
Maysa mengangguk saja, ia rasa ini keputusan yang tepat dan ia berharap Kayla serta Ziva akan dapat membantunya. Maysa juga memutuskan akan menceritakan semua yang terjadi padanya itu ke Kayla dan juga Ziva, karena tinggal mereka berdua lah yang ia harapkan untuk bisa membantunya dalam memburu si pelaku.
Di mobil, terlihat Kayla memberikan sebuah jaket milik papanya yang tertinggal disana kepada Maysa. Kayla tampak khawatir jika Maysa akan kedinginan, meski tubuhnya saat ini belum terlalu basah karena hanya terkena hujan ringan alias gerimis. Maysa menurut saja tanpa membantah, kini mereka bertiga pun duduk di dalam mobil itu bersama seorang supir yang mengendarai di depan sana.
"May, sebenarnya lu kenapa? Ayo lu cerita sama kita, siapa tahu kita bisa bantu selesaikan masalah yang lu alami!" ucap Kayla.
Maysa terdiam saja dengan wajah menunduk, sejujurnya ia ragu untuk mengatakan itu pada sahabatnya karena ia khawatir mereka juga akan meninggalkannya seperti apa yang dilakukan Peter tadi. Namun, mau tidak mau Maysa tetap mencoba menceritakan masalah yang ia alami itu demi bisa meminta bantuan dari mereka.
"Gu-gue udah gak perawan, Kay." Maysa menjawab dengan gugup dan terus merunduk.
"Hah apa??" sontak Kayla serta Ziva terkejut secara bersamaan, mereka tak menyangka tentu dengan apa yang diucapkan Maysa barusan.
"Lo serius May? Lo kalo ngomong tuh jangan sembarangan deh, gak lucu tau!" ujar Kayla.
Maysa menggeleng menatap wajah mereka, "Enggak guys, gue beneran udah gak pw. Kalian ingat kan waktu gue ngilang? Nah, itu tuh sebenarnya gue diculik sama orang dan dia juga yang udah perkosa gue," ucapnya menjelaskan.
"Gak gak gak, gue masih gak percaya. Ini pasti gak bener kan? Masa lu bisa diculik sama diperkosa sih May?" ujar Kayla tak percaya.
"Sampai sekarang gue juga masih berharap kalau ini cuma mimpi, tapi kan semuanya nyata," ucap Maysa.
Kayla dan juga Ziva menggeleng secara bersamaan, tak ada dari mereka yang percaya dengan apa yang telah terjadi pada sahabatnya itu. Bagaimana tidak, Maysa mengatakan jika dirinya telah diculik dan diperkosa oleh seseorang, tentu saja hal itu sangat amat membuat keduanya merasa kaget karena yang mereka tahu Maysa adalah wanita kuat.
"Ya ampun May, terus tadi lu udah ceritain ini semua ke Peter? Keluarga lu gimana?" tanya Kayla.
Maysa menggeleng pelan, "Gak ada satupun keluarga gue yang tahu tentang ini, gue gak mau membebani mereka dengan masalah gue. Gue baru kasih tahu ini ke kalian dan Peter," jawabnya.
"Te-terus reaksi dia gimana?" tanya Ziva.
Maysa justru kembali menunduk dan menangis dengan deras, Kayla pun reflek memeluknya bermaksud menenangkan sahabatnya itu. Kayla sungguh tak mengerti apa yang terjadi sebenarnya sampai Maysa begitu sedih seperti ini, setelah tadi sempat bertemu dan berbincang berdua dengan Peter sesudah menyelesaikan kuliahnya.
__ADS_1
"Lo gak perlu sedih May, ada kita berdua kok disini. Kita bakal terus ada buat lu, dan kita juga akan lindungi lu!" ucap Ziva.
"Iya May, kita ini kan sahabat lu. Udah ya lu jangan sedih lagi!" sahut Kayla.
"Tapi Kay, Peter udah gak mau dekat dan kenal sama gue lagi. Dia mutusin gue, setelah gue cerita semuanya ke dia tadi," jelas Maysa.
"Hah? Peter mutusin lu?" ucap Kayla dan Ziva bersamaan.
Ya dua gadis itu tentu kaget, mereka tak mengira jika Peter akan setega itu pada Maysa sampai bisa memutuskan hubungan dengannya. Padahal selama ini yang mereka tahu, Peter sangat menyayangi Maysa dan tidak ingin berpisah dengan wanita itu. Namun, kenyataan memang berbeda karena Peter tidak sebaik seperti yang mereka kira.
•
•
Tiga hari berselang, Maysa masih tampak kesulitan mencari pekerjaan untuk dirinya setelah ia memutuskan tidak lagi melanjutkan bekerja di bar lantaran ia takut bertemu kembali dengan Harold yang sudah merenggut kesuciannya. Kini ia pun terduduk pasrah di sebuah halte yang sepi, suasana panasnya kota membuat Maysa sampai harus mengipas-ngipas tubuhnya yang berkeringat.
Sudah beberapa tempat ia datangi, namun belum ada juga yang berhasil membuatnya mendapatkan pekerjaan. Selain karena tingkat pendidikannya yang baru mencapai SMA, rata-rata para perusahaan atau toko tidak ada yang mau menerima karyawan paruh waktu seperti Maysa. Ya Maysa memang berniat meneruskan kuliah sambil bekerja, itulah yang membuat ia tidak bisa kerja penuh seharian.
"Eee iya, lu siapa ya? Apa kita saling kenal sampai lu nyapa gue?" tanya Maysa terheran-heran.
Pria itu terkekeh, "Perkenalkan, saya Javier!" ucapnya seraya mengulurkan tangan, Maysa yang melihat itu akhirnya turut menyalami Javier.
"Gue Maysa," ucap Maysa singkat.
"Oke Maysa, salam kenal ya!" ucap Javier disertai senyuman lebarnya.
"Iya, terus mau apa lu sapa gue?" tanya Maysa lagi.
"Nah itu dia, saya tadi lihat anda sedang duduk kesusahan disini. Makanya saya putusin buat samperin anda, karena saya menebak kalau anda ini sedang mencari pekerjaan ya?" jelas Javier.
__ADS_1
Maysa mengernyitkan dahinya bingung, "Kok lu bisa tahu?" tanyanya heran.
"Oh tentu, karena dari penampilan anda saat ini. Selain itu, anda juga membawa berkas-berkas seperti orang yang ingin melamar kerja," jawab Javier santai.
"Iya sih, gue emang lagi cari kerja. Tapi, sampai sekarang gue belum bisa dapat kerja. Emang kenapa lu tanya-tanya? Mau kasih gue kerjaan?" ujar Maysa.
Javier mengangguk dengan cepat, "Iya itu memang tujuan saya, karena kebetulan cafe saya sedang membutuhkan karyawan," ucapnya.
Seketika ekspresi wajah Maysa berubah drastis, gadis itu tampak sangat antusias mendengarnya. Bahkan, ia sampai memutar seluruh tubuhnya untuk menghadap ke arah Javier karena tadi ia hanya menolehkan wajahnya. Maysa yang tadinya jutek, kini pun berubah lembut dan berharap jika itu dapat memudahkan ia mendapat pekerjaan.
"Lo serius mau tawarin kerjaan ke gue? Eh maksudnya, kamu serius punya lowongan pekerjaan buat aku?" tanya Maysa membetulkan kalimatnya.
"Ahaha, anda gak perlu canggung begitu sama saya. Bersikap seperti biasa aja, saya gak mau dan gak suka malah kalau ada orang yang berakting di depan saya!" pinta Javier.
"Ah iya, tapi saya cuma takut gak sopan aja. Apalagi kamu kan bos cafe," ucap Maysa gugup.
"Gapapa, jadi gimana nih? Kamu berminat gak jadi karyawan cafe saya?" tanya Javier.
Maysa mengangguk antusias, "Minat pak, banget malah! Tapi, saya bisa kan bekerja paruh waktu? Soalnya saya masih harus kuliah," ucapnya.
"Oh tentu, saya gak keberatan. Lagipun, cafe itu bukanya sehabis Maghrib," ucap Javier santai.
"Wah kebetulan tuh pak, saya juga selesai kuliah sore kok. Terus kira-kira persyaratannya apa aja ya pak?" ucap Maysa.
"Mudah, kamu cukup datang saja ke cafe saya besok! Saya tunggu kamu disana," ucap Javier sembari menyerahkan alamat cafenya.
Maysa mengambil kartu tersebut, lalu mengangguk setuju mengiyakan ucapan pria itu. Javier pun tampak menyunggingkan senyumnya, dia senang lantaran rencananya untuk menjebak Maysa ke dunia sang kakak berhasil. Kini semuanya hanya tinggal diteruskan oleh Harold, karena tugas Javier telah selesai sampai disana.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...