
Maysa tengah terduduk di depan ruang rawat ibunya bersama sang adik, mereka masih menanti kabar dari dokter yang menyatakan kalau mereka bisa menjenguk ibu mereka di dalam sana. Hingga kini, baik Maysa ataupun Saskia sama-sama penasaran dan ingin tahu langsung kondisi ibu mereka. Namun, dokter belum juga memberi izin bagi mereka untuk bisa masuk ke dalam mengecek secara langsung.
Tak lama kemudian, tiba-tiba saja dokter kembali muncul di hadapan mereka dan tampak menghampiri kedua wanita itu. Sontak Maysa serta Saskia kompak berdiri, menatap wajah sang dokter sambil bertanya-tanya ada apa. Mereka berharap kalau saat ini kondisi ibu mereka sudah membaik, lalu dokter akan memberi izin bagi mereka masuk ke dalam ruangan itu menemui ibu mereka saat ini.
"Dok, gimana dok? Apa ibu kami sudah sadar dan bisa dijenguk?" tanya Maysa begitu penasaran.
Dokter itu tersenyum, kemudian mengatakan bahwa kondisi ibu mereka memang sudah semakin membaik dan bisa dijenguk untuk saat ini. Tentu saja Maysa sangat bahagia, ia mengucap syukur dan langsung berpelukan dengan adiknya. Mereka berdua benar-benar senang mendengar itu, karena kali ini mereka juga dapat bernafas lega.
"Ibu kalian sudah semakin membaik, kita hanya tinggal menunggu beliau untuk sadar. Tapi, kalian sudah bisa masuk ke dalam juga menjenguk ibu kalian kalau mau," ucap dokter itu.
"Syukurlah, aku senang banget dengarnya mbak! Akhirnya ibu membaik juga, terus kita bisa jenguk ibu di dalam!" ucap Saskia begitu antusias.
"Ya Kia, aku juga senang dengarnya. Semoga ibu cepat sadar ya!" ucap Maysa sembari merangkul adiknya dan tersenyum bahagia.
Sepasang kakak-beradik itu benar-benar terlihat senang kali ini, ekspresi mereka langsung berubah sejak sang dokter memberitahu kalau ibu mereka sudah membaik. Ya walau ibu mereka itu belum sadarkan diri, tapi setidaknya kali ini mereka bisa sedikit tenang dan lega setelah mengetahui ibu mereka semakin membaik kondisinya.
Setelah dokter itu pergi, kini Maysa berniat masuk ke dalam untuk menjenguk ibunya secara langsung. Akan tetapi, Maysa dibuat kaget saat ada seorang pria muncul di hadapannya dan seolah menghalangi jalannya sembari menatap tajam ke arahnya. Sontak Maysa serta Saskia sama-sama kebingungan, apalagi mereka juga tak mengenal siapa pria itu.
"Ka-kamu siapa?" tanya Maysa pada si pria dengan wajah bingungnya.
Pria itu tak menjawabnya, ia hanya tersenyum tipis sambil terus memandangi wajah Maysa dan juga Saskia secara bergantian. Hal itu membuat kedua wanita tersebut merasa bingung, mereka berusaha mengabaikan pria itu tetapi tidak bisa. Ya pria itu tak membiarkan mereka untuk pergi, sehingga Maysa pun sangat kebingungan dan tak tahu harus apa.
"Kamu ini kenapa sih? Kita kenal aja enggak, ngapain kamu cegat jalan kita coba? Kita cuma mau masuk ke dalam jenguk ibu kita, awas deh kamu jangan halangi kita!" sentak Saskia.
"Wow, kalian galak juga ya! Santai aja kali, kita bicara sebentar disini!" ucap pria itu.
Maysa dan Saskia tampak saling bertatapan, mereka tak mengerti apa maksud si pria mengajak Maysa untuk berbincang dengannya. Dari wajah serta tatapan pria tersebut, Maysa curiga kalau pria itu bukan orang yang baik. Namun, mau tidak mau Maysa terpaksa menuruti kemauan pria itu karena ia juga tak memiliki pilihan lain.
"Kamu sebenarnya siapa dan mau bicara apa sama aku? Tolong dipercepat ya, karena aku udah gak punya banyak waktu!" ucap Maysa ketus.
"Saya mau mastiin aja, benar kan kamu ini Maysa istrinya Harold?" ucap pria itu.
Deg
Maysa tersentak ketika pria itu menyebut namanya, ia bingung sekaligus penasaran darimana pria itu bisa mengenali dirinya dan siapa sebenarnya pria yang ada di hadapannya itu.
•
__ADS_1
•
Harold tiba di markas Rendy bersama Daniel yang memaksanya, langsung saja ia menghadap sosok Rendy yang tengah terduduk di kursinya. Saat itu juga Rendy pun menoleh ke arahnya, pria itu menyeringai serta mempersilahkan Harold duduk di depannya. Harold menurut, meskipun rasanya saat ini ia amat jengkel dengan tindakan mister Rendy.
Rendy dengan dingin menyapanya, mencoba bersikap lembut agar tidak ada keributan diantara mereka kali ini. Biar gimanapun, niat Rendy hanya ingin membujuk Harold untuk tetap berada di dalam bisnisnya. Rendy sangat membutuhkan jasa Harold saat ini, karena ia tahu kalau Harold memiliki kemampuan yang luar biasa disana.
"Harold, akhirnya kamu bisa juga datang kesini. Saya senang saat kamu menginjakkan kaki lagi di tempat ini, karena ini memang tempat kamu!" ucap Rendy.
"Tidak mister, saya datang kesini hanya karena diajak Daniel. Sebenarnya saya sudah malas sekali berhubungan dengan anda, apalagi saya pernah mengatakan kalau saya ingin keluar dari bisnis senjata ini," ucap Harold tegas.
"Kamu tidak bisa keluar begitu saja, Harold. Kamu punya tanggung jawab disini, karena kamu sudah berjanji akan membantu saya!" ucap Rendy.
"Ini hak saya mister, jadi anda tidak bisa melarang saya untuk melakukan itu!" ucap Harold.
Rendy menggeleng sembari mengusap wajahnya, sampai kapanpun ia tak akan pernah melepaskan Harold dari bisnisnya. Kerugian sangat besar bisa ia dapatkan jika Harold benar-benar keluar, sebab Harold selalu bisa membantunya. Namun, Rendy sendiri juga bingung harus bagaimana untuk dapat menahan Harold tetap di bisnisnya.
"Sekarang saya mau tanya sama mister, apa ada lagi yang ingin mister katakan ke saya? Jika mister hanya ingin membahas hal itu, saya mohon pamit dan harus segera kembali ke rumah sakit!" ucap Harold.
"Tunggu dulu Harold, masih ada yang ingin saya bicarakan dengan kamu!" ucap Rendy.
Rendy tersenyum menyeringai, menatap serius ke arah Harold karena ia sepertinya menyembunyikan sesuatu dari pria itu. Ada hal yang membuat Harold semakin bingung, rasanya Rendy memang dibuat begitu penasaran saat ini. Apalagi, ekspresi Rendy sangat mencurigakan dan Harold pun tampak ketakutan mengingat Rendy adalah mafia kelas kakap yang bisa melakukan apapun.
"Istri kamu sekarang ada di dalam genggaman saya, salah seorang anak buah saya sedang menemui dia saat ini. Jadi, kalau kamu memutuskan untuk keluar dari bisnis ini, maka saya tidak akan segan-segan untuk menghabisi istri kamu!" ucap Rendy.
Deg
Betapa terkejutnya Harold, dua bola matanya membulat lebar seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Rendy barusan. Kini Harold sadar kalau ia sudah dijebak oleh Rendy, dengan pergi meninggalkan rumah sakit maka ia telah gagal dalam menjaga istrinya. Itulah yang dimanfaatkan oleh Rendy untuk menculik Maysa, sehingga Harold dibuat panik dan bingung saat ini.
"Kenapa mister harus bawa-bawa keluarga saya? Di dalam bisnis ini, hanya ada saya dan anda. Saya rasa anda paham akan hal itu, tapi kenapa sekarang anda malah mengancam saya dengan ingin menyakiti istri saya?" geram Harold.
Rendy terdiam saja, senyum santai di wajahnya seolah menandakan ia tidak perduli dengan ucapan yang dilontarkan Harold tadi.
•
•
Disisi lain, Javier datang ke rumah kakaknya untuk mengecek situasi disana sekaligus mengenalkan Mawar kepada keluarganya. Ya Javier sudah bertekad untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Mawar, meski ia tahu gadis itu belum memberikan jawaban yang pasti dari apa yang sudah ia utarakan sebelumnya.
__ADS_1
Begitu sampai disana, Javier langsung mengajak Mawar turun dari mobil. Awalnya gadis itu menolak, tetapi Javier memaksanya sembari mencengkram kuat tangannya. Mawar pun tak memiliki pilihan lain, terpaksa ia turun bersama Javier walau ia tidak tahu apa yang hendak dilakukan Javier kepadanya saat ini di rumah besar yang asing baginya itu.
"Kak, kita mau ngapain sih kesini? Daritadi aku tanya loh ke kamu, tapi kamu selalu gak mau jawab. Aku gak mau ya kalau kamu macam-macam sama aku," ucap Mawar ketakutan.
Javier tersenyum dibuatnya, "Sssttt, kamu nurut aja ya cantik! Ayo kita masuk ke dalam, aku akan kenalkan kamu sama orang yang baik banget! Kamu gak perlu takut, sesuai janji aku gak akan apa-apain kamu kok!" ucapnya lirih.
"Tapi kak, kamu mau kenalin aku ke siapa? Kenapa coba aku harus dikenalin ke dia?" tanya Mawar lagi.
"Hm, aku mau bawa kamu ke depan kakak aku. Dia itu satu-satunya keluarga yang aku punya, jadi ya aku harus kenalin kamu ke dia!" jawab Javier.
Mawar mengernyitkan dahinya, ia bingung kenapa Javier harus melakukan itu padanya. Namun, Javier tak menjelaskan apapun lagi saat ini. Ya Javier malah meneruskan langkahnya sampai ke depan pintu, sedangkan Mawar hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Javier. Mawar terus menatap sekitar, wajahnya terlihat begitu kebingungan.
"Duh, aku mau diapain sih ini ya? Kak Javier makin lama makin nyebelin aja deh!" batin Mawar.
Saat mereka hendak mengetuk pintu, tanpa diduga seseorang keluar lebih dulu dari dalam rumah tersebut dan mengejutkan keduanya. Javier sampai melongok saat ini, ia tak menyangka jika Clara bisa ada di rumah itu. Padahal yang ia tahu, Harold tidak pernah memberi izin bagi Clara untuk masuk kesana karena wanita itu sering membuat keributan.
"Loh Clara, kamu kok ada disini? Apa yang kamu lakukan di rumah kak Harold, ha?" tanya Javier dengan wajah tak suka.
"Hahaha, kayaknya kamu ketinggalan banyak berita deh Vier. Aku disini ya karena aku mau nemenin Zanna, selagi mas Harold pergi bareng istrinya itu ke rumah sakit buat jagain bu Melinda," jelas Clara.
"Apa? Bu Melinda sakit? Tapi, apa mungkin kak Harold tau tentang keberadaan kamu disini? Aku gak percaya, pasti kamu bohong kan!" geram Javier.
"Terserah kamu Vier, sekarang aku mau pergi dulu. Oh ya, siapa gadis ini? Apa dia calon istri kamu?" ucap Clara yang tak sengaja melirik ke arah Mawar.
Seketika Mawar terkejut, ia menatap wajah Javier yang ada di sampingnya dengan bingung. Namun, kemudian Javier menjelaskan pada Clara mengenai siapa Mawar sebenarnya. Tanpa rasa ragu sedikitpun, Javier menjawab jika Mawar memang merupakan wanita yang ia cintai dan ia ingin menikah dengannya dalam waktu cepat.
"Benar, dia calon istri aku. Makanya aku datang kesini untuk kenalin dia ke kak Harold, tapi ternyata malah kamu yang ada disini," ucap Javier.
Clara menggeleng mendengarnya, "Oh ahaha, kamu ada-ada aja sih Vier! Udah lama gak kelihatan, eh tau tau udah bawa calon istri aja. Kamu kenal dimana sama perempuan ini, hm?" ucapnya meledek.
"Kamu gak perlu tau, ini bukan urusan kamu. Sekarang lebih baik kamu pergi!" usir Javier.
Clara hanya terkekeh dan tak mendengarkan ucapan Javier, justru tatapannya terus mengarah ke wajah Mawar yang masih dalam genggaman Javier.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1