
Disaat Harold hendak masuk ke mobilnya, tanpa diduga sebuah mobil yang dikendarai Javier tiba di depannya dan berhenti begitu saja disana. Ya saat ini Harold masih berada di rumah Maysa, baru saja ia berniat pergi untuk mencari keberadaan wanita itu. Ya namun, Maysa sudah lebih dulu datang bersama dengan Javier yang tak lain adalah adiknya.
Tentu saja Harold terlihat memendam emosinya begitu tahu Maysa datang bersama Javier, kedua tangannya terkepal kuat menahan emosi disertai tubuh yang gemetar. Ia tahu Javier adalah adiknya, tetapi entah kenapa ia tidak senang saat melihat Javier menyentuh wanita yang disukainya.
Tanpa berpikir panjang, Harold langsung saja mendekat ke arah mereka dan memanggil nama Maysa dengan tegas. Seketika Maysa serta Javier dibuat terkejut dengan suara itu, tak ada yang tahu jika sedari tadi Harold sudah memantau kebersamaan mereka dengan wajah marah. Sehingga kini, Harold pun tampak sangat emosi dan terus menatap tajam ke arah Javier.
"Loh tuan, kok tuan ada disini? Lagi ngapain?" tanya Maysa dengan nada bingung.
Bukannya menjawab, Harold justru meraih tangan Maysa dan menariknya agar menjauh dari Javier serta lebih mendekat ke arahnya. Maysa terkejut, tapi tak sempat melakukan apa-apa karena gerakan Javier yang begitu cepat.
"Kamu itu darimana aja? Asal kamu tahu, saya nungguin kamu loh disini Maysa! Eh kamu malah bepergian sama laki-laki lain kayak gini," ujar Harold.
"Tu-tuan, dengerin saya dulu! Dia ini bos saya di cafe, tuan jangan salah paham ya!" gugup Maysa.
Harold spontan menatap wajah adiknya dengan tatapan tajam, sedangkan Javier malah mengangguk dan tersenyum lebar seraya menyapa Harold dengan santai. Amarah Harold pun makin memuncak, tetapi ia tidak bisa melampiaskannya saat ini karena masih ada Maysa.
"Jadi dia bos kamu? Kenapa kamu gak pernah bilang sih kalau bos kamu ini cowok dan masih muda?" ketus Harold.
"Eee saya...."
Maysa benar-benar kebingungan saat ini, ia tak tahu apa salah dirinya dan mengapa Harold sampai terlihat begitu kesal begitu melihat ia pulang bersama Javier. Padahal diantara Maysa dan Harold tidak ada hubungan spesial apapun, begitu juga dengan dirinya serta Javier yang hanya sebatas karyawan dan juga atasan.
Namun, sepertinya Harold memang menaruh rasa cemburu dengan kedekatan antara Maysa dan Javier. Itulah sebabnya Harold tampak sangat emosi, biarpun Harold sendiri tahu Javier adalah adiknya dan ia juga yang sudah menyuruh Javier untuk mempekerjakan Maysa di cafenya.
"Tenang dulu pak, jangan emosi begitu sama Maysa!" ucap Javier coba menyela.
Harold sontak menatap nyalang wajah Javier dengan rahang bergetar, emosinya tak tertahankan ketika mendengar pria itu bersuara. Perlahan Harold hendak mendekati Javier disana, namun tanpa diduga Maysa malah menahannya dengan memegang pengen Harold dan memintanya untuk tetap disana bersamanya.
"Tu-tuan, saya mohon tuan jangan emosi dulu! Pak Javier ini beneran cuma bos saya, kami juga gak ada hubungan apa-apa selain itu. Tuan gak boleh emosi sama dia ya!" bujuk Maysa.
"Tapi May, saya gak suka kamu dekat-dekat sama lelaki lain selain saya! Apalagi orang itu masih muda dan jadi bos kamu, pasti kalian bisa curi-curi kesempatan untuk berduaan di belakang saya. Pokoknya saya mau kamu berhenti bekerja di cafe itu, kalau enggak saya akan habisi dia!" ujar Harold.
"Hah? Jangan tuan! Pak Javier gak salah apa-apa, dia justru udah banyak bantu saya. Tanpa dia, saya mungkin gak bisa biayai hidup keluarga saya tuan!" ucap Maysa.
"Saya gak perduli, kamu keluar dari kerjaan kamu itu sekarang juga!" pinta Harold.
"Gak bisa tuan, saya—"
__ADS_1
"Kamu berhenti bekerja, setelah itu saya yang akan tanggung semua biaya hidup kamu. Lagipun, kita kan sebentar lagi menikah," sela Harold.
"Hah? Sa-saya...."
Maysa sungguh tak percaya mendengarnya, lagi-lagi Harold mengatakan itu padanya. Belum sempat wanita itu selesai bicara, Javier sudah lebih dulu menyelanya dan mengatakan hal yang sama sekali tak pernah diduga oleh Maysa. Ya Javier setuju dengan perkataan Harold, dia tak keberatan jika Maysa mau mengundurkan diri dari pekerjaannya.
"Tenang saja Maysa, saya gak akan larang atau tahan kamu kok! Kamu bebas kalau mau berhenti bekerja di tempat saya, semoga kamu bisa dapat yang lebih baik!" ucap Javier menahan sedihnya.
Entah mengapa Harold merasa curiga dengan sikap dan ucapan Javier barusan, ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan adiknya itu saat ini. Harold pun khawatir jika Javier ternyata juga menyukai Maysa, maka tentu mereka nantinya akan menjadi pesaing dalam memperebutkan cinta wanita itu.
•
•
Kini Harold membawa Maysa ke sebuah restoran mewah yang sudah ia persiapkan sejak lama, ia mengajak wanita itu kesana untuk mengadakan acara dinner romantis berdua. Tentunya Harold ingin menambah momen romantis diantara mereka, agar membuat Maysa semakin mau menerima dirinya sebagai calon suami.
Maysa terlihat kebingungan melihat kondisi di sekitarnya yang dipenuhi warna ungu, tidak lain tentunya adalah warna kesukaan dirinya. Maysa sangat heran kali ini, darimana Harold bisa mengetahui bahwa ia menyukai warna ungu. Selain itu, gaun yang dikenakannya sekarang juga berwarna ungu dan merupakan pemberian Harold.
"Sayang, gimana? Kamu suka kan sama semua yang saya siapkan ini?" tanya Harold sambil tersenyum dan menggenggam tangan gadisnya.
Maysa tampak menatap wajah pria itu dengan sorot mata heran, ia mengernyitkan dahinya dan seolah banyak pertanyaan yang ada di dalam dirinya saat ini untuk diberikan kepada pria itu. Harold sendiri masih diam dan senyum-senyum genit ke arahnya, membuat Maysa tersipu sendiri berusaha menghindar dari tatapan lelaki itu.
"Haha, ada deh itu rahasia saya. Kamu gak perlu mikirin soal itu, mending sekarang kita makan aja! Semua ini kesukaan kamu kan?" ucap Harold.
Ya memang benar yang dikatakan Harold, semua makanan yang dipesan dan baru datang ke atas meja itu merupakan makanan kesukaan Maysa dan selalu diinginkan oleh wanita itu. Maysa sungguh terkejut, mengapa bisa Harold mengetahui semua yang ia suka dalam waktu sekejap.
"Saya siapin ini lama banget loh, butuh waktu juga buat bisa ajak kamu datang kesini dan mau dinner berdua dengan saya," ucap Harold lirih.
"Eee anda ini sebenarnya siapa sih? Kenapa anda bisa banyak tahu tentang saya? Jangan-jangan anda selama ini menguntit saya ya dan coba cari tahu tentang saya? Ngaku deh!" ujar Maysa.
"Sudahlah Maysa, kamu gak perlu banyak tanya dulu sayang!" ucap Harold santai.
"Tapi saya penasaran tuan, saya mau tahu darimana tuan bisa tahu tentang saya. Mulai dari warna, sampai makanan kesukaan saya," ucap Maysa.
"Bukan cuma itu Maysa, masih banyak yang saya ketahui dari kamu kok," kekeh Harold.
Maysa terkejut bukan main mendengarnya, matanya terbelalak dengan dahi yang mengernyit karena perkataan pria itu tadi. Ia penasaran apa lagi yang diketahui Harold tentangnya, namun sepertinya Harold tidak ingin memberitahu padanya dan membuat Maysa semakin penasaran.
__ADS_1
"Tuan, mending tuan kasih tahu deh siapa yang udah bongkar semua ini ke tuan! Atau jangan-jangan ini ulahnya Saskia ya, pasti dia yang udah sebarin semuanya ke anda!" tebak Maysa.
Harold tersenyum seraya mengusap punggung tangan wanitanya, "Penasaran ya? Udah deh kamu gausah tahu sayang!" ucapnya.
"Ish, fix sih ini pasti ulah si Saskia!" geram Maysa.
Harold geleng-geleng perlahan, kemudian bangkit dari tempat duduknya dan mengambil sesuatu dari saku bajunya yang membuat Maysa menganga penuh penasaran. Maysa tak tahu apa yang dibawa oleh pria itu sekarang, dan apa niat dari Harold berdiri dari tempat duduknya.
"Tu-tuan mau apa?" tanya Maysa dengan gugup.
"Sssttt, jangan panggil saya tuan lagi! Mulai sekarang..." Harold menjeda ucapannya, perlahan sengaja merendahkan posisinya dan bersimpuh di hadapan wanita itu.
Pria itu tampak menunjukkan sebuah kotak dengan warna ungu, ia membukanya dan terpampang lah sebuah cincin berlian disana. Mata Maysa terbelalak melihat benda tersebut dibawa oleh Harold, dia tak menyangka Harold akan melakukan itu di hadapan banyak orang.
"Mulai sekarang, saya minta kamu panggil saya dengan sebutan 'mas sayang'! Karena, saya pengen kita menikah Maysa!" ucap Harold tampak serius.
Deg
Betapa terkejutnya Maysa saat ini, rupanya Harold sengaja membawanya kesana untuk melamarnya dan menyatakan cintanya kepada wanita itu. Sungguh Maysa tak menyangka ini akan terjadi, ia akan dilamar di hadapan banyak orang oleh lelaki yang sebenarnya sangat ia benci.
"Gimana sayang, kamu mau kan menikah sama saya dan jadi istri saya?" tanya Harold kembali.
"Eee sa-saya...."
"Ayo ayo terima terima!!" suara-suara itu muncul dari sekitarnya, ya tentu berasal dari orang yang berada di restoran tersebut.
Harold tersenyum lebar mendapat dukungan dari orang-orang disana, sedangkan Maysa terlihat semakin gugup dan bingung harus menjawab apa. Ia benar-benar tidak tahu apakah dirinya mencintai pria itu atau tidak, sehingga saat ini Maysa terus saja menunduk memikirkan hal itu.
"Okay, saya mau jadi istri anda." senyum melingkar di kedua pipi Harold begitu mendengar jawaban Maysa, ia benar-benar bahagia dan tak menyangka akhirnya Maysa mau menikah dengannya.
Suasana disana pun makin riuh, orang-orang bertepuk tangan mengucapkan selamat pada Harold karena berhasil diterima oleh Maysa. Tentu saja Harold sangat bahagia, pria itu kini meraih satu tangan Maysa dan mengecupnya. Perlahan ia mulai memasukkan cincin di jari manis wanita itu, diiringi suara tepuk tangan orang-orang itu.
"Terimakasih Maysa, saya senang sekali kamu mau menerima saya jadi suami kamu!" ucap Harold.
"Iya mas."
Mereka pun berpelukan dengan erat untuk mengakhiri momen indah itu, Harold berjanji dalam dirinya bahwa ia tidak akan lagi menyakiti Maysa karena ia sungguh mencintai wanita itu.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...