
"Hiks hiks hiks..."
Terdengar suara isak tangis tak jauh dari tempatnya berdiri, Dean pun berusaha mengejar dan mencari tahu dimana tempat gadis itu berada saat ini dengan begitu kebingungan. Ia sungguh tak bisa tenang sebelum berhasil menemukan gadis itu, apalagi ia tahu pasti si gadis itu sangat merasa sedih setelah menangkap basah kekasihnya yang berselingkuh di dalam bar bersama wanita lain.
Setelah berkeliling lumayan lama di sekitaran sana, akhirnya Dean dapat menemukan gadis itu yang tengah menangis di pinggir jalan sambil berdiri memegangi tiang lampu jalanan. Dean tersenyum melihatnya, dengan cepat ia bergerak maju mendekat ke arah gadis itu.
"Hiks hiks, kenapa kamu tega banget sama aku, Hanif? Apa sih kurangnya aku di mata kamu? Sampai kamu tega selingkuh dari aku sekarang," ujar si gadis sambil terus terisak.
"Ehem ehem!!" deheman dari mulut Dean, membuat gadis itu terkejut dan reflek menoleh.
Sontak si gadis tampak heran melihat seorang pria berdiri di dekatnya sembari menyodorkan selembar tisu kepadanya, ya tentu saja gadis itu tak mengerti apa maksud Dean melakukannya itu dan lagipun ia juga tidak mengenali siapa lelaki itu. Namun, sesaat kemudian Dean mendekatkan kembali tubuhnya dan membuat gadis itu makin bingung.
"Kamu siapa? Kamu mau apa?" tanya si gadis tampak ketakutan dan sedikit merasa curiga.
"Kamu tenang aja, saya cuma mau bantu kamu kok! Ini tisu buat kamu hapus air mata kamu, lelaki seperti dia tidak pantas kamu tangisi! Simpan saja air mata kamu itu untuk sesuatu yang lebih berharga nantinya!" ucap Dean.
Gadis itu mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu apa?" tanyanya terheran-heran.
"Saya sudah lihat semuanya di dalam tadi, kamu habis mergokin pacar kamu yang selingkuh kan? Menurut saya, laki-laki seperti itu gak pantas kamu tangisi!" jawab Dean santai.
"Thanks." gadis itu manggut-manggut saja dan mengambil tisu dari tangan Dean, lalu menyeka air matanya dengan itu.
Dean tersenyum lebar, kini ia berdiri tepat di samping si gadis dan fokus menatap ke arahnya. Jika dilihat dari jarak sedekat ini, tentu memang gadis itu tampak sangat cantik dan memiliki lesung di kedua pipinya. Dean pun heran, mengapa bisa gadis secantik itu diselingkuhi oleh kekasihnya.
"Boleh kita kenalan? Nama kamu siapa?" tanya Dean yang mencoba untuk lebih akrab.
"Yumi, nama saya Ayumi." gadis itu menjawabnya.
Dean tampak senang ketika gadis itu mau mengenalkan diri kepadanya, bahkan tak segan untuk bersalaman dengannya kali ini. Saat ia menyentuh tangan si gadis, betapa syoknya ia karena rasa telapak tangan gadis itu sangat lembut dan membuatnya sulit untuk mengakhiri jabat tangan tersebut.
"Eee ini kan sudah malam, apa gak sebaiknya kamu pulang ke rumah? Biar saya yang antar, takut aja nanti terjadi apa-apa sama kamu," ucap Dean.
Gadis itu menggeleng pelan, "Gausah terimakasih, saya bisa pulang sendiri nanti. Lagian saya belum kenal kamu, gimana bisa saya pulang sama laki-laki asing kayak kamu?" ucapnya menolak.
"Kita kan udah kenalan tadi, kamu lupa ya? Lagian saya bukan laki-laki jahat kok," ucap Dean.
"Kenapa kamu baik sama saya? Atau ini semua cuma akal-akalan kamu aja? Terus nanti kamu mau jebak saya, iya kan?" tanya Yumi dengan curiga.
__ADS_1
"Hadeh, saya bukan orang yang begitu. Kalau saya mau, saya bisa bayar puluhan wanita untuk melayani saya. Tapi, saya ini bukan laki-laki mesum seperti yang kamu kira, Yumi. Kamu tenang aja, saya baik kok!" ucap Dean.
"Yaudah, saya mau ikut sama kamu. Lagipula, saya benar-benar gak tahu harus pulang kemana. Selama ini saya tinggal di tempat pacar saya," ucap Yumi.
Deg
Dean cukup terkejut mendengarnya, ia baru tahu kalau gadis itu ternyata sudah sampai sejauh itu dengan pacarnya. Pantas saja tadi sikapnya terlihat sangat kesal saat memergoki pacarnya yang sedang selingkuh di dalam bar, namun Dean mewajarkan hal itu dan tidak mau terlalu ikut campur karena khawatir Ayumi akan merasa risih nantinya.
"Berarti kamu gak mau balik lagi ke tempat pacar kamu itu? Terus saya antar kamu kemana dong?" tanya Dean terheran-heran.
"Sa-saya juga gak tahu sih, saya bingung harus pulang kemana," jawab Yumi tampak gugup.
Dean menghela nafasnya, "Yasudah, kamu mau tinggal di tempat saya? Kita gak satu atap kok, kebetulan saya punya apartemen lain yang masih kosong. Kamu mau gak?" ucapnya memberi usul.
"Hah? Apa gak ngerepotin kamu? Saya gak bisa bayar uang sewanya loh," ucap Yumi.
Dean malah terkekeh dan merasa Yumi begitu lucu kali ini, gadis itu sampai dibuat bingung ketika melihat Dean tertawa ke arahnya. Yumi mengira jika ia salah dalam berkata, namun ia masih tak mengerti apa penyebab Dean sampai tertawa seperti itu di depannya.
"Ke-kenapa kamu ketawa? Saya salah bicara ya, atau gimana?" tanya Yumi kebingungan.
"Enggak kok, saya lucu aja sama kamu. Abisnya kamu ngira kalau saya akan minta uang sewa ke kamu, padahal niat saya kan menolong kamu loh. Jadi, ya kamu gak perlu bayar apa-apa ke saya!" jelas Dean sambil tersenyum.
"Saya ini udah kaya, Yumi. Uang saya banyak, jadi saya gak akan ngerasa rugi. Malah saya senang kalau kamu mau terima bantuan saya, itu artinya kamu sudah percaya sama saya," jawab Dean.
"Ta-tapi, barang-barang saya semuanya masih ada di tempat pacar saya sih," ucap Yumi.
"Itu biar jadi urusan saya, sekarang kita pergi aja yuk! Takutnya nanti keburu ada pacar kamu, terus dia gak suka lihat kamu sama saya," ucap Dean.
"Okay, thanks ya!" ucap Yumi singkat.
Dean mengangguk disertai senyum tipisnya, lalu mempersilahkan Yumi untuk melangkah lebih dulu di depannya. Gadis itu menurut, kini mereka mulai berjalan berdampingan menuju tempat dimana mobil Dean berada. Tampak Ayumi terus menunduk sepanjang jalan, sepertinya gadis itu masih merasa canggung saat berduaan dengannya.
•
•
Singkat cerita, mereka berdua telah sampai di apartemen milik Dean. Dengan cepat Dean membuka pintu, mengajak Ayumi masuk ke dalam sana bersamanya. Ayumi pun mengikuti langkah pria itu, sehingga mereka kini berada di dalam apartemen yang sangat luas dan mewah itu. Bahkan, Ayumi sampai tertegun dibuatnya karena tak menyangka bahwa ia akan dibawa ke tempat yang luas dan seindah itu.
__ADS_1
"Eee Dean, ini bener apartemen kamu? Kok luas dan besar banget sih? Saya kayaknya gak bisa tinggal disini deh, ini terlalu luas bagi saya. Apalagi, saya kan cuma sendiri disini," ucap Ayumi.
"Haha, kamu gak perlu takut Ayumi! Walaupun kamu tinggal sendiri, tapi kan saya bakal terus datang kesini buat cek kondisi kamu tiap harinya. Lagian bukannya malah bagus ya kalau tempat tinggal kamu lebih luas seperti ini?" ucap Dean.
"Ya iya bagus sih, tapi saya gak enak aja ngerepotin kamu. Harga sewanya pasti mahal banget, masa iya kamu mau biarin saya tinggal disini tanpa bayar?" ucap Ayumi tampak ragu.
"Udah deh Yumi, masalah itu kamu gak perlu pikirin! Saya ini punya banyak uang, jadi kamu tenang aja ya! Anggap aja ini seperti rumah kamu sendiri, silahkan kamu lihat-lihat ke dalam dan pastiin kamu cocok apa enggak tinggal disini!" ucap Dean.
"Ah gausah Dean, saya pasti suka kok tinggal disini. Sekali lagi makasih ya atas bantuannya? Saya beruntung banget bisa ketemu kamu," ucap Ayumi.
"Sama-sama, Yumi." Dean tersenyum dan merasa senang melihat ekspresi Ayumi saat ini.
Setelahnya, situasi tampak canggung karena mereka berdua terlihat begitu bingung dan tak tahu harus berbicara apa lagi. Terutama bagi Ayumi, ya karena gadis itu belum terbiasa dengan sosok lelaki asing seperti Dean. Meski Dean telah membantunya kali ini, tapi tetap saja masih ada sedikit rasa curiga di dalam hatinya kepada pria itu.
"Oh ya, kamu kasih tahu aja dimana alamat tempat tinggal pacar kamu itu ke saya! Biar abis ini saya datang kesana buat ambil barang kamu yang ketinggalan," ucap Dean.
"Apa? Kayaknya gausah deh, saya gak mau ngerepotin kamu terus!" ucap Ayumi.
"Gapapa kok Yumi, saya ini orangnya gak suka setengah-setengah kalo nolong. Selagi saya bisa, kenapa saya gak bantu kamu?" ucap Dean.
"Tapi Dean—"
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Dean sudah lebih dulu menaruh tangannya pada kedua pundak Ayumi dan menatap gadis itu secara intens tanpa berkedip sedikitpun. Dean mendekatkan wajahnya ke arah gadis itu, membuat jantung Ayumi berdebar kencang kali ini karena tidak biasanya ada lelaki yang bersikap seperti itu padanya.
"Ayumi, dengarkan saya! Saya ini tulus niatnya mau bantu kamu, jadi kamu kasih tahu aja dimana alamat lengkap pacar kamu itu!" ucap Dean tegas.
"Eee dia udah bukan pacar saya lagi, Dean. Saya tadi udah putusin dia di bar, kamu tolong jangan sebut dia pacar saya lagi! Kalau kamu emang mau kesana sekarang, saya bisa kirim alamatnya ke handphone kamu," ucap Ayumi.
"Ya kamu benar, itu lebih gampang sih." Dean setuju dengan usul Ayumi dan melepaskan tangannya dari tubuh gadis itu.
Tanpa berlama-lama lagi, Dean segera menyerahkan nomor telponnya kepada gadis itu dan dengan cepat juga Ayumi mengirimkan alamat lengkap tempat tinggalnya dulu bersama Hanif ke nomor Dean itu. Ayumi memang sedikit khawatir, karena ia takut jika Hanif dan Dean malah akan bertengkar nantinya kalau sampai mereka bisa bertemu.
"Nah udah, itu alamat lengkap mantan pacar saya. Tapi, kamu hati-hati ya Dean! Hanif itu orangnya agak tempramen, saya gak mau kalau kalian sampai ribut nantinya!" ucap Ayumi.
"Tenang aja Yumi, saya bisa urus semuanya kok! Kamu cukup diam aja disini, nanti saya kembali bawa semua barang kamu!" ucap Dean.
Ayumi manggut-manggut paham, ia tak mau banyak bicara lagi kali ini dan membiarkan saja apa yang hendak dilakukan Dean untuknya. Lagipula, sedari tadi Dean menunjukkan sikap yang amat baik padanya dan tak ada yang perlu ia khawatirkan lagi tentang pria tersebut.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...