
"Temani saya selama satu malam ini, berikan saya kepuasan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya!" jawab Javier sambil berbisik tepat di telinga gadis itu.
Deg
Mawar terkejut bukan main, jantungnya serasa copot saat mendengar permintaan yang diajukan pria itu demi mau membantunya. Tentu saja Mawar sangat kesal, ia bangkit dan melayangkan tamparan keras ke arah wajah Javier disertai umpatan penuh emosi yang membuat seisi bar menoleh ke arah mereka.
Belum pernah Mawar sampai seemosi ini pada seseorang, tapi hal itu wajar saja karena kelajuan Javier memang di luar batas. Perempuan mana yang tidak kesal jika diajak melakukan hal yang seperti itu, apalagi oleh pria yang belum ia kenali. Meski, Mawar juga sedikit tidak tega kalau harus menampar lelaki itu di depan banyak orang.
Plaaakk
Satu tamparan di pipinya berhasil membuat Javier terkejut dan reflek memegangi wajahnya yang memerah itu dengan telapak tangannya, Javier menatap tajam ke arah Mawar seolah tak percaya dengan apa yang baru gadis itu lakukan. Ia bangkit menghadapnya, lalu mengepalkan tangan pertanda bahwa ia sangat emosi.
"Apa-apaan kamu? Kenapa kamu malah tampar saya seperti itu?" tanya Javier dengan tegas.
Mawar yang merasa direndahkan tentu tidak takut dengan tatapan tajam dari pria di hadapannya itu, justru Mawar juga terlihat menantang dengan wajah tegak tanpa rasa takut sedikitpun. Mawar memang membutuhkan uang untuk biaya hidupnya, tetapi ia masih memiliki harga diri dan apa yang ditawarkan Javier tadi sungguh di luar keinginannya.
"Saya bukan wanita yang seperti itu, saya masih punya harga diri. Kalau anda mau, silahkan cari saja wanita lain yang bisa memuaskan anda sesuai kemauan anda!" sentak Mawar.
"Hey, tidak usah munafik jadi perempuan! Masih untung saya tawarkan kamu uang, karena biasanya wanita di luar sana yang ingin disetubuhi secara cuma-cuma oleh saya. Harusnya kamu bersyukur, bukan malah menampar saya seperti itu!" ujar Javier.
Mawar menggeleng perlahan mendengar ucapan Javier itu, ia benar-benar muak dengan pria seperti itu dan ingin segera pergi saja dari sana. Akhirnya Mawar pun berbalik dan memutuskan pergi untuk menghindari keributan, karena sekarang banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka setelah insiden tamparan keras tadi.
George serta Rafa kompak berdiri menghampiri Javier disana, mereka menepuk pundak Javier seolah menenangkan pria itu agar tidak terpancing emosinya. Mereka tahu kalau Javier sangat kesal dan kecewa, karena merasa dipermalukan oleh Mawar di hadapan banyak orang. Namun, untuk saat ini Javier harus bisa sabar.
"Tenang bro, kamu bisa dapetin wanita lain yang lebih cantik dan seksi dari tuh cewek!" ucap George.
Javier terdiam dan menyingkirkan telapak tangan dua sahabatnya itu, ia menoleh lalu mengatakan bahwa ia tidak akan mungkin bisa mencari wanita lain sebelum berhasil mendapatkan Mawar.
"Saya akan melakukan apapun demi bisa memiliki gadis itu," ucap Javier tegas.
"Hah??" George dan Rafa terkejut dibuatnya.
Kedua lelaki itu sama sekali tak menyangka dengan tekad kuat yang dimiliki Javier saat ini, sepertinya Javier memang sudah penasaran sekali dengan sosok Mawar yang selain cantik juga memiliki tubuh yang seksi tentunya. Siapapun yang melihat Mawar secara langsung pasti akan terpikat, sama seperti Javier meskipun baru pertama kali melihatnya.
"Vier, kamu serius masih mau deketin si pelayan tadi? Ayolah Vier, lupain aja dia toh dia udah bikin kamu malu di depan banyak orang! Masa kamu masih kejar-kejar dia sih?" ucap George.
"Iya Vier, kamu itu orang kaya dan adik dari pebisnis terkenal. Kamu bisa dapat yang lebih dari si pelayan itu, tinggal kamu pilih aja mana yang kamu mau pasti cewek-cewek juga pada klepek-klepek sama kamu Vier!" sahut Rafa.
Javier terkekeh dan menggelengkan kepalanya, ia tetap kekeuh dengan keputusannya untuk mengejar Mawar dan berusaha memilikinya. Sampai kapanpun, Javier tidak akan puas jika ia belum berhasil memiliki gadis itu. Javier tahu semua ini hanya karena rasa penasarannya saja, tetapi ia juga tetap harus menuruti kemauan dirinya supaya ia bisa hidup dengan tenang.
•
•
Mawar masuk ke dalam toilet di bar itu dengan wajah sembab dipenuhi air mata akibat perkataan menghina dari Javier tadi, ia terisak diiringi suara air keran yang mengucur di wastafel. Ia basuh wajahnya itu dengan air yang cukup banyak untuk menutupi kesedihannya, Mawar merasa benar-benar direndahkan dan tidak terima dengan semua itu.
Disaat yang sama, seorang wanita keluar dari salah satu bilik toilet tersebut. Dia terkejut saat melihat Mawar tengah menangis di depan sana, tanpa banyak berpikir wanita itu langsung menghampiri Mawar dengan tampang panik. Ya dia adalah Ayla, rekan kerja sekaligus sahabat Mawar yang tak sengaja kebetulan berada disana juga.
"Loh Mawar, kamu kenapa nangis kayak gini? Kamu dimarahin lagi sama pak Broto, atau apa?" tanya Ayla dengan wajah cemasnya.
__ADS_1
Mawar pun terkejut dengan keberadaan Ayla saat ini, ia menoleh lalu berusaha menghapus air matanya. Namun semua terlambat, ya karena Ayla tentu telah melihat jelas kalau Mawar tengah menangis. Tak semudah itu bagi Ayla untuk dibohongi oleh Mawar, apalagi keduanya sudah cukup lama saling kenal dan tahu antara satu sama lain.
"A-aku gapapa kok, aku tadi sedih aja karena dihina sama salah satu pelanggan disini. Aku kira orang kayak gitu tuh udah gak ada, ternyata masih berkeliaran dimana-mana," ucap Mawar gugup.
"Hah? Kamu dihina kayak gimana Mawar? Terus kenapa bisa dia hina kamu?" tanya Ayla.
"Eee tadi itu aku kan cuma antar minuman seperti biasa, eh tapi terus tiba-tiba dia suruh aku duduk dan tawarin sesuatu ke aku," jawab Mawar.
"Tawarin apa??" Ayla dibuat semakin penasaran.
"Hiks hiks, dia mau ajak aku buat one night stand." Ayla terbelalak dengan jawaban dari sahabatnya itu, ia benar-benar tak percaya mendengarnya.
Langsung saja Ayla meraih dan memeluk tubuh Mawar dengan erat sembari mengusap punggungnya, ia biarkan Mawar mengeluarkan semua air matanya agar gadis itu bisa lebih tenang. Ayla tentu dapat merasakan kesedihan yang dialami Mawar, karena itu merupakan resiko mereka sebagai pekerja di tempat terkutuk tersebut.
"Udah ya, kamu gak perlu sedih lagi! Emang kebanyakan cowok-cowok kan begitu, suka gak bisa jaga lisannya!" bujuk Ayla.
Mawar mengangguk paham, ia melepas pelukan itu dan menyeka air matanya serta mengambil nafas panjang untuk meredakan kesedihan yang ia rasakan sekarang ini. Sedangkan Ayla mengajak Mawar keluar dari sana dan kembali bekerja, mereka pun melangkah ke luar setelah Mawar dipastikan lebih tenang dari sebelumnya.
Namun tanpa diduga, di luar sana mereka malah berpapasan dengan Javier yang juga baru selesai pergi ke toilet. Sontak Mawar terkejut dan terperangah tak percaya, sosok pria yang telah menyakitinya itu kini kembali ada di hadapannya. Begitupula dengan Javier, dia terlihat senang dan melebarkan senyumnya menatap wajah Mawar.
"Hai Mawar! Emang ya kalo jodoh gak kemana, kita ketemu lagi deh disini. Kamu abis nangis di dalam, hm?" goda Javier disertai kekehan yang tertahan saat melihat kondisi Mawar saat ini.
Mawar hanya diam seraya memalingkan wajahnya, gadis itu sungguh malas meladeni Javier untuk saat ini setelah kejadian sebelumnya. Ayla yang berada di sebelahnya malah tersenyum lebar sambil menatap ke arah Javier di hadapannya, sepertinya Ayla cukup tertarik dengan ketampanan pria itu dan juga pesonanya yang luar biasa.
•
•
Clara menatap kesal ke arahnya, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa selain pasrah. Cekalan tangan Harold begitu kuat, sehingga Clara pun tidak bisa melepaskan diri atau melawannya. Harold tentu tak ingin Clara bertindak nekat jika menghampiri putrinya sekarang, Harold ingin Clara menepati janjinya lebih dulu untuk meminta maaf pada Maysa.
"Kamu mau kemana sih buru-buru begitu? Ingat loh Clara, kamu saya bawa kesini untuk minta maaf ke Maysa dan kamu gak bisa ketemu Zanna sebelum kamu tepati kata-kata kamu tadi!" tegas Harold.
Clara menggeram kesal sembari memutar bola matanya, ia sangat emosi dan ingin rasanya memberi pelajaran pada pria itu. Tapi Clara terpaksa menuruti semua itu saat ini, karena ia memang belum dapat berbuat apapun. Tampak juga Maysa serta Zanna yang bergerak mendekati mereka, lalu Zanna pun menyapa papanya dengan gembira.
"Yeay papa udah pulang!" gadis mungil itu memeluk tubuh Harold dengan sangat erat.
"Iya dong sayang, papa kan juga pengen punya waktu buat anak papa yang cantik ini. Kangen gak sama papa, hm?" ucap Harold.
"Kangen banget!" jawab Zanna sambil tersenyum.
Maysa amat bahagia melihat kedekatan antara Harold dan Zanna di depan matanya, tetapi tiba-tiba ia merasa cemas ketika menyadari keberadaan Clara di samping mereka. Maysa khawatir kalau Clara datang untuk membuat keributan dengannya, padahal sekarang ini ia sedang lelah setelah hampir seharian pergi bersama Harold.
Sementara Clara juga ikut berlutut di hadapan Zanna yang tengah memeluk papanya, tentu saja Clara ingin juga merasakan pelukan hangat dari Zanna seperti yang dirasakan Harold saat ini. Sudah lama Clara tidak mendapatkan itu, semenjak Zanna lebih dekat dengan Harold dan juga Maysa. Untuk itu, Clara mencoba membujuk putrinya saat ini.
"Zanna sayang, ada mama juga loh disini. Kok yang disapa cuma papa aja? Emangnya Zanna gak kangen ya sama mama?" ucap Clara merengut.
Zanna pun menoleh ke arah mamanya itu, "Kangen kok, tapi aku lebih suka peluk papa dibanding mama. Lagian aku kan udah sering ketemu mama sebelumnya," ucapnya.
Clara menunduk seolah bersedih dan kecewa, di dalam hatinya ia benar-benar kesal serta emosi kepada Maysa saat ini. Ia yakin Maysa telah menghasut Zanna untuk membencinya dan menjauh darinya, padahal dahulu Zanna selalu senang tiap kali bertemu dengannya. Jika saja tidak ada Harold disana, maka mungkin Clara sudah memberi pelajaran kepada wanita itu.
__ADS_1
Kini Harold menyudahi pelukannya dengan Zanna, sebab ia teringat pada niat Clara datang kesana yang ingin meminta maaf kepada Maysa. Harold pun meminta Zanna bermain sejenak dengan Saskia disana, selagi dirinya mengajak Maysa serta Clara bicara bertiga.
"Sayang, kamu sama aunty Kia dulu ya? Papa mau bicara sama mama kamu," ucap Harold.
"Iya pa." Zanna manggut-manggut dan pergi kembali menghampiri tantenya.
Harold pun mendekati Maysa, mengajak wanita itu untuk pergi sejenak ke tempat yang pas bagi mereka untuk berbicara dengan Clara. Maysa menurut saja, lalu pergi bersama suaminya dan juga Clara menuju halaman belakang rumah mereka.
•
•
Kini ketiganya telah berada di halaman belakang, Harold juga masih menggenggam erat telapak tangan Maysa dan tersenyum ke arahnya. Hal itu membuat Clara makin geram, sepertinya memang Harold sengaja mempertontonkan keromantisan antara dirinya dan Maysa di hadapan Clara untuk membuat wanita itu emosi.
Akhirnya Clara yang tak kuat mulai berdehem keras, sehingga Harold serta Maysa kompak menoleh ke arahnya. Harold tersenyum tipis melihat reaksi Clara yang sepertinya kesal, rencananya pun berhasil untuk membuat Clara terpancing. Kini Harold mulai meminta Clara untuk melakukan aksinya, yakni meminta maaf kepada Maysa.
"Oh ya, jadi Clara ini mau bicara sesuatu sama kamu sayang. Yuk Clara langsung aja!" ucap Harold.
Maysa spontan menatap wajah Clara dengan dahi mengernyit tanda penasaran, ia heran apa kiranya yang hendak dibicarakan Clara padanya. Sedangkan Clara sendiri terlihat ragu untuk meminta maaf pada Maysa saat ini, karena bagaimanapun wanita itu adalah penyebab dirinya jauh dari Zanna yang merupakan putri kandungnya sendiri.
"Aku mau minta maaf sama kamu, Maysa. Aku sadar semua yang aku lakuin ke kamu selama ini tuh salah, jadi maafin aku ya!" ucap Clara sembari mengulurkan tangannya ke arah Maysa.
"Hah??" Maysa tersentak mendengarnya, ia benar-benar tak percaya dengan ucapan Clara tadi.
"Kenapa? Kamu gak mau maafin aku? Ini aku serius loh Maysa, aku benar-benar nyesel udah jahat sama kamu selama ini!" ucap Clara tegas.
"Umm aku...."
Maysa terlihat sangat bingung, tidak mungkin Clara tulus meminta maaf padanya saat ini. Itu adalah sesuatu hal yang mustahil, karena belakangan Clara begitu membencinya dan bahkan sering sekali berniat jahat kepadanya. Bahkan, sudah dua kali Maysa masuk rumah sakit karena dorongan dari Clara yang menyebabkan perutnya terbentur.
Maysa melirik ke arah Harold untuk meminta saran darinya, dan saat itu juga Harold menganggukkan kepala seolah mengizinkan Maysa untuk meraih telapak tangan Clara. Dengan gugup akhirnya Maysa menggerakkan tangannya mendekati telapak tangan Clara disana, Maysa pun menyentuhnya lalu bersalaman dengan wanita itu.
"Iya Clara, aku udah maafin kamu dari lama kok. Aku sendiri juga minta maaf ya sama kamu, kalau ada kelakuan aku yang kurang bener!" ucap Maysa lirih.
"Emang semua kelakuan kamu itu gak bener Maysa, kalau bukan karena Harold saya ogah banget minta maaf begini sama kamu!" gumam Clara di dalam hatinya.
Setelah selesai bersalaman, Harold memberi kode pada Clara untuk berpelukan dengan Maysa. Tentu saja Clara menolaknya dengan keras, karena tidak mungkin Clara mau memeluk tubuh seseorang yang sangat ia benci. Namun, lagi-lagi Harold memaksa sehingga Clara tidak memiliki pilihan lain kecuali menurut pada perkataan pria itu.
"Ayo Clara, kamu peluk dong istri saya ini kalau memang kamu tulus mau minta maaf sama dia!" pinta Harold pada mantannya itu.
Clara mendengus kesal, tapi kemudian wanita itu melangkah maju sambil tersenyum dan memeluk erat tubuh Maysa di hadapan Maysa sembari mengusap punggungnya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...|||...
...CLARA BENERAN TOBAT GAK YA?...
__ADS_1