Jebakan Satu Malam Duda Liar

Jebakan Satu Malam Duda Liar
Gagal lagi


__ADS_3

Mawar masih terlihat perbincangan serius dengan Javier di salah satu koridor bar yang sepi itu, Javier tampak terus mencecar Mawar dan meminta gadis itu mau menerima tawaran yang ia ajukan kepadanya sekarang juga. Mawar tentu saja tetap pada keputusan awalnya, yakni menolak dan tidak mau melakukan permintaan pria itu.


Namun, sepertinya Javier juga sangat keras kepala dan tak bisa diberitahu dengan kata-kata biasa. Javier malah mengatakan jika dirinya hanya berniat untuk membantu gadis itu dalam menjalani hidup, terlebih Javier tahu jika Mawar mengalami kesulitan dalam ekonomi. Itulah yang dimanfaatkan oleh Javier saat ini, ya supaya Mawar mau menerima tawarannya dan menjadi miliknya seutuhnya.


"Membantu apanya, ha? Anda itu cuma ingin merendahkan saya, memangnya anda kira saya ini wanita bayaran apa?" geram Mawar.


"Tidak seperti itu cara mainnya Mawar, kamu tidak akan saya anggap begitu!" ucap Javier.


"Tetap saja, pokoknya saya gak mau terima tawaran anda itu. Silahkan anda pergi dari sini, cari saja wanita yang lain di luar sana!" sentak Mawar.


Bukannya menurut, pria itu justru semakin kuat mencengkram rahang Mawar. Bahkan, kini Javier sudah tidak main-main lagi dan dengan cekatan ia berhasil mengendus leher jenjang sang gadis sampai membuat Mawar meronta-ronta. Mawar tentu tidak sudi saat kulitnya bersentuhan langsung dengan pria seperti Javier, apalagi Javier yang semakin kurang ajar saat ini.


Berada sangat dekat dengan tubuh gadis itu, membuat Javier semakin tak tahan ingin segera merasakan setiap inci tubuh Mawar. Rasanya Javier amat sulit mengendalikan dirinya, apalagi aroma tubuh Mawar yang begitu candu di hidungnya. Ia terus mengendus leher sang gadis, dan bahkan Mawar yang mendapat perlakuan seperti itu sampai terpejam seolah menikmati semuanya.


Akan tetapi, Mawar kembali tersadar kalau semua itu salah dan tak seharusnya Mawar ikut terbawa kenikmatan yang diberikan Javier tadi. Gadis itu pun mulai berontak dan mencoba melepaskan diri dari genggaman si pria, meski sulit tapi pada akhirnya Mawar memiliki ide yang brilian untuk bisa melarikan diri dan menjauh dari pria itu.


"Mmhhh lepasin saya, toloongg!!" Mawar berteriak keras sembari memukul-mukul tubuh Javier.


Javier masih tak perduli dengan teriakan gadis itu dan menganggap jika Mawar tak akan mungkin bisa lepas darinya, ya Javier memang memiliki tenaga yang kuat dan tidak sembarang orang yang bisa melawannya saat ini. Apalagi, Mawar hanyalah sesosok perempuan dan Javier mengira jika Mawar tidak bisa melakukan apa-apa.


Tapi kemudian, tanpa diduga Mawar yang terus berusaha sekuat tenaga akhirnya malah berhasil membuat Javier tersakiti dengan tendangannya. Gadis itu memang pandai mencari kesempatan, ia tahu kalau saat ini Javier sedang fokus dengan tubuhnya dan tidak memperdulikan dirinya yang tengah berusaha melepaskan diri itu.


Bugghhh


Akhirnya Mawar berhasil melepaskan tendangan keras ke area kaki dari Javier yang membuat pria itu meringis kesakitan, Mawar pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung saja pergi meninggalkan Javier yang masih kesakitan. Tampak Javier sangat kesal dan emosi, pria itu tak menyangka kalau Mawar bisa melakukannya.


"Sialan! Perasaan saya gagal mulu, apa memang ketampanan saya ini sudah memudar ya? Padahal sedikit lagi tuh, sial!" Javier mengumpat kesal.


Ya pria itu benar-benar merasa kacau, pasalnya ia sedikit lagi berhasil menaklukan Mawar dan membawa gadis itu ke kamar bersamanya. Sia-sia saja semua usahanya sedari tadi, kalau ujungnya pria itu harus gagal juga mendapatkan Mawar. Ia melampiaskan kekesalannya dengan cara berteriak, lalu juga memukul-mukul dinding yang ada disana.


__ADS_1



Disisi lain, Maysa baru tiba di rumah bersama Harold tentunya. Wanita itu masih tampak tidak tega melihat kondisi Harold yang kurang baik saat ini, ya semua itu terjadi karena tadi Maysa memaksa Harold untuk memakan sushi di restoran. Maysa tidak tahu kalau Harold belum pernah melakukan itu sebelumnya, maka dari itu Maysa amat menyesal karena telah memaksa suaminya.


Mereka pun sama-sama melangkah ke dalam rumah dengan tangan saling bergandeng, tampak kini Harold masih terus merasa mual dan berusaha menutupi mulutnya. Maysa sesekali melirik ke arah pria itu, rasa penyesalan kembali menghampirinya dan membuat Maysa merasa bersalah setelah apa yang dia lakukan tadi kepada Harold.


"Mas, aku minta maaf ya? Aku harusnya gak paksa kamu tadi buat makan sushi itu, eh jadinya kamu malah kayak gini. Aku beneran gak tahu kalau kamu belum pernah makan sushi," ucap Maysa.


Harold tersenyum dibuatnya, "Gapapa cantik, aku akan lakukan apapun demi kamu dan calon anak kita. Udah kamu gak perlu merasa bersalah kayak gitu, lagian aku juga gak kenapa-napa kok!" ucapnya sembari merangkul sang istri.


"Tetap aja aku ngerasa gak enak sama kamu mas, kan tadi gara-gara aku itu kamu jadi mual sampai muntah-muntah di toilet resto," ucap Maysa.


"Ahaha, santai aja kali sayang! Aku juga kan gak mau anak kita ileran nantinya," kekeh Harold.


Maysa tersenyum tipis dan menempelkan wajahnya pada bahu sang suami, ia merasa senang mendengar kata-kata Harold barusan yang sama sekali tidak menyalahkannya atas apa yang tadi ia lakukan. Justru Harold malah tampak bahagia karena bisa menyenangkan istri dan calon anaknya, pria itu juga tidak sabar untuk menyaksikan momen anaknya lahir ke dunia nanti.


Dikala keduanya masuk ke dalam rumah, Zanna langsung menyambut dengan teriakan bahagianya saat melihat orangtuanya kembali. Gadis itu sangat senang dan reflek memeluk tubuh papanya disana dengan erat, seolah-olah menunjukkan betapa rindunya ia pada sang ayah. Walau, tadi pagi ia juga sudah pergi ke sekolah bersama mama papanya.


"Akhirnya papa pulang juga, aku mau minta papa temenin aku kerjain pr dong!" ucap Zanna sambil mendongak ke arah papanya.


"Boleh sayang, tapi papa sama mama mau ke kamar dulu ya? Papa kan baru pulang, gak enak rasanya kalau langsung main sama kamu. Papa harus mandi terus ganti baju juga," ucap Harold.


"Yah yaudah deh gapapa, tapi papa gak lama kan mandinya?" ucap Zanna merengut.


"Duh, anak papa yang cantik ini jangan manyun dong! Papa sebentar doang kok, tunggu ya sayang!" ucap Harold coba menghiburnya.


Zanna manggut-manggut saja, lalu Saskia juga tampak mendekati mereka dan mengajak Zanna untuk kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya yang diberikan oleh gurunya tadi. Ya Saskia tentu ingin supaya Harold dan Maysa bisa beristirahat sejenak di kamar, setelah mereka tadi pergi berdua selama beberapa waktu.



__ADS_1


Drrrtt drrrtt


Harold yang baru berniat merebahkan tubuhnya dan menyusul Maysa ke alam mimpi, dikejutkan dengan suara ponsel yang berbunyi dari atas nakas. Karena penasaran, Harold pun bangkit kembali untuk mencari tahu siapa yang menghubunginya kali ini. Ya Harold mengernyitkan dahi, begitu ia melihat nama Dean yang ada di layar ponselnya.


Tanpa banyak berpikir lagi, Harold segera mengangkat telpon itu walaupun tadi ia sudah merasa sangat mengantuk. Harold pun berdiri dan melangkah agak jauh dari tubuh Maysa, ya karena ia tidak mau membangunkan waniha itu. Biar bagaimanapun, Harold akan merasa bersalah bila Maysa terganggu tidurnya karena suaranya nanti.


📞"Halo Dean! Kenapa kamu telpon saya malam-malam begini, apa kamu gak tahu kalau ini waktunya saya beristirahat?" ujar Harold kesal.


📞"Ma-maaf tuan, saya cuma mau menyampaikan kalau mister Rendy sudah datang dan menunggu di markas. Beliau menginginkan bertemu dengan tuan Harold sekarang, karena besok beliau harus segera pergi ke luar negeri," ucap Dean.


📞"Hah? Baiklah, saya siap-siap sekarang. Kalo gitu kamu tunggu saya di depan, sekitar lima menit lagi saya akan turun dan temui kamu. Kita berangkat sama-sama ke markas!" titah Harold.


📞"Baik tuan!" ucap Dean patuh.


Setelahnya, Harold memutus telpon dan menaruh kembali ponselnya ke atas nakas. Harold pun bergegas mengambil baju gantinya dari dalam lemari, ia harus bergerak cepat sebelum mister Rendy merasa kesal menunggu disana. Pria itu tidak boleh kehilangan sosok orang seperti mister Rendy, karena beliau adalah rebutan banyak pihak.


Namun, sepertinya gerakan tergesa-gesa pria itu membuat tidur Maysa terganggu dan langsung membuka matanya. Ya Maysa cukup kaget melihat suaminya tengah mengambil pakaian dari dalam lemari, seperti bersiap untuk pergi. Maysa pun bangkit dan terduduk di ranjangnya, menatap ke arah Harold serta menegurnya karena penasaran.


"Loh mas, kamu mau kemana? Itu kok pake ambil baju-baju kerja kamu segala, emangnya kamu mau pergi malam-malam begini?" tanya Maysa heran.


"Eh sayang, maaf ya kamu pasti kebangun gara-gara aku! Iya nih aku harus pergi sekarang, ada satu orang klien aku yang udah nungguin di tempat meeting. Kami harus bertemu malam ini juga," jawab Harold.


"Tapi mas, ini udah malam loh. Apa gak bisa ditunda sampai besok?" ucap Maysa.


Harold menggeleng perlahan, "Gak bisa sayang, soalnya mister Rendy ini sibuk banget orangnya. Dia besok aja udah mau pergi ke luar negeri, dan dia cuma punya waktu malam ini. Lagian aku pergi sebentar aja kok," ucapnya sambil tersenyum.


"Iya deh mas, aku bantu kamu siap-siap ya?" ucap Maysa sembari beranjak dari ranjangnya.


Harold mengangguk saja membiarkan Maysa melakukan tugasnya, meski sebenarnya ia tidak ingin merepotkan wanita itu untuk sekedar bersiap-siap saat ini. Kemudian, Maysa pun mulai membantu suaminya berpakaian lalu memasang dasi di lehernya. Saat-saat seperti inilah yang selalu membuat Maysa tersipu, karena mereka saling bertatapan dari jarak yang sangat dekat.


"Makasih ya sayang, kamu emang istri yang baik dan selalu perhatian sama aku!" ucap Harold sambil tersenyum lebar menatap wajah istrinya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2