Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Kemenangan Harold


__ADS_3

"Dia sudah meninggal."


Harold menyeringai setelah mendengar kata-kata yang diucapkan kaki tangannya itu, ya Harold sangat senang lantaran Rendy alias musuh besarnya telah berhasil ia bunuh dengan tangannya sendiri. Kini tak ada lagi yang bisa menghalangi jalannya untuk menjadi penguasa di bisnis tersebut, apalagi Harold adalah satu-satunya orang yang pantas menjadi pengganti dari Rendy yang sudah meninggal dunia.


"Bagus, urus mayat itu! Jangan sampai kejadian ini tercium oleh pihak berwajib, karena itu sangat berbahaya!" titah Harold.


"Baik bos! Tapi, bagaimana dengan Daniel dan beberapa anak buah Rendy yang lainnya? Mereka berhasil melarikan diri bos, sebelum sempat kami habisi tadi," ujar Dean.


"Biarlah, itu bukan masalah besar buat saya. Mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa, jadi kamu tidak perlu merisaukan itu!" ucap Harold.


"Baik bos!" ucap Dean singkat.


Dean pun memundurkan langkahnya, lalu berbisik pada tiga orang anak buahnya yang ada disana dan meminta mereka semua untuk mengurus mayat Rendy beserta pasukannya. Tempat itu kini sudah dipenuhi oleh darah dan tubuh orang-orang yang telah tiada, sehingga mereka harus cepat membersihkannya sebelum polisi berhasil mencium kejadian aneh yang baru saja terjadi.


Setelahnya, Harold terlihat memasuki markas itu dengan langkah tergesa. Ia diikuti oleh Fandy yang juga melangkah di belakangnya, sedangkan Dean hanya bisa terdiam mematung melihat bosnya itu pergi begitu saja tanpa dirinya. Padahal, dulu Harold selalu meminta Dean menemaninya dan bahkan menjadikan Dean sebagai orang kepercayaannya.


Sesampainya di dalam markas, Harold tampak mencari-cari sesuatu dan terus membongkar seisi ruangan tersebut. Ia membuka setiap laci serta lemari yang ada disana, lalu mengambil beberapa barang yang menurutnya berguna dan dapat ia gunakan untuk menguasai seluruh organisasi itu. Tekad Harold masih sama seperti dulu, yakni menjadi seorang penguasa di bisnis gelap itu.


"Nah, ini dia yang saya cari-cari sedari tadi. Dengan ini, tidak ada siapapun yang akan berani melawan atau menentang saya nantinya!" ucap Harold setelah berhasil mendapatkan kunci rahasia tersebut.


"Bos!" tiba-tiba saja, Fandy muncul mendekatinya dan membuat Harold sedikit terkejut.


"Ada apa?" tanya Harold tegas.


"Maaf bos, saya hanya ingin memberi info! Barusan salah seorang anak buah kita di markas menelpon, dia bilang kalau ada orang yang sudah berhasil menyelamatkan tahanan kita dari dalam sana bos," jelas Fandy.


"Apa?? Kurang ajar!" Harold mengumpat kesal disertai kepalan tangannya yang menandakan betapa emosinya ia saat mendengar kabar itu.

__ADS_1


"Ini pasti ulah Javier, dia itu memang pengkhianat! Lihat saja, akan saya beri dia pelajaran supaya dia bisa lebih menghargai arti dari sebuah keluarga!" ucap Harold.


"Benar bos! Lalu, apa yang harus saya lakukan sekarang untuk mengurus tuan Vier?" tanya Fandy dengan wajah penasaran.


Harold melirik ke arahnya, "Tidak ada, biar itu jadi urusan saya. Javier adalah adik saya, dia juga yang akan meneruskan bisnis ini nantinya. Jadi, tidak mungkin saya menghabisi dia sekarang. Kamu sebaiknya pergi saja, siapkan pertemuan besar antara para bos di sindikat ini!" ujarnya.


"Siap bos!" Fandy mengangguk patuh.


Fandy pun pergi ke luar dan bersiap melaksanakan tugas dari Harold, sedangkan Harold sendiri masih berada disana dan tersenyum menatap kunci emas tersebut. ia mengecupnya, lalu mengkhayal saat ia sudah menjadi pimpinan nantinya. Pasti itu adalah sesuatu hal yang amat membahagiakan baginya, karena ia akan ditakuti oleh banyak orang dan tidak ada yang berani menentangnya.


"Hahaha, kejayaan ada di tangan saya sekarang. Siapa yang berani melawan saya selanjutnya?" ujarnya.




Ting nong ting nong


Maysa yang mendengar suara bel tersebut pun mulai bangkit dari duduknya, cepat-cepat ia melangkah menuju pintu dan membukanya untuk memastikan siapa yang datang. Awalnya ia mengira itu adalah petugas hotel, tapi betapa terkejutnya ia karena ternyata Harold lah yang ada disana dan tengah berdiri memegang bunga untuknya.


"Halo sayang! Selamat siang, ini buat istri aku yang paling aku sayangi!" ucap Harold sembari menyodorkan bunga itu kepada Maysa.


"Haish mas, kamu ngapain sih pake pencet bel segala? Kalau mau masuk kan tinggal masuk aja, toh kamar ini juga kamu yang sewa. Terus ini apa coba pake beliin bunga segala? Buat apa hayo?" ucap Maysa geleng-geleng kepala.


"Hehe, ya gapapa dong sayang sesekali. Aku kan pengen kasih kejutan buat kamu, lagian bunga ini tadi aku gak sengaja lihat dan kelihatan cantik banget gitu makanya aku beli," ujar Harold.


"Hm, iya deh terserah kamu. Yaudah, ayo masuk yuk mas!" ajak Maysa.

__ADS_1


Harold mengangguk setuju, namun disaat Maysa mendekat dan memeluk pinggangnya tiba-tiba saja Harold meringis menahan sakit. Sontak Maysa merasa heran, ia menatap wajah suaminya dari samping ketika pria itu merintih saat hendak melangkahkan kakinya. Ya mungkin ini akibat dari tembakan Rendy pada kakinya tadi.


"Awhh akhh!!" Harold merintih dan membuat Maysa amat panik saat ini.


"Hah mas? Kamu kenapa? Kaki kamu sakit?" Maysa terus bertanya pada lelaki itu, pasalnya ia tak tahu apa yang terjadi dengan suaminya.


Harold menggeleng pelan, "Enggak kok, aku gapapa sayang. Ini tadi aku kesandung di jalan, terus kayaknya kaki aku sedikit keseleo. Tapi kamu gausah khawatir, paling bentar lagi juga hilang kok sakitnya!" ucapnya berbohong.


"Kamu bohong ya mas? Gak mungkin ini cuma kesandung, pasti terjadi sesuatu sama kamu. Sini coba aku cek!" ucap Maysa tak percaya.


Karena penasaran, Maysa pun mencoba mencari tahu sendiri apa yang terjadi pada suaminya. Ia membungkuk dan hendak mengecek kondisi kaki dari pria itu, tetapi dengan cepat Harold menahan gerakan Maysa dan mencegah Maysa saat hendak menyentuh kakinya. Ya Harold tak mau Maysa mengetahui bahwa ia sempat terkena tembakan saat sedang berkelahi dengan Rendy tadi.


"Eh eh, ja-jangan sayang! Aku ini gapapa kok, kamu percaya lah sama aku! Mana mungkin sih aku bohongin kamu, hm?" ucap Harold sambil tersenyum.


"Tapi mas, kaki kamu kayak bukan keseleo biasa. Harus aku cek deh biar aku bisa tau," ucap Maysa.


Akhirnya Harold tidak bisa berbuat apa-apa, ia biarkan saja Maysa membungkuk dan melihat langsung kondisi kakinya. Saat itu juga Maysa sedikit menaikkan celana panjang yang dikenakan Harold untuk mengeceknya, Maysa pun dibuat syok ketika melihat luka pada bagian kaki suaminya. Meski sudah dibalut dengan kain, tapi tetap saja Maysa masih melihat jelas luka tersebut.


"Mas, ini kaki kamu kenapa? Kok bisa sampai diperban kayak gini, ha? Ini berdarah loh, bahaya banget tau buat kamu!" ucap Maysa amat syok.


Harold menggeleng pelan, "Gak kok sayang, itu bukan apa-apa. Udah diobatin juga tadi sebelum kesini, jadi kamu gausah khawatir ya sayang!" ucapnya santai.


"Gak khawatir gimana? Suami luka masa aku diam aja, ha? Udah sini biar aku obatin lagi!" paksa Maysa.


Wanita itu langsung menarik tangan Harold secara paksa dan membawanya menuju tempat duduk, Harold tampak meringis ketika Maysa menariknya karena memang sebetulnya luka tembak itu masih terasa amat sakit baginya. Namun, Harold senang dengan keperdulian serta perhatian yang ditunjukkan Maysa kepadanya kali ini.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2