
Harold tengah menemani Maysa makan siang di kantin rumah sakit saat ini, ia sangat senang karena Maysa mau diajak makan bersamanya walau harus berdebat cukup panjang. Kondisi Melinda yang sudah stabil, membuat Maysa sedikit mau menurut dengan ucapan suaminya. Meski begitu, tampak Maysa juga terus saja khawatir pada ibunya dan mempercepat proses makannya kali ini.
Harold yang melihat itu hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum kecil, ia tahu betapa cemasnya Maysa pada ibu tercintanya itu. Namun, seharusnya Maysa juga tidak mengabaikan bayi yang ada di dalam kandungannya. Bagaimanapun, Maysa harus memperhatikan kondisi dirinya serta bayi mereka yang masih sangat butuh asupan gizi dari orangtuanya agar bisa lahir dengan sehat nanti.
Berulang kali Harold juga mengingatkan Maysa pada bayi yang dia kandung, tapi sepertinya Maysa tak terlalu terpengaruh dan tetap lebih mementingkan ibunya yang masih belum sadarkan diri. Harold pun terlihat bingung karena tak tahu harus bagaimana caranya untuk membuat Maysa lebih tenang, apalagi jika Maysa terus begitu maka bisa saja Maysa lah yang akan jatuh sakit dan ikut dirawat disana.
"Sayang, kamu makannya pelan-pelan dong ah! Buat apa sih buru-buru kayak gitu, mau kejar kereta kamu?" tegur Harold.
"Enggak mas, aku kayak gini ya karena aku gak mau lama-lama tinggalin ibu. Aku pengen terus ada di samping ibu, sampai ibu sadar. Aku cemas banget sama kondisi ibu aku, tolong kamu ngertiin posisi aku ya mas!" ucap Maysa tegas.
"Ya sayang, aku pasti ngerti kok soal itu. Tapi, ada baiknya kamu fokus makan dulu sekarang! Kalau kamu makannya buru-buru begitu, yang ada nanti bisa keselek loh!" ucap Harold memperingati.
"Aku udah biasa kok mas, dulu kan aku juga sering makan cepat begini," ucap Maysa kekeuh.
Lagi-lagi Harold geleng-geleng kepala dan sampai harus mengusap wajahnya ketika mendengar ucapan sang istri, ia heran mengapa Maysa begitu sulit untuk diberitahu dan selalu saja membantah setiap kali ia mengingatkan wanita itu. Namun, Harold juga tidak dapat berbuat apa-apa karena khawatir istrinya itu akan kesal padanya.
"Yaudah deh sayang, yang penting kamu hati-hati aja ya! Aku gak mau kamu sampai keselek, itu sakit loh rasanya sayang!" ucap Harold lagi.
Wanita itu menganggukkan kepalanya, kemudian ia kembali melanjutkan memakan makanan miliknya dan mengabaikan Harold yang masih terus menatap ke arahnya. Harold sendiri belum menyentuh makanannya itu, sebab Harold tidak bisa lepas dari wajah Maysa yang terlihat begitu cepat untuk menghabisi satu piring makanan disana.
"Loh mas, kok makanan kamu gak dimakan sih? Gak enak ya?" tanya Maysa terheran-heran.
"Eh ini enak kok sayang, pilihan kamu mah selalu enak dong. Aku itu cuma mau perhatiin kamu dulu sekarang, soalnya aku khawatir kamu keselek nanti. Jadi, ya aku jaga-jaga aja," jawab Harold gugup.
"Ohh, aku mah gak perlu dijagain kali mas! Kamu santai aja!" ucap Maysa tersenyum.
Cup!
Di luar dugaan, Harold tiba-tiba mengecup pipi Maysa dan membuat wanita itu melongok sembari memegangi pipinya. Harold pun tersenyum melihat reaksi sang istri, ia senang karena Maysa tampak sangat menggemaskan kali ini. Pria itu juga mencubit gemas pipi istrinya, tanpa perlawanan dari Maysa yang masih terus terdiam bengong.
"Kamu cantik banget sih sayang! Padahal kamu gak mandi dari semalam, tapi tetap aja kamu kelihatan cantik fresh!" ucap Harold memuji istrinya.
Maysa yang kesal langsung mencubit lengan sang suami, sampai Harold mengaduh kesakitan.
"Ih kamu nyebelin banget sih mas, gak mandinya itu gausah disebut kali! Kalau ada yang dengar gimana?" protes Maysa.
__ADS_1
"Awhh aduh, iya iya maaf sayang!" ringis Harold.
Harold terkekeh sembari mengusap-usap lengannya, sedangkan Maysa kembali melanjutkan makannya dan tidak memperdulikan sang suami.
•
•
Singkat cerita, pasangan suami-istri itu akhirnya kembali ke ruang rawat Melinda setelah selesai menikmati makan siang mereka. Ya keduanya menemui Saskia yang setia menunggu disana, lalu Maysa pun terlihat bertanya-tanya mengenai kondisi ibunya. Maysa berharap ada perubahan dari ucapan sang dokter, sehingga Maysa langsung mendekati adiknya itu dan bertanya padanya.
Harold sendiri hanya menunggu dari jarak dekat, ia terus tersenyum memandangi tubuh istrinya yang tetap terlihat seksi meski sedang hamil. Sejujurnya Harold juga ingin melakukan hubungan badan dengan Maysa saat ini, namun ia tahu diri mengingat Maysa tengah berkabung dan sangat panik. Tentu tidak mungkin Harold memaksa Maysa, karena bisa saja wanita itu akan kecewa padanya nanti.
"Saskia, gimana kondisi ibu? Apa dokter udah bolehin kita buat masuk ke dalam lihat ibu?" tanya Maysa dengan penuh kecemasan.
Saskia menggeleng perlahan, "Belum mbak, dokter tadi bilang kalau ibu belum sadar dari pingsannya. Mungkin sebentar lagi kita baru bisa tengok ibu, karena katanya takut kita ganggu ibu yang lagi dalam proses penyembuhan," jawabnya.
"Duh, padahal aku udah gak sabar banget pengen ketemu ibu!" ucap Maysa merasa jengkel.
"Sabar ya sayang! Kita dengerin aja apa kata dokter, supaya ibu dapat perawatan yang baik dan bisa sembuh dari sakitnya!" sela Harold.
Maysa pun beralih menatap suaminya, ia kemudian mengangguk dan mengikuti perkataan Harold itu. Harold sontak tersenyum, merasa senang karena Maysa masih menghargai pendapatnya. Setidaknya saat ini Maysa sudah tidak marah lagi padanya, setelah sebelumnya Maysa sempat kesal karena tahu bisnis apa yang dia jalani bersama Rendy.
Kali ini Maysa menurut, dengan bantuan suaminya ia pun duduk di kursi yang tersedia sembari memegangi perutnya. Maysa menyesal karena semalam telah mengabaikan ucapan Harold, seharusnya ia juga memikirkan kondisi anak di dalam kandungannya itu yang membutuhkan banyak gizi serta vitamin agar dapat lahir dengan sehat.
"Maafin mama ya sayang, mama sempat gak mikirin kamu kemarin! Kamu pasti sedih ya karena itu? Mama minta maaf sekali lagi sama kamu!" ucap Maysa pada anak di dalam kandungannya.
Harold tersenyum mendengarnya, lalu tanpa diduga ia melihat sesosok pria tengah mengintip mereka dari jarak jauh. Pria itu mengenakan masker hitam untuk menutupi wajahnya, namun dari gerak-geriknya Harold curiga kalau pria tersebut memiliki niat jahat untuk mereka. Akibatnya, Harold pun berniat mengejar pria itu.
"Eee sayang, aku ke toilet sebentar ya? Kamu disini sama Saskia, nanti aku balik gak lama kok!" ucap Harold pada istrinya.
"Iya mas." Maysa manggut-manggut perlahan.
Tanpa basa-basi lagi, Harold bergegas mengejar pria bermasker yang tadi mengintip dari jauh. Melihat Harold berjalan ke arahnya, sontak pria tersebut memutuskan lari karena tidak ingin ketahuan. Harold mempercepat langkahnya, bahkan ia berlari untuk bisa menyusul pria mencurigakan itu. Harold khawatir kalau itu adalah orang suruhan Rendy, sebab sebelumnya Harold sempat mengatakan ingin keluar dari bisnis gelap tersebut.
"Saya harus bisa tangkap dia, saya gak mau terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan keluarga saya!" gumam Harold sambil terus berlari.
__ADS_1
Akhirnya Harold mengejar orang itu sampai ke luar rumah sakit, ia berusaha untuk tidak kehilangan jejak karena menangkap pria mencurigakan tadi adalah hal yang harus ia lakukan agar ia bisa mengetahui siapa sebenarnya orang tersebut.
•
•
Saat di luar, Harold tampak bingung karena ia tak melihat sosok pria bermasker tadi di sekitar sana. Harold terus menatap ke sekitar, berusaha menemukan dimana pria itu bersembunyi. Akan tetapi, Harold tidak berhasil mendapatkan keberadaan si pria karena kondisi disana cukup ramai dan membuatnya kebingungan.
Harold pun mengira bahwa si pria yang tadi ia lihat sudah pergi jauh, ia memutuskan untuk kembali ke dalam menemui istrinya. Namun belum sempat ia berjalan, tiba-tiba saja sudah ada yang menodongkan pisau ke lehernya. Harold sontak terkejut, ia melirik sekilas berusaha mencari tahu siapa yang ada di dekatnya.
"Tuan Harold yang terhormat, jangan bergerak kalau anda tidak ingin leher anda tergores dengan pisau yang tajam ini!" ancam orang itu.
Dari wujud dan suara itu, Harold dapat mengenali kalau orang yang tengah mengancamnya saat ini adalah Daniel alias orang kepercayaan Rendy. Harold pun tahu kalau ini semua ulah dari Rendy, mungkin saja Rendy marah dan ingin membunuhnya. Kini Harold mengangkat kedua tangannya, bermaksud menyerah dan tidak mau melawan Daniel disana.
"Saya menyerah, tolong jauhkan pisau itu! Saya akan turuti semua kemauan kamu, Daniel!" pinta Harold.
"Baiklah, kalau begitu anda harus ikut saya sekarang! Mister Rendy meminta bertemu dengan anda, dia tidak mau menunggu lama. Ayo saya akan bawa anda kesana!" ucap Daniel tegas.
"Okay, turunkan dulu pisau kamu! Saya janji akan menurut dan tidak melawan, kamu bisa percaya ucapan saya!" ucap Harold.
Setelah sempat berpikir sejenak, Daniel memilih menuruti permintaan Harold dan menjauhkan pisau itu dari lehernya. Harold merasa lega saat ini, ia berbalik menatap Daniel dan benar-benar kesal dengan tindakan pria itu. Harold pun merasa jika semua ini adalah jebakan Daniel, terutama tentang orang bermasker yang ia lihat di dalam tadi.
"Anda sudah berjanji tuan, jadi mari ikut dengan saya! Anda tidak boleh menolak, atau saya akan habisi anda disini!" ujar Daniel.
"Saya tahu itu, kamu tidak perlu mengulangi ucapan kamu!" ucap Harold singkat.
Mau tidak mau, Harold pun terpaksa mengikuti permintaan Daniel dan ikut pergi bersamanya. Meski Harold sebenarnya tak ingin menemui Rendy saat ini, tetapi ia juga tidak memiliki pilihan lain. Kini Harold hanya bisa berharap kalau istrinya tidak akan kecewa lagi padanya, karena ia telah pergi tanpa berkata terlebih dulu pada istrinya.
"Eee sebentar, saya mau kabari istri saya dulu kalau saya akan pergi! Kamu masuk saja dulu ke mobil kamu itu, nanti saya menyusul atau pergi dengan mobil saya!" ucap Harold.
"Tidak, saya menunggu disini. Anda tidak bisa mengelabui saya tuan Harold, anda harus ikut dengan saya sekarang juga!" ucap Daniel.
"Ya ya terserah," kesal Harold.
Daniel memang tidak ingin dibohongi oleh Harold, itu sebabnya Daniel tetap berada disana dan menunggu Harold selesai mengabari istrinya. Harold langsung mengambil ponselnya, kemudian mengirim pesan ke nomor sang istri yang berisi kalau saat ini ia harus pergi dan mengurus urusan yang sangat penting. Harold berharap Maysa dapat mengerti, meski di dalam hatinya ia yakin sekali Maysa pasti akan kecewa dan mungkin saja kembali kesal padanya seperti saat itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...