
Maysa dan Peter kini tiba di cafe tempat dahulu mereka sering berbincang berdua, ya tentu saja disaat mereka masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Ini adalah kali pertama mereka mendatangi cafe itu bukan sebagai kekasih, Peter pun tampak sangat bahagia karena akhirnya ia bisa mengulangi kejadian manis ini dengan berbincang berdua bersama Maysa yang ia cintai itu.
Tak lupa Peter turut memesan minuman kesukaan gadisnya itu, ia tentu masih ingat betul apa minuman yang disukai Maysa dan sering dipesan olehnya. Ia harap dengan begitu maka Maysa mau menerima dirinya kembali, lalu mereka akan kembali menjalin hubungan spesial seperti dulu. Namun, itu semua tak mudah untuk dilakukan mengingat Maysa sangat membencinya saat ini setelah kejadian kala itu.
"Aku gak nyangka, ternyata kamu masih ingat minuman kesukaan aku juga ya?" ujar Maysa.
Peter senang mendengarnya, ia mengira Maysa merasa bahagia karena dirinya masih mengingat minuman kesukaan wanita itu. Padahal Maysa hanya sekedar bertanya, karena dia tak menyangka jika Peter masih mengingatnya.
"Iya dong, aku kan selalu ingat setiap yang kamu suka. Gak mungkin aku bisa lupain itu, karena aku benar-benar sayang sama kamu!" ucap Peter.
"Heleh sayang sayang, kalau emang sayang kenapa dulu kamu putusin aku coba?" cibir Maysa.
"Justru itu May, aku benar-benar nyesel banget udah ngelakuin itu ke kamu. Harusnya aku gak bertindak bodoh, aku ini sayang banget sama kamu dan gak bisa menjauh dari kamu!" ucap Peter tegas.
"Peter cukup! Aku gak bisa balikan sama kamu, karena aku sebentar lagi sudah akan menikah dengan lelaki lain!" ucap Maysa.
Deg
Peter terbelalak kaget mendengar perkataan Maysa barusan, siapa sangka jika Maysa akan mengatakan itu di hadapan Peter dan mengaku bahwa dia akan segera menikah. Tentunya Peter sangat syok, ia penasaran siapa lelaki yang dimaksud Maysa itu dan akan menikah dengannya.
Maysa sendiri terlihat menutupi mulutnya dengan telapak tangan, ia pun kaget sendiri dengan apa yang ia katakan tadi kepada Peter. Pasalnya, Maysa telah mengatakan hal yang tidak benar dan kini ia bingung harus menjawab apa jika ditanya oleh lelaki itu. Tak mungkin jika ia mengatakan, sebentar lagi ia akan menikah dengan Harold.
"Maksud kamu apa, May? Memangnya kamu mau menikah dengan siapa? Kamu gausah ngada-ngada deh, aku gak percaya kalau kamu mau menikah!" ucap Peter geleng-geleng.
"Terserah kamu, intinya gak lama lagi aku bakal menikah. Dan kamu, stop deh deketin aku karena itu gak akan mungkin!" tegas Maysa.
"Aku gak percaya, ini pasti cuma akal-akalan kamu supaya aku menjauh dari kamu. Kalau kamu emang mau nikah, coba kasih tahu aku siapa cowok yang akan menikah dengan kamu itu!" ucap Peter.
Maysa terdiam kali ini, ia kebingungan dan tak tahu harus menjawab apa. Matanya melirik ke segala arah di dalam cafe tersebut, mencoba mencari cara untuk bisa memberi jawaban pada Peter dan meyakinkan pria itu. Sedangkan Peter sendiri tampak tersenyum, sepertinya dia tahu kalau Maysa hanya sedang berbohong padanya.
"Tuh kamu bingung kan, pasti kamu lagi bohong sama aku. Aku tahu banget sikap kamu kayak gimana May," ucap Peter.
"Apaan sih? Aku jujur kok, emang sebentar lagi aku bakal nikah sama seseorang. Aku gak bisa kasih tahu ke kamu siapa orangnya, lagian kamu pasti gak kenal kok," ucap Maysa.
"Aku tetap gak percaya, sebelum kamu kasih bukti ke aku!" ucap Peter kekeuh.
"Eh Maysa??"
Tiba-tiba saja, seorang lelaki datang menghampiri mereka dan menyapa wanita itu. Sontak Maysa serta Peter kompak menoleh ke asal suara, lalu mereka terkejut melihat Javier berada disana. Akhirnya Maysa memiliki sebuah ide, ia pun bangkit lalu memeluk erat Javier dari samping dan tersenyum lebar tanpa ragu sedikitpun.
"Nah kebetulan, ini dia orang yang mau nikahin aku Peter. Sekarang kamu percaya kan? Aku tuh udah punya calon suami, jadi kamu gak boleh dekat-dekat sama aku lagi!" ucap Maysa berbohong.
Javier terkejut bukan main mendengarnya, ia tak tahu apa-apa dan sekarang malah Maysa mengatakan bahwa ia adalah calon suaminya. Namun, Maysa kemudian melirik ke arahnya dan memberikan kode melalui kedipan mata supaya Javier bisa mengikuti permainannya.
"Bohong kamu Maysa! Dia gak mungkin calon suami kamu, aku gak akan pernah percaya!" sentak Peter.
"Hadeh, bukti apa lagi yang kamu mau Peter? Mas Javier ini emang calon aku kok, ya kan mas?" ucap Maysa sambil tersenyum ke arah Javier dan mengeratkan pelukannya.
"Iya benar, saya dan Maysa sebentar lagi akan menikah. Kami juga sudah menyiapkan semuanya, jadi tolong kamu jauhi Maysa!" ujar Javier.
__ADS_1
"Apa??" Peter tersentak mendengarnya.
•
•
Disisi lain, Harold mengantar Saskia pulang ke rumahnya setelah puas bertanya-tanya padanya. Harold juga berharap dapat bertemu dengan Maysa disana, sebab itulah ia beralasan ingin memastikan Saskia baik-baik saja dengan ikut mengantar gadis itu sampai ke depan rumahnya.
Sebenarnya Saskia tahu betul maksud dan tujuan Harold ikut turun bersamanya, ia pun terus senyum-senyum sedari tadi seolah meledek lelaki di sebelahnya. Saskia juga sudah tak sabar ingin melihat kakaknya menikah dengan Harold, karena ia yakin Harold adalah lelaki yang pas untuk Maysa dan bisa menyayangi kakaknya itu.
Begitu tiba di depan pintu, Saskia langsung mengetuknya dan mengucap salam berharap orang di dalam sana membukakan pintu untuknya. Tak butuh waktu lama, pintu terbuka disertai jawaban salam yang terdengar. Namun bukan Maysa yang keluar, melainkan Melinda alias sang ibu. Tentu saja Harold agak kecewa melihatnya.
"Eh Saskia, kamu kok baru pulang sayang? Terus kenapa kamu bisa sama nak Harold, memangnya kalian ketemu dimana?" tanya Melinda.
"Ahaha, iya bu tadi aku dijemput sama kak Harold di sekolah. Terus aku juga diajak makan loh, aku senang banget deh bu. Ini aku bawain makanan buat ibu sama mbak Maysa, pastinya dibeliin sama kak Harold dong," jelas Saskia sambil tersenyum.
"Waduh jadi ngerepotin nih! Terimakasih ya nak Harold, yang tadi pagi aja udah banyak banget loh itu eh ini malah dibeliin makanan juga! Terus mana pake jemput Saskia segala," ucap Melinda.
"Gapapa bu, saya kan emang niatnya mau bantu ibu sama Maysa. Semoga ibu suka deh ya sama yang saya belikan itu, dan semoga ini bisa sedikit membantu ibu!" ucap Harold.
"Ibu pasti suka banget, ini mah udah lebih dari cukup nak Harold!" ucap Melinda tersenyum.
"Oh ya bu, mbak Maysa mana? Ini kak Harold pengen ketemu sama dia tau daritadi, kasihan udah kangen berat kayaknya!" sela Saskia.
"Oalah, hahaha. Sayang banget Maysa nya belum pulang dari kampus," jawab Melinda.
"Kemana ya Maysa sekarang? Saya jadi khawatir nih bu, apa saya cari aja ya Maysa ke kampusnya? Soalnya ini kan udah sore banget," panik Harold.
"Tenang dulu kak! Mbak Maysa emang beberapa kali suka pulang sore atau malam, mungkin dia lagi ada banyak kegiatan di kampus. Kak Harold gausah cemas begitu ya!" ucap Saskia.
"Tetap aja Sas, saya khawatir. Saya kan gak mau Maysa kenapa-napa, apalagi sekarang lagi marak kejahatan terhadap wanita!" ucap Harold.
"Iya juga sih," lirih Saskia.
Harold sungguh mencemaskan Maysa saat ini, ia minta izin pada Melinda serta Saskia untuk pergi menyusul Maysa ke kampusnya. Tentu saja kedua wanita itu kompak mengiyakan permintaan Harold, karena mereka mewajarkan kecemasan Harold itu kepada Maysa. Ya sebab Harold memang mencintai Maysa, itulah yang ada di pikiran mereka.
Tapi sebelum itu, Harold tak lupa berbicara pada Melinda mengenai pernikahannya dengan Maysa. Ya sekaligus pria itu meminta izin padanya untuk menikahi Maysa, karena ia sangat mencintai Maysa dan ingin segera memilikinya. Melinda hanya tersenyum dibuatnya, dia pun setuju-setuju saja jika memang Harold berniat seperti itu.
•
•
Kini Maysa telah berada di dalam mobil bersama Javier, wanita itu baru saja pergi dari cafe setelah berbincang dengan Peter sebelumnya. Ya Maysa sudah berhasil membuat Peter percaya dengan ucapannya tadi, ia meyakinkan Peter bahwa Javier adalah calon suaminya dan Peter tidak boleh lagi mendekatinya atau mengganggunya.
Maysa pun terlihat canggung saat ini, ia terus menunduk bingung dan ragu untuk memulai berbincang dengan bosnya itu. Jujur Maysa sangat malu sudah mengatakan itu tadi di hadapan banyak orang, termasuk Peter. Kini pasti Javier akan marah padanya atau bahkan menghukumnya, Maysa sungguh ketakutan dan berharap-harap cemas.
"Umm, Maysa!" akhirnya Javier mau membuka mulut dan menegur wanita di sampingnya itu.
Sontak Maysa terkejut, ia tampak sangat gugup ketika Javier menegurnya dan menyebut namanya dengan nada keras. Perlahan wanita itu menoleh ke arah bosnya, ia meneguk ludahnya secara susah payah lalu coba menguatkan dirinya untuk berbicara dengan Javier tanpa harus malu.
__ADS_1
"I-i-iya pak, ada apa?" tanya Maysa dengan wajah gugup, tubuhnya bahkan sudah bergetar tak karuan karena menahan malu yang ia rasakan daritadi.
Javier tersenyum tipis dibuatnya, "Gapapa, justru saya yang harusnya tanya ke kamu. Kenapa kamu diam aja daritadi, hm? Padahal waktu di cafe, kamu genit banget ke saya loh," ucapnya disertai kekehan kecil yang menggoda.
"Eee soal itu saya minta maaf banget, pak! Saya beneran gak enak udah bersikap kurang ajar ke bapak tadi, tapi saya—" ucapan Maysa terhenti, karena tiba-tiba Javier menempelkan jarinya di bibir wanita itu dan menatapnya dingin.
"Udah tenang aja, kamu gak perlu minta maaf! Saya tahu kok masalah kamu, pasti kamu risih kan dideketin sama laki-laki itu terus? Tapi, emang laki-laki itu siapa sih?" ujar Javier.
"Iya pak, dia namanya Peter alias mantan aku dulu," jawab Maysa lembut.
"Oh itu mantan kamu? Lah kok dia masih ngejar-ngejar kamu sih, apa dia gagal moveon dari kamu?" heran Javier.
"Umm, mungkin begitu sih pak. Saya juga gak ngerti kenapa dia begitu, padahal dulu dia yang awalnya minta putus dari saya," ucap Maysa.
"Hah? Haha, ada-ada aja ya tuh cowok! Tapi wajar sih, secara kamu kan cantik loh May. Jadi, pasti dia susah buat lupain kamu," ucap Javier.
"Apaan sih pak? Bapak mah bikin saya tambah malu aja!" ucap Maysa tersipu.
"Enggak loh, yang saya bicarakan itu beneran. Lagian kamu kenapa masih panggil saya bapak sih? Kan saya udah pernah bilang, kalau kita lagi berdua kamu panggil kak atau mas aja ke saya!" ucap Javier.
"Ups, iya maaf kak!" reflek Maysa menutup mulutnya dan tersenyum ke arah bosnya itu.
Javier pun ikut tersenyum dibuatnya, karena senyuman Maysa memang sangat menggoda dan membuat siapapun yang melihatnya terpesona. Jujur saja, Javier amat menikmati momen ini dan tidak ingin ini semua berakhir. Bahkan, Javier juga ingin terus bersama Maysa walau itu sangat sulit.
Tanpa disadari, mereka kini malah saling berpandangan dan terus tersenyum satu sama lain. Entah mengapa Maysa juga sulit mengalihkan pandangannya, jika saja ia tidak sadar kalau saat ini Javier sedang menyetir. Maysa pun reflek memalingkan wajahnya, dan meminta Javier untuk lebih fokus kali ini.
•
•
Disaat Harold hendak masuk ke mobilnya, tanpa diduga sebuah mobil yang dikendarai Javier tiba di depannya dan berhenti begitu saja disana. Ya saat ini Harold masih berada di rumah Maysa, baru saja ia berniat pergi untuk mencari keberadaan wanita itu. Ya namun, Maysa sudah lebih dulu datang bersama dengan Javier yang tak lain adalah adiknya.
Tentu saja Harold terlihat memendam emosinya begitu tahu Maysa datang bersama Javier, kedua tangannya terkepal kuat menahan emosi disertai tubuh yang gemetar. Ia tahu Javier adalah adiknya, tetapi entah kenapa ia tidak senang saat melihat Javier menyentuh wanita yang disukainya.
Tanpa berpikir panjang, Harold langsung saja mendekat ke arah mereka dan memanggil nama Maysa dengan tegas. Seketika Maysa serta Javier dibuat terkejut dengan suara itu, tak ada yang tahu jika sedari tadi Harold sudah memantau kebersamaan mereka dengan wajah marah. Sehingga kini, Harold pun tampak sangat emosi dan terus menatap tajam ke arah Javier.
"Loh tuan, kok tuan ada disini? Lagi ngapain?" tanya Maysa dengan nada bingung.
Bukannya menjawab, Harold justru meraih tangan Maysa dan menariknya agar menjauh dari Javier serta lebih mendekat ke arahnya. Maysa terkejut, tapi tak sempat melakukan apa-apa karena gerakan Javier yang begitu cepat.
"Kamu itu darimana aja? Asal kamu tahu, saya nungguin kamu loh disini Maysa! Eh kamu malah bepergian sama laki-laki lain kayak gini," ujar Harold.
"Tu-tuan, dengerin saya dulu! Dia ini bos saya di cafe, tuan jangan salah paham ya!" gugup Maysa.
Harold spontan menatap wajah adiknya dengan tatapan tajam, sedangkan Javier malah mengangguk dan tersenyum lebar seraya menyapa Harold dengan santai. Amarah Harold pun makin memuncak, tetapi ia tidak bisa melampiaskannya saat ini karena masih ada Maysa.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1