
Ayla masih tampak terpesona dengan ketampanan milik Javier yang tanpa sengaja ia temui di depan toilet itu, Ayla masih belum tahu jika Javier adalah orang yang menyakiti sahabatnya. Ya gadis itu malah berusaha menebar pesonanya di hadapan si pria, bahkan sesekali Ayla juga mengedipkan mata dan menggoda Javier dengan liar.
Javier yang digoda seperti itu hanya terdiam seraya memalingkan wajahnya, fokusnya saat ini hanya kepada Mawar yang meman menjadi incarannya sejak tadi. Javier tak akan tergoda dengan wanita lain, apalagi wanita liar seperti Ayla. Meski Javier akui jika Ayla tak kalah seksi dibanding Mawar, tapi tetap saja hanya Mawar seorang yang mampu menarik perhatiannya sedari tadi.
Sapaan yang Javier luncurkan kepada Mawar tidak sama sekali dibalas oleh gadis itu, tampak Mawar malah terus membuang muka dan masih terlihat begitu kesal padanya. Javier sedikit bingung saat ini, karena ia paham kalau akan sangat sulit untuk bisa membujuk Mawar mau menerima tawarannya. Terlebih, sekarang ada Ayla disana yang pasti akan lebih membantu Mawar dibanding dirinya.
"Hai juga tampan! Kalian udah saling kenal nih? Wah keren kamu Mawar, bisa kenal sama cowok setampan ini!" ucap Ayla menyapa si pria.
"Ay, dia ini cowok yang udah kurang ajar sama aku tadi! Yang aku ceritain ke kamu, harusnya kamu jangan nyapa dia atau muji dia kayak gitu dong! Aku aja benci banget sama dia!" ucap Mawar lirih.
"What? Kamu serius Mawar? Cowok ini yang udah rendahin kamu?" kaget Ayla.
Mawar mengangguk sebagai jawaban, langsung saja Ayla beralih menatap Javier dengan tajam dan membuat pria itu terkejut bukan main. Ayla tampak melangkah mendekati Javier disertai dua tangan yang terkepal kuat, sehingga Javier terpaksa memundurkan langkahnya karena khawatir akan terjadi sesuatu nantinya.
"Ohh, jadi kamu orang yang udah berani kurang ajar sama sahabat saya?" geram Ayla.
"Eee maksud anda apa sih? Saya tidak kenal dengan anda ya, jadi tolong anda minggir dan biarkan saya bicara empat mata dengan Mawar!" ucap Javier.
Ayla melirik sekilas ke arah sahabatnya itu, tampak jelas bahwa Mawar menggelengkan kepalanya sebagai tanda kalau gadis itu tidak mau berbicara berdua dengan Javier. Menatap wajah lelaki itu saja Mawar sudah malas, apalagi kalau harus bicara berduaan dengannya. Bisa-bisa Mawar akan pingsan nanti, karena tahu kemana arah pembicaraan Javier.
"Heh! Saya gak akan kasih izin kamu buat ganggu atau deketin Mawar lagi, jadi kamu mending pergi sana dan jangan buat ulah!" sentak Ayla.
__ADS_1
"Saya tidak akan pergi, sebelum saya bisa bicara berdua dengan Mawar. Lagian saya ini pelanggan loh disini, kalau kalian tidak mau memberi pelayanan yang terbaik pada saya nanti saya bisa adukan ini ke atasan kalian!" ucap Javier mengancam.
"Oh silahkan, aduin aja sana! Kamu sendiri kok yang lancang mau ngajak Mawar satu malam segala, emangnya kamu kira kita ini perempuan apa? Dasar laki-laki berotak mesum!" ucap Ayla tegas.
"Udah yuk War, kita pergi aja!" sambungnya sembari menarik tangan sahabatnya.
Setelah itu, Mawar pun dibawa pergi oleh Ayla meninggalkan tempat tersebut dan membuat Javier menggeram kesal. Lelaki itu sangat kecewa karena gagal mewujudkan keinginannya, padahal apa yang tadi ia lakukan sudah mirip dengan kakaknya dulu. Namun, ia malah tidak berhasil menaklukan hati Mawar dan membawanya ke atas ranjang.
"Awas kamu Mawar, saya akan buat perhitungan sama kamu karena kamu sudah menolak dan mempermalukan saya!" geram Javier.
•
•
Harold sampai rela meninggalkan istrinya sendirian di dalam kamar saat ini demi menemui sang adik yang datang, padahal sebelumnya ia sudah bersiap untuk tidur bersama Maysa dan melewati malam yang panjang. Harold pun sudah mengenakan baju tidurnya, ia menguap sepanjang perjalanan menghampiri Javier di dekat kolam renang.
"Kamu mau ngomong soal apa sih, Vier? Kamu tahu gak, kamu itu udah ganggu malam indah saya sama Maysa tadi!" ucap Harold kesal.
Javier tersenyum tipis sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia tahu kalau sekarang bukan waktunya untuk mengobrol karena jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun, Javier tak tahu harus menemui siapa lagi untuk bisa menolongnya. Mengingat hanya Harold lah yang dapat ia percaya, apalagi pria itu merupakan satu-satunya saudara yang ia miliki.
"Sorry bang, aku cuma pengen minta saran dari kamu. Secara kamu kan punya banyak pengalaman nih buat taklukin perempuan, apalagi si Maysa itu. Nah, kasih aku masukan dong bang buat bisa kayak kamu juga!" ucap Javier.
__ADS_1
"Oalah, jadi kamu ganggu saya cuma karena perempuan? Emangnya kamu abis ditolak sama siapa lagi sih Vier? Perasaan kamu kok ditolak mulu ya kerjaannya?" ucap Harold sambil terkekeh.
"Bang, aku serius loh ini. Aku pengen minta bantuan kamu buat taklukin perempuan, aku bingung loh harus apa. Masa sama pelayan bar aja aku ditolak, emang sejelek itu ya aku?" ucap Javier mengeluh.
"Hahaha, gak juga sih. Ya tapi kok bisa ya kamu ditolak sama pelayan?" ejek Harold.
Javier melirik kesal ke arah kakaknya, niat hati ingin meminta bantuan namun justru sekarang ia malah diledek oleh kakaknya itu. Javier pun melangkah menjauh dari sang kakak, ia menatap langit malam yang dipenuhi bintang dan seketika kesedihan menguasai hatinya. Ingatan mengenai sang mantan muncul di kepalanya, dimana dulu cintanya sudah sangat besar kepada wanita itu.
"Kenapa ya cinta aku selalu gagal? Padahal aku sama kamu itu gak jauh beda loh bang, tapi kok aku doang yang selalu gagal dalam urusan percintaan?" ucap Javier bergumam sendirian.
"Yah elah Vier, udah sih kamu gausah galau kayak gitu! Mungkin aja kamu belum ketemu sama jodoh kamu, atau kalau mau kamu coba aja deketin Clara tuh mumpung dia udah bukan siapa-siapa saya lagi!" ucap Harold terkekeh pelan.
"Hah? Buset bang, gini-gini aku juga punya selera kali. Masa iya aku sama bekas kamu? Mau ditaruh dimana muka aku nanti?" ucap Javier.
"Ahaha, apa salahnya? Itu aja kamu tadi deketin pelayan bar tapi ditolak," ejek Harold.
"Ya i-itu kan beda bang, dia itu..."
"Ah udah lah, malas aku bicara sama kamu kalo kayak gini!" sambung Javier merasa kesal.
Harold tersenyum lebar mendengarnya, ia mendekati sang adik lalu mencoba menenangkan pria itu. Biar bagaimanapun, Harold juga tidak tega bila melihat adiknya bersedih seperti itu. Hanya Javier satu-satunya saudara yang Harold miliki, maka dari itu Harold amat menyayangi adiknya dan tidak ingin Javier terus bersedih.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...