
Harold dan Dean pun berangkat menuju lokasi yang sudah ditentukan, mereka bersiap untuk melakukan pertemuan dengan mister Rendy yang merupakan orang paling berpengaruh di dalam bisnis mereka. Harold tentunya tidak ingin kehilangan sosok pria itu, apalagi ia telah banyak mendapat bantuan dari mister Rendy dan bisnisnya tak akan mungkin dapat sebesar ini jika bukan karena pengaruh beliau.
Di dalam perjalanan, tiba-tiba saja sekumpulan orang mengejar mereka menggunakan mobil serta motor dalam jumlah banyak. Sontak Harold panik dibuatnya, ia menatap ke sekelilingnya dan terlihat bingung dengan keadaan yang ada. Ia tak menyangka kalau rencananya untuk bertemu dengan mister Rendy akan diketahui oleh para musuhnya, padahal ia sudah menutup rapat-rapat kabar itu.
"Dean, bagaimana ini? Kita tidak mungkin bisa sampai tepat waktu jika terus begini, mereka tidak boleh tahu dimana mister Rendy berada!" ucap Harold.
"Sabar tuan! Saya sedang menghubungi beberapa anak buah saya untuk meminta bantuan," ucap Dean.
"Baiklah, kamu harus pastikan para kroco-kroco ini musnah dan tidak ada yang mengikuti kita sampai ke markas!" titah Harold.
"Baik tuan!" ucap Dean patuh.
Harold masih terus terlihat panik saat ini, beberapa kali ia menoleh ke belakang dan juga kanan kirinya untuk memastikan berapa jumlah orang yang tengah mengejarnya. Harold cukup khawatir setelah mengetahui ada banyak sekali orang disana, tentu tak akan mungkin baginya untuk bisa mengalahkan mereka semua.
"Adam, bawa mobilnya lebih cepat lagi! Kita tidak boleh sampai tersalip!" perintah Harold pada sang supir.
Laju mobil pun bertambah cepat, sedangkan Dean masih berusaha menghubungi para anak buahnya. Hanya saja, Dean tampak kesulitan untuk bisa melakukan itu karena sepertinya seluruh nomor yang biasa ia gunakan untuk berkomunikasi dengan mereka tidak bisa dihubungi. Dean pun kebingungan saat ini, terlebih ia melihat bosnya yang sedang panik dan ketakutan karena dikejar-kejar musuh.
"Tuan, sepertinya kita tidak bisa meminta bantuan. Saya sudah coba hubungi mereka, tetapi semua nomor tidak ada yang aktif. Mungkin ini ulah dari para musuh kita," ucap Dean melapor.
"Sial! Kalau begitu tidak ada cari lain, tambah kecepatannya Adam!" ucap Harold.
"Baik pak bos!" ucap Adam patuh.
Ya Harold tentu saja bertambah panik setelah mendengar laporan dari Dean tadi, apalagi posisi mereka sekarang makin terjepit. Mobil yang mereka tumpangi itu telah diapit oleh dua motor sekaligus dari arah yang berlawanan, begitu juga di posisi belakang mereka yang sudah diintai oleh satu buah mobil sedan berwarna abu-abu.
"Siapa sebenarnya mereka?" gumam Harold.
Dean menggeleng saja mendengarnya, ia sendiri pun tak tahu siapa yang sedang mengejar mereka saat ini. Lagi-lagi Harold kembali meminta Adam untuk menambah kecepatan mobilnya, namun semua itu sia-sia sebab mobil mereka telah berhasil disalip dari berbagai sisi dan membuat Adam tidak mampu berbuat banyak karena sudah terkepung.
Baik Harold maupun Dean sama-sama panik, mereka kompak terpejam dan mendengus kesal dengan kejadian yang mereka alami saat ini. Para rombongan di luar sana mulai turun dari kendaraan masing-masing, lalu berteriak sembari memukul kaca mobil itu seolah meminta Harold serta Dean untuk turun dari dalam sana.
"Tuan, biar saya aja yang handle semuanya. Saya akan hadapi mereka di luar, tuan dan Adam lebih baik pergi melalui jalur lain!" usul Dean.
"Tapi Dean, kamu—"
"Tidak usah perdulikan keselamatan saya, tuan. Bisnis ini harus tetap dijalankan!" sela Dean.
Setelah sempat berpikir sejenak, akhirnya Harold mengangguk setuju dengan apa yang diusulkan oleh asistennya itu. Kini Dean turun lebih dulu untuk memancing para musuhnya itu, ia sengaja mendorong pintu mobil dengan keras agar membuat beberapa dari mereka terjatuh dan itu bisa memakan waktu bagi Harold kabur dari sana.
"Siapa kalian, ha?" tanya Dean dengan lantang kepada orang-orang di sekelilingnya.
•
•
Sementara itu, Mawar dan Ayla berpisah di pertigaan jalan untuk pulang ke rumah masing-masing setelah selesai bekerja di malam hari ini. Ya keduanya memang sering pulang bareng seperti sekarang, namun hanya sampai pertigaan yang tak jauh dari bar tempat mereka bekerja. Dari sana lah nanti mereka akan menaiki kendaraan yang berbeda, mengingat tujuan mereka yang juga berbeda.
Disaat Mawar tengah asyik menunggu kendaraan umum yang lewat, tanpa diduga tiga orang pria berbadan kekar datang mendekatinya dan seolah menghalangi jalan gadis itu. Tentu saja Mawar tampak panik saat ketiga pria tersebut mendekat, lalu mengepungnya. Apalagi, kondisi di jalan itu cukup sepi karena hari memang sudah larut.
__ADS_1
"Ka-kalian mau apa??" Mawar bertanya sembari melindungi tasnya dari sergapan pria-pria itu.
Ketiganya justru kompak tertawa mendengar pertanyaan dari Mawar, sepertinya mereka memang sengaja melakukan itu untuk membuat mental Mawar terganggu. Dan benar saja, kini Mawar pun semakin ketakutan dan tampak kebingungan. Gadis itu tak tahu harus bagaimana, kabur pun percuma karena pasti ia akan mudah tertangkap kembali.
"Hahaha, heh gadis cantik! Lo kalau mau pulang lewat sini, harus bayar pajak dulu ke kita! Sini serahin semua barang-barang berharga lu!" ucap si pria.
"Hah? Tapi, aku gak punya barang apapun," ucap Mawar memelas.
"Oh, yaudah kalo gitu lu harus bayar pake tubuh lu!" ucap si pria sembari mendekat ke arah Mawar dan berusaha menangkapnya.
"Ah apaan sih? Gak mau, lepasin aku! Lepasin!" Mawar berteriak dan coba memberontak.
Namun, usaha gadis itu sia-sia saja karena ketiga pria tersebut berhasil lebih dulu mendekap kuat tubuhnya dari berbagai sisi yang membuat Mawar tentunya tidak bisa berbuat apa-apa. Ketiganya bahkan memaksa Mawar untuk ikut bersama mereka menuju tempat yang sudah mereka sediakan, ya tentu Mawar sangat takut saat ini.
"Lepasin aku, kalian gila dasar orang jahat! Aku gak mau turutin kemauan kalian!" sentak Mawar.
Mawar terus memberontak meskipun selalu saja gagal, ya tenaganya tentu tak sebanding dengan ketiga pria yang ada di dekatnya. Akhirnya kini Mawar harus pasrah diseret-seret oleh mereka bertiga menjauh dari tempat itu, Mawar coba berteriak tetapi kali ini mereka juga membekap mulutnya sehingga ia tak bisa melakukan apapun.
Lalu tanpa diduga, sebuah mobil berhenti di dekat mereka dan muncul seorang lelaki yang turun dari sana menghampiri mereka. Mawar terkejut saat menyadari Javier lah yang datang, ia menganga seolah bingung harus senang atau tidak. Pasalnya, sebelum ini Javier telah menemuinya dan memaksa dirinya untuk melayani pria bejat itu.
"Heh! Kalian lepasin pacar saya, atau kalian akan tahu akibatnya!" ucap Javier dengan lantang.
"Hahaha, jadi ini pacar lu? Enak aja minta dilepasin, dia sekarang udah jadi milik kita dan dia harus turutin semua kemauan kita!" ucap preman itu.
"Tolong lepaskan dia! Saya akan bayar berapapun yang kalian mau, asal kalian bebaskan pacar saya sekarang. Ayo, katakan saja berapa uang yang kalian inginkan!" ucap Javier memberi penawaran.
"Cih, buat apa uang? Tubuh cewek lu ini lebih berharga buat kita, hahaha!" ucap si preman.
Kedua tangannya sudah terkepal kuat menunjukkan betapa emosinya ia, akhirnya Javier bergerak maju lalu menghadapi ketiga preman itu sekaligus. Mawar yang syok hanya bisa diam memandangi perkelahian di depan matanya itu, dia sepertinya masih tak menyangka kalau Javier akan nekat berkelahi demi membantunya.
Bugghhh
Mawar sampai terbelalak kaget melihat Javier terkena pukulan di bagian perutnya dan terjatuh kesakitan, gadis itu pun mulai panik dan berharap jika Javier akan baik-baik saja. Ia berteriak meminta pertolongan dari warga sekitar, karena sepertinya kondisi Javier makin memburuk dan terus dihajar habis-habisan oleh para preman itu.
"TOLONG! TOLONG DISINI ADA PREMAN, TOLONG!" teriak Mawar dengan lantang.
Akhirnya segerombolan orang yang kebetulan lewat di dekat sana mendengar teriakan keras gadis itu, mereka semua kompak berlari mendekat sambil berusaha mengejar preman-preman yang menghajar Javier disana. Ya sontak para preman itu mulai ketakutan, mereka menghentikan aksinya dan pergi meninggalkan Javier begitu saja.
Mawar pun mendekat ke arah Javier yang masih terkapar disana, ia merasa bersalah karena pria itu nekat berkelahi hanya untuk menolongnya. Mawar benar-benar tak menyangka ini semua akan terjadi, ia menangis sedih melihat kondisi Javier yang babak belur dipenuhi luka serta darah yang mengalir di beberapa bagian tubuhnya.
"Anda harus dibawa ke rumah sakit, luka anda cukup parah! Sebentar ya, saya carikan kendaraan dulu untuk kita!" ucap Mawar cemas.
Namun, tiba-tiba saja Javier menahan lengan Mawar yang hendak bangkit mencari kendaraan umum. Mawar tersentak kaget, ia menoleh ke arah pria itu dengan bingung dan mengurungkan niatnya karena tidak diizinkan oleh Javier. Lalu, Javier justru bangkit dengan susah payah dan terduduk di samping Mawar sambil memegangi perutnya.
"Uhuk uhuk, saya gapapa kok Mawar. Kamu gausah cemas gitu, lagian saya kan ada bawa mobil tuh. Urusan luka di tubuh saya mah gak penting, yang terpenting kamu bisa selamat," ucap Javier.
"Tapi, anda terluka parah. Kalau tidak segera diobati, saya khawatir terjadi sesuatu nanti!" ucap Mawar.
"Baiklah, saya mau dibawa ke rumah sakit. Tapi, kamu temani saya ya selama disana! Saya gak mungkin sendirian dong?" pinta Javier.
__ADS_1
"Hah??" Mawar terperangah mendengarnya.
Ya tetapi Mawar tidak punya pilihan lain, Javier lah yang sudah menolongnya tadi dan kini Mawar harus bisa membalas budi kepada Javier atas apa yang sudah pria itu lakukan. Mawar pun mau mengantar Javier ke rumah sakit, dengan bantuan para warga kini Mawar memapah tubuh Javier dan membawanya ke dalam mobil milik pria itu.
•
•
Harold berhasil turun dari mobilnya dan berusaha kabur menjauh dari kejaran orang-orang yang mengikutinya, tapi baru beberapa langkah ia berjalan tiba-tiba sudah ada seseorang yang meneriakinya dari belakang dan membuat langkahnya terkejut. Sontak Harold mengangkat kedua tangannya, ia tidak mau jika orang itu menembak kepalanya.
Perlahan Harold membalikkan tubuhnya, ia lihat dua orang sosok bertopeng tengah menodongkan pistol ke arahnya disertai tatapan tajam. Dari penampilan keduanya saat ini, Harold masih belum dapat mengetahui siapa mereka. Harold pun terlihat bingung dan tak tahu harus apa, terlebih ia hanya seorang diri setelah Dean terjebak disana.
"Kalian sebenarnya mau apa? Kenapa kalian mengikuti saya sampai kesini?" tanya Harold.
"Tidak usah banyak omong, ikut saja dengan kami dan kamu akan aman! Jika tidak, maka pistol inilah yang akan membuat kepala kamu pecah!" ucap salah satunya mengancam.
"Kenapa saya harus ikut dengan kalian? Siapa memangnya kalian?" tanya Harold lagi.
"Sudah kami bilang, jangan banyak tanya!" geram si penopeng sembari menembakkan pelurunya yang mengarah ke pohon di dekat mereka.
Dor
Melihat itu, Harold sampai terperangah dan tak berkutik sama sekali. Harold sedang tidak bersenjata saat ini, selain itu posisinya juga terjepit dan ia tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah menurut pada permintaan mereka. Akhirnya Harold dituntun pergi dari tempat itu dengan dua pistol menempel di kepalanya, sehingga pria itu hanya bisa berdiam diri dan berdoa.
Kini Harold dipaksa masuk ke dalam mobil yang sudah tersedia, mau tidak mau ia harus melakukan itu karena tak ada pilihan lain. Harold pun terduduk di kursi belakang ditemani oleh seorang pria, sedangkan pria yang lainnya menyetir di depan. Namun belum sempat melajukan mobilnya, tiba-tiba satu tembakan meluncur tepat mengenai bagian lengan si penopeng itu sampai terjatuh.
Mata Harold terbelalak lebar melihat hal itu, begitu juga dengan satu orang penopeng yang ada di sebelahnya. Harold sedikit merasa lega dengan kehadiran orang lain yang barusan menembak sosok penopeng itu, ia menyangka kalau kelompok yang baru datang tersebut adalah anak buahnya. Tentu saja hal itu disadari oleh si penopeng di sebelahnya, tanpa basa-basi dia kembali menodongkan pistol ke kepala Harold dan mengancamnya.
"Heh! Kamu jangan berani macam-macam atau kabur dari sini, ingat itu!" ancam si penopeng.
Harold mengangguk saja, lalu penopeng itu turun untuk membantu temannya yang sedang beradu tembak dengan kelompok lain di luar sana. Harold memantau saja dari dalam mobilnya, ia masih mengira kelompok itu adalah anak buahnya. Tapi kemudian, Harold menyadari kalau ada yang mengganjal dari pakaian kelompok tersebut.
"Aneh, mereka kelihatan bukan seperti anak buah saya. Siapa mereka? Jangan-jangan, itu kelompok lain yang juga menginginkan saya dan mau membatalkan rencana kerjasama saya dengan mister Rendy!" gumam Harold.
"Enggak-enggak, ini gak bisa dibiarin. Saya harus pergi dari sini!" sambungnya panik.
Tanpa berpikir panjang, Harold langsung memecahkan kaca mobil dengan tangannya dan melompat keluar dari sana. Ia cepat-cepat bangkit lalu pergi secepat mungkin untuk menghindari mereka semua, meski tangannya saat ini tampak berdarah-darah akibat terkena pecahan kaca mobil tersebut.
"HEY TUNGGU!" sepertinya orang-orang dari kelompok baru itu sudah berhasil mengejar Harold dan memasuki hutan.
Harold terus berlari dan berusaha sembunyi, tapi ia sendiri juga bingung harus pergi kemana karena tempat itu sangat asing baginya dan belum pernah ia datang kesana. Sampai kemudian, ia malah tersandung oleh akar pohon dan terjatuh ke bawah. Hal itu dimanfaatkan oleh kelompok musuh yang mengejarnya, mereka dengan cepat mengepung serta menodongkan pistol ke arahnya.
"Habis kamu, Harold!"
Dor
Suara tembakan terdengar dan burung-burung yang bersembunyi disana mulai berterbangan.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...