samudranya Rafael.π
__ADS_1
Yang masih punya stok vote mingguannya, boleh dong kasih buat Rafael.π
Thanks yaππ€