
Maysa masih berbincang dengan seorang pria yang tadi tiba-tiba muncul dan ingin meminta waktu padanya, karena penasaran Maysa pun menuruti permintaan pria itu dan membiarkan dia duduk di sampingnya lalu berbicara dengannya. Maysa terus merasa heran, apalagi pria itu mengetahui siapa namanya dan sungguh membuat Maysa bingung karena sepertinya pria itu bukan orang baik-baik.
Disaat yang sama, Saskia juga heran mengapa pria tersebut mengetahui nama kakaknya. Namun, Saskia pun tak tahu siapa orang yang ada di dekat mereka saat ini dan apa kemauan pria itu menemui mereka disana. Akhirnya Saskia membiarkan saja kakaknya berbincang dengan pria itu, sambil juga Saskia mendengarkan mereka dari dekat karena ia pun ingin tahu siapa orang itu dan apa niatnya.
"Tunggu deh, kamu kok bisa tau nama aku? Kamu ini sebenarnya siapa? Kenapa kamu datang kesini coba?" tanya Maysa terheran-heran.
Pria itu tersenyum dan terus menatap ke arah Maysa, sontak Maysa makin penasaran karena tingkah si pria yang memang begitu mengherankan. Apalagi tampak sekali bahwa pria itu tengah menyembunyikan sesuatu, mungkin saja dia akan bertindak sesuatu yang buruk padanya disaat sang suami tidak ada di dekatnya kali ini.
Saskia pun mendekati kakaknya dan berbisik di telinganya, ia juga menaruh rasa curiga kepada pria tersebut karena gerak-geriknya yang aneh. Apalagi, sekarang memang marak kejahatan yang terjadi di sekitar mereka dengan modus berpura-pura kenal. Saskia meminta Maysa untuk berjaga-jaga, karena ia khawatir pria itu akan berbuat jahat kali ini.
"Mbak, jaga-jaga ya! Aku takut dia bakal sakitin mbak, dari muka sama tampilannya sih kayaknya dia bukan orang baik-baik! Aku gak mau mbak sampai kenapa-napa," bisik Saskia.
"Iya Kia, sudah kamu tenang aja!" ucap Maysa dengan santai.
Akhirnya Saskia sedikit menjauh dari kakaknya, namun tatapannya masih tetap menjurus tajam ke arah si pria yang ada di samping Maysa. Ingin rasanya Saskia menegur dan meminta pria itu mengaku siapa dirinya, tetapi Saskia juga harus menjaga sikap mengingat mereka saat ini sedang berada di rumah sakit umum.
"Kamu sekarang jawab pertanyaan aku, siapa kamu dan mau apa kamu datang kesini!" ucap Maysa kepada si pria.
Pria itu tersenyum lebar, "Hm, kamu mau tau siapa saya? Ada syaratnya Maysa, kamu harus ikut dulu dengan saya sekarang! Kita bicara berdua saja, nanti disana saya akan jelaskan semuanya ke kamu!" ucapnya.
"Apa? Kenapa harus begitu? Kamu kan bisa jelasin itu disini sekarang," ucap Maysa terheran-heran.
"Gak bisa Maysa, ada hal penting yang ingin saya bicarakan sama kamu. Gak boleh ada satu orang pun yang tahu tentang ini, termasuk adik kamu itu!" ucap si pria dengan tegas.
"Aku gak percaya sama kamu, aku akan tetap disini. Kalau kamu emang mau bicara, yaudah kamu bicara aja disini!" ucap Maysa.
Tampaknya Maysa memang begitu hati-hati dengan sosok pria di dekatnya itu, ia tidak mau terlalu mudah terpengaruh oleh ucapan pria itu karena ia khawatir jika ia akan dijebak. Maysa tidak mau hal buruk terjadi padanya, apalagi Harold saat ini tidak ada di sampingnya.
"Maysa, percaya sama saya! Kamu harus dengerin saya, kamu itu dalam bahaya loh! Sebaiknya kamu ikut dengan saya, dengan begitu maka kamu akan selamat!" ucap si pria coba membujuk Maysa.
Maysa menggeleng perlahan, "Gak, aku gak akan mau ikut sama kamu! Lagian bahaya apa sih emangnya? Siapa kamu? Untuk apa kamu mau melindungi aku, ha? Atau jangan-jangan, kamu sendiri yang mau kasih bahaya itu ke aku?" ujarnya.
Pria itu terdiam, begitu sulit baginya untuk meyakinkan Maysa agar mau ikut bersamanya saat ini. Maysa amat berhati-hati dan tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya, ia harus bisa menjaga diri dikala Harold alias suaminya tidak ada di sisinya sekarang. Apalagi, Maysa tak hanya harus memikirkan dirinya melainkan juga calon anaknya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, dua orang pengawal yang ditugaskan menjaga Maysa akhirnya datang. Mereka terkejut melihat adanya seorang pria yang berada di dekat Maysa saat ini, tanpa berpikir panjang mereka langsung menghampiri Maysa dan menarik tubuh si pria asing tersebut. Sebagai seorang pengawal, mereka tentu tak mau Maysa terluka oleh pria itu.
"Hey! Siapa kamu, ha? Jangan berani-berani kamu untuk menyakiti bu Maysa, atau kamu akan berhadapan dengan kami!" ancam si pengawal.
Maysa sedikit lega saat melihat dua orang pengawalnya itu, setidaknya ia tak perlu terlalu khawatir dengan sosok pria aneh tadi. Pastinya Maysa mengira jika kehadiran dua pengawal itu adalah suruhan dari suaminya, karena mungkin Harold cemas dengan dirinya kalau harus ditinggal di rumah sakit bersama Saskia.
"Hendi, Fauzan, syukurlah kalian datang! Orang ini daritadi mau coba ganggu saya, cepat kalian bawa dia pergi dari sini! Saya gak mau dia muncul lagi di hadapan saya!" titah Maysa.
"Baik bu! Hendi, kamu tetap disini jaga bu Maysa! Biar saya yang urus orang ini," ucap Fauzan.
"Siap!" Hendi mengangguk setuju.
Fauzan pun menarik paksa pria asing tadi dan membawanya pergi dari sana, meski pria itu terus saja meronta-ronta meminta dilepaskan dan mengatakan bahwa mereka telah salah paham terhadap dirinya. Namun, Fauzan tak perduli karena ia hanya ingin melindungi Maysa yang merasa terancam dengan kehadiran pria tersebut.
"Huh syukurlah mbak, untung aja ada pak Fauzan sama pak Hendi datang! Kalau enggak, aku gak tahu deh bakal gimana tadi!" ucap Saskia.
"Iya Kia, aku juga lega banget sekarang!" ucap Maysa.
Hendi yang berjaga disana sontak meminta maaf karena kehadirannya yang terlambat, sebab harusnya ia beserta Fauzan sudah hadir sedari tadi sesuai instruksi Harold. Untung saja belum terjadi apa-apa pada Maysa, sehingga Hendi bisa merasa lega karena ia tidak perlu khawatir akan dihukum oleh Harold nantinya.
"Gapapa Hendi, saya baik-baik aja kok. Terimakasih sudah datang bantu saya, sekarang saya mau ke dalam jenguk ibu saya! Soalnya saya sudah cemas banget dengan kondisi ibu saya," ucap Maysa.
"Baik bu, kalo gitu saya akan tetap berjaga disini sesuai perintah tuan Harold!" ucap Hendi.
Maysa mengangguk perlahan, kemudian ia pun melangkah masuk ke dalam ruang rawat itu untuk menemui ibunya. Saskia juga ikut bersamanya, karena kali ini Saskia begitu cemas dengan kondisi sang ibu yang dikatakan sudah membaik. Maysa serta Saskia ingin memastikan sendiri di dalam sana, apakah perkataan dokter itu benar atau tidak.
"Bu, aku harap ibu beneran udah membaik! Aku gak mau ibu dirawat terus disini, aku pengen ibu segera pulang dan kumpul lagi bareng kita!" batin Maysa.
•
•
Di luar rumah sakit, akhirnya pria asing tadi berhasil dihempaskan oleh Fauzan secara kasar dan meminta pria itu untuk pergi dari sana. Fauzan tak ingin pria itu kembali dan menyakiti Maysa, karena tugasnya saat ini adalah menjaga majikannya itu. Bagaimanapun, Fauzan harus mematuhi perintah dari tuannya untuk menjaga dan melindungi Maysa.
__ADS_1
Namun, si pria yang tadi menemui Maysa justru mengatakan jika Fauzan telah salah menduga tentang dirinya. Pria itu mencoba meyakini Fauzan kalau ia bukanlah orang jahat, niatnya datang kesana adalah untuk melindungi Maysa. Ia juga tak mau Maysa terluka, meski ia belum berani mengatakan siapa identitas dirinya yang sebenarnya.
"Pak, anda itu salah paham tentang saya! Saya ini bukan orang jahat, saya datang kesini justru untuk melindungi Maysa. Kalau anda usir saya, itu akan membahayakan Maysa sendiri!" ucap si pria.
"Bicara apa sih kamu? Kalau memang itu niat kamu, kenapa kamu gak mau kasih tahu identitas kamu?" tanya Fauzan.
"Itu hanya karena belum waktunya pak, nanti saya pasti akan mengenalkan diri pada Maysa. Sekarang tolong biarkan saya disini, anda jangan usir saya!" ucap si pria memaksa.
"Tidak bisa, kamu harus pergi disini sebelum saya hajar kamu!" sentak Fauzan.
Pria itu terdiam tak berkutik, sesaat kemudian ia tak sengaja melihat segerombolan orang bermasker turun dari mobil di sebrang sana. Ia pun mengira bahwa orang-orang itu mempunyai niat jahat pada Maysa, karena pastinya tidak mungkin ada orang yang ingin berobat dengan penampilan seperti itu dan membuatnya begitu curiga.
"Nah, anda lihat gerombolan orang yang disana itu! Mereka itu orang-orang suruhan yang ingin menyakiti Maysa, saya justru ingin melindungi Maysa dari mereka!" ucap si pria menunjuk ke arah mobil.
Sontak Fauzan mengalihkan pandangannya, ia syok saat melihat banyak sekali orang-orang dengan baju hitam dan masker menutupi wajahnya disana. Ia tak menyangka jika semua akan semakin rumit, kondisi Maysa bisa dalam bahaya saat ini. Akan tetapi, Fauzan juga bingung harus melakukan apa untuk bisa menyelamatkan istri dari tuannya itu.
"Siapa mereka? Apa kamu mengenal mereka? Atau, jangan-jangan kamu juga bagian dari mereka?" tanya Fauzan penuh selidik.
Pria itu menggeleng, "Tentu saja bukan, saya ini juga tidak tahu siapa mereka. Tapi yang pasti, mereka itu ditugaskan untuk menyakiti Maysa. Makanya, saya datang kesini berusaha membawa Maysa pergi agar selamat," jelasnya.
"Saya tidak percaya dengan kamu, lebih baik kamu mengaku saja!" ucap Fauzan.
"Terserah anda, sekarang lebih baik anda biarkan saya masuk dan temui Maysa! Saya harus bawa Maysa pergi dari sini, sebelum saya keduluan dengan mereka!" ucap si pria kekeuh.
"Tidak, saya tidak mungkin membiarkan kamu melakukan itu! Soal keselamatan bu Maysa, serahkan saja pada saya!" ucap Fauzan.
"Hahaha, saya gak yakin anda bisa mengalahkan mereka! Mereka itu dari sindikat terkenal, gak ada yang bisa mengalahkan mereka. Sadar diri itu penting pak!" ucap si pria.
"Kurang ajar!" umpat Fauzan.
Bugghhh
Fauzan yang emosi, akhirnya menghajar si pria disana dan memukulnya sampai tersungkur di jalan sembari memegangi pipinya.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...