Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Diambil alih


__ADS_3

"Heh! Kalo lu butuh barang, senjata atau apapun itu. Beli di gue aja, jangan ke yang lain! Ngerti lu?"


"Ngerti."


Bruuukkk


Sekelompok pria berjas hitam tampak memaksa orang-orang di sekitarnya untuk membeli barang dari mereka, setelah itu barulah mereka melepaskan seluruh orang disana.


Dirasa cukup untuk kali ini, kumpulan pria tersebut pun mendatangi bos mereka yang sedari tadi memantau dari jauh. Ya siapa lagi orang itu kalau bukan Harold, ia baru kembali dari misinya di timur dan berniat membalaskan dendam pada Rendy dengan cara mengambil alih semua kliennya.


"Beres bos, semua orang disini udah kita kasih tahu. Mereka pasti gak akan berani beli barang di tempat lain," ucap salah satu anak buahnya.


"Bagus, tapi kalian jangan berhenti sampai disini! Kalian harus terus menyebar, katakan ke semua orang kalau barang milik kita lebih baik dibanding yang lainnya!" titah Harold.


"Siap bos!" jawab mereka serempak.


"Yasudah, kalian boleh pergi sekarang. Lakukan tugas dengan baik, saya gak mau dengar kata gagal dari kalian!" ucap Harold.


"Baik bos!"


Akhirnya seluruh anak buahnya itu beranjak pergi, tinggal lah Harold berdua bersama orang kepercayaannya yang ia minta untuk selalu menemaninya. Memang semenjak ia ditugaskan untuk pergi ke timur, ia telah menyusun banyak rencana untuk bisa membalas semua perbuatan tidak menyenangkan dari Rendy kepadanya.


"Bos, kita mau kemana sekarang?" tanya Fandy, sosok orang yang ia rekrut dari bekas anak buah Rendy yang berkhianat.


"Istirahat dulu, saya mau ke makam anak dan adik ipar saya. Terserah kamu mau ikut atau tidak," jawab Harold dingin.


"Saya ikut bos, jadi biar sekalian nanti kalau bos mau melakukan sesuatu yang lain," ucap Fandy.


Harold mengangguk dan membiarkan Fandy untuk ikut bersamanya, tanpa berlama-lama lagi mereka pun masuk ke dalam mobil dan pergi menuju pemakaman tempat Saskia dimakamkan. Harold memang telah mengetahui kabar mengenai kepergian anak dan adik iparnya itu, tentu saja semuanya ia dapatkan dari Javier.

__ADS_1


Sesampainya di pemakaman, Harold dengan bunga yang ia bawa kini terduduk di sebelah makam calon anaknya yang meninggal dunia. Tampak Harold begitu sedih saat ini, ia tak menyangka kalau akan kehilangan dua orang bagian dari keluarganya sekaligus seperti itu. Padahal, Harold amat menantikan calon anaknya itu lahir ke dunia.


Air mata tak tertahankan lagi dan mengalir begitu deras membasahi wajahnya, Harold benar-benar sedih karena telah kehilangan calon anak penerus dari keluarga Vincenzo. Jika saja ia tidak pergi ke timur untuk menuruti kemauan Rendy, maka mungkin kejadian ini tak akan pernah terjadi dan anaknya itu masih hidup sampai sekarang.


"Maafin papa, nak. Papa nyesel udah pergi ninggalin kamu, papa gak bisa jagain kamu untuk tetap ada di dalam kandungan mama kamu. Kamu yang tenang ya di surga, tunggu papa disana!" lirih Harold.


Ia pun menaburi bunga di atas makam yang kecil itu, lalu beralih ke sebelahnya dimana itu merupakan makam dari adik iparnya. Ia tatap papan nisan bertuliskan Saskia itu, rasanya ia juga tak terima dengan kepergian Saskia yang merupakan adik kesayangan dari istrinya.


"Dan kamu Saskia, maafin saya juga karena saya belum bisa jadi kakak ipar yang baik buat kamu! Tapi, saya janji ke kamu saat ini kalau saya akan melindungi seluruh keluarga kamu!" ucap Harold.


Kembali Harold melakukan hal yang sama dengan menaburkan bunga disana, ia juga terus mengusap papan nisan Saskia dan meletakkan buket bunga tepat di atas makam yang masih baru dan mengecupnya singkat.




Disisi lain, Rendy tengah berkutat di dalam ruang pribadinya bersama Mawar alias putri kesayangannya. Sampai saat ini, Mawar memang tetap berada disana dan Rendy tak membiarkan gadis itu pergi walau sebentar. Pasalnya, Rendy khawatir jika Mawar kembali menghilang seperti sebelumnya saat dibawa pergi oleh Javier.


"Hadeh, ini kenapa bisa sampai anjlok banget kayak gini sih? Kemana coba penghasilan jualan kita di wilayah yang lain?" geram Rendy.


Daniel selaku asisten dari pria itu, memberikan berbagai data dan bukti terkait hilangnya para klien yang mereka miliki. Bahkan, Daniel juga mengatakan kalau kemungkinan besar mereka semua diambil oleh kelompok lain saat ini.


"Ini dia bos, saya dapat kabar kalau ternyata hampir seluruh klien kita di wilayah ini sudah diambil alih oleh kelompok tak dikenal," ucap Daniel.


"Ck, kelompok mana? Seberapa besar kelompok mereka itu?" tanya Rendy penasaran.


Daniel menggeleng, "Saya belum tau banyak bos, tim kami sedang melakukan penyelidikan. Tapi, sepertinya kelompok ini sangat kuat dan berbahaya bos," jawabnya.


"Sial!" Rendy mengumpat dan menggebrak meja.

__ADS_1


Mawar yang tadinya sibuk bermain ponsel, dibuat kaget saat tiba-tiba papanya malah menggebrak meja dan membuat gadis itu reflek menatap ke arah sana. Sontak Rendy menyadari hal itu, ia tersenyum lalu coba memberi penjelasan kepada putrinya kalau tidak ada apapun yang terjadi.


"Eee sayang, kamu tenang ya! Papa cuma kebawa emosi aja tadi, jangan takut okay!" ucap Rendy.


"Ohh, iya pa. Aku juga kaget aja tadi dengar suara gebrakan meja, aku kira papa lagi berantem sama om Daniel," ucap Mawar.


"Enggak lah sayang, papa cuma bicara masalah bisnis. Kamu duduk aja disitu ya!" ucap Rendy.


Mawar mengangguk patuh, ia tak lagi ikut campur ke dalam pembicaraan papanya dan Daniel disana itu karena ia lebih memilih bermain ponsel. Lagipula, Mawar tak mau terlibat ke dalam bisnis ilegal papanya itu. Selain takut tertangkap polisi, Mawar juga masih ingin hidup bebas dan tak mau ikut masalah bisnis papanya yang tidak benar.


"Yasudah Daniel, kamu bisa keluar sekarang! Saya mau bicara dengan anak saya, pastikan semua kelompok itu harus kamu selidiki dan beritahu ke saya secepatnya!" titah Rendy.


"Siap bos!" Daniel mengangguk patuh, kemudian berjalan ke luar dari ruangan itu.


Setelah Daniel keluar dari sana, kini Rendy pun bergerak menghampiri putrinya yang terduduk tak jauh dari tempatnya berada. Rendy tersenyum dan memandangi wajah putrinya disana, ia pun duduk di sebelah gadis itu sambil meraih satu tangan Mawar lalu mengecup punggung tangannya.


"Eh papa, kenapa pa?" Mawar menoleh dengan wajah terkejut, pasalnya tiba-tiba saja papanya itu sudah berada di sebelahnya.


Rendy menggeleng pelan, "Gak kok, papa cuma pengen ngobrol sama kamu," ucapnya.


"Hm, ngobrol apa sih pa? Jangan bilang kalau ini soal kak Javier lagi, aku malas banget pa kalo papa tanya soal dia!" ucap Mawar.


"Kenapa? Dia kan pacar kamu loh," heran Rendy.


"Bukan pa, sebenarnya tuh—" Mawar terlihat ragu untuk menjelaskan yang sebenarnya kepada papanya itu, sebab ia khawatir papanya akan marah nanti pada Javier.


Rendy pun dibuat penasaran, "Sebenarnya apa sayang?" tanyanya dengan wajah bingung.


Mawar hanya terdiam kali ini, tak tahu harus menjawab apa dan lebih memilih memalingkan wajahnya ke arah lain.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2