Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Melahirkan


__ADS_3

Sementara itu, Maysa telah selesai diperiksa oleh dokter Amy dan tampak lebih membaik dari sebelumnya. Namun, tetap saja Harold masih merasa khawatir karena ia belum mengetahui apa yang terjadi pada istrinya itu. Amy pun menatap ke arah Harold saat ini, dokter itu hendak mencari tahu sekaligus mengingatkan Harold agar tidak ceroboh dalam menjaga Maysa selama tengah mengandung.


Ini bukan pertama kalinya Harold datang kesana membawa Maysa yang dalam keadaan sakit, karena sebelumnya Harold juga sudah melakukan itu dan membuat dokter Amy begitu kecewa. Ya padahal Harold telah berjanji padanya sebelum ini, kalau pria itu akan menjaga dan merawat Maysa dengan baik. Akan tetapi, sekarang ini Harold malah kembali membawa Maysa dalam keadaan kesakitan.


"Rold, kamu itu gimana sih? Aku kan udah bilang loh waktu itu ke kamu, jagain Maysa dengan baik jangan sampai dia jatuh lagi kayak waktu itu! Ini apa, kamu malah gagal jagain dia!" geram Amy.


Harold menggaruk kepalanya yang tak gatal dan tampak bingung saat hendak menjawabnya, ia sendiri juga belum tahu mengapa Maysa bisa seperti apa dan apa penyebabnya, karena tadinya Harold sedang tidak ada di rumah dan begitu ia kembali tiba-tiba saja Maysa sudah merintih kesakitan seperti orang yang habis terjatuh.


"Mi, kok kamu jadi salahin saya? Ya saya mana tahu, orang tadi pas saya tinggal Maysa baik-baik aja. Tapi pas saya balik, baru deh dia langsung kelihatan meringis kesakitan. Kamu coba tanya ke dia langsung aja deh!" ucap Harold.


Amy menggeleng dibuatnya, kemudian ia memilih menatap wajah Maysa dan mengikuti saran Harold untuk bertanya padanya. Ya karena mungkin saja yang dikatakan Harold memang benar, kalau pria itu tidak tahu menahu mengenai kejadian yang menimpa Maysa sebelumnya. Pasalnya, Amy begitu khawatir pada kondisi bayi di dalam kandungan Maysa jika terus-terusan mengalami benturan.


"Maysa, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?" tanya Amy penasaran.


"Iya sayang, ayo kamu jujur sama aku dan Amy sekarang! Kamu gak tahu apa, aku ini khawatir banget loh sama kondisi kamu!" sahut Harold.


"Umm, aku minta maaf ya mas? Aku gak bisa jaga diri aku sendiri tadi," lirih Maysa.


Sontak Harold mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti apa maksud Maysa mengatakan itu dan mengapa Maysa malah meminta maaf padanya serta menyalahkan dirinya sendiri. Padahal, sedari tadi diantara Harold atau Amy tidak ada satupun yang menyalahkan Maysa atas kejadian yang menimpa wanita itu.


"Maksud kamu apa sih sayang? Memangnya kamu tadi kenapa pas aku tinggal di rumah, ha? Kamu jatuh lagi?" tanya Harold kebingungan.


Maysa hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia masih ragu untuk mengatakan pada Harold kalau semua ini adalah ulah Clara yang kembali mendorongnya seperti sebelumnya. Mungkin jika sampai ia bercerita tentang itu, maka Harold akan terbawa emosi dan langsung menghampiri Clara serta memberi pelajaran pada wanita itu.


"Ya ampun, kenapa bisa kamu jatuh sayang? Kamu kesandung atau ada yang sengaja dorong kamu?" tanya Harold lagi begitu khawatir.


"Eee a-aku....."


Melihat kegelisahan di wajah Maysa, seketika Harold dapat menebak apa yang sudah terjadi saat ini. Ia yakin semua ini tidak lepas dari sosok Clara, karena wanita itu sangat membenci Maysa dan bisa melakukan apapun untuk melukai Maysa. Harold pun terus mendekati istrinya, berusaha meminta Maysa untuk berkata jujur dan mengaku padanya.


"Ayo Maysa, kamu katakan aja siapa pelakunya! Apa Clara?" pinta Harold.


"I-i-iya mas..."


Akhirnya Harold mengetahui semuanya, ia menggeram kesal dan tangannya mengepal kuat disertai rahang yang bergetar. Harold emosi, jelas saja karena ia tak terima dengan apa yang sudah dilakukan Clara pada istrinya. Ia tentu tidak mau sesuatu yang buruk terjadi pada Maysa, ataupun bayi yang ada di dalam kandungannya itu.


"Kurang ajar! Kamu harus dapat balasannya Clara, ini bukan kali pertama kamu seperti ini! Harusnya saya waktu itu tidak ampuni kamu, perempuan seperti kamu memang tidak bisa dikasihani!" ujar Harold.


Harold yang emosi langsung berniat pergi dari kamar itu dan menemui Clara, tetapi Maysa dengan cepat menahan lengan pria itu dan memintanya tetap disana. Maysa tidak ingin Harold pergi lalu memarahi Clara, apalagi jika sampai pria itu memberikan hukuman yang buruk kepada Clara karena sudah mendorongnya tadi.


"Mas, udah mas jangan diperpanjang masalahnya! Tadi salah aku juga kok, karena aku halangi dia buat bawa kabur Zanna dari rumah!" bujuk Maysa.


"Gak bisa dong May, apa yang Clara lakuin itu bahaya loh buat kamu dan anak kita. Aku harus kasih pelajaran ke dia supaya kapok, karena aku gak mau kehilangan calon bayi kita!" sentak Harold.


"Tapi mas, Clara gak sengaja kok. Lagian aku juga udah membaik, kata dokter Amy juga kandungan aku baik-baik aja kan!" ucap Maysa.

__ADS_1


Harold melirik ke arah Amy yang dibalas dengan anggukan dari dokter itu, ya memang tadi Amy telah melakukan pemeriksaan dan kondisi janin Maysa baik-baik saja. Akan tetapi, hal seperti tadi tetap tidak boleh sering dialami oleh Maysa. Tentu bukan tidak mungkin, kandungan Maysa lama-lama akan mengalami hal yang buruk.


Amy pun meminta pada Maysa untuk bisa menjaga dirinya dengan baik, karena Maysa tak bisa hanya mengandalkan Harold yang tidak benar itu. Ya Amy juga menyarankan Harold untuk menugaskan satu orang yang akan menjaga dan mengawasi Maysa selama Harold tidak ada, hanya dengan itulah Maysa bisa aman dari Clara atau siapapun.


"Rold, gimana kalau kamu suruh salah satu anak buah kamu buat jagain Maysa? Biar kejadian seperti ini gak terjadi lagi," usul Amy.


"Iya sih, usul kamu boleh juga Amy. Yasudah, nanti saya bahas itu di rumah. Sekali lagi makasih ya atas waktunya, kalau begitu saya dan Maysa pamit ingin pulang!" ucap Harold.


Amy mengangguk paham, "Ya Rold, jangan lupa ya vitamin buat Maysa harus terus diminum untuk menambah kekuatan tubuhnya!" ucapnya.


"Siap!"


Kini Amy pun pergi lebih dulu dari sana meninggalkan Harold berdua dengan Maysa, ya langsung saja Harold duduk di sebelah istrinya itu dan menatap dengan senyuman lebar. Maysa yang ditatap seperti itu sontak merasa gugup, wajahnya memerah seolah malu dan tidak berani menatap mata sang suami yang begitu dekat.


"Cantik, lain kali kalau Clara jahatin kamu lagi bilang langsung sama aku ya sayang! Kamu tahu kan, aku khawatir banget loh sama kamu. Aku ini suami kamu, jadi aku berhak tahu apa yang menimpa kamu!" ucap Harold.


"I-i-iya mas, aku minta maaf. Aku cuma gak mau kamu marahin Clara seperti waktu itu," ucap Maysa.


Harold tersenyum saja dibuatnya, lalu ia memeluk dan mengecup wajah istrinya dengan lembut sembari membisikkan kalimat 'i love you' di telinga wanita itu.




"Toloongg toloongg!!"


Begitu tiba di dalam, Dean terkejut melihat seorang ibu-ibu yang terbaring di atas pangkuan Saskia dan terlihat seperti hendak melahirkan. Saskia pun tampak panik, gadis itu meminta Dean untuk segera memanggil perawat disana dan membantu ibu itu. Akhirnya Dean pergi ke luar, meminta bantuan pada para perawat agar dapat membawa ibu-ibu tersebut.


Setelah ibu itu dibawa pergi oleh para perawat dengan kursi roda, Dean kini mendekati Saskia dan melihat gadis itu begitu khawatir. Namun, tiba-tiba Saskia merasa nyeri pada bagian perutnya akibat melihat secara langsung dimana seorang ibu yang sedang hamil di depan matanya tadi. Dean pun terkejut, lalu malah terkekeh dan meledek gadis itu.


"Kenapa non, mau melahirkan juga?" tanya Dean sambil menahan kekehan nya.


Saskia sontak menatap tajam wajah Dean dengan penuh emosi, gadis itu langsung memukul pundak Dean dan melampiaskan kekesalannya. Bagaimana mungkin ia bisa melahirkan, sedangkan menikah saja ia belum pernah dan hingga kini ia juga masih belum memiliki kekasih.


"Ngaco aja ih kakak! Aku ngilu aja ngeliat ibu tadi kesakitan sambil pegang perutnya, makanya aku ikutan pegang perut," ucap Saskia.


"Ohh, yaudah non kita pulang sekarang yuk! Itu tuan Harold sama bu Maysa udah beres kayaknya," ucap Dean mengajak gadis itu pergi.


Saskia mengangguk saja, lalu mengikuti langkah kaki Dean keluar dari toilet tersebut. Entah mengapa Saskia masih terus memikirkan kondisi ibu tadi, ia baru tahu kalau melahirkan ternyata sesakit dan semengerikan itu. Ia pun merasa cemas jika nanti ia juga hamil, pastinya ia akan merasakan hal yang sama seperti ibu-ibu tadi.


Saat di luar, tanpa sengaja mereka justru bertemu dengan Maysa dan juga Harold yang baru hendak pergi setelah menjalani pemeriksaan. Maysa terlihat heran lantaran Saskia serta Dean keluar bersama dari dalam toilet itu, rasa curiga pun menghampiri kepala Maysa mengingat Saskia adalah adik tercintanya.


"Loh Kia, kamu kok bisa sama pak Dean di toilet itu? Kalian abis ngapain?" tanya Maysa curiga.


"Hah? Mbak, jangan mikir yang aneh-aneh deh! Tadi itu ada ibu-ibu mau melahirkan kejebak di dalam toilet, makanya kak Dean masuk terus bantu ibu itu buat dibawa ke ruang bersalin!" jelas Saskia.

__ADS_1


"I-i-iya bu Maysa, saya juga gak mungkin lah berani macam-macam sama non Kia. Bisa abis nanti saya dihajar sama tuan Harold," sahut Dean panik.


Maysa sedikit merasa lega dengan pengakuan dari adik dan pekerja suaminya itu, menurutnya mereka memang tidak mungkin melakukan hal-hal yang buruk di dalam toilet itu. Maysa pun percaya dengan perkataan mereka, lalu mengajak mereka untuk sama-sama pergi dari rumah sakit karena urusan mereka sudah selesai.


"Mbak emang udah membaik?" tanya Saskia dengan wajah penasaran.


Maysa mengangguk, "Iya udah kok, yuk kita pulang sama-sama!" jawabnya. Kemudian, mereka berempat melangkah bersamaan menuju tempat parkir.




Singkat cerita, Harold tengah menemani Maysa beristirahat di dalam kamarnya sehabis meminum vitamin pemberian Amy tadi. Harold berjanji, kalau seharian ini ia tidak akan meninggalkan Maysa lagi dan terus menjaga wanita itu. Harold tentu tidak mau kejadian tadi terjadi kembali, apalagi kondisi Maysa masih belum pulih seperti biasanya.


Keduanya pun bersandar di atas ranjang dengan wajah Maysa yang menempel pada bahu sang suami, Harold menikmati hal itu dan terus mengusap lembut puncak kepala istrinya sampai membuat Maysa terpejam. Mereka benar-benar merasa nyaman, sampai tidak ada dari mereka yang berbicara karena terlalu menikmati posisi itu.


"Oh ya mas, aku mau tanya sesuatu deh sama kamu. Sebetulnya, udah dari lama aku pengen tahu soal ini. Tapi, aku takut kamu tersinggung kalau aku bahas ini di depan kamu," ucap Maysa lirih.


"Hm, emangnya kamu mau tanya soal apa sih sayang? Ayo tanya aja, aku gak akan marah atau tersinggung kok!" ucap Harold.


"Umm a-aku....."


Maysa merasa ragu untuk mengatakannya, ia khawatir hal itu akan menyinggung perasaan Harold dan berakibat buruk pada hubungan mereka nantinya. Namun, hingga kini Maysa masih sangat penasaran dan ingin tahu apa bisnis yang sedang dijalankan suaminya itu selama ini.


"Aku mau tahu mas, kamu itu sebenarnya kerja apa sih? Kok bisa gitu loh sampai kamu sekaya ini?" tanya Maysa penasaran.


Saat itu juga Harold terdiam, ia pandangi wajah istrinya itu dan terlihat kebingungan. Sedangkan Maysa terus mendongak menatap wajahnya, tampak bahwa Maysa begitu penasaran dan ingin sekali mengetahui apa pekerjaan suaminya. Biar bagaimanapun, Maysa sekarang adalah istri dari Harold dan wajar bila ia ingin mengetahuinya.


"Kenapa mas, kamu gak mau kasih tahu ya? Eee kalau emang gitu, yaudah gapapa kok. Tadinya aku cuma pengen tahu, soalnya aku kan istri kamu. Aku juga berhak tahu dong dimana kamu kerja, dan apa pekerjaan kamu," ucap Maysa.


"Ahaha, iya deh aku kasih tahu. Ya aku itu pebisnis sayang, aku punya banyak cabang di berbagai kota. Bahkan ada yang di luar negeri loh, makanya aku bisa jadi orang kaya," ucap Harold santai.


"Ohh, tapi bisnis kamu itu bergerak di bidang apa mas?" tanya Maysa lagi.


Harold malah mendekap erat tubuh istrinya dan menghujani dengan berbagai kecupan lembut, Maysa pun merasa risih dan berusaha menghindar walau sulit karena tenaga pria itu jauh lebih besar dibanding dirinya. Maysa benar-benar heran, mengapa Harold tidak mau memberitahu apa bisnis yang dijalankan pria itu sebenarnya.


"Ah kamu ini kepo banget sih, nanti deh kapan-kapan aku bawa kamu ke kantor langsung. Jadi, disana kamu bisa tahu semuanya deh," bujuk Harold.


"Beneran mas?" tanya Maysa memastikan.


Harold mengangguk perlahan, kemudian kembali menciumi seluruh area wajah wanita itu tanpa ada yang terlewati. Maysa terkekeh geli dengan kelakuan suaminya, wanita itu tak mampu berbuat apa-apa karena kedua tangannya dicengkeram dan tubuhnya dikunci oleh suaminya.


TOK TOK TOK....


Tiba-tiba saja, ada yang mengetuk pintu kamar mereka disaat mereka tengah asyik bermesraan. Tentu saja Harold merasa geram, ia menghela nafas kasar sampai mengumpat pelan karena merasa terganggu. Maysa pun menegurnya, dan mengatakan kalau hal itu tidak sepantasnya dilakukan Harold.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2