Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Si Jarot


__ADS_3

Harold masih bersama seorang wanita penjual minuman yang tadi ia panggil, tak terasa ia sudah menghabiskan satu buah botol minuman dan masih merasa haus saat ini. Ya mereka juga telah banyak berbincang disana, Harold dengan setia menjadi pendengar bagi si wanita yang membagikan keluh kesahnya sebagai seorang pedagang kaki lima yang membuat Harold merasa tersentuh dan kasihan.


Pria itu pun kembali mengambil satu botol minuman lainnya dan langsung menenggaknya seolah tidak minum bertahun-tahun, cuaca disana memang terik dan membuat Harold merasa haus terus-menerus meski sudah minum minuman itu. Begitu juga dengan si wanita, apalagi dia telah berjalan cukup jauh untuk menjajakan dagangannya kepada para orang yang ia lalui di jalan sekitar sana.


"Oh ya dek cantik, daritadi kita udah ngobrol banyak nih. Tapi, saya belum tahu siapa nama kamu. Kalau boleh tahu, nama kamu siapa sih?" tanya Harold penasaran.


"Ohh, saya Naya pak. Kalau bapak sendiri namanya siapa?" jawab gadis itu dengan lembut.


"Saya Harold, omong-omong jangan panggil saya pak dong! Panggil aja saya mas atau kakak gitu, biar lebih enak didengar!" ucap Harold.


"Ah iya pak, eh maksudnya kak." gadis itu langsung menurut dan memanggil Harold dengan sebutan 'kak', yang sebenarnya tak pantas untuknya.


"Nah gitu dong, kan keren!" Harold tersenyum lebar mendengarnya.


Gadis bernama Naya itu tampak malu-malu ketika Harold menunjukkan senyumnya, ia reflek menunduk lalu merapihkan rambut serta pakaiannya agar tidak membuat Harold merasa jijik. Naya sadar bahwa kondisinya saat ini sedang tidak baik, tubuhnya dipenuhi keringat akibat berkeliling di tengah cuaca yang terik demi menjual minumannya.


"Kamu kalau haus minum aja, kan jualan kamu sendiri gapapa lah diminum!" usul Harold.


"Ah gak bisa kak, ini jualan punya orang. Saya cuma bantu jualin aja terus dikasih upah nanti, kalau saya ambil gitu aja nanti saya disuruh ganti rugi," ucap Naya menjelaskan.


"Oalah, saya kira ini punya kamu sendiri. Yasudah, saya bayarin deh nanti. Kamu ambil mana yang kamu mau, terus minum biar segar!" ucap Harold.


"Beneran nih kak?" tanya Naya memastikan.


Harold mengangguk saja sebagai jawaban, ia juga kembali mengambil botol ketiga dan meminumnya sampai sisa setengah. Tanpa basa-basi lagi, Naya pun ikut menenggak satu botol minuman dari tempat jualannya. Naya sangat senang bertemu dengan orang baik seperti Harold, inilah yang dia harapkan dari lama.


"Gimana, udah enakan kan tenggorokannya? Gak kering lagi kan habis minum itu?" tanya Harold.


Gadis itu manggut-manggut sambil tersenyum, sepertinya mereka kini sudah semakin akrab dan terbiasa dengan obrolan itu. Harold sendiri juga merasa kasihan pada Naya, terlebih setelah ia mengetahui bahwa keluarga Naya amat membutuhkan bantuan karena kondisi yang buruk disertai ekonomi yang menipis.


Jika saja Harold tidak menikah dengan Maysa, mungkin Naya akan ia jadikan istri keduanya. Hanya saja, pria itu kini telah bertemu dengan Maysa yang merupakan sosok wanita yang paling ia cintai di dunia ini. Tidak mungkin tentu Harold berkhianat dari Maysa, apalagi menduakan wanita itu. Melihat Maysa bersedih saja, Harold tidak mampu. Apalagi, jika nantinya ialah yang menyakiti hati istrinya.


"Naya, kamu—"


Tin tin tin....


Ucapan Harold terhenti saat tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya dan membunyikan klakson berulang kali, Harold sadar bahwa yang datang itu adalah Dean alias asisten pribadinya. Ya karena Harold sudah hafal dengan mobil milik pria itu, apalagi sekarang Dean juga telah turun dari mobilnya bersama seorang gadis yang tak lain adalah Saskia alias adik iparnya.


"Halo bos! Waduh, siapa nih bos bening amat kayak berlian? Cem-ceman baru ya??" Dean menyapa bosnya sambil sedikit menggodanya.


"Apaan sih kamu? Jangan asal bicara ya, dia ini cuma pedagang kaki lima! Saya haus tadi makanya beli minuman di dia," elak Harold.

__ADS_1


Bukannya percaya, Dean justru senyum-senyum seolah menggoda bosnya itu. Sontak Harold merasa jengkel dengan sikap Dean yang makin kurang ajar itu, rasanya ingin ia menghajar pria itu jika bukan asistennya. Namun, pandangan Harold kini beralih ke wajah Saskia yang tersenyum lebar di depannya ketika melihat pertikaian mereka.


"Eh Saskia, kamu kenapa bisa sama manusia aneh ini? Kalian sering jalan bareng ya?" tanya Harold dengan nada curiga.


"Eee kita....."


Saskia terlihat bingung saat hendak menjawabnya, ia melirik ke arah Dean yang juga malah berpaling membuang muka dan berpura-pura tidak melihat tatapan gadis itu. Saskia pun terpaksa menjelaskan saja semua secara detail, lagipula ia memang tak melakukan apa-apa dengan Dean dan hanya sekedar ingin menikmati makan siang bersama.


"Aku tadi sama kak Dean lagi makan siang, makanya kita bisa bareng kesini," jelas Saskia.


"Iya tuh, gara-gara bos telpon jadinya kita belum sempat makan siang deh. Kasihan tahu Saski ini, pasti dia lapar banget!" sahut Dean.


"Yah elah Dean, kamu jangan macam-macam ya sama adik ipar saya! Kalau kamu berani sakitin dia, kamu berurusan sama saya!" ucap Harold mengancam.


"Eits, saya gak ngapa-ngapain kok. Malah saya kan ajakin dia makan siang tadi," ucap Dean membela diri sambil tersenyum lebar.


"Bisa aja kamu kalo soal ngeles! Yaudah, kamu bayarin tuh minuman saya ke Naya! Gausah minta kembalian, hitung-hitung bantu dia yang butuh bantuan!" titah Harold.


"Ah siap bos! Tapi, uangnya mana?" tanya Dean seraya menyodorkan tangannya.


Harold terdiam memandang sejenak wajah asisten pribadinya itu, ia menempelkan sekilas tangannya di atas telapak Dean lalu berjalan lebih dulu melewati pria itu tanpa memberikan uang sepeserpun dan juga meninggalkan kopernya disana. Harold mengajak Saskia untuk masuk ke dalam mobil, sedangkan Dean merasa kesal pada sikap bosnya.


"Hadeh bos, ini saya minta uang loh bukan minta salaman. Mana uangnya bos?" komplain Dean.


Dengan seenaknya Harold masuk ke dalam mobil dan terduduk di kursi belakang bersama Saskia, ya Harold sendiri yang mengajak Saskia duduk di belakang karena tidak ingin Dean mengambil kesempatan untuk menggoda gadis itu. Meski Saskia awalnya ragu, tapi kini ia hanya bisa pasrah menuruti kemauan kakak iparnya.


Sementara Dean mendekati Naya alias si penjual minuman itu, ia mengeluarkan lima lembar uang seratus ribu dari dalam sakunya. Lalu, ia berikan uang tersebut kepada Naya sambil bersalaman sejenak dengannya. Baru setelah itu, Dean bergegas masuk ke dalam mobil menyusul bosnya yang sudah lebih dulu berada disana.


"Udah saya bayarin tuh bos, jadi bos punya hutang ke saya lima ratus ribu!" ucap Dean terkekeh.


"Hahaha, pintar juga ya kamu Dean? Kasih uangnya banyak banget, biar saya bayar juga banyak. Hebat kamu hebat!" cibir Harold.


"Oh iya dong, saya!" ucap Dean berbangga diri.


"Kalau gitu, saya bayarnya dengan potong gaji kamu. Gimana, puas kan kamu sekarang?" ucap Harold menyeringai.


"Hah??" Dean melongok dan menganga lebar mendengar ucapan bosnya itu.



__ADS_1


Disisi lain, Javier baru selesai membersihkan tubuhnya dan langsung keluar dari dalam kamar mandi di apartemennya itu dengan mengenakan handuk yang melekat di pinggangnya. Pria itu berjalan menuju lemari pakaian miliknya, namun tanpa diduga sudah tergeletak satu set pakaian di atas ranjang yang dikhususkan untuknya.


Javier pun tersenyum melihat itu, ia tahu ini semua adalah perbuatan Mawar yang memang masih tinggal disana bersamanya. Tanpa berpikir panjang, Javier segera memakai pakaian yang telah disiapkan Mawar itu dengan antusias. Lalu, cepat-cepat juga ia menyelesaikannya agar bisa menemui Mawar di depan sana.


Akan tetapi, tanpa diduga lagi pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dari luar saat ia baru melepas lilitan handuk dari tubuhnya. Ya saat itu juga suara jeritan seorang wanita terdengar keras, Javier menoleh ke asal suara dan terkejut melihatnya. Disana ada sosok Mawar yang tengah berdiri menatapnya, gadis itu sepertinya amat syok dengan apa yang terjadi.


"Aaaaa!!!" teriakan itu memekakkan telinga Javier, sampai-sampai Javier kesulitan untuk meraih kembali handuknya.


Namun, Mawar juga hanya berdiam diri disana sambil terus berteriak dan menutup matanya. Mungkin gadis itu terlalu syok saat ini, sehingga ia tidak bisa melakukan apa-apa dan juga tak tahu harus bagaimana. Akhirnya Javier memanfaatkan momen itu sebagai kesempatan baginya, pria itu mendekati Mawar dengan tubuh polosnya.


"Ehem ehem!" Javier berdehem pelan sembari menyentuh pundak sang gadis.


Mawar membuka matanya, lalu suara teriakan kembali terdengar dan membuat Javier harus menutup telinganya. Mawar meronta-ronta dan hendak keluar dari kamar itu, tetapi Javier lebih dulu mencekal lengannya dan menahannya disana. Ya Javier juga malah menarik tubuh Mawar begitu saja, membawanya ke dalam kamar lalu menghimpitnya di tembok dengan senyum seringainya.


"Kak, kak Vier mau apa? Kakak udah janji loh kalau selama saya tinggal disini, kakak gak akan macam-macam sama saya. Jadi, sekarang kakak tolong lepasin tangan saya ya!" ucap Mawar tampak ketakutan.


"Haha, kamu gausah takut Mawar! Saya cuma mau menunjukkan ke kamu kalau saya ini perkasa loh," ucap Javier tersenyum lebar.


Mawar melongok dibuatnya, "Maksud kakak apa ya? Dengan kakak telanjang kayak gini, saya jadi makin takut loh. Tolong kak, minimal dipake lagi lah itu handuknya!" ucapnya memelas.


"No baby, kamu lihat dulu seluruh tubuh saya ini! Pandangi setiap incinya!" pinta Javier.


"Ish, dasar mesum!" Mawar mengumpat kasar.


Plaaakk


Tak hanya umpatan yang diberikan Mawar, namun beserta tamparan keras juga yang mendarat tepat di pipi sebelah kiri pria itu. Tentu saja Javier meringis kesakitan sembari memegangi pipinya, sedangkan Mawar kembali berniat kabur dari sana selagi Javier masih kesakitan saat ini. Akan tetapi, niatnya lagi-lagi gagal karena Javier berhasil menghalanginya dan mendekap tubuhnya.


"Nah kena kamu, ayo kamu harus tanggung jawab! Punya saya tegang nih gara-gara kamu, bantu dia puas baby!" ucap Javier.


"Hah? Gak mau, ih kakak ingat sama janji kakak dong!" rengek Mawar.


"Iya Mawar, saya cuma pengen kamu kenalan sama junior saya ini. Nama dia Jarot, jago bikin c..." Javier mengenalkan senjata andalannya itu kepada Mawar, tapi ia sengaja tak melanjutkan kalimat akhirnya karena yakin kalian sudah bisa menebaknya.


Mendengar itu, Mawar pun merinding dan semakin ketakutan. Ia tentu tak mau jika Javier sampai berbuat nekat saat ini, apalagi memaksanya untuk membuka segel yang telah ia jaga cukup lama.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


...|||...

__ADS_1


...Siapa yang mau kenalan juga sama Jarot?...


__ADS_2