Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Celaka


__ADS_3

Keesokan harinya, Maysa terbangun lebih dulu daripada Harold maupun Zanna. Wanita itu melihat ke samping dimana mereka berdua masih tampak tertidur pulas disana, tanpa sadar Maysa mengukir senyumnya dan mengusap lembut kening Zanna dengan telapak tangannya. Sepertinya ia telah mulai merasa nyaman dan perhatian pada gadis kecil itu, walau mereka baru beberapa kali bertemu.


Setelahnya, Maysa memutuskan untuk turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar dengan berhati-hati agar tidak membangunkan mereka. Maysa berniat menyediakan sarapan untuk Harold maupun Zanna pagi ini, ya hitung-hitung Maysa ingin membuat Harold dan Zanna merasa senang serta membalas kebaikan pria itu padanya.


Kini Maysa tiba di dapur, ia langsung disambut oleh sekumpulan pekerja disana yang memang ditugaskan Harold untuk menjaga serta mengurus rumahnya. Sangking besarnya rumah itu, bahkan Harold sampai mempekerjakan banyak pelayan disana. Dari yang sudah dewasa, sampai yang masih muda juga berada di tempat itu.


"Eh non, non Maysa mau apa ke dapur segala? Kalau non pengen sesuatu, bilang aja sama kami biar kami bisa sediakan yang non Maysa mau!" ucap salah seorang pelayan itu dengan ramah.


Maysa tersenyum dibuatnya, "Gapapa bik, saya cuma mau siapin sarapan buat tuan Harold dan Zanna. Mereka kan udah baik banget sama saya, sekarang saya mau balas perbuatan mereka dengan siapin makanan buat mereka," jelasnya.


"Oh gitu non, wah yaudah biar kami bantu ya non buat bikin masakannya!" ucap pelayan itu.


"Eh gausah, saya mau masak sendiri aja. Mungkin nanti kalau saya butuh bantuan apa gitu, saya baru minta sama kalian deh!" ucap Maysa.


"Non Maysa yakin? Nanti kalau non kecapekan gimana? Kami bisa dimarahin loh sama tuan Harold," tanya pelayan itu.


"Iya non, kami kan takut banget kalau tuan Harold sampai marah!" sahut yang lain.


"Ahaha, udah gapapa tenang aja! Kalau dia marah, nanti biar saya yang kasih tahu. Kalian cukup nurut aja sama saya ya!" ucap Maysa.


"Baik non!" ucap mereka serentak.


Akhirnya Maysa mengambil dan mengenakan celemek di tubuhnya sebelum mulai memasak, ya hari ini ia ingin membuat makanan kesukaan Harold dan Zanna dengan tangannya sendiri. Entah mengapa tiba-tiba saja hal itu terlintas di pikirannya, padahal sebelum ini Maysa sangat membenci Harold dan tidak ingin berdekatan dengannya.


Setelah semuanya selesai, Maysa dibantu kedua pelayan disana langsung membawa masakan itu ke meja makan untuk disediakan. Maysa terlihat amat senang dan tidak sabar ingin menyantap semua makanan itu bersama Harold serta Zanna, ia pun berniat membangunkan keduanya di kamar.


"Wah wah wah, bau apaan nih enak banget?"


"Iya pa, kok aku jadi laper ya?"


Namun, tiba-tiba saja Harold dan Zanna sudah muncul lebih dulu disana. Maysa pun terkejut melihat keduanya ternyata sudah bangun, wanita itu tak menyangka jika Harold malah sudah bangun sebelum ia membangunkannya. Kini Maysa tampak kikuk dengan wajah memerah, ia tidak tahu apa yang akan dikatakan Harold nantinya.


"Eh kalian udah bangun? Pas banget nih, makanan buat kita sarapan udah jadi. Kita makan bareng-bareng yuk!" ajak Maysa.


"Wah, ini semua kamu yang masak sayang?" tanya Harold tampak terkejut.


Maysa manggut-manggut saja sembari menahan senyumnya, ia dengan malu-malu mengakui bahwa semua makanan itu adalah hasil masakannya. Lalu, kedua pelayan disana juga turut mengatakan pada Harold bahwa Maysa sudah berjuang keras untuk memasak makanan itu sebelum mereka bangun.


Tentu saja Harold tampak bahagia, ia tak menyangka Maysa akan melakukan semua ini hanya demi memuaskannya. Ia langsung mengajak Zanna duduk dan bersiap untuk menikmati makanan itu, tak lupa juga tentunya Maysa yang sedari tadi berdiri langsung ditarik duduk bersamanya.


Tanpa berlama-lama lagi, Maysa segera menuangkan makanan untuk mereka ke dalam piring. Kini ketiganya sama-sama menikmati makanan itu, baik Harold maupun Zanna terlihat begitu menikmati masakan buatan Maysa. Mereka sudah lama tidak merasakan makanan seenak itu, sungguh Maysa memang pandai dalam hal memasak sehingga membuat Harold terpesona.


"Ini enak banget sayang, kamu emang pandai ya bikin saya bahagia!" ucap Harold memujinya.


"Ah biasa aja kok tuan, saya emang udah biasa masak kalo di rumah. Ibu kan lagi sakit, terus Saskia juga masih belum bisa masak. Ya udah terpaksa deh saya yang masak buat mereka," ucap Maysa.


"Kamu sukanya merendah aja, padahal ini emang enak banget loh. Ya kan Zanna?" ucap Harold.


Zanna mengangguk pelan, "Iya pa, enak banget! Masakan tante Maysa emang gak ada lawan!" jawabnya sambil tersenyum.


"Sayang, mulai sekarang kamu jangan panggil tante Maysa lagi! Tapi, mama Maysa ya!" pinta Harold.


"Hm, beneran pa? Emangnya tante Maysa udah jadi mama aku?" tanya Zanna tampak antusias.


"Pasti dong, jadi kamu harus biasakan manggilnya mama Maysa ya!" ucap Harold.

__ADS_1


Zanna pun mengangguk menyetujui permintaan papanya, lalu ia kini beralih menatap wajah Maysa yang kebetulan ada di depannya. Zanna terlihat melebarkan senyumnya, sebelum bersuara memanggil Maysa dengan sebutan mama sesuai perkataan Harold tadi.


"Iya papa, masakan mama Maysa emang enak banget. Aku jadi pengen nambah terus deh makannya," ucap Zanna.


Deg


Entah mengapa, Maysa merasa bahagia begitu mendengar Zanna memanggilnya dengan sebutan mama. Rasanya ia belum pernah sebahagia ini sebelumnya, apalagi sejak dulu ia memang sangat menyukai anak kecil dan merasa gemas saat melihat anak seusia Zanna yang memang lucu itu.




TOK TOK TOK...


Setelah puas menikmati sarapan bersama-sama, Maysa terkejut saat mendengar suara ketukan dari arah luar. Sontak wanita itu bergegas menuju pintu, karena kebetulan Harold dan Zanna tengah asyik bermain bersama di dalam kamar karena ajakan dari gadis mungil itu.


Maysa terlihat penasaran siapa yang kiranya datang ke rumah itu, ia langsung membuka pintu dan amat syok begitu melihat kehadiran Clara di depannya yang tampak sangat emosi. Tatapan tajam menghiasi wajah Clara, membuat Maysa terkejut dan bingung harus bagaimana saat ini.


"Eh mbak Clara, ada apa ya?" tanya Maysa dengan gugup dan tubuh gemetar.


Clara menggeleng perlahan saat mengetahui Maysa ada di rumah mantan suaminya, ia benar-benar tak menyangka kalau ternyata kelakuan Harold masih belum berubah. Bahkan, dengan beraninya Harold membawa wanita yang belum dia nikahi untuk tinggal satu atap dengannya.


"Astaga, ternyata Harold semakin mengada-ada ya? Bisa-bisanya dia bawa perempuan buat tinggal satu rumah sama dia, hadeh untung aja aku udah cerai sama dia!" cibir Clara.


"Maaf mbak, sebenarnya mbak Clara mau apa? Kalau mbak ada perlu sama tuan Harold, saya bisa panggil dia sekarang!" ucap Maysa santai.


"Ya, aku mau ketemu sama anak aku. Ini sudah waktunya dia aku bawa pulang, karena aku gak sudi kalau dia lama-lama disini sama papanya yang gak bener itu! Apalagi ada perempuan murahan kayak kamu!" ucap Clara tegas.


"Eee Zanna nya masih main sama tuan Harold, mbak. Mereka sekarang lagi di kamar, sebaiknya jangan diganggu ya!" ucap Maysa.


Clara langsung saja mendorong tubuh Maysa dan menyerobot masuk ke dalam rumah itu tanpa mempedulikan Maysa lagi, ya kini Clara berjalan menyusuri ruangan rumah itu sambil berteriak memanggil nama anaknya. Sedangkan Maysa terlihat kebingungan, ia tak tahu harus bagaimana untuk bisa mencegah Clara.


"Zanna, Zanna sayang ini mama nak! Ayo kita pulang yuk sayang, mama udah datang nih buat jemput kamu!" teriak Clara sembari celingak-celinguk.


Maysa berhasil menyusulnya, ia genggam lengan Clara dari belakang bermaksud menahannya. Akan tetapi, Clara menoleh dan tampak kesal dengan kelakuan Maysa yang dianggap kurang ajar. Clara pun berontak dan coba melepaskan diri, namun Maysa berhasil mempertahankan posisinya.


"Cukup mbak Clara! Saya mohon mbak jangan kayak gini, nanti gak enak loh kalau didengar orang-orang! Zanna itu kan juga anak tuan Harold, jadi gapapa dong kalau Zanna disini," ucap Maysa.


"Hah? Siapa kamu berani bicara kayak gitu sama saya? Gausah ikut campur deh!" kesal Clara.


Bruuukkk


Lagi-lagi Clara mendorong tubuh Maysa dan kali ini lebih kuat dari sebelumnya, sehingga Clara berhasil lepas dari cengkraman wanita itu serta membuat Maysa terjatuh ke lantai dengan posisi telungkup. Sontak Maysa meringis kesakitan, ia memegangi perutnya dan menatap wajah Clara sambil berusaha menahan rasa sakit itu.


"Awhh sakit!!" Maysa tampak sangat kesakitan dan terus memegangi perutnya.


Clara yang melihat itu cukup terkejut, tapi ia merasa heran karena tadi ia hanya mendorong Maysa dengan perlahan. Clara pun mengira jika Maysa hanya berakting di depannya, agar Maysa bisa mendapat perhatian lebih dari Harold nantinya dan Clara lah yang akan disalahkan.


"Eh, lebay banget sih kamu! Perasaan saya cuma dorong pelan deh, gausah akting kayak gitu deh!" cibir Clara.


"Akh sa-saya gak akting mbak!" rintih Maysa.


"Maysa!" tiba-tiba saja, Harold muncul bersama Zanna dan tampak terkejut melihat Maysa tersungkur di lantai dengan tampang kesakitan.


"Loh, apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan ke Maysa, Clara? Kenapa semua bisa jadi seperti ini, ha?" tanya Harold dengan tegas.

__ADS_1


"Mama!!" Zanna pun ikut menghampiri mereka dan terlihat heran dengan apa yang terjadi disana.


Harold langsung membungkuk mendekati Maysa dengan tampang khawatir, ia benar-benar cemas melihat Maysa yang sedang kesakitan saat ini sambil memegangi perutnya. Tentunya Harold khawatir jika akan terjadi sesuatu pada Maysa, terlebih sekarang ini Maysa tengah dalam kondisi hamil mengandung anaknya.


"May, kamu gapapa kan? A-apa yang sakit sayang?" tanya Harold panik.


"Halah lebay banget sih! Orang cuma didorong pelan doang kok, gausah banyak drama deh jadi cewek! Lemah banget sih!" cibir Clara.


Harold semakin emosi dan hendak memberi pelajaran pada mantan istrinya itu, namun Maysa dengan cepat menghadang dan mencengkram lengan Harold serta meminta pria itu untuk mengurungkan niatnya. Maysa juga meminta Harold untuk sabar, dan mementingkan kondisinya saat ini yang sedang sakit.


"Tuan, udah jangan diladenin! Tuan tolong saya, ini sakit banget!" pinta Maysa.


"Hah? I-i-iya sayang.."


Tanpa basa-basi lagi, Harold bergegas menggendong tubuh Maysa dan membawanya pergi ke luar. Tak lupa Harold juga mengancam Clara kalau ia akan membalas perbuatan wanita itu, sedangkan Zanna terlihat bingung ketika papanya panik membawa mama barunya pergi.


"Ma, mama Maysa kenapa?" tanya Zanna pada Clara sembari mendongakkan wajahnya.


Clara pun menunduk menatap putrinya sambil tersenyum, "Gapapa sayang, tapi kamu gausah panggil wanita itu dengan sebutan mama ya! Mama kamu cuma satu, yaitu mama Clara!" ucapnya tegas.


"I-i-iya ma..."




Singkat cerita, Harold telah berhasil membawa Maysa ke rumah sakit tempat Amy berdinas. Ia langsung meminta Amy untuk memeriksa kondisi calon istrinya yang kesakitan itu, ya jelas sekali Harold sangat khawatir pada Maysa dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya. Bahkan sangking paniknya, Harold sampai melupakan Zanna dan meninggalkan putrinya itu begitu saja.


Setelah proses pemeriksaan selesai, kini Amy kembali menemui Harold di luar dan coba menenangkan lelaki itu agar tidak terlalu cemas. Sontak Harold beranjak dari tempatnya, memandang wajah Amy dan bertanya pada wanita itu mengenai kondisi Maysa saat ini.


"Mi, gimana keadaan Maysa? Dia baik-baik aja kan, dia gak kenapa-napa kan?" tanya Harold dengan nada cemas dan begitu panik.


Amy tersenyum lebar seraya mendekati pria itu, ia senang melihat kecemasan di wajah Harold saat ini yang tampak memang betul-betul mengkhawatirkan Maysa. Kini Amy sedikit yakin jika Harold memang benar mencintai Maysa, karena lelaki itu seolah tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Maysa.


"Cie cie, kayaknya ada yang lagi jatuh cinta nih! Kamu segitunya ya cemas sama Maysa? Aku gak nyangka deh kamu bisa kayak gini sama cewek, salut aku Rold!" goda Amy.


"Apaan sih, Mi? Saya serius loh, kamu kasih tahu saya gimana kondisi Maysa!" kesal Harold.


"Ahaha, iya deh aku kasih tahu nih. Kamu mah bisanya marah-marah mulu, kan aku cuma kagum aja sama perhatian yang kamu tunjukin ke Maysa. Tapi kamu tenang, Maysa sekarang baik-baik aja kok dan dia gak ada masalah besar!" ucap Amy.


Harold seketika berhasil bernafas lega, ia tidak lagi merasa cemas atau panik dengan kondisi Maysa setelah Amy menjelaskannya. Namun, tetap saja Harold merasa kesal pada Clara karena sudah membuat Maysa sampai kesakitan dan nyaris terluka karenanya.


"Ah syukurlah, saya senang banget dengarnya! Saya lega kalau Maysa baik-baik aja! Tapi, kandungannya juga gak kenapa-napa kan?" ucap Harold.


Amy mengangguk perlahan, "Iya Rold, kondisi kandungan Maysa juga baik kok. Ya tapi tetep aja kejadian kayak gini gak boleh terjadi lagi, kamu harus jaga Maysa dengan benar dong!" ucapnya.


"Iya Mi, lain kali saya bakal lebih hati-hati lagi. Ini semua gara-gara mantan istri saya yang gak tahu diri itu, udah dikasih hidup enak malah masih bikin masalah di keluarga saya!" geram Harold.


"Hah mantan kamu? Ya ampun Rold, kamu masih belum selesaikan masalah kamu sama dia?" kaget Amy.


Harold mengangguk lemah, ia mengakui semua pada Amy kalau sebenarnya selama ini Clara masih terus mengganggunya dan tidak bisa membiarkan ia untuk hidup tenang. Padahal Harold sudah memberikan semua yang Clara inginkan, dari mulai harta sampai hak asuh Zanna.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2