
Harold tiba di markasnya ditemani oleh Fandy yang kini sudah mulai dipercaya sebagai kaki tangannya, bahkan keberadaan Dean seolah terlupakan setelah kehadiran Fandy di dalam bisnisnya. Harold lebih sering bersama Fandy saat ini, karena ia berharap Fandy dapat memberi banyak informasi padanya terkait sosok Rendy. Apalagi, Fandy sebelumnya adalah anak buah yang berkhianat dari Rendy.
Sesampainya disana, mereka pun sama-sama turun dari mobil dan bergegas memasuki area markas yang dijaga oleh puluhan anak buah Harold itu. Di dalam sana juga sudah ada sosok Mawar yang ditahan dan disekap olehnya, dalam rangka balas dendamnya terhadap mister Rendy. Apa yang dilakukan Rendy selama ini padanya, sudah membuat Harold merasa tersakiti dan penuh emosi.
"Bos!" kedatangan keduanya pun disambut dengan baik oleh Theo serta yang lainnya.
"Theo, dimana Mawar?" tanya Harold.
"Disana bos, mari saya antar kan!" jawab Theo seraya menunjuk ke arah ruangan tempat Mawar berada.
Langsung saja ketiganya kali ini berjalan menuju tempat tersebut dengan Theo yang berada di depan, Theo pun membuka kunci ruangan itu dan mempersilahkan Harold masuk terlebih dulu. Ya tentu Harold kini melangkahkan kakinya ke dalam sana, ia tersenyum senang begitu melihat Mawar benar ada disana dalam kondisi terikat dengan kedua mata yang tertutup.
"Halo Mawar, senang bisa bertemu kamu lagi!" Harold mendekat dan lalu menyapa gadis itu sembari menatapnya intens.
Mawar terkejut saat mendengar suara seorang lelaki yang ada di dekatnya, ia tampak ketakutan dan berusaha melepaskan diri serta meminta orang di hadapannya itu untuk membantunya. Mawar merasa tak asing dengan suara itu, tapi entah kenapa sulit sekali baginya untuk mengenali suara tersebut.
"Ka-kamu siapa? Mau apa kamu culik aku, apa salah aku ke kamu?" tanya Mawar ketakutan.
"Sssttt..." Harold menempelkan jarinya tepat di depan bibir mungil sang gadis, lalu bergerak membelai rambut gadis itu dengan lembut.
"Kamu gak perlu banyak bicara, dengarkan saja ucapan saya kali ini!" sambungnya.
Mawar mengernyitkan dahinya, "Apa mau kamu? Aku janji akan berikan apapun yang kamu mau, asalkan kamu mau lepaskan aku dari sini dan biarkan aku bebas!" ucapnya memohon.
"Hahaha..." tawa jahat Harold pun keluar, ia seolah mengejek perkataan Mawar barusan.
"Kenapa kamu ketawa? Kamu kira aku bercanda? Aku serius kok, aku akan turuti semua kemauan kamu!" ucap Mawar dengan tegas.
Tawa pria itu semakin menggelegar di sudut ruangan, membuat Mawar seketika merinding dan merasakan ketakutan yang luar biasa. Apalagi, ia juga tak tahu berapa banyak orang yang ada di sekitarnya saat ini. Mawar sungguh bingung, berbagai cara telah ia upayakan namun masih belum berhasil membuka tali tersebut.
"Kamu gak perlu melakukan apa-apa untuk saya, Mawar. Kehadiran kamu disini itu sudah membantu saya dalam misi balas dendam yang saya rencanakan kepada ayah kamu," ucap Harold.
"Ayahku? Apa maksudnya? Kamu siapa dan kenapa bisa kamu punya dendam sama ayahku?" tanya Mawar tampak penasaran.
Harold menyeringai, lalu dengan perlahan ia buka ikatan di kedua bola mata gadis itu dan melempar kain tersebut ke sembarang arah. Sontak Mawar membuka matanya dengan sedikit usaha, ditatapnya wajah sosok pria yang ada di depannya itu dan langsung membuatnya amat syok.
"Hah kamu??" Mawar tersentak, ia tahu betul siapa pria yang ada disana itu.
"Iya benar, saya Harold kakak dari Javier, kekasih kamu yang sangat mencintai kamu itu. Tapi, sekarang saya berdiri di depan kamu bukan sebagai kakak dari orang itu. Anggap saja saya ini musuh terbesar ayah kamu!" sela Harold.
Deg
__ADS_1
Mawar terdiam dengan mulut terbuka, ia menggeleng seolah tak percaya kalau kakak dari kekasihnya lah yang menculiknya.
•
•
Di luar, Javier yang baru datang tampak melangkah tergesa dan berupaya masuk ke dalam markas sang kakak demi bisa menyelamatkan kekasihnya. Ia tak akan rela apabila kakaknya itu menyakiti gadis yang ia cintai, apalagi ia merasa dendam kakaknya tak beralasan karena Mawar hanyalah seorang anak yang tidak tahu apa-apa mengenai kelakuan ayahnya dan Javier sangat membenci itu.
Disaat Javier hendak melangkah masuk, ia dihadang oleh sekumpulan pengawal yang menjaga markas tersebut dan menghalangi langkahnya. Javier tidak diizinkan masuk ke dalam sana, ya karena Harold telah memberikan perintah pada mereka untuk menjaga markas itu dengan baik.
"Apa-apaan ini? Minggir kalian, saya mau masuk!" sentak Javier.
Pengawal itu menggeleng, "Tidak bisa tuan, kami diberi perintah oleh bos Harold untuk tidak mengizinkan siapapun masuk kesini termasuk anda!" ucapnya dengan tegas.
"Kurang ajar! Kalian ini memang minta dihajar, minggir atau kalian semua saya habisi!" ucap Javier.
Namun, para pengawal itu tak mengindahkan ucapan Javier dan tetap berdiri menghadang jalan si lelaki yang hendak memasuki markas itu. Sontak Javier semakin emosi dan hendak menghajar sekumpulan pengawal di depannya itu, tetapi sebuah teriakan lantang menghentikan niatnya.
"Hey berhenti!!" teriakan itu berasal dari dalam, tampak Harold beserta yang lainnya keluar menemui Javier disana.
Sontak Javier beralih menatap kakaknya yang baru muncul itu, ia semakin emosi karena tahu kakaknya lah yang telah menculik kekasih hatinya dan hendak membalaskan dendam padanya. Sungguh Javier tak setuju pada rencana lelaki itu, karena gimanapun Mawar adalah wanita yang ia cintai dan ia tak akan rela apabila Mawar terluka nanti.
"Vier, mau apa kamu datang kesini? Saya sudah bilang, saya gak butuh bantuan kamu kalau kamu masih saja membela wanita itu!" ucap Harold dengan tegas.
"Iya kamu benar Vier, sebentar lagi saya akan melakukan penyerangan itu. Kamu gak perlu kasih tau saya, karena saya sudah susun semuanya dengan baik!" ucap Harold.
"Tapi bang—"
Harold mengangkat telapak tangannya dan memberi kode pada Javier untuk tidak melanjutkan ucapannya, ia lalu beranjak pergi dari sana bersama Fandy dan juga Theo. Sedangkan Javier terdiam di tempat sembari memandangi wajah kakaknya yang melangkah melewatinya, Javier pun bergerak menahan Harold agar tidak pergi dari sana.
"Bang, dengerin aku bang! Mawar gak salah, dia gak pantas dapetin semua ini!" ucap Javier.
"Bang, ayolah kamu harus sadar soal ini!" sambungnya sambil terus mengejar kakaknya yang berjalan menjauh.
Akhirnya Harold menghentikan langkahnya, ia menoleh sekilas ke arah Javier dan menggeleng pelan. Ia kagum dengan usaha adiknya itu, karena hingga kini masih saja berusaha meminta padanya untuk melepaskan Mawar yang tengah ada di dalam markasnya sebagai tawanan.
"Diam kamu Vier! Saya pastikan ke kamu, saya gak akan melukai pacar kamu itu. Kamu gak perlu khawatir, karena saya hanya menjadikan dia sebagai pancingan. Sekarang kamu pergi, jangan ganggu rencana saya!" ucap Harold.
"Aku gak percaya sama kamu, bang. Lepasin Mawar sekarang, baru aku akan pergi dari sini!" ucap Javier memaksa.
"Ck, kamu benar-benar keras kepala Vier! Tapi sampai kapanpun, saya gak akan menuruti kemauan kamu itu. Mawar akan tetap disini, sampai semua misi saya berhasil," ucap Harold.
__ADS_1
Harold pun kembali melanjutkan langkahnya dan memerintahkan Fandy ikut dengannya, sedangkan ia juga memberi perintah kepada Theo serta yang lain untuk menahan Javier agar tidak mengejarnya. Ya Harold harus segera pergi, ia tak mempunyai banyak waktu lagi untuk meladeni adiknya disana.
•
•
Saat di mobil, Harold mendapat sebuah telpon dari Rendy yang membuatnya merasa senang karena ia yakin Rendy pasti akan menanyakan mengenai putrinya yang hilang. Tentu saja dengan begitu, maka rencana Harold untuk membalaskan dendam terhadap pria itu sebentar lagi akan berhasil.
📞"Halo mister Rendy! Ada apa nih anda telpon saya seperti ini? Gak biasanya anda tiba-tiba telpon tanpa alasan penting," ujar Harold di dalam telpon.
📞"Tidak usah banyak basa-basi, lebih baik anda katakan saja dimana putri saya!" sentak Rendy.
📞"Eh eh eh, santai dulu mister santai! Ini maksudnya gimana sih mister? Kenapa anda bertanya soal putri anda ke saya, memangnya apa hubungan saya dengan putri anda itu?" ucap Harold.
📞"Kamu benar-benar kurang ajar Harold, beritahu saya dimana putri saya sekarang!" ucap Rendy.
📞"Anda kedengaran sangat panik, mister. Seperti itulah yang saya rasakan dulu, ketika anda mengatakan bahwa putri saya ada bersama anda. Jadi, sekarang anda sudah tahu kan seperti apa perasaan saya dulu?" ucap Harold.
📞"Cih, jadi kamu melakukan ini untuk balas dendam? Kurang ajar kamu Harold, awas saja kamu! Saya akan habisi kamu nanti!" ancam Rendy.
📞"Silahkan saja mister! Saya tunggu anda besok di lapangan transaksi, kita bertarung untuk menentukan saya atau anda yang akan mati!" ucap Harold tak gentar.
Deg
Setelah itu, Harold memutus telpon dan menaruh semula ponselnya di dalam saku jas miliknya. Ia tersenyum puas dan tidak sabar untuk segera membalas semua perbuatan buruk Rendy selama ini kepadanya dan keluarganya, ia yakin kalau ia pasti akan bisa melakukan semua itu.
Fandy yang terduduk di kursi setir turut merasa senang mendengar perkataan Harold di dalam telpon tadi, rasanya saat ini ia berada di atas awan dan merasa yakin jika Harold serta pasukannya akan berhasil menaklukkan Rendy. Pastinya dengan begitu, maka Fandy juga bisa merebut seluruh wilayah yang dikuasai Rendy selama ini.
"Bos, apa bos yakin kita akan melakukan penyerangan besok? Kita belum ada persiapan apapun bos," tanya Fandy tampak ragu.
Harold menyeringai, "Hm, kamu gak perlu khawatir soal itu Fandy! Saya ini bukan orang sembarangan, saya bisa mengalahkan Rendy dan seluruh pasukan yang dia miliki itu dengan mudah. Apalagi, beberapa anak buahnya sekarang sudah memihak ke saya," ucapnya dengan santai.
"Haha, iya sih bos. Saya juga yakin sepenuhnya sama kemampuan bos, pastinya si Rendy itu gak akan bisa berbuat apa-apa dan bakal takluk sama pasukan kita!" ucap Fandy.
"Itu pasti, saya akan bertarung dengan dia sampai salah satu dari kita mati!" ucap Harold.
Harold begitu yakin kali ini dengan kemampuan yang ia miliki, ia juga tak sabar untuk segera bertemu dengan Rendy dan menghabisinya besok. Tanpa banyak berpikir lagi, Harold segera mengambil ponselnya kembali dan coba menghubungi Dean. Ya tentu saja Harold akan meminta bantuan pada sang asisten untuk mengatur semua pasukan dalam rangka penyerangan yang akan ia lakukan besok.
📞"Halo Dean! Saya minta kamu kumpulkan semua pasukan terbaik kita, ambil senjata dari gudang sebanyak mungkin dan jangan ada yang terlewat! Kita akan menyerang Rendy besok!" titahnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...