
Maysa dan Clara kini duduk di tempat yang tak terlalu jauh dari Harold, tentunya itu sesuai dengan permintaan Harold yang meminta mereka agar tetap berada di dekatnya. Namun, Clara sudah memastikan kalau Harold tidak akan bisa mendengar apa yang sedang ia bicarakan dengan Maysa saat ini.
"Jadi gimana Clara, apa yang mau kamu bicarakan sama aku sekarang? Tolong dipercepat ya, karena aku gak punya banyak waktu!" ucap Maysa sambil tersenyum.
Clara memutar bola matanya begitu mendengar perkataan Maysa, jika bukan karena Zanna maka pasti Clara sudah emosi saat ini. Clara memang sangat tidak menyukai Maysa sejak kedekatan wanita itu dengan putrinya, itu sebabnya ia ingin sekali menyingkirkan Maysa dari kehidupan Harold.
"Begini aja, aku sebenarnya cuma mau minta kamu untuk membatalkan pernikahan kamu dan mas Harold! Gimana, apa kamu bisa?" ujar Clara.
"Hah? Kamu yang bener aja dong Clara, gak mungkin aku membatalkan pernikahan aku yang tinggal hitung hari ini!" ucap Maysa tegas.
"Aku udah duga kamu akan bilang begitu, tapi kali ini aku mohon sama kamu untuk nurut sama apa yang aku katakan tadi! Aku janji, aku akan kasih kamu uang yang banyak kalau kamu mau membatalkan pernikahan kalian!" ucap Clara menawarkan.
Maysa sampai terbelalak mendengar apa yang diucapkan Clara barusan, ia terpancing emosinya dan merasa jika Clara sudah merendahkan harga dirinya saat ini. Dengan Clara mengatakan itu, maka Clara sudah menganggap bahwa Maysa mau menikah dengan Harold hanya karena mengincar harta juga kekayaan pria itu.
Tentu saja Maysa dengan keras menolaknya, tidak mungkin ia mau menuruti permintaan Clara yang sangat tidak masuk akal itu. Ia menikah dengan Harold bukan hanya karena harta lelaki itu, tetapi juga karena ia memang mencintainya dan tidak bisa melupakannya begitu saja.
"Aku gak butuh uang dari kamu Clara, mas Harold saja bisa memberikan apapun buat aku. Jadi, kamu jangan mikir kalau aku akan mudah tergiur dengan penawaran kamu itu!" tegas Maysa.
Clara terdiam saat itu juga, ia tak mengira Maysa akan mengatakan itu dan menolaknya secara terang-terangan. Padahal, tadinya ia mengira Maysa mau bekerjasama dengannya dan tidak jadi menikah dengan Harold. Namun, kesetiaan Maysa pada Harold membuat Clara sungguh terkejut serta bingung harus bagaimana lagi.
Disaat yang sama, Maysa juga beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tasnya. Clara pun ikut bangkit berusaha menahan wanita itu, karena Clara masih belum selesai berbicara dan ingin Maysa tetap berada disana. Clara tak akan menyerah sampai disitu, ia harus pastikan bahwa Maysa tidak menikah dengan mantan suaminya.
"Tunggu dulu Maysa! Kita belum selesai loh, aku masih pengen ngobrol sama kamu. Kamu duduk lagi ya, kita bicarakan semua ini baik-baik!" ucap Clara.
"Gak ada lagi yang perlu dibahas Clara, aku tahu kamu pasti bakal terus minta aku buat batalin pernikahan aku sama mas Harold. Dan itu semua gak akan mungkin terjadi!" tegas Maysa.
"Kamu harus tahu apa alasan aku May, aku ngelakuin ini semua karena aku gak pengen berpisah sama anak aku satu-satunya!" ucap Clara memelas.
Deg
Maysa terbelalak dibuatnya, ia baru tahu kalau Clara begitu mencintai Zanna. Bahkan, Clara rela melakukan apapun demi bisa memiliki Zanna seutuhnya. Maysa mewajarkan apa yang dilakukan Clara saat ini, sebab jika hal itu terjadi padanya maka mungkin Maysa akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Clara.
"Kamu pasti ngerti sama keadaan aku sekarang, Maysa. Aku cuma punya Zanna di kehidupan aku, dan aku gak mau satu-satunya harta yang paling berharga di hidup aku itu diambil sama orang lain!" ucap Clara merengek di hadapan Maysa.
Jujur Maysa tidak tahu harus mengatakan apa saat ini, ia merasa kasihan pada Clara yang memang tidak bisa berjauhan dari Zanna itu. Namun, Maysa pun juga tidak mungkin membatalkan pernikahan yang sudah di depan mata itu. Jika sampai itu terjadi, maka Harold bisa sangat membencinya dan akan melakukan apapun padanya.
Mata Maysa beralih menatap ke arah Harold yang juga sedang memandanginya saat ini dari tempatnya terduduk, Maysa sangat bingung dan entah harus bagaimana dalam menjawab perkataan Clara barusan. Maysa pun meraih kedua tangan Clara, lalu menggenggamnya dengan kuat sembari menatap wajahnya disertai senyuman tipis.
"Clara, kamu itu ibu kandungnya Zanna. Selamanya juga akan begitu, dan Zanna gak mungkin melupakan kamu! Kamu gak perlu takut akan kehilangan Zanna, karena itu tidak akan pernah terjadi!" ucap Maysa.
"Kamu salah Maysa!" tiba-tiba saja, sebuah suara berat muncul di dekat mereka.
Sontak Maysa serta Clara sama-sama menoleh ke asal suara itu, mereka terkejut melihat Harold yang bergerak mendekat dengan satu tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Harold tampaknya mengetahui semua yang dibicarakan kedua wanita itu disana, dan kini Harold sudah tak tahan lagi dengan drama yang dilakukan Clara.
__ADS_1
"Seorang ibu seperti Clara harus dan memang pantas untuk kehilangan Zanna, karena dia bukan ibu yang baik bagi putri saya itu! Dulu disaat Zanna lahir, wanita ini malah tetap asyik dan fokus pada dunianya sendiri! Dia tidak pernah memperdulikan Zanna, bahkan untuk sekedar memberi asi saja dia tidak mau. Lantas, ibu seperti apakah yang dimaksud?" ucap Harold.
Maysa terbelalak mendengarnya, ia spontan menatap ke arah Clara yang juga ikut terkejut setelah Harold mengutarakan semua kesalahannya di masa lalu. Clara memang seringkali tidak di rumah saat itu, bahkan Clara juga jarang sekali mengurus Zanna dikala gadis itu masih memerlukan kehadiran dirinya.
"Jika bukan karena Zanna yang meminta, maka saya juga tidak sudi membiarkan hak asuh Zanna jatuh ke tangan wanita biadab ini!" sambung Harold.
"Mas! Kamu gak boleh ngomong kayak gitu ke Clara, apalagi di depan banyak orang begini!" tegur Maysa.
"Biarin aja, biar dia sadar diri kalau bukan cuma saya yang salah dulu. Saya ini memang selingkuh, tapi dia gak pernah nyadar kalau dirinya itu penyebab mengapa saya selingkuh!" tegas Harold.
"I-i-iya mas, yaudah ya kita gausah debat disini! Gak enak tahu sama pengunjung yang lain!" pinta Maysa.
Harold langsung menurut begitu Maysa yang memintanya, pria itu memilih untuk tidak lagi melanjutkan kata-katanya tadi. Akhirnya mereka berdua kini memutuskan kembali ke meja mereka sebelumnya, sedangkan Clara ditinggal begitu saja disana dalam keadaan kesal bercampur malu.
Clara pun menjadi pusat perhatian dan bahan cibiran orang-orang di sekitar sana yang mendengar ucapan Harold tadi, wanita itu sungguh malu karena sekarang semua orang di dekatnya tahu bahwa ia bukanlah sosok ibu yang baik bagi Zanna. Tanpa banyak berpikir lagi, Clara akhirnya memilih pergi dari sana karena tidak tahan dengan gunjingan dari para pengunjung di restoran tersebut.
•
•
Singkat cerita, Maysa akhirnya diantar ke kampus oleh Harold karena memang sekarang ini wanita itu memiliki satu kelas yang harus ia ikuti. Harold pun menghentikan mobilnya tepat di depan kampus wanitanya itu, dan lalu mereka berdua sama-sama turun dari mobil untuk bergegas masuk ke dalam kampus sambil bergandengan tangan.
Harold baru berhenti begitu mereka benar-benar berada di area kampus, sebab Harold tidak ingin membiarkan Maysa pergi sendiri tanpa mendapat pengawasan darinya. Pria itu juga terus saja menggenggam tangan Maysa, seolah tak ingin melepasnya walau hanya sedetik.
Harold malah tersenyum sembari mengusap rambut wanitanya yang halus itu dengan satu tangannya, Harold memang senang sekali melakukan itu karena menurutnya rambut Maysa itu sangat halus dan enak untuk disentuh. Kini ia tampak menatap terus wajah Maysa dari jarak dekat, sehingga membuat detak jantung Maysa bergerak tak karuan.
"Ih kamu mah, diajak ngobrol bukannya dengerin malah senyum-senyum gak jelas!" kesal Maysa.
"Ahaha, maaf ya sayangku! Iya deh iya, aku cuma antar kamu sampai sini. Tapi, kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin aku ya!" ucap Harold.
Maysa mengangguk antusias, "Iya mas, itu mah pasti. Udah sekarang kamu mending pergi deh, sebentar lagi kan waktunya Zanna pulang sekolah!" ucapnya.
"Oh kamu usir aku nih? Jahat banget sih calon istri aku ini, masa calon suaminya sendiri diusir kayak gitu?" ucap Harold dengan wajah cemberut.
Maysa terkekeh dengan sikap manja pria itu barusan, ia tak menyangka jika Harold yang dikenal dingin dan arogan itu bisa bersikap seperti tadi di hadapannya. Namun, Maysa merasa gemas dibuatnya dan tidak bisa diam begitu saja melihat ekspresi calon suaminya.
"Gak gitu mas, aku kan cuma minta kamu buat gak telat jemput Zanna!" ucap Maysa.
"Hm, yaudah aku pergi dulu ya? Kamu hati-hati disini, jangan lupa nanti pas pulang telpon aku biar aku jemput!" ucap Harold.
"Sip mas!" Maysa mengacungkan jempolnya.
Akhirnya Harold berbalik dan kembali ke mobilnya, meninggalkan Maysa seorang diri disana yang masih setia memandangi punggung Harold sampai hilang tak terlihat. Setelah itu, barulah Maysa hendak melanjutkan langkahnya memasuki kampus dan mengikuti kelasnya.
__ADS_1
Akan tetapi, di luar dugaan Maysa justru dicegat oleh Peter saat hendak melangkah ke depan. Maysa tentu terkejut bukan main melihat keberadaan Peter di hadapannya saat ini, apalagi lelaki itu tampak menyodorkan bunga ke arahnya disertai senyuman lebar yang membuat Maysa dag dig dug.
"Ka-kamu mau apa Peter? Aku mohon, jangan pernah kamu ganggu aku lagi! Diantara kita udah gak ada apa-apa, aku juga sebentar lagi akan menikah!" ketus Maysa.
Peter tersenyum seraya melangkah lebih maju mendekati wanita itu, Peter tak perduli apa yang dikatakan oleh Maysa tadi. Saat ini Peter hanya ingin berusaha untuk merebut hati Maysa kembali, sebab ia menyesal setelah dahulu ia malah memutuskan hubungan dengan Maysa begitu saja.
"May, terima bunga dari aku ini ya! Dengan begitu, aku jadi tahu kalau kamu udah maafin aku dan mau balikan sama aku," pinta Peter.
"Apa??" dua bola mata Maysa nyaris copot begitu mendengar perkataan Peter barusan, bisa-bisanya lelaki itu terus memintanya balikan disaat dulu Peter sendiri yang memutuskan dirinya.
•
•
Beberapa hari berlalu, hingga tiba lah saatnya dimana pernikahan antara Harold serta Maysa akan berlangsung saat ini. Tampak semuanya sudah tersusun dengan rapih dan para tamu undangan pun telah hadir disana bersiap menyaksikan upacara pernikahan mereka kali ini, bahkan kedua mempelai juga sudah dipertemukan dan tampak sama-sama saling tersipu dengan penampilan mereka.
Pernikahan ini turut disaksikan oleh pihak keluarga dari Maysa maupun Harold, hanya saja orang tua dari lelaki itu tidak bisa hadir disana karena sedang mengurus sesuatu di luar negeri sana. Lagipun, Harold juga belum mengatakan apa-apa pada orangtuanya mengenai pernikahannya saat ini.
Sontak baik Harold atau Maysa kini sama-sama berdiri di hadapan sang pendeta dan bersiap mengucap sumpah janji suci pernikahan mereka sebentar lagi, keduanya bertatapan sejenak sebelum kemudian mulai fokus. Banyak pasang mata menyaksikan momen sakral itu, dan tak jarang juga dari mereka yang tersenyum lebar.
Begitu juga dengan Melinda dan Saskia, mereka berdua turut hadir disana menyaksikan pernikahan Maysa serta Harold disana. Keduanya sama-sama bahagia melihat Maysa tersenyum lebar saat ini, tak ada penyesalan juga di hati Melinda karena ia mengizinkan putrinya menikah dengan Harold.
"Bu, mbak Maysa cantik banget ya? Aku gak nyangka bisa ngeliat mbak Maysa nikah secepat ini, beruntung juga dia bisa dapat laki-laki kayak kak Harold!" ucap Saskia.
"Iya Sas, ibu juga senang lihatnya. Mereka itu benar-benar cocok banget!" ujar Melinda.
Disaat mereka sedang asyik berbisik-bisik, tiba-tiba Zanna sang putri kecil itu muncul menghampiri mereka dan tersenyum menatapnya. Sontak Melinda serta Saskia sama-sama terkejut dibuatnya, terutama Saskia yang memang senang sekali melihat anak kecil seperti Zanna.
"Halo tante, halo nenek!" gadis itu menyapanya sambil tersenyum renyah.
"Eh eh eh ada Zanna, sini sini kamu sama tante Kia yuk sayang!" dengan sumringah Saskia mengajak Zanna untuk duduk di pangkuannya.
Tentu saja Zanna menurut, gadis itu maju lalu naik ke pangkuan tantenya. Sedangkan Melinda hanya menatap sambil tersenyum dan sesekali mengusap puncak kepalanya, baru kali ini Melinda merasa senyaman itu bersama seorang anak kecil. Biasanya, Melinda selalu tidak senang dan malah kerap kali membenci anak-anak yang ada di dekatnya.
Mereka kembali fokus menyaksikan sesi pernikahan itu, dan tampak Harold juga tengah memasukkan cincin ke jari manis Maysa yang kini telah sah menjadi istrinya. Ciuman pertama mereka sebagai sepasang suami-istri terjadi di hadapan banyak orang, sorakan terdengar memenuhi gedung tersebut yang dipenuhi banyak orang.
Saat ini Maysa sudah resmi menyandang status sebagai istri dari seorang Harold Vincenzo, bahkan namanya juga akan berubah menjadi Maysa Vincenzo. Keduanya menyudahi ciuman itu, lalu menghadap ke kamera dan berpose dengan menunjukkan cincin di tangan mereka.
"Maysa, mulai hari ini dan seterusnya kamu jadi milik aku! Siapapun gak akan bisa menyentuh apalagi melukai kamu," bisik Harold di telinga istrinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1