
Amy kini melepaskan genggamannya pada tangan Harold dan fokus menatap wajah pria itu dengan serius, sedangkan Harold sendiri malah tampak mencuri-curi pandang untuk mengetahui apakah Maysa masih bersedih atau tidak. Amy yang kesal sontak menarik wajah Harold agar menatapnya, lalu meminta pria itu untuk fokus sejenak dalam perbincangan diantara mereka. Ya karena Amy terlihat begitu penasaran, siapa sebenarnya Maysa dan apa hubungan diantara wanita itu dan Harold.
"Rold, kamu mending jujur deh sama aku! Maysa itu siapanya kamu? Gak mungkin kan dia calon istri kamu, masa dapat kabar lagi hamil dia malah sedih?" tanya Amy dengan wajah penasaran.
Harold yang bingung tampak memalingkan wajahnya, kemudian menggaruk-garuk pelipisnya yang tak gatal seraya berpikir keras. Harold tak tahu harus menjelaskan apa, sebab sebenarnya ia juga heran mengapa Maysa terlihat bersedih setelah mengetahui dirinya hamil.
Amy pun terus menantikan jawaban dari lelaki itu, ia tatap wajah Harold tanpa henti dan meminta Harold untuk segera menjawabnya. Amy yakin ada sesuatu yang disembunyikan Harold saat ini, sebab gelagat pria itu memang berbeda dari biasanya dan membuat Amy semakin menaruh curiga padanya.
"Mi, saya udah bicara jujur sama kamu. Maysa itu emang calon istri saya," ujar Harold.
"Ohh, terus kenapa dia nangis tadi pas tahu kalau dia hamil? Kamu pasti bohong kan? Mending kamu ngaku deh, Maysa itu anak siapa dan kenapa kamu tega hamilin dia!" sentak Amy.
"Hadeh Amy, saya gak bohong. Maysa udah setuju kok mau nikah sama saya, kalau enggak ya gak mungkin saya berani begitu ke dia!" ucap Harold.
"Masa sih? Kok aku gak percaya ya? Pasti kamu yang paksa Maysa untuk nikah sama kamu, ya kan?" tanya Amy masih belum percaya seratus persen pada lelaki itu.
"Hm, iya deh saya ngaku. Saya emang paksa Maysa buat nikah sama saya," jawab Harold pasrah.
Amy langsung menutupi mulutnya begitu mendengar pengakuan sahabatnya itu, ia tak menyangka kalau ternyata dugaannya benar. Amy pun juga menggelengkan kepalanya, seolah tak percaya jika Harold masih belum berubah dan terus saja memaksa perempuan untuk mau menjalin hubungan dengannya.
"Ya ampun Rold, ternyata kamu masih belum berubah ya! Aku kasihan loh sama Maysa, pantas aja dia kelihatan sedih banget tadi!" ucap Amy.
Harold menunduk seraya menggaruk puncak kepalanya yang tak gatal, Harold akui tindakannya itu memang salah dan tidak seharusnya ia melakukan itu kepada Maysa. Namun, semua itu ia lakukan hanya karena ia ingin memiliki Maysa seutuhnya dan tidak mau kehilangan wanita itu.
"Ini bukan murni kesalahan aku doang dong, tadi kamu juga sih pake ungkit-ungkit masa lalu aku di depan Maysa. Jadinya kan Maysa sedih tuh, dia ngira aku ini bakal perlakuan dia kayak gitu juga! Kamu lemes sih jadi cewek!" cibir Harold.
Plaaakk
Harold menganga terkejut saat Amy tiba-tiba menamparnya, spontan ia memegangi pipinya dan menatap ke arah wajah wanita itu dengan kebingungan. Amy sendiri terlihat kesal dibuatnya, karena Harold malah menyalahkan dirinya disaat sebenarnya pria itu sendiri yang melakukan kesalahan kepada Maysa.
"Bisa-bisanya ya kamu malah nyalahin aku? Harusnya kamu introspeksi diri dong, Rold!" sentak Amy.
"Awhh, kamu tuh apaan sih Mi? Sakit tahu tamparan kamu, kasar banget sih jadi cewek!" kesal Harold.
"Udah deh diem, sana mending kamu temuin Maysa tuh terus bujuk dia! Jangan lupa juga buat tanggung jawab, terus kamu harus bikin dia bahagia bukan malah disakitin!" suruh Amy.
"Iya iya, gausah bawel deh!" ketus Harold.
Akhirnya Harold pergi lebih dulu menemui Maysa di ranjangnya, sedangkan Amy tampak menggeleng perlahan sebelum ikut pergi. Amy berharap Harold tidak akan menyakiti atau bahkan meninggalkan Maysa, seperti apa yang pria itu lakukan terhadap beberapa wanitanya dulu.
•
•
"May..."
Suara lirih Harold itu membuat Maysa tersadar dari lamunannya, ia reflek menoleh dan menatap wajah Harold disana dengan sendu. Air mata tampak masih membasahi pipinya, sehingga Harold yang melihatnya sontak panik dan bergegas menyeka semua air mata itu. Harold tentu tak suka melihat calon istrinya menangis, apalagi di hari bahagia mereka saat ini.
"May, udah ya jangan sedih lagi! Semua yang dibilang Amy tentang saya itu memang benar, tapi kan itu masa lalu May. Sekarang saya udah berubah, saya kan mau nikahin kamu!" bujuk Harold.
Maysa hanya terdiam, entah mengapa ia masih belum mempercayai perkataan Harold yang ingin menjalin hubungan serius dengannya. Ia tetap saja merasa takut, terlebih ketika tadi Amy mengatakan bahwa Harold sudah beberapa kali meninggalkan wanita yang bersamanya.
Maysa juga merasa khawatir, jika nantinya Harold sudah bosan dengan tubuhnya dan akan mencampakkan ia begitu saja seperti wanita yang dulu menjalin hubungan dengan pria itu. Apalagi Maysa tahu, Harold adalah lelaki liar yang haus akan sentuhan dan pastinya akan mudah bosan.
"Saya serius May, saya ini cinta sama kamu! Kalau enggak, mana mungkin saya terus-terusan deketin kamu coba?" ucap Harold lagi.
__ADS_1
Kini Maysa menoleh ke arah Harold dengan wajah terkejut, benar memang yang dikatakan pria itu mengenai pendekatan yang selalu dilakukan olehnya kepada Maysa. Tapi entah mengapa, Maysa masih tetap ragu dan tidak yakin jika Harold mencintainya. Kalau hanya sekedar berkata, maka balita pun juga bisa melakukan itu.
"Seharusnya kalau saya ingin mencampakkan kamu, sudah sejak dulu saya lakukan itu Maysa. Apalagi saya kan udah merasakan tubuh kamu, pasti kamu ingat itu kan Maysa?" ujar Harold.
"Cukup tuan!" sentak Maysa meminta Harold untuk berhenti berbicara.
Harold mengernyitkan dahinya dan maju mendekati Maysa, dua tangannya menggenggam erat telapak tangan Maysa sembari terduduk di dekatnya. Tak lupa Harold mengecup punggung tangan wanita itu, lalu juga mengusapnya dengan lembut seolah ingin menunjukkan ketulusannya.
"Saya jujur sama kamu, saya ini emang jatuh cinta dan gak mau kehilangan kamu. Sebentar lagi juga kan kita mau nikah loh May," ucap Harold.
"Iya tuan, terserah anda aja. Sekarang saya mau pulang," pinta Maysa.
Harold menganggukkan kepalanya, "Iya okay, saya antar kamu pulang sekarang. Tapi, kondisi kamu udah enakan belum?" ucapnya.
"Udah kok tuan," jawab Maysa lirih.
Akhirnya Harold menuruti kemauan wanita itu, ia membantu Maysa bangkit dari ranjangnya dan menuntunnya perlahan untuk berjalan keluar agar mereka bisa cepat pulang. Namun, tak lupa tentu Harold meminta izin lebih dulu pada Amy sebelum mereka pulang nantinya.
"Mi, saya udah boleh bawa Maysa pulang kan? Ini dia katanya capek disini mulu, dia minta saya buat antar pulang ke rumah," ucap Harold pada Amy.
Amy tersenyum memandang wajah Maysa, ia senang saat melihat kondisi Maysa sudah membaik. Walau Maysa memang masih sedikit merasa sedih, tapi setidaknya kini wanita itu sudah tidak menangis seperti tadi. Amy pun mengiyakan saja permintaan Harold, karena tidak ada juga yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi Maysa saat ini.
"Iya boleh, asal nanti di rumah jangan kamu sakitin terus Maysa nya ya! Dan, aku juga udah siapin resep vitamin buat Maysa. Kamu harus rawat Maysa dengan baik loh!" ucap Amy.
"Iya iya Amy, itu sih pasti. Udah ya kita berdua pamit dulu, terimakasih!" pamit Harold.
"Okay, hati-hati kalian!" ucap Amy singkat.
Setelah itu, Harold kembali melanjutkan langkahnya pergi dari ruangan tersebut dan meninggalkan rumah sakit. Dengan perlahan pria itu memapah tubuh Maysa, karena ia tidak mau Maysa kenapa-napa di usia kandungannya yang masih muda dan sangat rentan itu.
•
•
Saat Harold hendak mengajak Maysa turun dari mobilnya, tiba-tiba wanita itu mencekal lengan si pria dan memintanya untuk berhenti. Maysa tidak ingin ikut bersama Harold masuk ke dalam rumah itu, karena saat ini Maysa sedang ingin membuat dirinya tenang dan tidak mau diganggu oleh siapapun termasuk pria itu.
"Ada apa May? Kamu kok halangi saya buat turun dari mobil ini?" tanya Harold dengan heran.
Maysa menggeleng perlahan, "Saya gak mau pulang kesini tuan, saya maunya ke rumah saya. Lagian tadi kan saya minta dibawa pulang, kenapa tuan malah bawa saya kesini?' ujarnya ketus.
"Hah? Ya ini kan bakal jadi rumah kamu juga Maysa, makanya saya bawa kamu kesini. Ayolah, kita turun aja yuk sayang!" ucap Harold membujuknya.
"Gak mau, saya cuma pengen ke rumah kontrakan ibu! Saya mau ketemu ibu dan Saskia, jadi kamu gak bisa paksa saya kayak gini. Tolong ya tuan, jangan paksa saya!" mohon Maysa.
"Eee ta-tapi..."
Baru saja Harold hendak meneruskan ucapannya, tiba-tiba suara Zanna muncul dan terdengar tepat di telinganya. Ya tampak Zanna memang masih berada disana menunggu kepulangan mereka, Zanna juga berteriak memanggil papanya itu seraya berjalan ke arah mobil dengan tidak sabaran.
"Papa! Papa!!" akhirnya Harold memiliki ide untuk membujuk Maysa agar mau ikut bersamanya, ya tentu saja putrinya itu.
Harold pun beralih menatap wajah Maysa kali ini, ia tersenyum lebar dan membuat Maysa menatap keheranan sembari mengernyitkan dahinya tak mengerti apa yang dilakukan pria itu. Maysa juga tahu Zanna ada di luar sana, namun ia tidak paham jika Harold akan menggunakan Zanna sebagai senjata untuk membujuknya.
"Tuh, kamu lihat sendiri kan sayang? Kasihan Zanna tahu kalau dia gak diturutin, nanti dia bisa marah-marah loh. Emangnya kamu mau Zanna marah terus sedih, hm?" bujuk Harold.
"Huft, anda mah selalu aja gunain Zanna jadi senjata kamu. Kalau kayak gini saya gak ada pilihan lain deh, yaudah ayo kita turun! Tapi ingat loh, saya gak mau tidur satu ranjang sama anda nanti! Saya mau ada kamar sendiri," ucap Maysa.
__ADS_1
"Itu sih tergantung Zanna nanti, ayo sekarang kita turun dulu bareng-bareng!" ajak Harold.
Maysa mengangguk setuju, meskipun ragu ia tetap turun dari mobil itu bersama Harold dan melangkah bersama-sama mendekati Zanna. Ya tentu saja Zanna sangat bahagia melihatnya, tanpa banyak berpikir gadis kecil itu langsung meloncat dan memeluk papanya dengan erat.
"Papa, tadi kenapa papa tinggalin aku? Kan aku juga mau ikut jalan-jalan sama papa dan tante Maysa tau!" rengek Zanna.
Harold terkekeh kecil seraya mencubit gemas pipi putrinya itu.
"Ya sayang, papa minta maaf ya? Tadi tuh papa cuma anterin tante Maysa sebentar, makanya papa gak ajak kamu. Udah ya Zanna jangan ngambek lagi! Kan nanti Zanna mau tidur bareng sama tante Maysa," bujuk Harold.
"Wah yang bener pa? Emangnya tante Maysa mau bobok bareng sama aku?" tanya Zanna tampak antusias.
"Pastinya mau dong!" jawab Harold mantap.
Maysa tersenyum saja dan ikut menganggukkan kepalanya secara perlahan, ia terpaksa mengiyakan ucapan Harold karena tidak ada pilihan lain untuk saat ini. Ya wanita itu hanya bisa pasrah, meski ia sebenarnya sangat malas jika harus tidur satu ranjang bersama Harold.
•
•
Keesokan harinya, Maysa terbangun lebih dulu daripada Harold maupun Zanna. Wanita itu melihat ke samping dimana mereka berdua masih tampak tertidur pulas disana, tanpa sadar Maysa mengukir senyumnya dan mengusap lembut kening Zanna dengan telapak tangannya. Sepertinya ia telah mulai merasa nyaman dan perhatian pada gadis kecil itu, walau mereka baru beberapa kali bertemu.
Setelahnya, Maysa memutuskan untuk turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar dengan berhati-hati agar tidak membangunkan mereka. Maysa berniat menyediakan sarapan untuk Harold maupun Zanna pagi ini, ya hitung-hitung Maysa ingin membuat Harold dan Zanna merasa senang serta membalas kebaikan pria itu padanya.
Kini Maysa tiba di dapur, ia langsung disambut oleh sekumpulan pekerja disana yang memang ditugaskan Harold untuk menjaga serta mengurus rumahnya. Sangking besarnya rumah itu, bahkan Harold sampai mempekerjakan banyak pelayan disana. Dari yang sudah dewasa, sampai yang masih muda juga berada di tempat itu.
"Eh non, non Maysa mau apa ke dapur segala? Kalau non pengen sesuatu, bilang aja sama kami biar kami bisa sediakan yang non Maysa mau!" ucap salah seorang pelayan itu dengan ramah.
Maysa tersenyum dibuatnya, "Gapapa bik, saya cuma mau siapin sarapan buat tuan Harold dan Zanna. Mereka kan udah baik banget sama saya, sekarang saya mau balas perbuatan mereka dengan siapin makanan buat mereka," jelasnya.
"Oh gitu non, wah yaudah biar kami bantu ya non buat bikin masakannya!" ucap pelayan itu.
"Eh gausah, saya mau masak sendiri aja. Mungkin nanti kalau saya butuh bantuan apa gitu, saya baru minta sama kalian deh!" ucap Maysa.
"Non Maysa yakin? Nanti kalau non kecapekan gimana? Kami bisa dimarahin loh sama tuan Harold," tanya pelayan itu.
"Iya non, kami kan takut banget kalau tuan Harold sampai marah!" sahut yang lain.
"Ahaha, udah gapapa tenang aja! Kalau dia marah, nanti biar saya yang kasih tahu. Kalian cukup nurut aja sama saya ya!" ucap Maysa.
"Baik non!" ucap mereka serentak.
Akhirnya Maysa mengambil dan mengenakan celemek di tubuhnya sebelum mulai memasak, ya hari ini ia ingin membuat makanan kesukaan Harold dan Zanna dengan tangannya sendiri. Entah mengapa tiba-tiba saja hal itu terlintas di pikirannya, padahal sebelum ini Maysa sangat membenci Harold dan tidak ingin berdekatan dengannya.
Setelah semuanya selesai, Maysa dibantu kedua pelayan disana langsung membawa masakan itu ke meja makan untuk disediakan. Maysa terlihat amat senang dan tidak sabar ingin menyantap semua makanan itu bersama Harold serta Zanna, ia pun berniat membangunkan keduanya di kamar.
"Wah wah wah, bau apaan nih enak banget?"
"Iya pa, kok aku jadi laper ya?"
Namun, tiba-tiba saja Harold dan Zanna sudah muncul lebih dulu disana. Maysa pun terkejut melihat keduanya ternyata sudah bangun, wanita itu tak menyangka jika Harold malah sudah bangun sebelum ia membangunkannya. Kini Maysa tampak kikuk dengan wajah memerah, ia tidak tahu apa yang akan dikatakan Harold nantinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1